
"Jika kebahagiaan membuat kamu tersenyum. Maka musibah membuat kamu menangis agar bisa tersenyum dengan lebih lebar dikemudian hari."
-Otor-
Wanita yang kini berprofesi sebagai seorang dokter itu mempersilahkan mama dan adek Abi duduk diruang prakteknya.
Mereka saling berbincang satu sama lain agar kedekatan mereka cepat tercipta.
Hingga waktu istirahat siang tiba, Oca mengajak keluarga Abi untuk makan bersama.
Sebelum pergi, Oca menyempatkan diri memberi buket bunga yang sudah ia persiapkan untuk mama Abi.
Mama Abi kelihatan sangat menyukai bunga pemberian dari Oca.
Oca mengajak mama dan Adik Abi menuju parkir mobil di tempatnya kerja.
Gawai Oca tiba tiba berbunyi ketika ia akan masuk kedalam mobilnya.
Betapa senangnya ketika membaca nama yang tertera di Handphonenya. Nama yang sudah lama ia nanti nantikan kehadirannya
Tak butuh waktu lama bagi Oca untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo.." Kata si penelpon itu.
"Hallo.." Jawab Oca masih tak mengerti kenapa Suara Abi terlihat lain.
"Anda Ocaku, Si pemilik Handphone ini sedang tak sadarkan diri setelah mobil yang ia kemudian menabrak pembatas jalan.." Jelas Si penelpon tersebut terbata bata ketika memberikan keterangan.
"Maksud anda Abi kecelakaan ?" Tanya Oca lirih memastikan kabar tersebut.
Ketika mendengar nama Anaknya disebutkan mengalami kecelakaan di jalan, lutut Mama Abi seketika langsung lemas dan tak berdaya.
Beliau langsung jatuh terjerembab tepat di samping. Adek Abi pun berusaha membangunkan mamanya.
Sama halnya dengan Oca, dia masih mematung dengan Handphone ditangannya.
Kesadarannya tiba tiba kembali setelah si penelpon memanggil namanya berkali kali.
"Sekarang bagaimana kondisinya dan berada dimana ?" Cecar Oca.
Tubuh mama Abi telah dievakuasi ke UGD namun Adik Abi masih bersama Oca.
"Korban telah di bawa ke RS Harapan Kita, ini Handphone dan Mobilnya akan diminta polisi sebagai barang bukti.." Jelas Penelpon tersebut.
"Terimakasih atas informasinya pak.." Jawab Oca kemudian menutup telponnya.
Hati dan pikirannya kini semua dipenuhi oleh Abi, Dia tak bisa berpikir jernih saat ini. Yang jelas dia ingin segera ke Rumah Sakit tersebut secepatnya.
"Pergilah kak, aku akan menjaga mama disini ! Papa sudah aku kabari dan akan langsung menuju ke Rumah sakit tersebut,,"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Oca segera membawa mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Abi dibawa.
__ADS_1
šš
Di depan ruang IGD RS Harapan Kita,
Rumah sakit ini menjadi rujukan tubuh Abi dibawa karena paling dekat dengan lokasi kecelakaan Abi.
Seorang Wanita tengah menundukkan kepalanya sambil berdoa dan berharap semua akan baik baik saja.
Butiran butiran cairan bening sebening kristal jatuh dari mata cantiknya.
Pikirannya kosong, melayang entah kemana.
"Seorang dokter bisa menolong siapapun, sedangkan untuk keluarga sendiri hanya berdiam saja.." Tegur Seorang lelaki tua yang duduk di bangku samping Oca.
Oca menoleh kearah sumber suara, dilihatnya seorang lelaki baya yang masih terlihat penuh kharisma. Rambut putihnya menandakan cukup banyak umur yang beliau miliki.
"Anda Papa Abi ??"
"Benar, dan kau sendiri kekasih Abi ?" Beliau balik bertanya kepada Oca.
Oca hanya mengangguk mengiyakan, air matanya tak berhenti mengalir ke pipinya.
Seorang dokter keluar dari IGD rumah sakit tersebut dan menghampiri mereka berdua.
"Pasien harus segera dioperasi, karena benturan dikepalanya cukup keras dan juga kankernya sudah menyebar.." Jelas lelaki berseragam dokter rumah sakit tersebut.
"Kanker...??" Oca mengulang pernyataan dokter tersebut masih belum bisa mencerna kata katanya.
"Lakukan semua hal yang terbaik untuk putraku, aku sebagai wali sudah menyerahkan pada kalian.." Tegas Papa Abi.
"Percayalah, dia akan baik baik saja aku tahu sifat anakku.." Bujuk Papa Abi menepuk pundak Oca disampingnya.
šš
Tak menunggu waktu lama, Abi dipindahkan dari IGD ke ruang operasi. Oca mengikuti dari belakang kemana para perawat itu membawa tubuh lemah tak berdaya Abi.
Kakinya terasa lemah meski baru berjalan hanya beberapa langkah. Namun rasa cintanya pada Abi membuatnya kembali bersemangat untuk selalu menemani Abi.
"Maaf, hanya sampai sini bila anda berkenan anda bisa mengikuti jalannya operasi lewat ruang kontrol dok.." Jelas Seorang dokter muda wanita.
"Anda tahu saya seorang dokter..?" Tanya Oca pada dokter tersebut.
"Hanya seorang dokter yang bisa tenang dalam masa seperti ini.." imbuhnya lagi.
"Bagaimanapun juga tolong selamatkan calon suami saya.." Pinta Oca masih dengan berlinang air mata.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, anda bisa ikut ke ruang kontrol.." Ucap dokter tersebut.
"Tidak, saya akan tetap menunggu sebagai keluarga pasien.." Sahut Oca berusaha tetap tegar.
Ia duduk di depan ruang tunggu bagi keluarga pasien. sesekali ia berjalan jalan kecil sesegala arah agar mengusir rasa khawatirnya.
__ADS_1
Kemudian ia berdiri menyender sebuah tembok depan ruang operasi.
Kedua tangannya menutup mukanya yang sudah nampak lelah.
Air matanya terus mengalir tanpa dikomando.
Wajah sendunya makin membuatnya kelihatan makin gundah.
Papa Abi berjalan ke arah Oca setelah menandatangani semua dokumen admistrasi putranya.
Tubuhnya lemas, tenaganya habis terkuras dia terduduk dilantai Rumah sakit.
Papa Abi hanya bisa mendoakan anaknya agar baik baik saja, Oca pun tak lupa dari pengamatannya. Dia melihat betapa Oca sangat mencintai putranya.
"Gadis itu tak pernah meninggalkan Abi sedetikpun.." Batin Papa Abi.
Tak berapa lama, Mama dan Adik Abi datang menemani mereka berdua.
Mereka berempat Seperti layaknya satu keluarga sendiri.
"Abi bukan orang yang terbuka, selama dekat denganmu dia selalu menceritakan dirimu pada mama.." Mama Abi mencoba mencairkan suasana untuk menghibur Oca.
"Dia tak memberitahuku Masalah penyakitnya Tante.." Sahut Oca.
"Dia tak ingin menyusahkan mu kak !" Jelas Adik Abi.
"Bahkan ia menyuruh kami ke Jakarta karena ingin melamarmu.." imbuh mama Abi.
šš
Suasana di depan ruang Operasi kian haru, mereka berempat tak henti hentinya berdoa agar masa kritis Abi segera lewat.
Kini lampu Operasi telah dipadamkan, itu tandanya proses operasi Abi telah selesai.
Dokter keluar diikuti perawat dari ruang operasi.
"Kondisi pasien masih down, kita harus menunggu perkembangan dari dari kondisi pasien .." Jelas dokter yang menangani operasi Abi.
"Bagaimana dengan sel kankernya ?" Tanya Oca ingin memastikan.
"Kelihatannya sel kanker pasien belum pernah ditangani,, akan lebih susah bila pasien belum pernah mengalami pengobatan kanker sebelumnya.." Imbuh dokter tersebut.
Oca tak kuasa memendam kesedihan yang ia alami, "kenapa Abi tak memberitahuku Masalah penyakitnya, dia juga tak mau menjalani pengobatan untuk penyakitnya.."
"Pulanglah nak, dari tadi kau tak lepas menjaga Abi.. " Mama Abi memeluk Oca sambil terisak.
"Mana mungkin Oca bisa meninggalkan Abi Tante.."
'Abi sangat beruntung memiliki calon istri sebaik dan secantik kamu sayang !" Mama Abi memuji Oca meski masih berlinang air mata.
__ADS_1
"Tolong ijinkan Oca disini Tante.."
šš