
If there were no bad people, there would be no good lawyers.
Jika tidak ada orang jahat, tidak akan ada pengacara yang baik.
-Charles Dickens
🌼🌼🌼
"Senangnya jadi dokter, banyak di kelilingi lelaki tampan." Puji pegawai tersebut.
Seketika mata Oca terbelalak lebar mendengar penuturan perawat tersebut. Perawat tersebut memilih pergi meninggalkan mereka berdua setelah memuji Oca.
"Aku ingin tahu seberapa tampan teman lamamu itu dok." Tiba tiba Abi berucap demikian.
Mendengar hal tersebut Oca jadi merasa tak enak hati pada Abi, bagaimanapun juga hubungan antara dirinya dengan Praba telah lama berakhir dan kini tak bersisa apa apa.
Sepanjang perjalanan Oca lebih banyak terdiam saat Abi mengantarnya pulang. Hingga membuat Abi bertanya tanya apa yang membuat Oca memilih untuk berdiam diri.
"Apa kau akan marah bila aku memberitahumu bahwa tadi aku diantar mantan pacarku" Oca membatin tak berani menanyakan hal tersebut kepada Abi.
"Siapa aku hingga aku bisa berfikir seperti itu" lagi lagi Oca tak berani mengutarakan maksudnya.
Hingga telah sampai di Apartemennya Oca tak berbicara sepatah katapun.
"Apa aku melakukan kesalahan Oca ?" Abi kini memberanikan diri membuka percakapan.
"Maksud kamu ?" Tanya Oca yang tak menyadari arah pembicaraan Abi.
"Istirahatlah, mungkin kamu lelah," Kata Abi membukakan pintu mobilnya untuk Oca.
Oca menyadari perubahan sikap pada diri Abi, mungkin saja dia marah atau tersinggung atas perkataan perawat tadi.
Setelah mengantar kepergian Abi, Oca lalu masuk ke Unit Apartemen miliknya.
Di dalam Apartemen miliknya tersebut telah menunggu kedua Orang tuanya
"Apa tadi calon menantu mama ?" Tanya Riana pada putrinya yang baru saja tiba.
"Kalian menginap disini ?" Oca tak menjawab pertanyaan mamanya malah balik tanya.
"Pergi dengan Praba, lalu pulang dengan pria lain mama jadi bingung." Keluh Mamanya Oca.
"Biarkan saja, Oca juga masih muda" Sahut Papa Oca.
"Oca lelah Pa... ma.. Oca ingin istirahat !"Kata Oca meninggalkan kedua orang tuannya menuju kamarnya.
"Kau terlalu mengekangnya, sekarang begini akibatnya putrimu tak pernah ada waktu berkencan di umurnya sekarang," Protes Riana Pada suaminya.
__ADS_1
"Aku melakukannya semua ini demi kebaikannya," Jawab Russel Suaminya.
"Kita jodohkan putri kita dengan anak Miranda" Usul Mama Oca yang telah lama memendam ide untuk menjodohkan Oca dengan salah satu putra Miranda.
"Praba atau Bara ?" pertanyaan suaminya kini membuatnya pusing sendiri bagaimana dia bisa memilih salah satu putra dari teman baiknya.
"Biar Oca yang memilih, tapi mama lebih suka Oca dengan Pria yang lebih tua darinya siapa bisa mendidik Oca" Usul Riana
"Terserah padamu saja, kalau menurutku biar Oca saja yang memilih pasangannya kelak" Sanggah Suaminya.
"Mau sampai kapan ? keburu kita makin tua sayang !" Keluh Riana tak mau kalah.
🍁🍁
Pagi menjelang, Suasana pagi di ibukota disibukkan dengan bermacam macam aktivitas oleh penghuninya. Jakarta adalah kota yang tak pernah lelah menemani segala macam manusia di dalamnya.
Oca hari ini akan menjalani proses persidangan sebagai seorang saksi atas dugaan pembunuhan seorang politisi.
Karena kasus tersebut sudah dinyatakan P21.
P21 sendiri adalah pemberitahukan bahwa hasil penyidikan sudah lengkap. P21 juga bisa diartikan adalah salah satu kode sesuai Keputusan Jaksa Agung no 132/JA/11/94 tentang Administrasi Perkara Tindak Pidana. Dalam berkas yang sudah diperbaharui itu, penyidik telah mengikuti seluruh petunjuk jaksa, di antaranya memanggil saksi.
Oca akan hadir sesuai panggilan pihak berwajib ke persidangan. Kini dirinya telah bersiap siap untuk menjalankan aktivitasnya.
Mamanya telah menyiapkan sarapan untuknya. Sedangkan papanya hari ini akan bertolak kembali ke Banjarmasin.
Oca keluar dari tempat peraduannya dengan tergesa gesa dia ingin segera meninggalkan Apartemennya dengan segera sebelum mamanya memprotesnya karena masalah tadi malam.
Jangankan melihat Praba, memikirkannya saja sudah merusak mood Oca.
"Mau kemana ? kau tak ingin sarapan bersama mamamu ini" Keluh Riana pada putri satu satunya.
"Mama, Oca hari ini sibuk Oca akan mengurus urusan di Rumah sakit dulu kemudian pergi ke persidangan" Jelas Oca menolak ajakan mamanya.
"Mintalah bantuan Praba nak" Bujuk Riana
"Dia tahu akan melakukan apa untukmu" imbuh Riana lagi mencoba mendekatkan putrinya dengan anak sahabat.
"Jangan bahas orang itu" Seketika Oca berhambur keluar. Dia mempercepat langkah kakinya meninggalkan Tempat tinggalnya untuk segera berangkat. Terlebih lagi Abi sudah menunggu dirinya.
Sepanjang perjalanan Oca hanya duduk terdiam memikirkan masalahnya. Dia tak ingin membebani Abi dalam masalahnya.
"Percayalah semua akan baik baik saja" Bujuk Abi yang mengerti isi hati Oca. Kemudian tangan kiri Abi menggenggam tangan Oca untuk menguatkan Oca.
Oca sangat terharu dengan sikap manis Abi, hatinya luluh dengan kesungguhan Abi.
Pagi ini Oca akan melakukan fisioterapi untuk pasien yang terkena serangan stroke.
__ADS_1
Oca dibantu Tami assistennya sedang menerapi seorang kakek berusia lebih dari 79 tahun. Kakek tersebut telah selamat dari serangan stroke. Sekarang beliau melakukan latihan berjalan.
🍁🍁
Selesai menerapi pasiennya, Oca kemudian bertolak ke Pengadilan Negeri. Oca berangkat sendiri menuju Pengadilan, karena ia tak ingin menambah beban Abi. Meski Abi bersikeras ingin menemani Oca.
Jantung Oca berdetak kencang saat memasuki ruang persidangan. Ini sangat berbeda dengan profesinya sebagai seorang dokter. Karena ini merupakan hal baru bagi dia berada di persidangan setelah sidang tilang.
Sidang kali ini adalah mendengarkan kesaksian dari para ahli. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah lelaki yang membantu keluarga korban. Lelaki tersebut tak asing bagi Oca.
Kedua pasang mata itu bertatapan saat Oca masuk ke ruang persidangan. Praba merupakan kuasa hukum dari pihak keluarga korban.
"Dia merusak moodku" Gerutu Oca lirih.
Kini Oca di persilahkan duduk di kursi saksi, Para petugas persidangan akan bersiap melaksanakan jalannya acara sidang.
Seorang petugas Persidangan memandu Oca untuk mengucap sumpah kesaksian.
“WALLAHI” atau (DEMI ALLAH)
“SAYA BERSUMPAH BAHWA SAYA AKAN MENERANGKAN DENGAN SEBENARNYA DAN TIADA LAIN DARIPADA YANG SEBENARNYA” Tuntun petugas tersebut membantu Oca. Kemudian seorang petugas yang lain membawa kitab suci Al-Qur'an diatas kepala Oca.
“WALLAHI” atau (DEMI ALLAH)
“SAYA BERSUMPAH BAHWA SAYA AKAN MENERANGKAN DENGAN SEBENARNYA DAN TIADA LAIN DARIPADA YANG SEBENARNYA” Oca mengikuti Kata kata sumpah orang yang membimbingnya.
Selesai mengucapkan sumpah, Oca mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup di ruang sidang
Seorang Jaksa Penuntut Umum telah berdiri dan akan bersiap memberondong Oca dengan berbagai pertanyaan. Tatapan matanya tajam.
"Coba anda jelaskan Kronologi kejadian dimana saudara Almarhum Barata Wijaya" Pinta JPU terhadap Oca.
Korban tersebut adalah Barata Wijaya, Pak Barata adalah salah satu kader partai pemenang pemilu. Mungkin ini ada kaitannya dengan politik.
"Pagi itu kurang lebih pukul 10.10 WIB, Saya selaku dokter jaga pagi itu sayalah yang menerima korban, korban tersebut memiliki ciri ciri henti jantung, memar merah bukan karena benda tumpul" Jelas Oca panjang lebar.
"Jadi menurut anda, korban diantar ke rumah sakit dalam kondisi tak bernyawa ? karena anda sendiri yang memastikan jam kematian korban menurut laporan" Cecar JPU.
"Korban diantar kerumah sakit dalam kondisi mati klinis yakni ditandai dengan tak ada napas dan henti jantung, jadi bisa saya pastikan bahwa korban sudah tak bernyawa saat tiba di rumah sakit" Terang Oca dengan suara lantangnya.
Dia tak gentar dengan sikap JPU yang menyudutkannya.
"Kalau anda ingin tahu lebih jelas kenapa tidak anda tanyakan pada tersangka atau keluarga korban, kenapa keluarga korban telat membawa korban kerumah sakit" Cecar Oca.
__ADS_1
🌼🌼🌼