
"Setengah dari ketakutan hilang dilangkah pertama. Dan sisanya akan menghilang dilangkah berikutnya".
Dhesita Kosasih
🌼🌼🌼
Wanita berbaju Maroon tersebut nampak gelisah, berkali kali sepatunya dihentakkan ke lantai parkiran mobil.
Oca membuang nafas dengan gusarnya saat mendekat di samping mobil papanya.
Dia ingin meminta kunci mobil pada supir Papanya. Meski beresiko kena amukan papanya Oca tak peduli menyelamatkan nyawa orang lebih penting dari apapun.
"Naiklah .. !" Perintah suara dari dalam mobil disampingnya.
Wanita tersebut menoleh sumber suara yang ia dengar, dengan kaget dia menatap pria di dalam mobil tersebut tanpa sepatah katapun terucap dari bibir manisnya.
"Aku tak akan mengulanginya hingga dua kali" Ulang Pria tersebut lagi masih mempertanyakan kesediaan dirinya.
Tami menelponya kembali, kali ini nada bicaranya terlihat cemas.
"Dok, pasiennya kini tak sadarkan diri" Keluh Tami begitu cemas dari suaranya.
Kelihatanya pasien mengalami shock yang memicu penyakit jantung. Kemungkinan pasien tersebut memiliki riwayat penyakit jantung. Pasien tersebut harus segera ditangani agar nyawanya selamat.
Mendengar kata kata Tami barusan, tak sadar Oca langsung masuk ke Mobil Praba.
Memang benar adanya, Lelaki jutek yang menawarkan bantuan padanya.
Praba melihatnya hanya tersenyum kecut sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Oh Oca, kau sedang uji nyali" Umpat Oca dalam hatinya.
Mereka masih terhubung dalam panggilan antara Oca dan Tami.
"Dok kondisi pasien mengalami penurunan, detak jantungnya melemah dan napasnya tersendat" Jelas Tami mengabari Oca.
"Aku bukan ahli kardio Tam, jadi tenanglah sementara tunggu dr Hanung" Bujuk Oca
"Saya dan perawat lainnya sudah mencoba memompa jantungnya, tetapi responya minim" Jelas Tami masih dalam kondisi cemas.
"Lakukan pengecekan HB pasien, kalau kondisi tetap menurun kita lakukan Operasi CABG" Jelas Oca.
__ADS_1
coronary artery bypass grafting atau pencangkokan pembuluh arteri sering disebut juga dengan Operasi Bypass.
"Tetapi seluruh ruang operasi sedang dipakai dok" Imbuh Tami.
Kini Oca menatap lelaki disampingnya, Handphonenya masih terus menempel di telinganya.
Karena Oca menatapnya, Praba jadi Grogi. Detak jantungnya berlari begitu kencang mungkin orang menduga bahwa Praba juga akan kena serangan jantung bila Oca berlama lama menatapnya.
"Aku akan tiba dalam 15 menit" Kata Oca mempertegas ucapannya. Setelah menatap lelaki disampingnya. Dia yakin bahwa lelaki disampingnya akan membawanya lebih cepat ke tempat tujuan.
"Aku bergantung pada anda" Kata Tami sedikit lega mendengar penjelasan Oca tadi.
Kini Oca mempersiapkan dirinya untuk melakukan tindakan Operasi darurat. Meski ini pertama kali dia lakukan untuk melakukan tindakan bedah jantung.
Kemudian Oca melepaskan seluruh aksesoris nya yang ia kenakan. Seperti Cincin anting dan kalung. Karena sejak tadi mamanya memaksanya mengenakan aksesoris berlebihan.
Oca berusaha membuka kaitan kalung dilehernya, karena itu dia menyilakan rambut dilehernya.
Hal tersebut membuat pria disampingnya menelan ludah dengan susahnya. Seketika leher mulus Oca tersingkap oleh tirai alami dari rambut Oca.
"Konsentrasi lah mengemudi" Ucap Oca yang menyadari sejak tadi Praba mencuri curi pandang kearahnya.
"Galak amat" Umpat Praba dalam hati. Dia hanya mampu berseru pada hatinya sendiri karena tak kuasa mengutarakannya langsung pada Oca.
"Dengan supir" Jawab Oca singkat tak memperdulikan reaksi Praba nantinya.
"Kau anggap aku supirmu ?" Bentak Praba yang tak terima Oca menganggap dirinya seorang supir.
"Lalu ? Papaku ?" Sindir Oca mencemooh Praba dengan kesalnya.
Tami begitu heran dengan siapa atasannya berbicara begitu ketus.
"Aku butuh sebuah ruangan sterill Tam, hubungi Alisa aku perlu ruangan giginya" Pinta Oca
"Baik dok" Jawab Tami mengakhiri telponnya.
Rencana Operasi dadakan ini adalah pertama kalinya bagi Oca. Apalagi untuk masalah Jantung dan pembuluh darah. Meski ia sudah mempelajarinya sewaktu mengambil kuliah dokter umumnya namun itu tak menyurutkan rasa gelisahnya.
Suasana malam ini sedikit agak lenggang hal tersebut membuat Praba dapat mempercepat laju kendaraannya ke tempat tujuan.
Kembali Oca menghubungi Tami untuk memonitor kondisi pasien saat ini. Kemudian menyuruh Tami untuk mengecek Hemoglobin Pasien.
__ADS_1
"Tami lakukan pengecekan HB pasien dengan cara manual" Perintah Oca.
"Bagaimana bisa pengecekan melalui cek darah memakan waktu lama dok" Tami membantah kata kata Oca.
Hb sangat penting bagi pasien pra Operasi, karena Hb atau Hemoglobin harus optimal untuk dapat mengikat obat dan Anastesi.
"Lakukan perintahku ! Genggam pergelangan tangan pasien" Ujar Oca memberikan aba aba kepada Tami.
"Sudah dok, lalu ?" Tami menunggu perintah selanjutnya dari dokternya.
Oca menunggu beberapa saat, sekiranya sudah cukup waktunya. "Lepaskan dan kamu amati seberapa lama perubahan dari warna pucat ke warna asal sebelum kamu menggenggam pergelangan tangannya" Cecar Oca memberikan aba aba.
"Agak cukup waktu lama dok, dan warna pembuluh darahnya tak Semerah pada umumnya" Kata Tami menjelaskan keadaan Pasiennya.
Praba merasa kagum dengan kemampuan kerja wanita yang kini bersamanya. Dia tak segan memujinya.
Kini Oca mulai berfikir akan membutuhkan berapa banyak kantong untuk melakukan transfusi darah pada pasien. Karana Kadar Hb pasien sangat minim. Mungkin berkisar kurang dari 10gr/dl. sedangkan untuk Laki laki kadar HB harus 13-17 gr/dl.
"Sementara, lakukan transfusi darah Tam coba dulu satu kantong lalu liat kembali hasilnya sampai aku datang" Perintah Oca kemudian menutup telponnya.
"Kalau saja aku tak terjebak di hotel tadi, aku pasti sudah bisa mendiagnosa orang tersebut" Batin Oca.
"Bagaimana kau akan membayar sopirmu ini nona ?" Praba tiba tiba menanyakan perihal tumpangannya.
"Tenang saja, aku tak mungkin lari dari balas Budi" Sahut Oca ketus.
"Bukankah ini pertolongan pertama dariku ?" Sindir Praba melihat tingkah laku Oca yang sangat ketus padanya.
Berkali kali Oca melihat jam di Handphonenya, wajahnya kini semakin khawatir memikirkan nasib pasiennya.
Dia percaya bahwa lelaki disampingnya akan membawanya dengan segera ke tempat tujuan. Entah kenapa dia bisa begitu percaya pada orang yang telah menyakitinya dulu.
Oca buru buru membuang jauh jauh pikirannya yang macam macam. Kini Prioritas utamanya adalah menyelamatkan nyawa orang.
Kurang dari 15 menit kini Rumah sakit sudah didepan mata. Praba buru buru melajukan mobilnya menuju Pintu Utama Rumah sakit tersebut.
Begitu Praba menghentikan mobilnya, buru buru Oca keluar dari mobil dan berlari menuju pintu masuk rumah sakit tersebut.
Meski masih memakai sepatu hak tinggi, tak menyurutkan niat Oca untuk berlari secepat kilat menuju tempat dimana Tami dan pasien tersebut berada.
Dari jauh Praba masih menyaksikan wanita yang pernah memadu kasih dengan dirinya dulu berlari dengan tergesa gesa sambil menghujat rambutnya sekenanya.
__ADS_1
Ada rasa kagum di dalam lubuk hati Lelaki tersebut pada Mantan kekasihnya itu.
🌼🌼🌼