
Praba membawa Oca ke Apartemennya, Setelah membaringkan tubuh Oca yang tak sadarkan diri, pria dewasa itu kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah Oca memuntahkan isi perutnya ke wajah Praba.
Meski agak lumayan kesal karena ulah wanita itu Praba nampak mengurungkan niatnya untuk membalas wanita tersebut.
Naluri kebaikannya masih mendominasi hati kecil pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.
Pria dewasa tersebut menyalakan kran shower di kamar mandinya. Gemericik air yang turun dari Shower membasahi badannya. hal tersebut membuat ia merasa sedikit tenang kali ini.
Ia masih mengingat momen menyebalkan ketika Oca memuntahi wajahnya sebelum ia sempat menciumnya.
Senyum indah terukir dari sudut bibirnya, menurutnya hal tersebut tak separah yang ia kira. Agak ada sedikit kelucuan dibalik insiden tersebut.
Entah apa yang harus ia katakan pada Oca besok karena sudah membongkar penyamarannya sendiri.
Dia mulai berfikir bagaimana caranya merangkai kata kata untuk menjelaskan masalah dirinya dan Oca.
Hal tersebut lebih rumit dari pada harus menangani sebuah kasus besar di pengadilan. Karena ini menyangkut masalah hati dan perasaan.
Siapa sangka lelaki yang begitu berbakat dalam menangani banyak perkara harus gugup ketika berurusan dengan masalah hati.
Selesai melonggarkan otot otot di tubuhnya dengan mandi, lelaki tersebut mengecek kondisi wanita yang saat ini sedang tidur di apartemennya.
Dia tersenyum melihat wanita yang sedang tertelap dalam tidurnya tersebut.
Wanita itu tidur dalam posisi meringkuk memegangi sebuah guling di dekatnya.
Tiba tiba suara dering ponsel mengejutkan Praba. Ia mulai mencari sumber bunyi ponsel tersebut. Karena tak ingin membangunkan wanita di hadapannya itu.
Praba mengamati suara ponsel tersebut. Sumber suara ponsel tersebut berada di saku jaket milik Oca.
Pria tersebut kemudian mengambilnya untuk berenca mematikan ponsel Oca agar dia bisa beristirahat.
Namun ia mengurungkan niatnya ketika membaca nama yang tertera di layar ponsel milik Oca tersebut.
"Ibu Negara." Ucap Praba kemudian menggeser tombol hijau di ponsel Oca.
Terdengar suara seorang wanita yang mengkhawatirkan keadaan Oca. Wanita tersebut terus saja berbicara meski ia tak tahu bahwa sedang tak berbicara dengan Oca.
"Tante Riana.." Ucap Praba menyapa mama Oca.
"Praba... ? mana Oca ? "
"Oca sedang tidur... maksud aku Oca sudah tertidur.." Jawab Praba terbata bata takut mama Oca mengira telah terjadi hal yang bukan bukan.
"Kalian sedang bersama ?" Cecar Riana kemudian.
"Iya, dia di Apartemen Praba.." Jawab Praba singkat.
"Baiklah, istirahatlah ini sudah malam nak.." Bujuk mama Oca kemudian mematikan sambungan telponnya.
ππ
Keesokan paginya, samar samar Oca mencium aroma parfum maskulin. Ia ingin membuka kedua matanya, namun kepalanya masih cukup berat akibat minum tequila tadi malam.
Wanita itupun memaksa manik indahnya untuk membuka. Betapa kagetnya ketika ia menemukan sedang berbaring di tempat yang ia tak ketahui sebelumnya.
Berbekal kondisi baru bangun tidur ia mencoba mengamati sekeliling kamar yang ia tempati tersebut.
"Dimana aku ?" Gumamnya lirih
Ia pun beranjak dari tempat tidur yang ia tempati. Oca mencoba berdiri meski kepalanya masih terasa berat. Langkah kakinya mulai menyusuri sekitar tempat tersebut.
Namun langkah kakinya tiba tiba berhenti ketika melihat punggung seorang laki laki di ruangan yang ia yakini sebuah ruang makan.
Namun rasa penasarannya lebih kuat dari pada rasa takutnya. Oca kemudian melanjutkan pengamatannya mendekati lelaki tersebut dengan konsisi siaga tentunya.
Ia takut lelaki tersebut memiliki niat jahat pada dirinya.
"Siapa kau, kenapa aku bisa bersamamu ?" Bentak Oca.
"Kebiasaan bangun tidurmu buruk sekali nona.." Ejek Pria tersebut kemudian membalikan badannya.
__ADS_1
"Kau ?? apa yang sudah kau lakukan padaku ?" Cecar Oca mengancam Praba tak lupa ia mengayunkan pisau makan yang berada di hadapannya.
"Jadi ini balasannya pada orang yang sudah menyelamatkan dirimu ?" Pria itu tersenyum mengejek Oca.
"Menyelamatkan ? jangan bercanda padaku aku yakin sekali tadi malam aku gak bersama denganmu !" Oca berucap panjang lebar mencibir Praba.
"Lalu kau bersama siapa ?"
Oca mengingat ingat kejadian tadi malam, ketika pertama kali ia masuk Fable dan memesan sebuah minuman lalu ada pria yang menggodanya. Kemudian datang lah Asep menyelamatkan dirinya.
"Supirku.." Jawab Oca singkat.
"Apa ? Jadi dia tak mengingat kejadian semalam ?" Batin Praba lumayan lega.
"Supirmu membawamu ke Apartemen dengan kondisi kau tak sadar. Dia tak tahu password Apartemen milikmu jadi dia menitipkan dirimu padaku !" Jelas Praba meyakinkan Oca. Tenggorokannya kering memikirkan alasan apa yang tepat untuk menjelaskan pada wanita itu.
"Sopir bedebah itu apa tak waras.." Sahut Oca.
Mendengar ada yang mengatakan dirinya seorang bedebah, ketika sedang minum Praba terbatuk- batuk.
"Tapi sopir bedebahmu sudah menyelamatkan dirimu .." Sindir Praba.
Oca kemudian membalikan badannya ingin segera meninggalkan Apartemen pria menyebalkan tersebut.
Oca beranjak menjauhi Praba tanpa pamit sepatah katapun.
"Dasar wanita aneh.." Gumam lelaki tersebut.
Namun tiba tiba wanita bawel tersebut kembali lagi masuk ke Apartemennya milik Praba.
Dengan lari tergesa gesa Oca cilingukan kesana kemari.
"Aku pinjam kamar mandi sebentar.." Tanpa mendapati persetujuan dari Praba, Oca ngacir ke bagian belakang Apartemen milik musuhnya tersebut.
Dengan muka terbengong bengong, Praba menatap punggung wanita tersebut yang kini menuju kamar mandinya.
ππ
"Ada Mitos bila ke kamar mandi saat bertamu akan membuatmu betah dan ingin kembali lagi.." Ejek Praba ketika melihat Oca keluar dari kamar mandinya dengan tergesa gesa.
"Aku hanya ingin kencing, semalam minum terlalu banyak !" Sahut Oca.
Karena tergesa gesa ingin segera pulang, Oca lupa memakai sepatunya kembali.
Ia pulang dengan bertelanjang kaki.
Praba memungut sepasang sepatu milik wanita yang telah bermalam di Apartemennya.
Sebenarnya ia ingin segera menyusul wanita itu, namun niat itu ia urungkan.
Ia kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya.
πΌ
Haruskah kuulangi lagi
Kata cintaku padamu
Yakinkan dirimu
Masihkah terlintas di dada
Keraguanmu itu
Susahkan hatimu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
Ingatkah satu bait kenangan
__ADS_1
Cerita cinta kita
Tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita
Aku cinta padamu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirim
Akankah nanti terulang lagi
Jalinan cinta semu
Dengarlah bisikku, bukalah mata hatimu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
Song by _ Dewa 19
Sedangkan di Apartemennya, Oca terlihat urung uringan, bagaimana bisa Asep membawanya ke rumah pria tersebut.
Tanpa ia sadari, ponselnya berbunyi ia enggan mengecek ponselnya.
Namun niat itu ia urungkan lantaran nama di ponselnya adalah mamanya.
Ia takut akan menambah panjang masalah yang akan tercipta.
"Lama sekali kau mengangkatnya sayang ? apa tidurmu menyenangkan ?" Cecar mama Oca.
"Aku baru saja bangun ma.." Sahut Oca sambil malas malasan.
"Kalian telah bersama sepanjang malam ? dan kau baru saja bangun ?" Mamanya memarahinya dengan pura pura.
"Bersama siapa maksud mama ?" Selidik Oca yang masih mengira mamanya gak mengetahui apa apa.
"Kau bersama Praba kan semalam ? apa kau masih bersamanya saat ini ?" Cecar Riana mama Oca.
"Ma.. aku tak melakukan apapun .." Rengek Oca.
"Doni bilang kamu sedang putus asa karena kekasihmu meninggal, sekarang malah menginap dirumah pria dewasa.." Gerutu Mama Oca.
"Mama salah paham deh.."
"Mama sudah berada di Bandara, sebentar lagi mama mau take Off.."
"Apa mama mau di jemput ?" Tanya Oca membujuk mamanya agar tak berbicara masalah ia dan Praba pada Papanya.
"Tak perlu mama akan langsung ke apartemen mu untuk menikahkan kalian berdua.." Ejek mamanya.
"Tidak jangan harap.." Sahut Oca.
π
__ADS_1
πΌπΌπΌ