
...Lebih Indah...
...Saat kutenggelam dalam sendu...
...Waktu pun enggan untuk berlalu...
...Kuberjanji 'tuk menutup pintu hatiku...
...Entah untuk siapa pun itu...
...Semakin kulihat masa lalu...
...Semakin hatiku tak menentu...
...Tetapi satu sinar terangi jiwaku...
...Saat 'ku melihat senyummu...
...Dan kau hadir...
...Merubah segalanya...
...Menjadi lebih indah...
...Kau bawa cintaku...
...Setinggi angkasa...
...Membuatku merasa sempurna...
...Dan membuatku utuh...
...'Tuk menjalani hidup...
...Berdua denganmu selama-lamanya...
...Kaulah yang terbaik untukku...
...Hu-u-u-u-u ......
...Kini kuingin hentikan waktu...
...Bila kau berada di dekatku...
...Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku...
...'Kan kupetik satu untukmu...
...Dan kau hadir...
...Merubah segalanya (segalanya)...
...Menjadi lebih indah...
...Kau bawa cintaku...
__ADS_1
...Setinggi angkasa...
...Membuatku merasa sempurna...
...Dan membuatku utuh (membuatku utuh)...
...'Tuk menjalani hidup...
...Berdua denganmu…...
...Adera...
☘️☘️☘️
Pemandangan tak biasa kini hadir di depan mata Oca ketika ia membuka pintu kamar mandi yang berada di samping jendela kamarnya.
Kini telah berdiri dengan kokoh seorang pria yang sudah menjadi panutannya saat ini dan seterusnya.
Lelaki tersebut menatapnya dengan tatapan sayu kearahnya. Dia sudah menantikan kehadiran sang istri dari tadi.
Kini Sang istri sudah keluar dari kamar mandi dan mengenakan handuk berbentuk kimono.
"Kenapa masih disini ? kan aku sudah bilang temani mereka Mas ketika aku mandi !" Tutur Sang Dewi dengan handuk dikepalanya.
"Aku menunggumu dari tadi dear, kita kan udah sah sebagai suami istri ?" Ia mengedipkan matanya yang tak terasa gatal pada sang istri.
"Yaudah tunggu aja," Sahut sang Istri berjalan kearah meja riasnya dan mengambil sebuah hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Saat Oca sedang mengeringkan rambutnya, Pria itu tak berkedip menatap untaian untaian rambut yang menutupi leher mulus yang sudah beberapa kali ia jamah.
Meski bukan pertama kali ia menjamah leher jenjang sang istri, namun ketika Oca menyilakan rambutnya guna membuka leher mulusnya membuat sang pengacara tersebut menelan ludah beberapa kali.
"Ini pekerjaan wanita loh !" Seloroh Oca menatap wajah sang suami yang menurutnya tak masuk akal.
Dengan Gesit Pengacara tersebut menyibakkan rambut terurai milik Istrinya. Ia tak merasa canggung dan kikuk ketika merampas kegiatan yang dilakukan istrinya.
Karena Sang suami kini membantunya, Oca jadi ada waktu untuk sekedar mengolesi serum tipis tipis di wajahnya sebagai pelembab mukanya.
"Bagaimana ? kalau puas dengan cara kerja suamimu, berikan aku upah dek." Ujar sang suami ketika beres mengeringkan rambut Oca.
"Mau berapa ? Istrimu ini banyak duit loh !"
"Aku mau itu," Ujar Sang Asep kawe menunjuk bagian depan tubuh Oca lewat pantulan di cermin.
Seketika ia langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya di dada.
"Jangan sembarangan ya," Sahutnya dengan nada dongkol.
"Udah lupa kita udah sah sayang ?" Goda sang Suami tak mau kalah, kini ia sudah mendaratkan kecupan mesra di belakang lehernya karena sudah menahannya dari tadi.
"Aku baru saja ingat, Mas apa dipikiranmu hanya ada hal seperti itu saja ?"
"Ini kan kebutuhan dek, dan itu yang paling Mas suka !" Tanpa malu malu Pria itu kemudian merengkuh tubuh sang istri menuju ranjangnya.
"Bahkan ini masih siang, bisa bisanya..." Belum sempat Oca melanjutkan kata katanya, Suaminya sudah menutup mulut Oca dengan mulutnya.
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu, Praba yang tahu betul letak titik sensitif istrinya sudah menyerang sang istri siang bolong ini.
"Pria ini sungguh tak sabaran, bisa bisanya ingin memakanku di siang bolong seperti ini ?" Batin Oca dengan kesal lantaran Praba tak memberinya jeda untuk sekedar bernapas.
Melihat sang istri sudah tersengal napasnya, Akhirnya Pria tersebut memberinya waktu untuk menghirup udara sebentar.
"Ini bukan waktu yang tepat sayang, bagaimana kalau mereka mencari kita ?" Tegur Oca agar Praba mengurungkan niat untuk bercinta dengannya.
"Kapanpun, dimana pun selalu tepat sayang karena aku ingin melakukannya," Kembali Pria itu melahap dengan rakus bibir sang Istri setelah ia mengucapkan kata kata barusan.
Kini Handuk yang dipakai Oca untuk menutupi seluruh tubuhnya sudah tak tentu lagi bentuknya setelah Praba mengacak acak isi di dalam handuknya.
Pun sama halnya dengan sang lelaki, kaos berkerah yang ia pakai sudah tergeletak di lantai dan menyisakan hanya celana panjangnya saja.
Sang istri yang tadinya menolak, kini sudah mengikuti alur irama sang Suami. Desiran aliran darah Wanita cantik itu bergelora akibat ciuman serta gulum*n penuh napsu duniawi di sekujur tubuhnya.
Tangan sang pengacara yang biasa dia gunakan untuk menandatangani dokumen penting, kini sangat ahli dalam memberikan sentuhan serta rangsangan bagi sang Dewinya. Tangan tersebut kini telah siap membuka ikatan simpul handuk sang istri tercinta.
Hanya dengan sekali tarik saja, Handuk yang menjadi tabir bagi tubuh mulus sang istri tersebut telah terbuka.
Apalagi Oca tak melakukan perlawanan seperti biasanya, Hal tersebut membuat semangat Praba makin menggebu untuk segera menanamkan cintanya.
"Kalian sedang apa ? kenapa mandi lama sekali ? kami sudah menunggu kalian untuk makan siang bersama !" Tegur kedua sahabat karib yang kini sudah mendeklarasikan diri mereka dengan hubungan besan.
"Mas, mereka menunggu kita !" Tegur Oca pada sang suami yang masih meraba setiap inchi tubuhnya.
"Sehari saja mereka tak mengganggu kita Yank, tiba tiba datang ke Apartemen tiba tiba mengancam aku menyuruh kesini !" Keluh Pria itu dengan kesal lalu menghentikan aktivitasnya.
Oca membenarkan handuk yang masih ia kenakan meski talinya sudah lepas. Kemudian ia membantu memungut kaos berkerah yang Suaminya lempar sembarangan ke lantai.
"Pergilah dulu, aku akan menyusul setelah ganti baju !" Bujuk sang wanita pada suami yang baru saja ia dapatkan tadi pagi.
"Aku tak ingin makan siang yank, tapi ingin memakanmu !" Seloroh Praba dengan muka mup*ngnnya lantaran tak tersalurkan keinginannya.
"Tunda dulu ya, ngalah sama yang tua !" Bujuk sang Istri, melihat muka memelas sang suami maka dari itu untuk membujuknya ia mengecup mesra bibir sang suami dengan lembut.
"Yank, itu tak meredakan tahu.. makin membuat Mas tak tahan !"
"Jadilah anak penurut, nanti malam ada hadiah !"
"Itu ya ?" Rengek sang Pengacara sambil menunjuk bagian sensitif milik sang istri.
"Temui mereka sebelum mereka mendobrak kamar ini !" Bujuk Oca kemudian ia mendorong sang suami agar keluar dari kamarnya.
"Janji ya ?" Pinta Praba sebelum keluar dari kamar sang istri.
"Janji, janji janji !" Jawab Oca menirukan gaya bicara sebuah kartu televisi.
"Dobble ya yank ?"
"Triple Mas !" Sahut Oca dengan tawa renyahnya.
Kini dengan hati yang tak rela, Praba harus menunda momen yang sudah ia nanti nantikan dari dulu. Momen dimana ia akan dapat memiliki Oca seutuhnya.
☘️☘️☘️
__ADS_1