Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Tepat Sasaran


__ADS_3

"Cinta itu dari hati naik ke mata. Kalau hatinya sudah cinta, seburuk apa pun yang dicintainya akan terlihat indah di matanya".


Nice quote dari Gus Miftah


🌠🌠🌠


"Honey, kalau ada dua orang yang bermesraan biasanya yang ketiga muncul itu siapa ?" Oca melayangkan rayuan kepada Gusti sambil sesekali matanya melirik ke kaca mobil.


"Kalian menganggap aku setan ?"


Si bosnya sedari tadi menahan rasa kesalnya akhirnya keluar kata kata emosinya.


"Tidak," Gusti menatap wajah bosnya yang sedang kesal. Namun lain berbeda hal dengan Oca, sedari tadi wanita yang nampak anggun itu sering nyengir kuda lantaran merasa puas bisa mempermainkan Praba.


Oca juga suka menggoda Gusti, pasalnya ia sangat suka bila Gusti merasa was was pada Bosnya. Lagi lagi Praba lah yang harus menerima akibat dari kemesraan yang telah Oca ciptakan.


Perjalanan mereka tak terasa, kini mereka Selain turun, Oca sudah menyiapkan drama untuk Gusti dan Praba.


Oca tiba tiba mengucek matanya, ia mengeluh matanya perih.


"Honey, tolong tiup mataku ? kelihatannya kemasukan debu deh !" Oca mengeluh pada Gusti.


"Aku pasti di penggal oleh Bos Praba bila aku melakukannya !" Gusti mengurungkan ingin menjawab iya atau tidak.


"Mata seorang dokter bedah itu lebih penting loh dari apapun !" Oca memang pandai membuat keadaan makin runyam.


Terpaksa lantaran harus mengikuti permainan calon istri bosnya, Gusti mau tak mau harus menerima permintaan Oca agar meniup matanya.


Gusti kemudian mendekatkan wajahnya ke dekat Oca.


"Coba saja dia berani bertahan berapa lama ?" Batin Oca didalam hati, ia kemudian menyodorkan matanya ke dekat Gusti agar Gusti bisa lebih leluasa.


Gusti mulai mencoba mendekati mata Oca,


Namun,,, "Braakk," Sebuah kaki dijulurkan dari bangku penumpang bagian belakang.


"Sialan, enak saja dia mau mencurinya !" Umpat Lelaki yang sedang emosi sedari tadi.


"Praba kau sungguh keterlaluan !" Ucap Oca sebelum pergi melangkah keluar dari mobil. Hatinya dongkol lantaran rencananya gagal.


"Hei bukankah matamu kemasukan debu ? aku bisa menciummu !" Praba. berteriak menggoda Oca yang sedang kesal. Ia tersenyum puas lantaran bisa menggalkan rencana keduanya.


"Dia sungguh ingin menguji kesabaranku, awas saja kalau sampai aku dapat !" Praba tersenyum penuh kemenangan dan berbalik masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Gusti.


"Alamak Jang... Beliau pasti akan menindasku habis habisan !" Gusti bergidik ngeri lantaran sedari tadi bosnya sudah melirik kearahnya dengan tatapan penuh penindasan.


"Kau masih punya urusan denganku, tunggu saja !" Pria yang sedang duduk disamping Gusti itupun mengancamnya dan memberikan tatapan bengisnya.


"Kita harus sportif bos untuk masalah wanita,"


"Beraninya kau mencari masalah dengan aku, kau ini tak masuk daftar sainganku Gus, yang benar saja pasti otak wanita itu sedang bermasalah,"


Gusti menahan tawanya, ingin sekali dirinya memberitahunya bahwa Oca melakukan rencana ini hanya untuk membalas perbuatan Praba pada Oca, dirinya dan Dewi.


Praba mengamati Gusti yang sedang mengemudi, ia menelisik Tubuh Gusti dari atas hingga bawah.

__ADS_1


"Benar benar tak masuk hitungan menjadi saingan Prabasonta !" Gumamnya. Lalu apa yang menyebabkan Oca bisa mendambakannya hal itu masih menjadi tanda tanya di kepala Praba.


"Bukakan sabuk pengamanku Gus !" Dengan congak Praba menyuruh Gusti melayaninya setelah mereka berdua tiba di kantor hukum milik Praba.


Drama sudah dimulai, Gusti akan menjalani hari hari penuh dengan penyiksaan dari Bosnya.


"Berjalanlah di depan ku, " Praba menyuruh Gusti berjalan di depannya agar bisa mengamati penampilan Gusti secara menyeluruh dari atas hingga bawah.


"Benar benar buruk sayang seleramu," Gerutu Praba dari belakang.


Gusti kemudian membukakan pintu kantor untuk Bosnya.


"Sebelum berangkat ke persidangan, buatkan aku kopi buatanmu Gus," Pinta Praba sebelum masuk ruangannya untuk menyiapkan beberapa berkas yang akan ia bawa.


"Baik Pak,"


Gusti segera pergi menuju pantry diikuti Oleh Dewi, karena yang biasa membuatkan kopi Praba adalah Dewi, Gusti meminta ia membatu meracikan kopi untuk Praba.


Waktu terus berlalu, Gusti kini sudah membawakan Praba sebuah cangkir berisikan kopi hitam seperti biasanya.


"Silahkan kopinya Pak," Gusti meletakkan kopi didepan meja kerja Praba.


"Kau tak berencana meracuniku kan Gus ?"


Gusti tersenyum mendengar pertanyaan dari Bosnya. Bosnya pasti akan terus mencari gara gara dengan dirinya seharian ini.


Praba menyesap sedikit kopi buatan Dewi tersebut, ia sangat tahu bahwa Dewi lah yang membuatnya, terpikir ingin mengerjai Gusti lantaran rasa cemburunya, Praba kemudian menyemburkan kopi buatan Dewi tersebut.


"Kurang gula Gus, pahit seperti hidupmu !" Ejek Praba dengan sinisnya.


"Hmmm" sahut Praba.


Praba berjalan dengan langkah kesal menuju pantry, Dewi mendekatinya .


"Kenapa dibalikin lagi Gus ?"


"Dia bilang kurang manis," Sahut Gusti malas.


"Benarkah, itu racikan seperti yang biasa aku buat kok !"


"Buat ulang sayang, siapa tahu memang kurang gula." Pinta Gusti memohon pada Dewi supaya membantunya kembali.


Akhirnya Dewi pun menyanggupi permintaan Kekasihnya kembali .


Tak berapa lama, Gusti sudah membawa secangkir kopi untuk kedua kalinya.


Praba menahan senyumnya karena berhasil mengerjai anak buahnya.


"Apa apaan ini Gus ? kau ingin membuatku terkena diabetes agar kau bisa leluasa mendapatkan Oca ?"


"Maksud anda ?" Gusti masih belum tahu letak kesalahannya pada Praba.


"Ini terlalu manis, sudahlah kau memang tak becus Gus !"


"Pria ini memang sengaja mencari gara gara denganku," Baikalah akan saya buatkan lagi.

__ADS_1


Gusti mundur meninggalkan Praba di dalam ruangnya.


Puas sekali rasanya ia mengerjai anak buahnya itu, rasa kesalnya bisa tersalurkan sedikit karena hal tersebut.


Praba makin larut dalam lamunannya, dia sungguh masih tak abis pikir kenapa Oca bisa jatuh hati pada Gusti.


šŸšŸ


Gusti berjalan menunduk mendekati kekasihnya yang sedang menyortir jadwal untuk Bosnya.


"Ehemmm.." Suara Gusti membuat Dewi mengalihkan pandangannya.


"Ada apa ? kenapa mukamu kusut sekali ? apa bos kalah dalam persidangannya ?" Dewi mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Menang, namun suasana sidang mencekam lantaran Bos membabi buta dengan argumennya." Keluh Gusti.


"Pasti dia masih membawa masalahnya ke ruang sidang, tapi ada untungnya Gus kita bisa punya senjata seperti beliau kau lihat betapa tajam cara bicaranya !" Ungkap Dewi masih memiliki hati nurani untuk membela bosnya.


"Namun pada akhir sidang, ia tampak melamun yank, apa dia merasa bersalah pada kita berdua ?" Gusti mengingat momen di akhir sidang ketika Praba lebih banyak diam.



"Tak mungkin, mana mungkin seorang bos Praba memiliki rasa bersalah pada kita ! paling dr Oca tak mengangkat telpon darinya makanya dia melamun gak jelas !" Dewi sangat tahu watak dan kelakuan Bosnya.


Mereka berdua kemudian diam seribu bahasa lantaran Praba berjalan mendekati mereka.


Praba melihat kedua karyawannya sedang asyik mengobrol.


"Mana mungkin Gusti berpacaran dengan Oca, sedangkan dia sangat intens bicara bersama Dewi."


"Apa kau sudah patah hati Dewi, Kekasihmu sudah merebut calon istriku !" Tegur Praba ketika melihat keduanya.


"Oooohhh tidak, eh maksud saya iya Pak." Dewi terbata bata menjawab pertanyaan dari Praba.


Praba kemudian meninggalkan mereka berdua untuk beristirahat di ruangannya.


Sedangkan di ruangannya, Pria yang kerap kali berkata tajam tersebut kini sedang duduk termenung meratapi cintanya.


"Sungguh, hatiku pasti telah membentuk sesuatu entah bagaimana itu caranya.


Aku pasti telah menjadi seperti orang yang bodoh, buta karena cinta


Hanya di suatu tempat, setiap hari


Melihatmu di cahaya yang redup


Meskipun kelenjar air mataku sudah rusak


Airmataku tidak dapat berhenti


Yang aku cinta hanya kamu, kamulah satu satunya


Tidak dapatkah kau mengatakannya padaku?"


(Prabasonta)

__ADS_1


__ADS_2