
Aku memcoba mencerna kata perkata apa yang mas Adam lontarkan. Ada benarnya juga apa yang mas Adam bilang. Mungkinkah Dito akan menerimaku jika aku berpisah dengan mas Adam, atau malah aku akan di telantarkan jika nekat nikah dengannya. Agggrrrrrrrrhhhhh memikirkan semua ini membuatku frustasi. Tidur mungkin lebih baik untuk menenangkan pikiranku saat ini.
Ting...
Bunyi handphone tanda DM masuk. Aku membukanya,ternyat dari Dito. Aku yang tadinya ingin tidur mendadak tak bisa tidur.
"Suamimu marah gak." Tanyanya
"Tenang saja, dia tak marah...
"Baguslah kalau tidak marah... kapan kita ketemu lagi, kangennnnnnnnn".
Aku tak membalasnya. Sungguh pilihan yang rumit. Rasa lelah ini membuat aku tertidur.
**************
Disisi lain...
Hembusan angin malam menemani obrolan Adam dan mertuanya. Dua cangkir kopi panas telah dihidangkan. Adam menyeruput kopi itu membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
"Dam.. apa yang telah terjadi kepada kalian, ayah harap kamu bisa sabar menghadapinya. Mungkin ini salah ayah juga, kurang mendidiknya sehingga dia menjadi begitu, ayah salah dulu Melly jadi korban kebiadaban ayah." Ucap sang ayah merasa bersalah atas sikap melly.
"Insyaallah Adam mampu menaklukan hati Melly yah... sekeras nya batu bila kena air terus-menerus akan terkikis juga. Adam percaya kekuatan doa mampu melembutkan hati Melly yang keras."
"Ayah percaya kamu Dam, seberat apapun pernikahan kalian, pertahankanlah .. karena dulu ayah sangat menyesal." Ucap sang ayah menepuk-nepuk bahu Adam.
"Tidurlah dam,, istirahat,.. tenangkan pikiranmu.."
"Kalau begitu adam masuk yah.. ayah juga istrahat jangan begadang." Pamit Adam.
****
__ADS_1
Keesokannya aku pulang. Menjalani hari-hari seperti biasa. Namun, ada yang berbeda dalam rumah tanggaku. Mas Adam bagaikan orang asing yang tak pernah kenal, ngobrol pun hanya seperlunya saja. Setiap hari sebelum berangkat bekerja, mas Adam lah yang selalu menyiapkan sarapan, bahkan mengurus semua keperluan anaknya. Aku sesekali membantunya. Meskipun seharusnya aku lah yang harus mempersiapkan semuanya, tapi mas Adam tak pernah mempermasalahkannya.
Setelah dua hari mas Adam tidak masuk kantor, hari ini dia memutuskan bekerja, bagaimana pun dia adalah seoarang karyawan yang harus mempertanggung jawabkan tugasnya.
____________^^^^^
(dikantor )
"woy.. ngelamun aja" aku yang sedang melamun merasa kaget ketika ada yang menepuk bahu. ternyata Fahmi.
"muka lo kusut banget sih dam,"
"gak di kasih jatah semalam sama bini lo" tanya yang membuat ku semakin pusing. namun aku hanya memberi senyuman.
"dam waktu itu gue liat bini lo sama cowok, gue kira sama lo, pas mau gue samperin eh tau nya bukan loe" fahmi bercerita dengan seriusnya. Aku mulai penasaran.
"salah orang kali lo, mungkin mirip istri gue kali,secara istri gw cantik kan". jawabku menghibur diri, namun sejujurnya apa yang dilihat fahmi mungkin benar itu melly.
"eh seriusan dam.. waktu itu gw mau photoin, eh keburu mati hp gue nya."
"iisshhhh gini gini juga mata gw masih sehat bro. kalo gak salah plat no nya z**** itu plat no mobil lo kan." sepertinya apa yang pahmi lihat memang benar-benar melly.
"bro gw mau cerita, tapi lo janji gak bocor ya." aku terpaksa menceritakannya pada fahmi,karena aku tau dia tak akan bercerita kepada siapapun.
"seriusan lo dam." tanyanya dengan suara melengking membuat kupingku gatal.
"huss.. pelankan suaramu."
"terus terus dam lo ceraiin gak" tanya yang semakin penasaran.
"gw gak mau cerai,"
__ADS_1
"lo bego... udah tau bini selingkuh masih aja di pertahanin, sekali berbohong akan terus berbohong."
"iya gw tau"..
"terus lo gak marah ke bini lo, udah sering chattn sama cowo eh ketemuan pula."
"ya sebenarnya aku juga sakit hati, rasanya pengen gw jambak gtu, tapi menyelesaikan masalah dengan kekerasan gak akan selesai. makanya gw biarin dulu sepintar apa dia menyembunyiin dari gw"
"hadeuh dam ... kalo gw diposisi lo.. udh gw usir tuh cewek".
"hmmm...
____^_^^__________
sikap mas adam sekarang terlihat dingin pulang kantorpun Adam hanya bisa bermain dengan anak-anak.
Setiap sholat mas Adam selalu mengajakku untuk sholat bersama. Mas Adam yang biasanya tak pernah absen sholat di mesjid sekarang lebih memilih sholat di rumah untuk mengimamiku. Entah apa maksudnya. aku menyadari ada ketenangan di hati. Mungkinkah aku mulai membuka hati untuk mas Adam.
"Mell.. besok aku pergi ke luar kota."ucap Adam dikala telah selesai sholat.
"Hmmmmm.." jawabku sambil melipat mukena.
"Sekitar dua minggu aku diluarkota. Kamu tak apa kan aku tinggal bersama anak-anak."
"Pergilah... jangan khawatirkan aku." Cetus ku beranjak meninggalkan dia yang masih terduduk.
****
Hari ini mas Adam pergi keluar kota, yang katanya urusan kerja, benar atau tidak nya terserah dia. Seperti biasa, sebelum berangkat mas Adam selalu membereskan rumah terlebih dahulu, sarapan pun sudah siap, bahkan dia memasak untuk makan malamku terlebih dahulu. Sungguh suami idaman bukan, tapi tidak bagiku. Karena aku tidak mencintainya.
Hari berganti hari, perasaan ku tak enak, sudah seminggu disana, mas Adam tak pernah mengirimkan kabar, hanya menelpon sekali itupun sekedar menanyakan anak-anak, tak pernah menanyakan kabar aku. Padahal dulu setiap kali dia keluar kota selalu menghubungiku setiap hari.
__ADS_1
Bangun tidur yang setiap hari rumah selalu rapi dan tak pernah menyiapkan apa-apa, apalagi harus menyiapkan sarapan, kini aku merasa lelah dengan pekerjaan rumah , apa karena selama ini selalu mengandalkan mas Adam hingga ketergantungan semua pekerjaan rumah, rasanya capek sekali, tapi mas Adam tak pernah mengeluh. Ada sepercik salah padanya. Dua minggu ditinggalnya membuat aku prustasi, padahal baru seminggu ditinggal,rasanya seperti sebulan, badanku terasa sakit harus kesana kemari, membereskan rumah. Betapa dia suami yang sayang kepada istrinya.
\=cerita nyata