
"Give me a reason
To fight the feeling
That there's nothing here for me
Cause none of its easy.."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selepas menemani Alisa berbelanja, Abi menjemput Oca kemudian mengantarnya pulang bersama. Dengan pipi bersemu merona, Oca malu malu saat Abi tiba di Apartemennya.
"Aku akan pergi untuk beberapa hari mulai besok !" Ucap Abi sembari membukaan pintu mobilnya untuk wanita pujaan hatinya.
"Pergi ?" Tanya Oca heran, mengamati raut wajah Abi dalam dalam.
"Besok aku akan berangkat ke wilayah terisolir pandemi !" Jelas Abi dengan perasaan bersalahnya pada Oca.
"Kenapa mendadak ?" Selidik Oca.
Memang benar, Rumah sakitnya menunjuk beberapa tenaga bantuan untuk menangani masalah penyakit di wilayah tersebut. Abi adalah salah satu dari tim yang akan berangkat.
Karena tak kuasa melihat kesedihan Oca, Abi pun memeluknya.
"Aku tak akan lama, setelah ini selesai aku akan pulang membawa orang tuaku kemari untuk menemui keluargamu !" Janji Abi.
"Kamu serius padaku Bi ?" Oca merasa terharu dengan sikap Abi.
Ketika mereka masih berpelukan di parkiran Apartemen Oca, Sebuah klakson mobil menderu membuyarkan angan angan indah mereka.
Orang yang di dalam mobil itupun merasa kesal karena mereka berdua menghalangi jalan mobilnya.
Karena kesal, orang tersebut keluar ingin memaki kedua pasangan yang sedang mabuk kepayang.
"Apa jalan ini punya kakek moyang kalian ?" Umpat Praba meneriaki mereka berdua.
Karena buyarnya lamunan indah Oca, apa lagi orang yang memaki mereka adalah musuhnya, Oca mengeram dengan mengepalkan tangan kanannya.
"Untuk apa dia disini ?" Batin Oca kesal pada lelaki sialan itu.
Tanpa menunggu lama, Oca menarik tangan Abi dan mengajaknya masuk ke gedung Apartemen tersebut.
Begitu melihat kepergian kedua orang yang membuatnya kesal, Praba dengan kasar memarkirkan mobilnya di samping mobil Abi.
Praba mengikuti kemana Oca membawa Abi pergi, tak lupa ia menggerutu sepanjang jalan.
Oca dan Abi masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke unit apartemen milik Oca.
"Apa wanita itu sudah tak waras ? malam malam membawa laki laki masuk ke Apartemennya ?" Maki Praba ketika melihat Oca membawa Abi masuk ke Unitnya.
__ADS_1
Dengan kasar, Praba menempelkan kartu akses masuk ke salah satu unit di gedung tersebut.
Kalau bukan karena harus membantu Bara, dia tak Sudi menginjakkan kaki di Apartemen ini. Bisa bisa dia kena stroke kalau tiap hari harus menyaksikan kemesraan antara Oca dan Lelaki tersebut.
"Sampai kapan aku harus mengikuti permainanmu ?" Maki Praba di telepon.
Dia sedang memarahi adiknya Bara lewat sambungan telponnya.
Dengan sikap santainya, Bara tak menanggapi amukan Kakak laki lakinya.
"Kau harus usaha kak, kau bilang akan membantuku !" Bujuk Bara sambil terkekeh tertawa licik.
"Kau akan menerima akibatnya, bila mempermainkan aku !!" Ancam Praba dengan kesal kemudian mengakhiri panggilannya.
Praba masih memikirkan kedua kekasih tersebut yang kini sedang berada di unit seberang unitnya.
Mata Oca berkaca kaca melihat kesungguhan tekad Abi, dia sangat terharu melihat niat baik Abi.
Baru kali ini dia melihat seorang lelaki yang tulus mencintainya. Abi adalah lelaki yang sangat tepat untuk Oca.
Ketika dia menuangkan air minum untuk Abi, Seseorang mengetuk pintu apartemen miliknya.
Setelah memberikan segelas minuman soda untuk Abi, Oca kemudian membuka pintu apartemennya.
"Selamat malam Bu, maaf atas ketidaknyamanannya.. Saya mendapati laporan bahwa di unit ini air ledengnya tidak keluar .." Jelas Petugas tersebut.
"Ah sial, kenapa aku baru sadar ! ini pasti ulah lelaki sialan tersebut.." Umpat Oca dalam hati.
Karena sudah kepalang tanggung, Jadi Oca membiarkan petugas air tersebut untuk masuk dan memeriksa keadaan PDAM di apartemen milik Oca.
"Baiklah Oca, aku sebaiknya pulang dulu karena harus bersiap siap untuk keberangkatanku besok ,," Kata Abi meminta ijin untuk pulang.
Karena masih di hinggapi rasa kesal, Oca kemudian membiarkan Abi untuk segera pulang. Bagaimanapun dia tak tega menunda pekerjaan Abi.
"Bye Abi, selamat malam.." Sahut Oca melepas kepergian Abi saat itu.
Sebelum pergi, Abi tak lupa memberikan kecupan sayangnya di kepala Oca.
Dan hal tersebut tak luput dari pengamatan Praba.
Dia masuk kembali ke Apartemen yang barusan dia beli kemudian membating pintu apartemennya dengan kasar.
Pintu itu menjadi korban kekesalan Praba saat ini. Emosinya tersulut keluar tapi dia tak kuasa meluapkan hal tersebut.
Sehingga dia lebih memilih untuk mempelajari kasus kasus di firma hukumnya.
Ketika dia duduk sambil mengamati beberapa berkas kasus kliennya, Praba mendapati laporan bahwa Abi telah meninggalkan gedung Apartemen tersebut.
Sedikit senyum tersungging di bibirnya, namun tak menyurutkan rasa kesalnya setelah melihat kemesraan mereka berdua tadi.
__ADS_1
Praba memaksakan otaknya untuk bekerja, namun lagi lagi konsentrasinya buyar akibat memikirkan kejadian tadi.
ππ
"Apa papa memberiku seorang supir ?" Tanya Oca kaget mendengar berita bahwa papanya memberinya seorang supir dan sebagai bodyguard untuknya.
"Kamu ini anak perempuan, akan lebih baik bila ada yang menjagamu apalagi kamu belum menikah !" Jelas Papanya panjang lebar.
"Baiklah,,," Hanya itu saja jawaban yang terlontar dari mulut Oca.
Dengan gontai, Oca berjalan keluar Apartemennya untuk berangkat bekerja.
Pandangannya seketika tertuju pada punggung Seorang lelaki.
Dilihat dari postur tubuhnya, memang pantas bila Papanya menunjuknya sebagai Bodyguard Oca.
"Ehemm...." Oca berdehem membuat Lelaki tersebut berbalik arah.
Oca melihat penampilan lelaki tersebut, ingin sekali dia mengumpat di dalam hatinya.
Bisa bisanya seorang Bodyguard memakai kacamata tebal. Apa mereka tak menyeleksi ya terlebih dahulu.
Lelaki bertubuh tinggi tersebut memakai kacamata silinder tebal dengan memakai topi serta kaos oblong. Dengan tatanan rambut model jaman dahulu seperti belah tengah.
"Selamat pagi Bu, perkenalkan saya Asep saya adalah supir anda mulai saat ini .." Jelas lelaki tersebut.
Oca berfikir sejenak untuk mencerna semua kejadian ini. "Oh baiklah, semoga anda betah !" Oca menjawab perkenalan Asep.
Oca kemudian berjalan ke arah parkir Mobil Apartemen Casa Grande.
Asep meminta kunci mobilnya pada Oca. Dengan enggan Oca memberikan kunci mobilnya ke tangan Asep.
Asep kemudian membukakan pintu mobik untuk bos barunya. Setelah Oca masuk ke kursi belakang, Asep kemudian masuk ke mobil Oca untuk mengantarnya.
"Matic ?" Seru Asep dalam hati.
"Kenapa ? apa kau terbiasa memakai manual ?" Tanya Oca menyadari keadaan Asep.
"Tidak Bu, lelaki sejati bisa segala macam Medan !" Sahut Asep penuh percaya diri.
"CK... bisa saja membualnya.." Ejek Oca dari belakang.
Asep tak berani langsung menatap wajah juragannya dari spion, menurutnya itu tak pantas dilakuan oleh seorang bawahan seperti dia.
"Saya antar anda kemana Bu ?" Tanya Asep lagi.
"Rumah sakit Medistra!" Jawab Oca singkat.
πΌπΌπΌ
__ADS_1