Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Putusan


__ADS_3

Suasana sebelum dimulainya sidang putusan dari pengadilan untuk permohonan banding yang diajukan oleh terdakwa Widya sangat riuh.


Seperti biasa sang pengacara fenomenal sudah sangat siap untuk tampil pada sidang ending kali ini. Apalagi setelah mendapatkan sogokan yang bukan berupa materi atau harta, melainkan berupa kepuasan dari sang dokter cantik.


Setalah mendapatkan suntikan tenaga ekstra dari sang istri, Tuan Pengacara tersebut makin pede, apalagi dengan mengantongi beberapa bukti penting hal tersebut membuat sang pengacara makin diatas angin.


"Setelah selesai, apapun putusan hakim aku akan selalu mendukungmu Mas," kata kata sang istri masih terngiang di telinganya saat ini.


Kini sang pengacara tersebut sudah menduduki posisinya. Ia sudah duduk disamping Widya sang kliennya. Tak lupa sang asistennya Gusti juga.


Tak berapa lama, Majelis Hakim sudah memasuki ruangan dan segera duduk di tempatnya masing-masing untuk mempersingkat waktu.


Dengan didampingi kuasa hukumnya, Widya terlihat menyimak amar putusan dari majelis hakim secara bergantian. Tak seperti sidang sidang sebelumnya, Widya begitu santai menghadapi sidang kali ini. Dia akan menerima semua keputusan akhir baginya. Karena Widya sudah legowo bila harus masuk jeruji besi lagi.


Seluruh hadirin sidang tampak hikmad pula mendengar amar putusan yang dibacakan majelis hakim.


Ketegangan seluruh hadirin berangsur-angsur menghilangkan ketika tiga orang secara tiba-tiba masuk keruang sidang. Salah satu dari ketiga orang tersebut sedang duduk di kursi roda yang didorong oleh wanita cantik.


Sangat jelas ketiganya baru saja tiba di ruangan tersebut. Dilihat dari ketiganya yang masih terengah-engah menghela napas.


Mereka bertiga tak lain adalah Ratih yang didorong Oca dengan menggunakan kursi roda serta Gandhi yang mendampingi dibelakang keduanya.


"Maaf kami terlambat, sesuatu hal buruk telah terjadi !" ucap Gandhi pada pengawal sidang.


Ketiganya orang tersebut kemudian dipersilakan memasuki ruang sidang.


Bu Ratih ingin menyampaikan sesuatu, ia meminta Gandhi sebagai teman sekaligus penasihat hukumnya membawanya menghadap majelis hakim.


Setelah Gandhi membawa Bu Ratih kehadapan majelis hakim, lelaki berpenampilan formal namun agak sedikit kacau dalam berpenampilan hari ini kemudian menyusul istri dari rivalnya untuk duduk di kursi hadirin.


Pakaiannya sedikit acak acakan dari biasanya. Karena biasanya Gandhi akan berpenampilan menawan dan sempurna yang membuat mata kaum hawa berbinar-binar.

__ADS_1


Rivalnya menduga ada yang tak beres dengan mereka bertiga, matanya menelisik pada sang istri yang duduk bersebelahan dengan Gandhi. Tak mau kalah, sang dokter cantik itu membalas tatapan tajam Praba dengan lebih bengis.


Mata Oceana bisa membunuh seseorang dengan sekali lirik. "Apa maksud tatapanmu ?" mungkin itu adalah artian dari tatapan mata Oca pada suaminya.


Namun semua itu Praba tahan, hingga akhir persidangan. Pria tampan tersebut ingin mendengarkan alibi dari sang istri mengapa Oca bisa datang bersama dengan musuh bebuyutannya.


Nyonya Ratih mulai membuka suara, ia mengawali cerita dengan emosi yang meluap. Bibirnya sedikit bergetar dan dadanya bergemuruh hebat.


"Saya mengaku bersalah Pak Hakim, sayalah yang mencoba membunuh suami saya !" aku Ratih dengan isaknya.


Seluruh hadirin tak menyangka bahwa Ratih akan legowo mengakuinya dengan lantang.


Bagaimanapun dia dan Gandhi selama ini berjuang mati-matian untuk menutupi kebenaran.


Namun setelah sekian lama, akhirnya dia malah dengan mudahnya mengakui kejahatannya.


Sandra yang merupakan kuasa hukum Ratih dan keluarganya pun sangat terkejut, kedatangan Ratih kemari saja sudah membuat Sandra dan Ayah Ratih terkejut apalagi kini Wanita yang berumur hampir 50tahun itu telah mengakui kesalahannya.


Wajah Nurman, Ayah Ratih merah membara ia tak habis pikir bagaimana putri satu-satunya yang sudah ia bela mati-matian akan mengakui kejahatannya.



"Itu keahlian Wanita itu, bernegosiasi adalah keahlian utamanya makanya kami bisa bersama hingga kini," sahut Praba dengan senyum mengambang. Ia sangat yakin bahwa apa yang menjadi Ending kali ini tak lepas dari bantuan sang istri.


Ratih mulai mengungkapkan beberapa adegan mulai dari ia mendapatkan bubuk Sianida. Wanita paruh Abad itu bisa dengan mudah mendapatkan racun mematikan tersebut, dengan tangan sang Ayah yang merupakan orang penting di Negara ini.


Racun yang mengikat oksigen dalam pernapasan yang menyebabkan korban kesulitan bernapas tersebut ia campurkan ke dalam teh yang sering suaminya minum pagi hari sebelum ia menyuruh Widya memberikan untuk Suaminya.


"Rasa sangat kecewa dengan suami saya, hingga akhirnya saya ingin membunuhnya. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya berumah tangga dia tak pernah menganggap saya istrinya, dia menikahi saya karena harta dan pada akhirnya suami saya berkhianat dari saya dengan menikahi simpanannya dibelakang saya," jelas wanita yang masih duduk di kursi roda tersebut.


Nurman sangat tercengang dengan sikap putrinya yang membuka kedoknya dengan sengaja, Ia berharap putrinya tak akan menyeret dirinya dalam kasus ini.

__ADS_1


"Lalu kenapa anda tak mengakuinya dari awal Nyonya ?" tanya salah satu Jaksa penuntut umum.


"Karena saya ketakutan, saya belum siap menanggung semuanya hingga mengkambinghitamkan ART saya Widya," jelas Ratih dengan ucapan terbata-bata.


Widya tak kuasa menahan air matanya, tampak sang ibu yang sedang memeluk anak lelakinya juga merasakan hal yang Widya rasakan.


"Namun semua itu berubah, setelah nyawa saya dalam bahaya karena penyakit saya. Keluarga Widyalah yang menemani saya Selama saya dirawat apalagi Widyalah yang mendonorkan organnya pada saya." ujar Ratih dengan raut wajah sendu membuat seisi ruang sudah terenyuh mendengar penuturannya.


Melihat Ratih sesenggukan, Widya dengan sigap berlari dan memeluk sang bos dari arah belakang. Hatinya tak tega melihat orang yang selama ini mau menampung keluarganya. Semenjak suaminya meninggalkan dirinya yang dalam keadaan hamil, ia bertemu dengan Bu Ratih yang memberikan pekerjaan dirumahnya agar ia bisa meneruskan hidupnya.


"Maafkan aku Wid, aku bersalah padamu !" cicit Nyonya Ratih dengan isaknya.


"Jangan katakan hal bodoh lagi Bu, aku akan menanggung segalanya untuk membayar apa yang sudah anda berikan pada kami !" imbuh sang mantan ART tersebut.


🌿🌿


Setelah sidang ditunda beberapa menit untuk memberikan waktu Hakim dalam mengambil keputusan, kini sidang akan dibuka kembali.


Seluruh peserta sidang sudah siap mendengarkan apapun hasilnya. Kali ini Ratih bukan duduk lagi di kursi terdakwa namun ia duduk di sudut pihaknya. Wanita yang masih dalam keadaan sendu tersebut ditemani Oleh Sandra kuasa hukum barunya.


Sedangkan Widya, ia sudah siap dan legowo bila harus masuk bui lagi.


Untuk mempersingkat waktu, Hakim akan membacakan putusan sidang.


Widya dijatuhi hukuman Tiga tahun kurungan penjara karena terbukti memberikan keterangan tidak sebenarnya dan menyembunyikan tersangka. Ia mengakui kejahatan yang tidak ia lakukan. Dimata hukum tindakan Widya termasuk pelanggan hukum.


Sedangkan Nyonya Ratih, beliau terbukti telah melakukan perbuatan pembunuhan berencana oleh karena itu Beliau dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Lebih ringan 5 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum.


"Bila ada yang kurang puas, kedua belah pihak bisa meminta banding !" kata Yang Mulia Hakim sebelum menutup jalannya sidang.


Ratih serta Ayah sekaligus Sandra terlihat berdiskusi sejenak. Mereka tampak serius kali ini.

__ADS_1


Namun Ratih tiba-tiba berbicara bahwa dirinya tidak akan meminta proses Banding, Wanita yang kini menyandang status terdakwa tersebut rela menjalani hukuman yang sudah diberikan padanya.


🌿🌿🌿


__ADS_2