
Dengan rakus Pria itu melampiaskan rasa yang sudah ia pendam selama ini, rasa yang semakin membara di relung hatinya.
Tak berbeda dengan Lelakinya, sang Dewi pujaan hatinya pun tak menolak dengan apa yang ia berikan.
"Aku sudah menunggu lama untuk ini," Gumam Pria itu di dalam hati.
Dua insan manusia yang sudah lama merindukan sebuah kasih sayang membuat mereka hanyut dalam lautan asmara.
Entah itu Oca lakukan atas kesadaran dirinya atau tidak.
"Merindukan aku yang seperti ini dear ?" Pria itu kemudian melepaskan aksi nekatnya setelah menyaksikan wanitanya terengah engah kehabisan napas akibat ulahnya.
Bukan sebuah jawaban yang ia dapatkan, melainkan sebuah tatapan sayu dari wanita tersebut. Sekonyong konyongnya Oca berusaha bangkit dari tempat mereka berpetualang dalam cinta tadi.
"Mau kemana ?" Lengan kokoh itu menghalangi langkahnya. Ia masih tak ingin merelakan wanita itu meninggalkannya sendiri.
"Go home, i Will sleep!" Ia berjalan dengan tertatih lantaran kepalanya sudah dipenuhi bayang bayang indah tadi.
Tanpa ia sadari kaki jenjangnya menabrak sebuah meja dalam ruangan tersebut.
"Hei, siapa yang menghalangi langkah ku?" Rancaunya dengan kesal. Oca merasa ada seseorang yang menahan jalannya.
"Mana yang sakit biar aku lihat ?" Pria itu kemudian mendudukan Wanitanya diatas meja kemudian menyentuh kakinya untuk memeriksa bekas benturan melawan meja kerjanya.
"Disini !" Jawab wanita itu menunjuk ke arah hatinya. Ia kemudian menunduk sambil terisak.
"Jangan bersedih lagi, tak akan ku biarkan kau menangis lagi. Aku akan membahagiakan dirimu dengan nyawaku !" Pria itu kemudian membekap tubuh lemah wanitanya. Satu tangannya kemudian merogoh saku di celananya.
Oca menumpahkan semua kekesalannya pada lelaki di dekatnya itu.
"Aku membencimu, sangat sangat membencimu !" tangannya memukul mukul pundak pria yang sedang memeluknya.
"Aku tahu," Ia melonggarkan pelukannya dan menatap dalam dalam sepasang mata milik wanita itu.
"Jadilah milikku seutuhnya !" Kemudian ia memperlihatkan sebuah kotak kecil pada Oca.
Tanpa menunggu waktu lama, ia membuka kotak tersebut.
Wanita itu tampak kaget melihat isi di dalam kotak tersebut. "Apa aku sedang berhalusinasi ?" Gumamnya pelan.
Pria maskulin tersebut kemudian menarik lembut tangan Oca dan menyematkan benda tersebut ke jari manisnya.
"Aku harap kau mau menerimanya, seperti kau mau menerimaku !"
Setelah menyematkan benda tersebut, kembali Praba mendaratkan ciumannya dengan target di depannya.
Ciuman kali ini tak seperti ciuman sebelumnya yang penuh hasrat. Ciuman kali ini lebih seperti sebuah pelepasan perasaan kasih sayang.
Bukan Praba namanya bila tak membuat gondok Oca. Ciuman yang awalnya lembut kini sudah berubah menjadi buas.
Tak tanggung tanggung, leher mulus wanitanya kini sudah menjadi target sasarannya.
Apalagi posisi mereka kini seperti seorang bos sedang melahap karyawannya diatas meja kerjanya.
Pria itu semakin bernafsu membayangkan fantasi liarnya.
Tanpa ba-bi-bu, ia memberondong wanitanya dengan serangan bertubi tubi. Ia tak akan gagal pada malam ini.
__ADS_1
Namun sayangnya, kesadaran Oca sudah sangat berkurang.
Ketika matanya menatap langit langit ruangan tersebut, sebagian penglihatannya sudah kabur dan tak sadarkan diri.
"Lagi lagi gagal, sial !" Umpat lelaki itu merasa kecewa.
Dengan langkah pasti, Pria itu membawa tubuh tak sadarkan diri Oca ke dalam sebuah kamar yang pernah Oca tiduri sebelumnya.
Kamar dengan nuansa lelaki sangat melekat pada ruangan tersebut.
Kemudian ia melepaskan jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh wanita pujaannya. Dia pun merasakan ada sesuatu kedamaian bila berada di dekat wanitanya.
Ia akan menghilangkan rasa kesalnya dengan menikmati beberapa teguk wine yang tersisa tadi.
Dia benar benar kecanduan bila berdekatan dengan Oca. Candunya ini lebih serius dari pada minuman beralkohol koleksinya.
Sementara itu, Seorang wanita sedang berbaring nyaman di sebuah ranjang berukuran king size milik Pria tersebut.
Segera setelah menenggak minumannya ia kembali mendekati wanita yang sedang terhanyut dalam mimpi indahnya.
Kau merombak simpul yang telah kurajut
Membuatku kembali bertekuk lutut
Padamu yang tak acuh
Padamu yang bersembunyi di balik argumen rancu
Kau mengelak tak sengaja
Bahkan awalnya kau tak Sudi akui rasa
Katamu, kau tak kuasa membawaku ikut serta.
Kau pikir bagiku mudah ?
Jatuh cinta padamu bukan perihal membuatku berkuasa
Pun melabuhkan ku di benakmu bukan hakku
Pedih jika harus kupangkas paksa rasaku
Praba kemudian menjatuhkan tubuh kekarnya di samping pujaan hatinya.
Ia membenamkan kepalanya dipunggung Oca yabg sedang tidur membelakanginya. Kedua tangannya erat memeluk tubuh wanita itu.
Pria itu merasakan kedamaian dalam hatinya.
βοΈβοΈ
Keesokan paginya, Oca merasakan kulit kakinya menyentuh sebuah bagian tubuh yang ia yakini kulit manusia juga.
Sambil mengerjip ngerjipkan matanya yang susah ia buka ia melihat sepasang kaki yang menindihnya.
Tanpa menunggu lama lama ia dengan sekuat tenaga menendang kaki tersebut.
"Aaaaaargggghhhh," Suara pria itu meringis lantaran tindakan tiba tiba dari Oca.
__ADS_1
"Menjauhkan dari diriku, dasar lelaki mesum !"
Pagi pagi ini Oca meneriaki dirinya, telinganya serasa panas seperti teriakan ibu ibu penjual sayur yang menawarkan dagangannya di pasar.
"Heh bukankah tadi malam kita sudah sepakat untuk menikah ?" Keluh pria itu tak terima Oca meneriakinya.
"Kelihatanya kau masih mengigau Tuan Pengacara," Gerutu Oca dengan tatapan mengejeknya. Meski dengan muka setelah bangun tidur, itu tak menyurutkan rasa cintanya Praba padanya.
Wanita itu kemudian beranjak pergi tanpa sepatah katapun, ia melangahkan kaki ke bagian lain dari kamar tersebut. Bukannya keluar kamar, ia malah masuk ke kamar mandi ruangan tersebut.
Oca menyilakan rambut yang berjulur acak acakan menutupi wajahnya, kemudian ia membasuh mukanya supaya lebih segar.
Sementara sang Prianya juga mengikuti apa yang dilakukan sang dewinya. Ia juga akan membersihkan diri, namun di kamar mandi yang lain tentunya.
Oca sesekali mengamati kamar mandi itu, tak banyak peralatan mandi yang di siapkan Praba, hanya ada beberapa botol yang ia yakini Sabun, Shampoo serta krim cukur.
Dan yang ia lihat di sebelah wastafel yang ia pakai ini ada sebuah sikat gigi serta pasta giginya. Benar benar pria yang sangat simple Praba ini.
Sembari ia membasuh mukanya, Wajah halusnya tersentuh sesuatu benda yang asing baginya. Benda kecil berbetuk bulat dengan mata di tengahnya itu pun menarik perhatian Oca.
Ia mengamati cincin tersebut, "Ini cincin mahal, Frank & Co kapan aku memakainya ?" Oca bergumam sendiri mengingat ingat kejadian yang sudah berlalu.
Ia memijit mijit pelipisnya, berharap mengingat sesuatu yang terjadi. Namun hasilnya nihil yang ia ingat ia sudah minum wine bersama Listrik Prabayar.
Dan yang membuat mulut Oca tercengang adalah beberapa tanda yang ia yakini Kiss Mark bersarang di leher mulusnya.
Ia benar benar tak ingat apapun yang terjadi.
Ingin sekali ia berteriak dan memukuli Pria arogan tersebut.
"Bisa bisanya aku masuk ke dalam perangkapnya !" Oca kemudian berjalan keluar dari kamar mandi untuk mencari perhitungan pada Pria menyebalkan tersebut.
Tepat waktu, begitu Oca keluar dari kamar mandi setelah sekian lama ia merenung ia mendapati seorang pria tengah tersenyum padanya. Yang lebih menyebalkan bagi Oca adalah pria itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
Dengan tatapan bengisnya, Oca mendekati Praba yang masih tersenyum padanya.
"Jelaskan padaku mengenai ini ?" Jari tangan Oca menujuk ke arah tanda yang sudah tercipta di lehernya.
"Bukankah itu bagus sayang ?" Goda pria itu karena gemas melihat tingkah kekanak kanakan Oca.
"Kau sudah menerkam aku, aku akan menjalani visum kemudian menuntutmu !" Ancam wanita yang sedang tersulut emosinya.
"Menuntut calon suamimu ? bahkan tadi malam kau sendiri yang melemparkan dirimu padaku ?" Bujuk Praba.
"Jangan macam macam !"
Toh pada akhirnya perdebatan antara mereka juga dimenangkan Oca. Ingat ya Bos Praba selalu benar jika bos Praba salah kembali ke aturan sebelumnya aturan itu hanya berlaku ketika di kantor. Namun itu tak berlaku bila bersama Oca. Karena Wanita Bos Praba tak pernah salah.
"20, 21, 22, , ,30" Oca sedang menghitung hitungan Push up yang di jalani Praba sebagai hukumannya.
πΌπΌπΌ
Di Bab ini Judul tak ada hubungannya dengan Listrik ataupun PLN ya sayang π€.
__ADS_1
Ini murni hanya sebuah panggilan sayang dari Oca untuk Bos Praba saja.
Jadi kalian tak akan menemukan kata Listrik di bab ini π.