Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Cinta Tak Bersyarat.


__ADS_3

Dinginnya udara Puncak menambah sendu suasana malam di dataran tinggi tersebut. Kedua insan manusia telah hanyut dalam lamunan mereka masing masing.


Kedua anak Adam itu pun tak saling bertegur sapa.


Mereka kini duduk berdampingan diatas kap mobil milik wanita tersebut. Tentu saja sambil makan jagung bakar sesuai permintaan si wanita tersebut.


"Dunia itu indah, tergantung cara melihatnya,"


Oca kini berpindah posisi menjadi tiduran diatas kap mobilnya dengan menopang kedua tangannya ditaruh dibelakang kepalanya sebagai bantalan.


"Tumben sekali wanita ini jadi puitis,"


Asep mengikuti jejak Oca melakukan hal yang sama seperti yang Oca lakukan.


Sesekali ia mencuri curi pandang kearah wanita disampingnya yang sedang tenggelam dalam lamunannya.


"Tanpa gelap, anda tak akan pernah melihat bintang bintang," Acieee Asep mulai melancarkan serangannya.


"Kalau aku bisa memilih, aku tak ingin menjadi diriku sendiri."


"Hidup memang kadang tak baik baik saja, namun kita punya pilihan untuk percaya bahwa semua akan baik baik saja." Prianya mulai menasehati wanitanya.


"Akan lebih indah bila ditemani tequila," Sahut Oca menatap nanar langit yang dihiasi bintang bintang di depannya.


"Apaaaa ???"


"Aku hanya bercanda Asep," Sahut Wanita itu sambil menunjukan simbol peace berupa dua jari dari tangan kanannya.


"Percayalah padaku, berikan aku kesempatan kedua," Tak sungkan sungkan kali ini tangan Asep berani untuk menggenggam erat tangan Oca.


"Wait, wait wait, kesempatan kedua apa maksudnya ?"


"Kesempatan kedua untuk mengenalmu lebih dalam lagi, Apa permintaanku ini lancang buatmu bos ?"


Diam Oca tak menjawab pernyataan dari Asep, dirinya masih enggan untuk menjawab Asep karena dia merasa Asep hanya menggodanya saja.


"Ijinkan saya mengatakan sesuatu pada Anda Bu,"


"Baiklah Asep, kenapa kau sungkan padaku ?"


Asep lalu memperbaiki sikapnya, ia kemudian duduk disamping Oca yang masih berbaring di atas kap mobilnya. Melihat sikap Asep yang mulai serius, Oca kemudian mengikuti jejak Asep untuk duduk berhadapan dengan Asep.


"Awalnya Saya merasa ini hanya perasaan biasa saja, namun semakin mengenal anda saya merasakan ada ketertarikan pada Anda. Bukan hanya sebuah perasaan suka pada wanita melainkan perasaan ingin selalu melindungi Anda dimana pun dan kapan pun." Praba mulai mengungkap apa yang ia pendam selama ini. Lewat sebuah kata kata pernyataan cinta pada wanita yang telah lama ia dambakan.


Oca hanya mendengarkan dengan seksama, dilihatnya lelaki tersebut memang berbeda dari biasanya. Namun Oca tak bisa menahan perasaannya.


"ckckckckckckc..." Tiba tiba Oca tertawa tak ada hentinya.


Praba hingga melongo dibuatnya, Pikirnya Oca sedang dirasuki roh penunggu dataran puncak.


"Asep Asep, kau pintar sekali menggodaku, aku tahu kau melakukan ini semua agar aku bisa kembali seperti biasa bukan ? jangan berbohong padaku !" Cecar Oca sambil tertawa renyah.


Tanpa dikomando Lagi, lelaki di depannya segera memeluknya.


"Perasaan ini murni, aku sudah menunggu lama untuk ini dan aku tak ingin gagal lagi." Asep kemudian mengeratkan pelukannya pada Oca.


"Benarkah ?"


"Sudah sepuluh tahun aku menunggumu, jadi jangan lari lagi." Gejolak Hati Praba mulai tak menentu, Ia takut bila Oca akan menolaknya.


"Aku tak tahu bagaimana perasaanku padamu, yang jelas aku suka bila bersamamu Asep." Jelas Oca mengakui perasaanya.


"Berarti kau mencintaiku Bu," Goda Asep ketika mendengar penuturan Oca barusan.

__ADS_1


Sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya. Ia tak menyangka bila Oca akan menyukai dirinya yang memainkan karakter Asep.


"Kita mulai lagi dari awal ?" Asep kemudian melepaskan pelukannya dan menatap dalam dalam mata Oca dengan mata yang ia tutupi dengan kaca mata tebalnya.


"Aku takut bila,," Oca belum sempat melanjutkan perkataannya ketika Asep tiba tiba mengecup bibirnya.


Kali ini ia tak akan gagal seperti waktu itu, ketika waktu itu di dalam mobil Praba akan menciumnya malah dihadiahi muntahan Oca di wajahnya.


Detak jantung Oca memburu tak beraturan, begitu juga dengan Praba. Kedua insan manusia yang saling tak bertegur sapa itu kembali merasakan nuansa romantisme kembali.


Kini keduanya melepaskan pagutan antara kedua bibir mereka. Napas Oca sudah mulai terengah engah mana kala Asep menciumnya.


"Rasanya masih sama seperti sepuluh tahun lalu," Batin Asep diiringi senyumnya ketika melihat Oca sudah mulai menetralkan keadaanya.


Kini lelaki berkaca mata tersebut menggenggam erat tangan wanitanya dan duduk berdempetan dengannya. Ocapun menyenderkan kepalanya kepuncak Asep disampingnya.


"Kau tak malu menjalin hubungan dengan seorang supir ?"


Wajah Oca bersemu merona, untung saja ini malam hari. Jadi wajah merona bisa tersamarkan dengan gelapnya malam.


"Kenapa aku bisa me-make over kamu," Sahut Oca kemudian.


"Kau bisa mati berdiri bila tahu wajah asliku seperti apa sayang," Kini Praba sudah tak malu malu lagi memanggil Oca dengan sebutan sayang.


"Itu menggelikan, ingin sekali aku menjitak kepalamu agar pinteran dikit," Kali ini Oca juga sudah tak malu malu lagi. Tangannya sudah mulai melingkar ke pinggang lelaki yang kini resmi jadi kekasihnya.


"Tenang, masih ada kelanjutannya dari rencana ini." Ujar Praba menoleh kearah Oca.


Namun, rencana lanjutan Praba harus ia kubur dalam dalam. Lantaran Gadis yang berada di pelukannya sudah tertidur pulas.


"Dua kali, untung tadi aku sempat menciumnya."


Asep kemudian melepaskan outer yang ia pakai untuk menutupi tubuh Oca agar tak terserang hawa dingin. Pelan pelan lelaki itu menyelimuti tubuh wanitanya agar tak terbangun.


Setelah dirasa Oca sudah cukup nyenyak tidurnya, Praba mengangkat tubuh Oca masuk kedalam mobilnya. Ia akan bersiap pulang kembali ke Jakarta.


Praba mulai menjalankan mobil Oca, sesekali dia melirik kearah wanita yang kini resmi menjadi kekasihnya. Senyum indah tak henti hentinya terukir di bibir Praba.


Tangan kirinya memeluk Oca yang kini tertidur di kursi sampingnya. Sedangkan tangannya satu lagi sedang berkonsentrasi menyetir.


Karena status Oca sudah ia dapatkan, kini tinggal menyusun rencana agar dia bisa menerima kenyataan bahwa Asep adalah dirinya. Kemudian segera menikahinya.


πŸƒπŸƒ


***Oooh... (Kumau dia)


Kuharap semua ini bukan sekedar harapan


Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya


Jadi saksi cintaku padanya


'Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya kuingin bersama dia


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan

__ADS_1


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut


Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya


'Tak main-main hatiku


Apa pun rintangannya 'ku ingin bersama dia


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Bukan kumemaksa oh Tuhan


Tapi kucinta dia (yang kucinta hanya dia)


Kumau dia (yang kumau hanya dia)


Kumau dia


Dan hanyalah dia


Aku mau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Bukan kumemaksa oh Tuhan


Tapi kucinta dia (Kucinta dirinya)


Kumau dia (Kumau dirinya)


Hanyalah dia


Tuhan, Kucinta dia***


Kumau Dia - Andmesh Kamaleng


πŸƒπŸƒ


Lelaki itu tak ingin jauh jauh dari kekasihnya.


Hingga perjalanan usai, Asep masih tak melepaskan tangannya di kepala Oca.


Kini mereka telah tiba di Apartemen tempat mereka tinggal meski tak bersama.


Asep pun mengangkat tubuh Oca yang sedang tertidur dengan pelan, sangat pelan agar Oca tak terbangun dari tidurnya.


"Praba, Bagaimana Oca ?" Tanya Riana ketika membukakan pintu untuk anak semata wayangnya.


"Oca sudah tertidur Tante, maaf Praba membawa Oca hingga telat pulang,"


"Kalau Tante tak ada, apa kalian masih berencana pulang ?"

__ADS_1


"Tentu saja, saya akan menjaga kehormatan Oca Tante karena saya lelaki sejati."


🌼🌼


__ADS_2