
Pagi ini seorang wanita cantik sedang menggeliat dari tidurnya. Lantaran pagi ini ia merasa sungguh puas, puas karena tidur nyenyak yang selama ini ia idamkan telah Oca dapatkan.
Wanita cantik itu kemudian tersenyum puas setelah mengingat kejadian semalam. Ia mengerjai sang suami. Setelah sukses mendatangkan personil gabungan yakni duo satpam yang biasa menjaga keamanan Apartemennya, Oca kemudian masuk ke peraduannya dan mengunci pintunya dengan tak melepaskan anak kunci agar sang suami tidak bisa memasuki kamarnya.
"Pagi dunia !" cicitnya sambil tertawa lepas.
Setelah mengemasi peralatan tidurnya, wanita yang berprofesi sebagai seorang dokter itupun masuk kedalam kamar mandi guna membasuh mukanya.
Ia memercikan air yang keluar dari kran pada wastafel miliknya. Tiba tiba ia teringat akan suaminya. "Apa dia tidur dengan nyenyak ?" gumamnya pelan.
Karena diliputi rasa penasaran, ia buru buru menuntaskan aktivitasnya tersebut.
Oca menemukan sang suami masih terbaring diatas sofa Teater room di apartemen mereka. Lelaki itu masih tertidur dengan nyenyaknya. Tanpa selimut dan bantal pria itu terpaksa mengistirahatkan tubuhnya dengan separo hati.
Oca berjalan mendekati sang suami yang sedang pulas. Ia kemudian mulai membereskan sisa sisa perkumpulan para lelaki semalam.
Namun, ketika tangannya sedang meraih bungkus bungkus makanan ringan tersebut, sepasang tangan telah mendarat di pinggangnya.
"Usilnya istriku !" suara serak Praba mengeluh pada sang istri.
"Kamu sudah bangun yank ?" sapa Oca dengan ramah meski tak membalikan badannya.
"Bukan hanya aku saja yang bangun dek, si belalai pun sudah bangun tidur melihat pawangnya," sahut Praba dengan kata kata melasnya.
"Jangan mengada-ada, aku akan membuatkan kamu kopi Mas," bujuk sang wanita. Ia kali ini menatap dalam dalam mata sang suami yang nampak sayu bagai anak kecil yang sudah lama menunggu ibunya.
"Nggak mau kopi, maunya itu !" celetuk sang suami sambil menujuk bagian atas tubuh Oca yang sensitif.
"Benarkah ?" goda Oca, namun pikiran wanita itu sudah menyiapkan rencana susulan.
"Sayang, aku sudah mendapatkan hukuman dari mu semalam, masa pagi ini juga ?" keluh Praba menyerupai rengekan anak kecil.
"Mas, jangan kaya anak kecil ya !" bujuk sang istri. Kini Oca bukan lagi hanya menatap mata sang suami lagi. Namun kini ia sudah mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi kanan sang suami.
"Apa-apaan dia ? semalam tak mau ditiduri kenapa pagi ini Oca malah menggodaku ?"
"Kenapa bengong ? mandilah, aku membuatkan kamu Kopi dan menyiapkan sarapan," tutur Oca ingin beranjak dari tempatnya saat ini.
__ADS_1
"Tak akan aku biarkan kamu menang lagi yank," ancam sang pengacara tersebut.
Pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan matanya. Segera saja ia merengkuh tubuh sang istri kemudian mencumb*nya saat itu juga di tempat tersebut.
Pada akhirnya, pertarungan kedua suami istri itu dimenangkan oleh Prabasonta.
Pria tampan itu berjalan dengan senyum mengembang di bibirnya ketika ia keluar dari kamar mandi di dalam peraduannya.
Praba memainkan injury time di kamar mandi tersebut. Ia dapat menjebol pertahanan sang istri seperti Intermilan club' sepak bola favoritnya.
Ia bisa merasakan bagaimana euforia Alexis Sanchez ketika menjebol gawang Torino.
Seperti liga Serie-A yang Praba tonton tadi malam bersama duo satpam sialan tersebut.
"Senang kan ?" tegur sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut masih ditutup handuk.
"Bukan senang lagi Dek, puas sekali !" celetuk Praba tanpa menghilangkan senyum sumringahnya.
"Kita sarapan dijalan saja, kamu sudah menghabiskan waktuku Mas,"
"Kalau sudah dapat itu, tak usah sarapan juga Maa rela !" Praba masih tak ingin jauh jauh dari sang istri. Meski sudah mendapatkan haknya, lelaki itu masih saja memeluk sang istri yang sedang mengerjakan rambutnya.
"Mas sih bisa saja, namun kasus ini mewajibkan Mas untuk menghadapi Sandra dan Gandhi Dek," tanpa melepas pelukannya, pria itu menjelaskan apa yang mengganjal dipikiran sang istri.
"Aku juga tak bisa menghindari Gandhi, karena Malika lah yang memilih Gandhi sebagai kuasa hukum proyek kami."
Ada sedikit kekecewaan di hati sang pengacara tersebut, namun ia masih mempercayai Istrinya. Karena Oca berkali kali mengatakan padanya bahwa ia tak akan berkhianat padanya.
"Proyek apa ? kenapa tak memberi tahu suamimu ini Dek ?" tegurnya ingin tahu.
Selesai mengeringkan rambut, wanita itu kemudian menyiapkan baju yang akan dipakai sang suami untuk kerja.
"Baru rencana awal, aku kan pernah memberitahumu ketika di Puncak bahwa aku akan mendedikasikan hidupku untuk masyarakat," jawab sang istri sambil meletakkan pakaian kerja sang suami diatas nakas kamarnya.
"Kenapa tidak meminta bantuan suamimu ?"
Sang suami menyambar baju yang sudah Oca siapkan untuknya. Tatapan matanya masih sayu mendengar bahwa Gandhi akan bisa berkesempatan dekat dengan sang istri.
__ADS_1
"Kerena Malika yang memintanya, Gandhi kuasa hukum langganan keluarga Malika, lagi pula kamu terlalu sibuk Yank," sambung wanita cantik itu sambil membantu memasangkan dasi di kerah baju suaminya.
"Untukmu, apapun akan aku lakukan !" tegas Praba ketika Oca selesai mengikat simpul pada dasinya. Tak lupa sebuah kecupan mesra telah didaratkan di bibir sang istri.
"Cukup bantu aku dengan mendanani proyek kami Mas, kami butuh modal kalau tidak aku akan menjual sebagian sahamku di perusahaan papa !" bujuk sang istri Pengacara tersebut.
Kini gantian Oca lah yang harus bersiap siap untuk kerja. Meski hatinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sang suami tak bisa menghindari wanita dalam masa lalu suaminya.
ππ
Pun sama halnya dengan sang suami, pria itu juga masih belum bisa merelakan bahwa Gandhi akan berkesempatan mendekati istrinya.
Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Ditempat yang berbeda, kedua memikirkan kemungkinan kemungkinan yang mereka takutkan.
Pada dasarnya keduanya memang memiliki sifat yang sama yakni cemburuan, namun Oca lebih bisa mengemasnya dengan lebih elegan tanpa harus bertindak anarkis seperti Praba. Yang bisa sewaktu waktu meledak bila bertemu dengan Gandhi.
Pria itu tidak segan untuk memukul rivalnya tersebut bila ketahuan mendekati sang istri.
Hingga jam kerja longgar yang biasa ia gunakan untuk sekedar menelpon sang istri dan menggodanya kali ini ia pakai untuk memikirkan bagaimana caranya agar Gandhi bisa jauh dari Oca.
πΎπΎπΎ
Sambil menunggu novel ini up, teman teman bisa melipir sebentar ke lapak author keceh lainya.
__ADS_1