
"Apa Anda membenciku Bu Oca ?" Sopir Oca itupun menanyai bosnya sambil membukakan pintu untuknya.
"Tentu saja, aku terlalu lama menunggumu Asep,!" Celoteh Oca dengan bibir yang sengaja dimonyongkan kearah depan.
"Wanita ini sungguh berani, dia benar benar menggodaku..." Dalam hati Praba bergumam tak jelas melihat kelakuan Oca yang membuatnya gemas.
"Aku menunggumu Hinga tak makan siang, kau harus tanggung jawab Asep." Celoteh Oca dengan muka imutnya.
"Baiklah sebagai permintaan maaf, saya akan mentraktir anda." Bujuk Asep agar suasana hati bosnya bisa mencair.
"Benarkah ?"
"Tentu saja, anda ingin makan apa ?" Tanya Asep berusaha membujuk Oca.
"Apa ya ? Suki ? Sabu sabu ? Ramen ?" Oca bergumam tak jelas. Tiba tiba ia kepikiran ingin makan sesuatu yang lain dari pada yang lain.
"Toge goreng." Ucapnya sambil menepuk nepukan jari telunjuk tangan kanannya ke mulutnya.
"Apa ? Anda yakin ?" Tanya Praba memastikan keinginan wanita yang ia cintai.
"Sudah lama aku tak makan makanan khas Betawi Asep, apa salahnya ?" Oca menjawabnya dengan nada sendunya.
Praba memutar otaknya, dimana kira kita ada penjual toge goreng, karena kudapan ini sudah jarang di temui meski mereka masih berada di wilayah Jakarta.
Sudah beberapa belokan ia lewati, namun tak tampak ada penjual toge goreng yang mangkal ataupun lewat.
Yang lebih parahnya Oca hanya mau makan toge goreng yang dijual mamang mamang keliling pakai gerobak bukan yang ada di rumah makan.
Praba sampai berfikir bahwa Oca sudah hamil dan ingin mengidam. Dia kira Oca dan Abi sudah saling berhubungan.
Namun jawaban apa yang ia dapatkan dari pertanyaan konyolnya ? Praba mendapat sebuah jitakan tepat di kepalanya dari arah belakang.
"Kau ini sembarangan saja, kau pikir aku wanita seperti itu ?" Tegur Oca dengan kesalnya.
"Maafkan saya Bu, saya tak bermaksud demikian.." Bujuk Praba sambil tersenyum karena hal yang sudah ia duka tak seperti yang ia pikirkan.
Mereka berdua menyelusuri jalanan Ibukota saat cuaca terik seperti ini, Sampailah mereka berdua di daerah Cideng. Lebih tepatnya di Jl Cideng Timur dekat Lampu merah sebelah restoran ayam goreng terkenal yakni K*C.
Praba pun memarkir mobil Oca tepat di sebelah gerobak mang Ujang, nama Panggilannya.
Buru buru Oca keluar dari mobilnya lalu memesan untuk 2 porsi kudapan khas Betawi tersebut.
Sambil menikmati pemandangan Pinggiran Ibukota mereka duduk berdampingan di kursi plastik warna biru milik mang Ujang.
"Mang agak pedes, Tauconya dikit ya.." Pinta Oca diikuti anggukan Oleh mang Ujang.
Sebagai seorang Advokat, Praba sangat menjaga makanan yang ia makan, Praba tak sembarangan makan apalagi makanan tersebut tak memiliki standar kebersihan yang tinggi.
Makan toge goreng memang peristiwa yang pertama bagi Praba, sewaktu kecil dulu ia dan Bara sering jajan kudapan ini. Namun kalau sekarang Praba hampir hampir tak pernah makan makanan keliling.
__ADS_1
"Apa kau tak suka ?" Tanya Oca ketika melihat supirnya hanya terpaku melihat Toge goreng di tangannya.
"Suka," Jawab Asep lalu mulai memakan toge gorengnya.
"Kenapa dari semua wanita yang aku kenal, dia malah memilih ingin di traktir makanan pinggir jalan ? apa dia takut aku tak bisa membayar untuknya ?" Gumam Praba menatap Oca yang sedang makan toge gorengnya.
"Oya Asep, aku lupa ingin bertanya Apa kau kenal orang yang kau suruh menjagaku waktu Aku mabuk ?" Oca tiba tiba bertanya perihal waktu itu.
"Tidak Bu," Jawab Asep.
"Lalu kenapa kau membawaku ke apartemennya ? kalau aku kenapa kenapa bagaimana ?" Gerutu Oca dengan nada kesalnya.
"Saya yakin beliau bukan orang seperti itu, lagian dia bilang mengenal anda." Asep mulai beralibi.
'Siapa bilang aku mengenal Pria mata keranjang itu ?" Sahut Oca.
Hal tersebut membuat Praba yang menyamar sebagai Asep tersedak saat mengunyah sesendok toge gorengnya.
Buru buru Oca menyodorkan air di botol minum yang ia selalu bawa kemanapun. Tak lupa ia menepuk nepuk punggung Praba agar lebih baik.
"Mata keranjang ? Maksud anda mata keranjang Bu ?"
"Menurut kabar yang beredar luas dia sering berkencan dengan klien wanitanya, aku pernah membaca gosip tentang dirinya." Tutur Oca mencibir Praba.
"Kelihatanya Beliau bukan orang seperti itu Bu," Bujuk Asep.
"Aku tak tahu, aku tak pernah dekat dengannya." Sahut Oca.
Melihat Oca bisa tertawa lepas, Praba sungguh bahagia lantaran bisa membahagiakan wanita pujaannya.
Namun rasa cemburu itupun sering muncul bila dia mengingat siapa sebenarnya dia.
Ingin sekali dia terus terusan menjadi seorang Asep untuk seterusnya, namun pekerjaan dan kehidupannya membuatnya sering bertukar karakter menjadi dua orang yang berbeda.
"Tuhan, Bila dia Lebih bahagia dengan diriku yang seperti ini, aku rela terus terusan menjadi seorang supir pribadinya."
Setelah selesai menghabiskan makanannya, mereka berdua kini melanjutkan lagi perjalanan mereka untuk pulang.
"Apa anda senang ditraktir oleh saya ?"
"Iya, senang kok." Sahut Oca.
Karena menatap Oca dari kaca spion diatasnya, Praba tak berkonsentrasi menyetir. Hampir saja ia menabrak mobil di depannya.
Untung saja dia sempat mengerem.
Namun si pengemudi itu tak terima dan turun dari mobilnya mendekati mereka berdua.
Betapa kagetnya Praba dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
Pengemudi tersebut adalah Gandhi, rivalnya selama ini. Dia pun ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan jantan.
"Jangan pernah keluar dari mobil," Pinta Praba dengan nada seriusnya.
"Kenapa apa dia akan berkelahi ?" Gumam Oca masih di dalam mobil.
Oca melihat kedua pria di luar tersebut saling berbicara, Pria asing tersebut menyudutkan Asep. Oca melihat Asep terus terusan di salahkan dan itu membuatnya tak suka.
Pria itu sudah mempersiapkan pukulannya, Asep masih mencoba menjelaskan dengan tenang, namun pria itu masih saja tak terima.
"Hentikan," Bentak Oca.
"Oca, sudah kubilang jangan keluar !" Umpat Praba dalam hati.
Hampir saja Gandhi memukul muka Asep, namun dengan sigap Asep menangkis serangannya.
"Sudah kubilang hentikan, kita sudah meminta maaf masih kurang ?" Bentak Oca.
"Nona, kau dan sopirmu ini membuatku kesal." Ucap Gandhi.
"Berapa harus aku ganti rugi ? Kena juga kagak, apalagi lecet." Sindir Oca.
Asep kemudian mengajak Oca masuk ke mobil Oca.
"Dia gila Bu, Jangan diladeni." Kata Asep.
"Kau mengenal dia Asep ?"
"Sedikit,"
"Tampaknya dia bukan orang sembarangan dari gaya berpakaiannya." Ucap Oca masih mengamati dari spion saat mobil mereka melintasi mobil Gandhi.
"Lain kali, bila bertemu dengannya jangan ditanggapi apa yang dia katakan kalau perlu jangan sampai bertemu dengannya segera menghindar," Pinta Asep dengan nada serius.
"Kau mengkhawatirkan aku Asep ? Aku ini bukan wanita lemah seperti yang kau kira." Bujuk Oca.
"Baiklah saya percaya, namun saya mohon jangan sampai bertemu dengannya."
"Siap..." Sahut Oca diikuti memberikan tanda hormat seakan akan menerima perintah dari komandannya.
πΌπΌπΌ
Oh iya kawan, jangan lupa tinggalkan Like dan komen kalian ya agar aku bisa berinteraksi dengan kalian. Karena aku sangat merindukan kritik dan saran dari kalian.
Oh iya ini adalah novel ke empat aku, novel ini adalah merupakan kelanjutan dari Novel Princess Connect yang sudah ending ya.
Akan ada pemain pemain baru yang akan mewarnai cerita Keana.
Mohon dukungannya ya, baik berupa rate , vote serta like dan komen.
__ADS_1
Matur suwun
Penulis Amatiran π