Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Next inDhenesia


__ADS_3

Mentari sudah mulai menggeliat naik ke pucuk langit. Menandakan pagi yang hampir berakhir. Setelah drama adu pinalty tadi malam yang membuat Oceana masih enggan untuk beranjak dari peraduannya kini.


Wanita cantik itu mendengar sayup-sayup sang suami sedang melakukan panggilan video dan masih di samping dirinya. Betapa tidak rasa kesalnya yang membuat ia ingin mencekik Praba karena sudah memukul mundur dirinya dari semalam.


Melihat ada pergerakan yang sifatnya mendadak, sang pengacara tampan tersebut melirik sang istri yang masih berbaring di sampingnya.


"Jangan bergerak sedikitpun baby, kalau kau sedikit saja bergerak aku akan menerkammu sekarang juga," sedikit mengancam sang istri, karena saat ini pria yang sudah sah menjadi kekasih halal Oca sedang melakukan e Conference dengan beberapa karyawannya.


Praba masih mengawasi sang wanita mesti perhatiannya masih tercurahkan ke proses meeting yang saat ini sedang berlangsung. Ia tak ingin Para karyawannya melihat keadaan sang istri dalam balutan busana yang masih minim dan terkesan seksi tersebut.


Apalagi di dalam ruang rapat tersebut ada lelaki yang pernah menjadi rivalnya dulu, orang tersebut menyukai sang istri. Praba tak ingin istrinya menjadi sasaran empuk penglihatan Gandhi.


"Dasar..." sebuah tangan menjulur dan melempar bantal ke kepala sang suami.


Dan hal tersebut membuat seisi ruang meeting menjadi hening seketika. Pasalnya seluruh peserta rapat yang sudah tak kuasa meluapkan tawanya, mau tak mau harus tetap bergeming demi menjaga bonus bulanan yang kemungkinan bisa hangus bila sedikit saja mereka kelepasan melontarkan tawanya di hadapan sang bos yang kini sedang memimpin rapat pagi menjelang siang ini


Setelah membalas perlakuan Praba, kini Oca berbalik membelakangi sang suami yang sedang serius memimpin rapatnya. Oca menghabiskan waktu dengan memainkan handphone yang ia ambil di atas nakas samping tempat ia berbaring.


***


Karena sibuk menonton drama favoritnya, Oca tak sadar bahwa sang suami sudah siap menghujani dirinya dengan banyak sentuhan serta ciuman.


"Sudah selesai yank?" tanyanya diikuti mengeluarkan aplikasi nonton berbayar dari layar handphone Oca.


"Belum dek, belum menerkammu lagi!" senyum laki-laki tersebut kini mengembang indah setelah menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Oca enggan sekali membalas perkataan dari suaminya, ia lalu bangkit dari tempat peraduannya. Sudah hampir siang ia tak ingin terlambat untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.


"Mau kemana yank?" Praba menahan tindakan yang Oca lakukan dengan menahan tangan istrinya.


"Mandi lah, kita kan harus berangkat ke kota selanjutnya yank!" sahut Oca dengan nada lebih direndahkan agar sang suami mengampuni dirinya saat ini.


"Ikut!" tak mau kalah dari sang istri, pria berwajah tampan itupun memelas agar sang istrinya mau berbagi kamar mandi dengan dirinya.


"Tidak!" dengan nada tegas wanita yang Hanya mengenakan lingerie berbahan satin tersebut bergegas meninggalkan sang pujaannya.


Sudah kepalang tanggung, dengan langkah sigap Praba menyusul langkah sang Dewi untuk segera masuk ke kamar mandi yang berada di dalam hotel tempat mereka menginap.


Dari dalam kamar mandi, Oca berteriak protes lantaran sang lelaki tiba-tiba menyusulnya.


****


Praba akhirnya mempersingkat waktu permainan bolanya, setelah suara alarm dari perut sang istri yang meminta jatah untuk segera diisi sesuatu yang bisa menawarkan rasa laparnya.


Kini lelaki yang berperawakan tinggi tersebut melukis senyum diwajahnya tatkala sang istri sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju arahnya.


"Senang sekali kelihatanya ya!" tegur Oca sambil bersiap untuk segera mengenakan pakaian yang bisa menutupi tubuh indahnya dari sengatan matahari dan sengatan tatapan tajam lelaki lain.


"Tentu saja, sebentar lagi Mas yakin pasti akan muncul Prabasonta Jr!" godanya penuh penekanan.


Oca tak ingin berdebat panjang dengan sang suami, karena rasa lapar sudah menderanya dari tadi, ia dan suaminya memutuskan untuk segera sarapan di Main Dining Room yang ada di dalam hotel tersebut.

__ADS_1


Rasa lapar yang sudah tak tertahankan membuat Oca memesan makanan lebih banyak dari yang sudah disediakan oleh pihak hotel.


"Yank, kamu yakin akan menghabiskan ini semua?"


"Yakin," sahut Oca sambil menyumpal mulutnya dengan potongan roti isi.


"Ini anak, tumben sekali makan dengan cara bar-bar," gumam Praba pelan agar sang istri tak mendengarnya.


"Kamu sendiri cepatlah makan Mas, kita harus melanjutkan perjalanan kita bukan? aku sudah tak sabar untuk segera menuju tempat-tempat yang kita impikan!" dengan senyum sumringahnya Oca mengingatkan maksud dari tujuan mereka berdua pada sang suami.


Melihat binar binar di netra cantik sang istri, Praba yang notabennya paling anti untuk sekedar liburan, kini makin bersemangat karena melihat keseriusan Oca dan bagaimana bahagianya Oca bersamanya.


"Siap dek, apapun yang kamu minta, akan Mas turuti!" ucap Praba


***


Sesuai rencana, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah keduanya check-out pada pukul 10.00.


Kembali mengemudi, pengacara tampan versi Oca tersebut sudah lengkap dengan gaya dan pesonanya.


Tangan kanannya mengontrol laju mobil, sedangkan tangan kirinya sibuk mengontrol tangan sang istri dengan tak sedetikpun melepaskan genggaman tangannya. Sifat posesif lelaki tersebut kembali muncul setelah Oca sempat disapa oleh salah seorang lelaki yang kenal dengan Oca.


Orang tersebut tak lain adalah salah satu dokter yang bertugas kala menangani kasus kecelakaan Abi. Dan parahnya, dokter tersebut masih muda yang membuat rasa emosi sang pengacara kondang tersebut naik pitam kembali setelah sekian lama mencoba menekan rasa cemburunya pada Gandhi.


####

__ADS_1


__ADS_2