Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Menikah Sungguh Menyenangkan


__ADS_3

"Jadi kalian berdua sudah menikah Bos ?" sergah Gusti mengejar pernyataan dari Bosnya. Ia sangat penasaran apakah benar apa yang dikatakan Bosnya sungguh terjadi, karena untuk sebuah pernikahan bagi keduanya sangat terkesan mendadak.


"Kau pikir aku bercanda ?" maki Praba yang sedang duduk di kursi penumpang bersama istrinya.


"Apa Bu Oca sudah hamil, makanya Bos cepat cepat menikahinya ?" batin Gusti di dalam hati.


"Atau Gusti tak suka bila aku menikah dengan pria ini ? apa kamu masih berharap padaku ?" teruslah Oca menggoda kedua lelaki yang sedang bersitegang tersebut.


"Tentu saja tidak, saya malah sangat mendukung pilihan tepat Bos Praba !" tutur Gusti menjelaskannya.


"Alah kau pasti takut Bonusmu tak cair kan makanya memuji aku ?"


"Suwer Bos, aku berharap kalian segera mendapatkan momongan !" imbuh Gusti memuji pasangan yang berbahagia tersebut.


"Mas, aku ingin pulang sebentar sebelum berangkat kerja !" kata Oca mengalihkan pembuatan keduanya.


"Untuk apa ? aku sudah hampir terlambat yank, kamu tunggu saja di firma !"


"Barang barang ini bagaimana ?" protes Oca sambil menunjuk bagasi mobil Gusti.


"Biar Gusti yang urus !" sahut Praba singkat dan tanpa bantahan dari mulut Gusti.


šŸ€šŸ€


"Mas, bisa tidak kamu jangan lakukan hal seperti itu di kantormu ?" protes Oca ketika sang suami sudah mendekapnya dari belakang. Meski berada di ruangan suaminya sendiri namun rasa isin itu tetap saja muncul.


"Kenapa ? kita bahkan sudah sah sayang ?"


"Jangan lakukan itu, atau aku akan mengambil seluruh tabunganmu !" Oca memberi ancaman pada sang suami yang masih kekeh memeluknya mesra.


Bukan hanya memeluk saja, namun sang lelaki yang baru saja menyelesaikan rapatnya itu sudah memberikan sentuhan sentuhan liar di sekujur tubuh dokter cantik tersebut.


"Mas rela, seluruh isi tabungan terkuras asal mendapatkan ini !" goda sang suami lengkap dengan kedua tangannya merogoh baju atasan sang istri.


"Tapi nggak disini juga kan ?" Oca mencoba memberontak dengan tenaga yang tersisa setelah menolong pasiennya tadi.


"Kenapa ? takut ada yang mengganggu ? aku sudah memberi mereka banyak tugas jadi mereka tak akan ada waktu mengganggu kita !"


"Pria ini benar benar ya, bikin pusing !" gerutu Oca di dalam hatinya.


"Aku masih harus bekerja, dan kamu juga kah ? tolak Oca dengan halus agar tak menyakiti hati Praba.


"Untuk apa bekerja, katanya mau nguras tabungan Mas ?" goda sang suami masih terus ingin menggempur diri Oca.

__ADS_1


"Sampai harus mencairkan deposito lebih awal ?"


"Aku memang sudah berencana mencairkan deposito, untuk membeli beberapa saham di wall street !" jelas sang suami.


"Karena Paman Prabu ?" sergah Oca.


"Karena papa Russel juga, dia sudah menitipkan putrinya dan..." Praba tak jadi melanjutkannya kata katanya.


"Dan apa sayang ?"


"Dan harus menghidupi putrinya dengan layak, karena putrinya hobi berbelanja !" jelas sang suami tak ingin Oca mengetahui isi hatinya yang sedang dilema antara mengambil alih kepemimpinan Mertuanya atau tetap menjadi pengacara.


Oca heran dengan perubahan sikap Asep kawe tersebut. Pasalnya nafsu yang menggebu-gebu kini perlahan hilang. Dan wajah itu tampak murung.


"Ada apa ? apa kata kataku menyakitimu ? atau kamu menyesal karena aku seorang shopaholic ?"


"Siapa bilang, beruntung sekali aku mendapatkanmu kembali ?" kali ini ia tak memeluk istrinya dengan mesra seperti tadi, melainkan mengecup pangkal kepala sang istrinya.


"Kalau ada masalah katakan saja, aku tahu orang seperti apa dirimu !" tak seperti biasanya pula, kini Oca yang berinisiatif memeluk mesra sang suami.


Mendapati perlakuan tersebut, ia merasa mendapatkan lampu hijau dari Oceana kali ini.


Dengan sigap pria itu mengangkat tubuh wanita miliknya dan membaringkannya di sofa dalam ruangannya.


"Mas, kamu beneran ingin melakukannya disini ?"


Ia mulai melucuti kancing atasan sang istri kemudian menindih tubuh istrinya.


Adegan demi adegan pemanasan membuat Praba makin bernafsu, membayangkan sebuah fantasi berhubungan layaknya bos dan assistennya di dalam tempat kerja.


"Bentar aja ya yank, udah nggak nahan nih !"


Kini beberapa kancing baju sang istri sudah nampak terbuka, tinggal pakaian Praba saja yang masih lengkap meski sudah tak kari karuan.


Gerakan tangan yang lihai, dan permainan dari bibir sang pengacara sudah membuat sang istri terbuai. Oca yang pada awalnya menolak, kini sudah mengikuti irama permainan sang suami.


Karena sudah menahan hasratnya, sang suami itupun melepas jas yang ia kenakan. Kemudian ia bersiap membuka pengait tameng bagian atas milik istrinya.


Tubuh mulus bagian atas sang istri yang masih menyisakan tanda kemerahan merahan tak luput dari serangannya. Ia begitu lihat memainkan peranan penting dalam kegiatan seperti itu.


"Yank, apa harus disini ?" rancau Oca dengan kesadaran yang tinggal sebagian.


Pria itu hanya mengangguk kemudian bibirnya langsung menari nari di bagian atas sang dokter cantik tersebut.

__ADS_1


Sekali, dua kali, tiga kali tak cukup baginya. Karena kegiatan seperti itu sudah membuatnya kecanduannya setelah malam tadi.


Suara, desahan dan erangan sahut sahutan membuat keduanya makin semangat melanjutkan ke tahap berikutnya. Untuk saja ruangan tersebut kedap suara sehingga para karyawannya tak bisa mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam kantor Bosnya.


šŸ€šŸ€


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi Mas," tegur Oca ketika keluar dari kamar mandi yang masih berada di dalam ruangan sang pengacara.


Pun sama halnya, sang suami mengekori durinya dari belakang. Sambil masih mengancingkan kemejanya.


"Kami juga tak menolaknya sayang ?" goda sang suami yang kini sudah berdiri di depannya.


Pria yang sudah mendapatkan haknya itu dengan senyum sumringahnya kini menyodorkan dirinya agar sang istri memasangkan dasinya.


"Aku akan pergi bekerja sendiri !" tutur Oca sambil memasangkan dasi sang pengacara.


"Aku harus ke pengadilan, Karena tak bisa mengantar kamu, jadi biar Gusti yang mengantar kamu dek !"


"Aku bisa sendiri yank !"


"Jangan, biar Gusti saja asal dengan satu syarat !" jelas Pria itu memberikan penekanan pada akhir kalimatnya.


"Apa Mas ?"


"Jangan dekat dekat dengan Gusti, karena aku tak suka !"


"hahahaha.." Oca tertawa mendengar penuturan Praba. Akhirnya selesai sudah ia memasangkan dasi suaminya.


Lalu suami istri tersebut berjalan keluar bersama. Tampak sekali wajah sang Arjuna sangat berseri seri. Bagaimana tidak sudah berapa kali ia mendapatkan jackpot dari tadi malam.


"Gus, ada apa dengan Pak Praba ?" bisik Dewi sebelum Gusti pergi mengikuti Bosnya.


"Sajennya dapet wi," sahut Gusti beranjak pergi meninggalkan kekasihnya yang masih disibukan dengan pekerjaannya.


"Ah, bos edan itu pasti sudah menerkam kekasihnya di ruangannya pasti !" sahut Dewi.


šŸ€šŸ€šŸ€


Hallo pembaca sekalian šŸ˜


Bagaimana kabar kalian semua ?


Saya sangat berterimakasih pada kalian semua karena sudah mendukung karya saya ini dari awal saya membuatnya.

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen serta Vote ya. Karena dengan begitu saya merasa semangat saya kembali berkobar untuk bisa menulis sebanyak banyak.


Terimakasih šŸ™


__ADS_2