
"Jika kalian belum siap mati jangan pernah tantang Saya, Saya siap mati demi menegakkan keadilan."
Basuki Tjahaja Purnama.
πππ
Widya dan Kuasa Hukumnya yang tak lain adalah Praba sudah memasuki ruang sidang untuk membacakan nota pembelaan atau Pledoi.
Wanita single tersebut terlihat gugup dengan sidang kali ini, matanya menatap nanar pada tim hakim beserta pihak korban.
"Percayalah semua akan baik baik saja," Praba mencoba menenangkan Widya ketika mereka duduk bersama tim Praba yang lain.
"Aku akan mengungkapkan kebenaran yang ada, meski beresiko besar."
"Seluruh keluargamu aman bersamaku, aku jamin itu dan aku juga tak akan tinggal diam melihat kejahatan menang." Praba meyakinkan Widya dan juga dirinya sendiri bahwa mereka semua pasti akan memenangkan kasus tersebut.
Para hadirin telah memasuki ruang sidang,
Semuanya telah siap di posisi masing masing. Kini Status Praba yang dulunya Kuasa hukum Korban jadi beralih menjadi kuasa hukum Terdakwa.
Kan yang mengejutkan, yang menjadi kuasa hukum istri korban adalah rival Praba sendiri yakni Rudy Sugandhi.
Dia selalu menyusahkan langkah Praba selama ini.
Setelah hakim mempersilahkan Widya untuk maju menyampaikan pledoinya, Wanita yang sedari tadi sudah menunggu itupun dengan tekad kuat dan hati yang mantap akan menghadapi kasus ini.
Widya yang seorang single mother harus menelan pil pahit setelah di vonis oleh hakim dengan kurungan 15 th penjara karena telah berencana melakukan percobaan pembunuhan.
Widya membawa buku yang berisikan nota pembelaan dirinya, dilihat dari ketebalannya kira kira berkisar ratusan halaman. Kadang ada yang sampai ribuan lembar, Seperi kasus Setya Novanto yang diduga menghilangkan barang bukti.
Wanita tersebut mulai membacakan nota pembelaan dirinya di hadapan majelis hakim. Permintaan tak muluk muluk, dia ingin mendapatkan keringan dari hukumannya karena memiliki seorang bayi berumur 2 tahun. Begitulah garis besar Pledoi Widya.
Namun, Praba dan timnya sudah menyiapkan bukti bukti kuat bahwa Widya bukanlah otak pembunuhnya. Widya adalah sebuah bidak catur yang telah disiapkan oleh seseorang untuk membunuh korban.
Praba menemukan transaksi mencurigakan dari rekening istri korban yang bernama Ratih.
Transaksi tersebut merujuk ke sebuah akun rekening penjual obat dari luar negeri.
Memang tak disebutkan nama obatnya, namun nama penjualnya bisa dijadikan barang bukti. Apalagi bila Praba bisa menghadirkan penjual tersebut.
Praba sudah mempersiapkan semuanya, Perusahaan penjual obat obatan tersebut kini sudah berada dibawah kendalinya. Hanya tinggal memanggilnya saja, Si penanggung jawab akan datang suka rela.
Melihat lawan mereka memiliki bukti yang kuat, Gandhi dan timnya mulai kelabakan seperti cacing kepanasan. Apalagi Ratih, istri korban dari raut mukanya saja sudah dipastikan bahwa dia sudah berkeringat dingin dan bisa dipastikan tak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
__ADS_1
ππ
Sidang pun ditutup, dan akan dilanjutkan pekan depan.
Terlihat wajah wajah puas dari Widya dan Kuasa Hukumnya. Apalagi Praba, dia sangat puas bisa membungkam mulut Gandhi tanpa perlawanan.
Mereka berdua Seperi memiliki dendam pribadi, api permusuhan di kedua pasang mata dari pengacara tersebut sangatlah ketara.
"Selamat Tuan Praba, sidang kali ini anda yang mendominasi. Namun pekan depan saya pastikan tak akan ada senyum sedikitpun dari seluruh tim anda," Ancam Pengacara muda tersebut.
"Oke, aku tunggu balasan surat cinta dari anda." Praba mengejeknya dengan senyum sinisnya.
Setelah kepergian Gandhi, Praba pun mengecek ponsel dari dalam sakunya. Dia ingin memastikan bahwa wanitanya akan menghubunginya.
Benar saja, sudah lebih dari 3x Oca menelponya ketika di dalam ruang sidang. Berhubung Praba menyetel ponselnya agar tak bersuara, jadi dia tak bisa mendengar ketika Oca memanggilnya.
Buru buru Praba menekan tombol panggil di ponselnya.
Setelah menunggu beberapa saat, Wanita pujaannya akhirnya mengangkatnya.
"Apa kau merindukanku Bu?" Goda Lelaki tersebut.
"Bukankah tadi kau duluan yang menelponku ketika aku sedang melakukan operasi Asep ?" Oca balik menanyainya.
"Kau sendiri kenapa tak mengangkat telpon dariku Asep ?" Cecar Oca masih dengan nada manjanya kepada kekasihnya.
"Kan sudah kubilang aku kan sibuk hingga siang, ini baru saja selesai."
"Kalau begitu, aku tak akan mengganggu Asep."
"Kita bisa makan siang bersama,"
"Aku masih ada beberapa pasien yang harus di cek kondisinya, mungkin aku tak bisa bagaimana kalau kita ganti saat aku pulang kerja ?" Usul Oca tak ingin mengecewakan kekasihnya
"Ide bagus, aku akan menjemputmu tepat waktu." Meski sedikit kecewa karena gagal ingin segera menemui wanitanya, Praba masih bisa terima karena Oca memang sibuk benar adanya.
"Bye, my Antique Driver,," Ucap Oca menutup panggilan mereka.
"Bye, my Antique girlfriend," Praba meniru kata kata yang Oca ucapkan.
"Kami berdua berasal dari latar belakang yang tak sama, dan berprofesi berbeda. Namun satu hal yang menjadi tujuan utama kami, yakni Azaz kemanusiaan."
Benar adanya, mereka berdua memiliki kesibukan yang padat, yang satu berjuang di UGD demi menolong nyawa manusia. Dan yang satu berjuang di ruang sidang menolong hak manusia.
__ADS_1
Pada dasarnya mereka memang memiliki kesamaan, yakni sama sama pekerja keras. Praba sendiri bila sedang menangani sebuah kasus tak ayal dia akan bekerja dari pagi ketemu pagi lagi.
Begitu juga dengan Oca, dia di harapkan selalu standby ketika keadaan darurat meminta pertolongan darinya, tak peduli kapan waktunya.
Jadi kalau Praba sampai sekarang masih jomblo, selain memang belum bisa move on juga karena dia tak ada waktu memacari gadis gadis seperti Adiknya Barapathi.
ππ
Lelaki tersebut kini memacu kendaraannya menuju kantor hukumnya, Dia masing ingat bahwa sedang memberikan tugas tak biasa pada Dewi dan Eko.
Entah angin apa yang merasuki pikirannya, kenapa ia sangat marah setelah Eko membuang botol kosong tak berharga milik Oca.
"Mungkin aku sudah gila seperti kata Oca," Batin Praba sambil tersenyum.
Ketika memasuki area kantornya, Dari jauh Praba sudah senyam senyum sendiri tanpa sebab.
"Pak saya sudah menemukan botol yang anda maksud," Ujar Dewi terbata bata takut salah dalam berkata. Pasalnya nasip tunjangan seluruh karyawan ada pada Dewi saat ini.
Sambil menerima botol tersebut, Praba melihat kearah Seluruh karyawan yang sedang mencuri curi pandang karena nasip mereka akan dipertaruhkan.
"Kau menemukannya dimana ?"
"Tong sampah Utama Pak, Eko sudah membuangnya ?" Jelas Dewi sangat berhati-hati.
"Apa ??"
Jantung Dewi makin tak karuan lantaran Praba berteriak oleh penjelasan darinya.
"Segera rendam selama setengah jam di dalam cairan antiseptik lalu keringkan, aku tak mau tahu lakukan secepatnya kalau tidak seluruh karyawan di kantor ini akan berakhir di tempat pembuangan sampah." Ancam Praba panjang lebar.
Seluruh isi kantor tersebut makin tak menentu sikapnya. Bagaiman tidak nasip karir mereka sudah diujung tanduk. Mau tak mau mereka semua membantu Dewi dan Eko melaksanakan tugas Dari Bos mereka.
Bosnya yang selalu membuat mereka senam jantung dibuatnya.
"Pak Praba akhir akhir ini makin aneh ya Wi ?" Celetuk salah satu pegawai di kantor tersebut.
"Iya, gara gara botol kosong sialan ini, kita semua kena getahnya. Sebenarnya botol keramat ini apa kelebihannya ?" Sahut Dewi dengan kesal membawa botol tersebut ke ruang P3K untuk mencari cairan antiseptik.
"Botol yang ada jin di dalamnya kali Wi," Sahut Gusti yang kebetulan baru datang.
"Elu kali Gus jin nya, mana ada di jaman milenial gini jin dodol," Sahut Dewi dengan kesal.
πΌπΌπΌ
__ADS_1