
Hidup memang kadang tak adil
Ia memilih pemilik keberuntungan tanpa mendengarkan permohonan para hamba
Aku bahkan tidak pernah berdoa
Berharap semua indah saja tidak pernah terbesit
Dunia begitu baik,
Kubekukan satu kalimat abadi dalam hati
Lalu kenapa harus ada doa?
Aku mendapatkanmu dengan cuma-cuma
Tanpa seorang pun aku merasa cukup
Tak berguna semua orang
Saat kamu adalah milikku
Tak seorangpun pendosa merasakan indahnya menjadi aku
☘️☘️☘️
Kedua insan manusia yang sedang berada di Padang Savana cinta, tak ayal keduanya saling tertawa satu sama lain. Hingga tiba di depan hunian wanitanya.
Setelah menurunkan wanita pujaannya, lelaki itu berbalik arah menuju pintu apartemen Oca.
"Katanya minta dimasakin makan malam ?"
"Apa kau kecewa melihatku pulang sayang ?" Seringai licik muncul kembali di senyum Praba.
"Eheh.." Wanita itu menggelengkan kepalanya memberi tanda tidak bagi Praba.
"Aku hanya pergi sebentar, sebelum makan malam aku akan tiba disini !"
"Bodoh amat, cepatlah pergi !" Kesal karena Praba selalu terus terusan menggodanya, Oca berniat mengusir lelaki itu.
"Hoho, jangan ngambek dong aku akan pulang mencicipi masakan mu sebelum mencicipi dirimu !"
"Plukkk.." Sebuah bantal sofa melayang mengenai kepala Praba.
"Terimakasih sambutannya ya sayang !" Sambil menahan tawanya pria yang sedang sibuk itu melangkah keluar apartemen Oca.
"Dia pergi buru buru sekali sampai belum sempat cuci tangan, dasar Jorok !" Oca kemudian membalikan badannya menuju kamarnya untuk mengganti pakaian sehari hari.
Sedikit rasa kesalnya ia hilangkan dengan menyiapkan sesuatu untuk ia makan.
Andai ia tak kembali pulang ke Indonesia, mungkin semua masalah ini tak akan terjadi.
Hatinya tak mungkin akan bergejolak seperti ini setiap hari.
☘️☘️
Bell di Apartemen milik Oca berulang kali berbunyi, sebenarnya ia sungguh enggan untuk membukaan pintu Apartemen miliknya.
Siapa lagi si empunya pembuat masalah kalau bukan Pria yang sudah mengobrak abrik hati dan pikirannya.
Klekk." Ada apa ?" Manik matanya melirik kearah lelaki yang sudah berganti pakaian dari yang tadi.
"Mana ucapan selamat datangnya baby ?" Lelaki itu merangsak masuk tanpa diundang ke apartemen milik Oca.
"Lelaki ini apa tak ada sopan santun sama sekali ?"
Tanpa dikomando, Prabasonta sudah duduk dengan manis layaknya seorang anak kecil yang sedang menunggu ibunya.
"Mana makanannya ? aku lapar ?" Pria itu tak sungkan sungkan mengatakan hal seperti itu pada Oca.
__ADS_1
"Apa Tante Miranda tak memberimu makan ?" Lantaran kesal Oca berjalan sambil menggerutu menuju dapurnya.
"Aku kan sudah dewasa, ibuku sudah tak memperdulikan aku lagi sekarang ganti kamu yang memperhatikan hidupku !" Tiba tiba Praba datang mendekatinya kemudian memeluknya dari belakang ketika Oca akan mengambilkan sepiring Pasta.
"Singkirkan tanganmu atau tak makan ?"
"Tak makan, aku akan memakan dirimu terlebih dahulu,"
"Berhentilah seperti anak kecil Mas," Ucapnya lirih, dari nada bicara Oca tersirat banyak makna. Apakah ia sudah membuka hatinya kembali atau memang sengaja untuk menghindari dirinya.
"Kau memanggilku apa sayang ?" Praba ingin memastikan bahwa kupingnya memang tak sedang bermasalah.
"Mas Praba," Panggilnya mesra. Kali ini telinga Pria itu merasakan getaran getaran seperti sengatan listrik. Aliran darahnya mendesir kencang, seluruh bulu kuduknya merinding.
Tanpa ia sadari ia telah melepaskan pelukannya lantaran terpaku karena mendengar panggilan dari Oca.
"Panggil aku seperti itu mulai sekarang dan seterusnya Oke ?" Bak seperti telah memenangkan sebuah jacpot dari undian lotre mata Praba berbinar binar.
"Jangan harap ! Listrik Prabayar !"
"Baru aja merasakan panggilan mesra, eh udah balik lagi nasib nasib,,"
"Ayo," Oca membawa dua buah piring yang berisikan Pasta lengkap dengan saus bolognese.
"Enak ya punya bini, makan tinggal makan !"
"Kalau makan diem," Oca memarahi lelaki yang duduk di depannya dengan mengayunkan garpu yang ia pegang.
"Baik Bunda," Tak menunggu waktu lama Oca sudah menendang kaki Praba yang berada duduk di depannya.
"Apa salahnya aku memanggilmu bunda sayang ?"
"Yang salah bukan bundanya, yang salah orangnya dasar tak tahu malu !"
"Makan malam tak lengkap bila tak ada wine !" Praba tinggal sedikit akan menyelesaikan makanannya.
"Aku akan mengambilnya untuk kita, atau kau mau ikut dengan diriku mengambilnya sekalian room tour untuk rumah masa depan kita."
"Untuk apa ? lagian aku juga sudah pernah menginap disana bukan buat apa room tour?"
"Atau jangan jangan kau ingin langsung pindah bersamaku sayangku ? Oca ku ?"
"Terserah apa maumu, aku tak ikut campur !"
Oca sudah selesai makan lalu ia membawa piring bekas mereka ke kitchen zink dengan di area dapur.
"Biar aku bantu," Lelaki itu kemudian mengambil alih beberapa peralatan makan yang sudah mereka pakai.
"Kenapa tak semua saja ?" Goda Oca sambil memercikan air di tangannya ke muka Praba.
"Kau nakal sekali dear, pandai menggoda calon suamimu !"
"Cepatlah, katanya mau ambilkan wine ? sudah lama aku tak minum beralkohol !" Oca menyeringai dengan senyumnya.
"Selain denganku, kau tak boleh melakukan hal semacam ini ! kau mengerti anak nakal ?"
Hal sepele seperti mencuci piring sudah mereka selesaikan, sekarang giliran Praba ingin mengambil beberapa botol wine.
"Kau yakin tak mau ikut ?"
"Aku akan menunggumu disini,"
"Aku mengkonsumsi obat untuk insomniaku, apa kau mau melihatnya ?"
"Kenapa harus mengkonsumsi obat ? terapi sajalah itu lebih natural ! aku ingin kau bergantung pada Obat !"
Alhasil, Oca jadi mengekori kemanapun Praba berjalan. Mereka turun ke lantai lebih bawah untuk masuk ke Apartemen milik Praba.
"546783" Praba memberi tahu password Apartemen miliknya pada Oca.
__ADS_1
"Buat apa ?"
"Lain kali kalau kau mau masuk bila aku tak ada, langsung masuk saja." Praba membuntutiku pintu hunian mewahnya pada Oca.
"Kalau ada yang hilang gimana ?" Gadis itu masih malu malu dibuatnya. Wajahnya merah menahan malu.
"Hal yang berharga saja sudah hilang kau ambil, lalu untuk apa aku takut," Praba mengajak Oca masuk ke sebuah ruangan yang ia khususkan untuk bekerja.
Tak jauh dari meja kerjanya ada sebuah ruangan yang bersekat, ruangan itu berupa tak rak yang berisikan botol botol wine dari tahun ke tahun.
"Luar biasa .." Hanya itu kata kata yang terucap dari mulut manis Oceana.
Mulutnya komat Kamit membaca setiap jengkal rak tersebut.
Praba mengeluarkan salah satu wine nya, Wine produksi negara Perancis ini masuk kategori wine termahal di dunia.
"Tuhan, Jiwa matreku meronta ronta !"
"Setelah tahu aku kaya, apa kau masih berani menolakku wahai nona ?" Praba membuka penutup wine yang bernama Cheval Blanc dengan th 1947. ( kalau mau tahu harga updatenya bisa cek di Gugel ya para fans emas Praba ).
"Aku tak perlu cari gadun lagi dong ?" Oca tertawa cekikikan menggoda Praba.
Kemudian ia menyodorkan dua buah gelas didepan Praba.
"Aromanya kuat," Oca menggoyang goyangkan gelas yang sudah Praba tuangi Wine.
"Coba saja, kalau bosen ada yang lain !"
Praba mengambilkan salah satu botol dari koleksi winenya.
Wine yang memiliki merk Scraming Eagle Carbarnet th 1992. Wine ini juga tak kalah enak dari Cheval Blanc. Wine jenis ini terlihat lebih pekat. Salah satu anggur merah yang memiliki rasa lebih spesial dari beberapa merk lain.
Baru minum beberapa teguk, mata Oca sudah merah. Praba ingat ketika Oca sedang down setelah kematian Abi, dia sudah mabuk hanya dengan meminum 2 gelas Tequila.
"Jangan banyak banyak, kau bisa mabuk !" Pria itu melarang kekasihnya untuk minum banyak banyak winenya.
"Sesekali, mumpung aku disini ?" Jawab Oca sembarangan.
"Kau bisa kesini dan minum kapan pun kau mau sayang, untuk malam ini cukup ya ?". Praba merebut gelas yang Oca bawa.
"Kenapa kau bawel sekali," Oca bangkit ingin merebut kembali gelas winenya. Namun langkahnya terhenti lantaran kepalanya sudah berputar putar. Ia kemudian duduk dibawak rak wine milik Praba sambil berselonjor kaki.
"Aku mau lagi?" Pintanya sedikit terisak.
"Malam ini sudah cukup," Praba sudah duduk disebelahnya setelah meletakkan gelas bekas Oca tadi.
Ia memandang Praba dengan tatapan memohon layaknya seorang anak kecil.
"Besok lagi ya, aku janji ?" Pria itu menjelaskan agar Oca bisa mengerti bahwa ia mudah sekali tak sadarkan diri.
"Mana obat yang kau ceritakan ?"
"Ada, mau lihat ?"
Oca mengangguk, meski kepalanya agak berat namun ia masih mencoba menahannya.
"Obatnya bernama wine and kiss !"
Kedua anak Adam itupun menautkan bibir mereka bersama. Memang sang lelakilah yang berinisiatif merebut Lips kiss tersebut.
Dan yang lebih mengejutkan Praba, Oca tak menolaknya.
"*Benar benar rejeki nomplok !"
🤭*
🌼🌼🌼
__ADS_1