
(Aku tak mencintaimu). Balasku padanya. Sesak rasanya dada ini.
Aku tak pulang malam ini,dan memilih tidur di rumah temanku Vera, aku sudah mengirimkan pesan padanya dan dia mengizinkan, lagi-lagi Dito menemaniku. Sepanjang jalan menuju rumah Vera, Dito terus menerus menggenggam tanganku menciumnya berkali-kali. Aku merasa bahagia, teringat kenangan dulu bersamanya.
Aku coba menghubungi Rina, namun beberapa panggilan tidak ada jawaban. Ya, mungkin Rina sudah tidur dengan nyenyak. Melihat hari sudah sangat malam.
(Rin.. gue gak pulang kerumah). Aku mengirimkan pesan kepada Rina.
Malam itu aku tak bisa tidur, aku hanya memainkan gawaiku untuk menghilangkan kejenuhan. Dito yang berada di sampingku tidur dengan nyenyaknya. Aku hanya bisa melihatnya dan mengagumi dia yang sedang tertidur. Betapa bedanya dia sekarang, jelas dia sangat berbeda dengan yang dulu, dia adalah seorang Binaragawan dan sering mengajar keluar kota. Aku terus mengelus pipinya yang di tumbuhi rambut-rambut kecil, hidung yang bangir , alis hitam pekat , dari dulu dia tak pernah meroko jelas saja jika bibirnya merah merona, wanita lainpun kalau melihatnya pasti tergoda. Saking asyiknya memandangi dia, aku tak sadar kalau ternyata Dito sudah membuka matanya.
"Kau akan terus melihatku seperti itu cc". Mengelus wajahku sambil tersenyum, aku yakin kalau itu Senyuman yang membuat wanita klepek-klepek.
"sekarang kamu terlihat gendut ya berisi, pipimu cuby". dia mencubit pipiku.
"awwww". aku mengelus pipiku yang terasa sakit dicubit olehnya.
"Tidurlah.. besok aku antar kau pulang. Sekarang istirahat dulu, kau pasti lelah matamu bengkak, sepanjang jalan kau terus menangis". Dia menariku untuk tidur bersamanya dan memelukku, aku pun kembali memeluknya dengan perasaan yang tak bisa aku jelaskan.
Pagi-pagi aku terbangun, dan menyiapkan semua sarapannya yang dibeli semalam. Aku seperti seorang istri yang menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Aku melakukannya dengan perasaan senang berbeda jika aku melakukan itu kepada suamiku, bahkan aku jarang sekali menyiapkan sarapannya. Dirumahku, aku seperti seorang ratu yang selalu di layani apapun kebutuhanku. Ya, suamiku memang sangat mencintaiku dia tak pernah mengeluh apa yang di kerjakan dirumah.
(Mel.. loe dimana,kenapa tidak pulang). aku membuka gawaiku dan ternyata balasan dari Rina.
(Pantes semalam suami loe nge whatsapp gue, nanyain lo dimana, gue gak bales karena udah tidur, lagi pula gue bingung mau jawab apa). Jawabnya lagi
(Gue dirumah teman gue Rin.) Balasku
(Lo bikin masalah baru mel, kenapa lo gak pulang sih).
(Gue takut Rin, gue takut suami gue ngebunuh gue). Jawabku padanya.
(Kalau dibilang suami lo marah ya pasti marahlah Mel,tapi gak mungkin langsung ngebunuh lo, suami lo baik banget mel,apa yang kurang dari dia. Lo disitu sama cowok itu ya). Balasnya lagi,namun aku tak menjawabnya. Membiarkan hp yang terus berdering, aku tau itu pasti dari suamiku.
"Kamu mau pulang sekarang atau nanti". Tanya Dito saat keluar dari kamar mandi, wangi tubuhnya sehabis mandi membuat aku terbuai.
"Entahlah aku bingung, aku nyaman berada disamping kamu ". ucapku manja merangkul tangannya.
"Pulanglah mel, jelasin apa yang terjadi sama kamu". Bujuk Dito kepadaku.
"Lo gila kali ya.. namanya cari mati itu" jawabku yang emosi mendengar dito ngomong begitu.
"Terus lo mau gimna".
"Gw terlalu nyaman deket lo, gw rasa gw jatuh cinta lagi sama lo Dit". Aku menghampiri Dito yang masih berdiri. Aku memberanikan diri memeluknya menciumnya dan Dito pun membalas ciumanku. Emmphhh desahku saat tangan Dito meraba kebagian inti.
"Ehemmm ehemmm". Vera membuyarkan kami yang sedang berciuman.
"Iissshhh ganggu saja". Runtukku dalam hati.
"Mell lo gak pulang". Tanya vera
"Lo kelamaan disini malu gw sama tetangga" .cercahnya lagi dengan jutek.
"boleh nginap sehari lagi gak Ver." tanyaku pada Vera.
"liatin tuh.. kayanya Vera udah gak respect sama kamu." bisik Dito ditelingaku.
__ADS_1
Aku hanya menghempaskan nafas, Vera yang dulu gw kenal sekarang berubah, jelas nampak terlihat di wajahnya dia tak suka denganku. Aku yang tak punya pilihan akhirnya memilih untuk pulang kerumah, bagaimanapun aku kangen kepada anak-anakku. Tapi tidak dengan suamiku.
"Anterin gw ketempat kemaren lo jemput gw". Cetusku pada Dito.
Aku bersiap untuk pulang, aku tak mengganti bajuku, karena aku tak membawa gantinya.
Dito mengantarku ketempat dimana kemaren dia menjemputku, aku berpamitan kepadanya. Rasanya aku enggan berjauhan dengannya. Aku perlahan-lahan masuk kemobil.
"I miss u" ucapku ketika dito akan pergi. Namun dito hanya tersenyum dan membelai rambutku. Sungguh dengan perlakuan dia yang begitu saja rasanya aku benar-benar terbuai.
"Kalau ada apa-apa hubungi saja aku, aku akan selalu ada" ucapnya lagi sambil tersenyum dan berlalu, aku hanya mengangguk mengiyakan.
Aku duduk dan perlahan menghidupkan mobil dan berlalu dari tempat itu. Akhhhhh rasanya aku tak ingin langsung pulang. Ah iya aku kerumah Rina saja dulu. Rumahku tak jauh dari rumah Rina hanya beda blok saja.
(Rin.. ada laki lo gak di rumah). Aku mengirimkan pesan kepdanya dan tak lama Rina membalasnya.
(Laki gw ya kerjalah.. lo masih dirumah temen lo, gak kepengen pulang gitu, apa gak kasian ke anak lo nyariin lo dari kemaren). Balasnya panjang lebar.
(Hussst... gw mau pulang tapi gak langsung pulang kerumah gw, gw kerumah lo dulu ya). Jawabku
(Lo sekarang dimna, yaudah kesini).balas Rina.
(Gw udah masuk perumahan, cuman mobil gw simpen diruko, lo jemput gw ya). Kataku sambil mengirimkan lokasi.
Tak lama Rina datang menjemput menggunakan motor miliknya. Aku senang punya teman seperti Rina, selalu ada. Beberapa menit kami sampai di rumah Rina.
"Sampai kapan lo mau begini".
"Pulang Mel, gak kasian lo sama laki dan anak lo". baru saja duduk sudah dicecar pertanyaan.
"Yaudah sana tidur, biar otak lo jernih, lo udah makan belom ". Tanya Rina padaku. Dia memang terbaik, senyumku mengembang.
"Gak nafsu makan gw, kemaren udah dibeliin ini itu sma dia, gak gw makan".
"Kenyang makan cinta lo ya". Cetus Rina.
"gw tidur dulu ya.. nanti gw ceritain". pamitku pada Rina masuk kekamar.
Satu jam lamanya tidur aku rasa sudah cukup untuk mengistrhatkan badan yang lelah. Aku menghampiri Rina yang sedang memasak, tiba-tiba saja perutku minta diisi.
"Wangi banget masak apa Rin". Tanya ku pada Rina.
"Masak yang ada di kulkas aja, ayo makan pasti lo belom makan kan". Sambil menyodorkan piring kepadaku. Aku tak pernah sungkan kepada temen yang satu ini. Aku mengambil nasi dan lauk pauk nya.
"Laki lo ngwa gw lagi". Celoteh Rina saat kembali duduk didepanku. Aku menghabiskan makananku dan mulai cerita apa yang terjadi semalam.
"Nanyain gw lg". jawabku.
"Iyalah,, sebagai seorang suami pasti khawatir lah sama istrinya ". Jawab rina.
"tau gak badannya Dito sekarang keker banget." aku mengalihkan pembicaraan. Aku tak ingin membahas suamiku.
"udah lo pulang sana, jelasin sama suami lo, nih suami lo ng whatsapp gw lagi." Rina menyodorkan hp nya dan memperlihatkan isi whatsapp nya.
"Nanti gw wa dia". Jawabku.
__ADS_1
Setelah selasai makan, aku ikut Rina nonton tv, aku kembali membuka pesan dari suamiku, tak hanya pesan berderet tapi juga panggilan yang tak terjawab.
(Benar kamu tak ingin pulang).
(Ade nanyain kamu terus). Satu persatu aku membuka pesannya.
(Hari ini aku gak kerja, gak ada yang jagain anak-anak).
(Hari ini aku pastikan pulang, tapi aku takut kamu marah ). Jawabku tanpa rasa bersalah. Tak lama suamiku membalasnya lagi.
(Tidak marah sayang. Asal kamu cepet pulang ya. Anak-anak merindukanmu). Balasnya lagi pakai emoticon cium.
(Rin.. anterin gw ke tempat tadi). Kataku pada Rina yang sedang asyik nonton.
(Lo gak langsung pulang kerumah lo aja, ngapain mesti bolak balik). Jawab rina.
(Ya enggaklah.. nanti dia curiga kalo gw daritadi di rumh lo). Jawabku
Rina hanya mengangguk, dan mengantarkanku.
(Pulang lo ya.. awas kalau kagak pulang). Ancam Rina.
(Iya gw pulang, gw minta jemput sama laki gw).
Aku masuk kedalam mobil. Dan berpikir lagi, pulang apa tidak itu yang ada dipikiranku saat ini. Namun aku memutuskan untung pulang, akan aku jelaskan nanti dirumah kepada suamiku.
(Beb.. jemput aku di ruko depan). Aku mengirimkan pesan kepada suamiku.
(Tunggu.. aku kesana). Balesnya singkat.
Setelah sepuluh menit menunggu, suamiku datang bersama anak-anak,ada rasa bersalah dan kasian kepada anakku, aku menciumnya bergantian. Kami masuk kemobil dan akhirnya aku pulang. Sepanjang perjalanan kami terdiam dengan pikirannya masing-masing, suamiku yang membawa mobil. Dia tak marah, namun aku tau dia pasti sangat marah, nampak jelas terlihat di wajahnya. Sampai di rumah. Aku langsung menurunkan anak- anak dan aku pun ikut turun bersamanya. Aku melihat suamiku yang sedang menahan amarah dengan nafas yang terengah-engah. Dia melemparkan barang-barangku yang ada di dalam mobil. Aku masuk tanpa memperdulikannya.
Aku merebahkan badanku dikasur serta meregangkan otot-otot yang kaku. Betapa lelah dan capek nya hari ini. Namun saat akan memejamkan mata, suamiku masuk kekamar.
"Semalam dimana". Tanyanya mengintrogasiku.
"Rumah vera". Jawabku cuek
"Bohong.. kamu pasti ketemuan kan sama mantan kamu itu, siapa namanya". Dia mencoba mengingat-ngingat namanya.
"Dito". Tanyanya lagi.
"Kata siapa, orang aku di rumah vera, tidak percaya tanyakan saja pada vera". Jawabku
"Mulai hari ini aku tak mengizinkan kamu bawa mobil". Ancamnya lagi.
"Terserah ambil saja, aku tak butuh". Jawabku menantan membuatku semakin emosi. Nampak suamiku emosi juga.
"Mau mu apa". Tanyanya lagi.
"Aku mau cerai"
---------
setelah baca like ya..
__ADS_1