Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Ke Uwuan Mereka Berdua


__ADS_3

"Kenapa mukamu kusut sekali sayang ?" Celoteh Oca untuk menggoda sang pria yang kini sudah berpakaian rapi sambil menunggu dirinya memasangkan dasi untuknya.


"Semalam aku tak tidur sedetikpun karena menunggumu menelpon aku !" Ia menarik Pinggang sang wanita agar lebih dekat dengan dirinya.


"Aku ketiduran, dan juga Tante Miranda menemaniku sepanjang malam," Tangan Oca begitu terampil dalam mengikat simpul dasi sang kekasih.


"Kau sungguh tega padaku !" Gerutu manja sang Arjuna sedikit berlaku kesal pada Oca.


Untuk berjaga jaga, kini mereka berdua berangkat bersama. Praba dan ayahnya sudah memberikan beberapa bodyguard untuk menjaga Oca lantaran insiden kemarin siang. Meski wanita itu kekeh menolaknya, namun sikap kedua ayah dan anak tersebut tak ada yang berani membantahnya.


Lantaran ikut berangkat lebih pagi, Oca jadi banyak waktu luang. Apalagi tak ada jadwal apapun untuknya di pagi hari.


"Coba masih ada seven eleven aku tak akan pusing memikirkan pagi ini !" Keluhnya kesal karena harus menuruti ajakan sang kekasih untuk berangkat lebih awal.


"Kita bisa minum kopi di kantorku !"


"Tapi..." Belum sempat Oca melanjutkannya kalimatnya. Sang kekasih sudah mengancamnya akan mencumbunya bila ia menolak permintaan dari kekasihnya.


☘️☘️



"Kau terlihat tak bersemangat sayang, apa Mas kurang sehat ?" Oca membelai lembut sang kekasih yang sedang duduk membenamkan kepalanya tersebut.



"Kurasa aku lelah sayang,," Sahut Praba dengan nada lemahnya.


"Kemari lah, bagian mana yang sakit ?" Wanita itu mengulurkannya tangannya guna menyambut sang kekasih agar dapat memeluk dirinya.


"Yang sakit hati dan jiwaku, kau tak menganggap aku ada," Keluh Praba dengan sikap manjanya.


Namun tanpa Oca sadari, seperti biasa sang Prianya memanfaatkan naluri kebaikannya. Lelaki pujaan hatinya menarik tubuhnya hingga jatuh diatas badan lelakinya.


"Pintar sekali bersandiwara, itu keahlian mu sayang ?" Meski Oca merasa kesal, namun dalam hatinya ia merasa sedikit tenang lantaran hal yang membuatnya khawatir tak mungkin terjadi, lantaran sang Arjuna baik baik saja.


"Begini lebih baik baby," Pria itu sudah tak tahan lagi untuk segera meluapkan rasa cintanya yang sudah ia pendam semalaman.


Setelah mereka berdua puas melepas rasa rindu yang tak tertahankan dengan saling berpelukan dan yang pasti juga ciuman, kini Pria yang biasanya terlihat arogan tersebut berbaring di atas pangkuan sang Dewinya.


"Nanti malam pulanglah ke rumahmu dan beristirahat dengan cukup jangan memaksakan tenaga mu untuk bekerja,"


"Ikut pulang bersamaku ya ? aku membutuhkan dirimu !" Praba menggenggam erat tangan sang wanita lalu mengecup punggung tangan wanita yang ia cintai tersebut.


"Mas, apa kau serius dengan hubungan ini ?"

__ADS_1


Tiba tiba Oca melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam pikirannya.


"Kalau aku tak serius, buat apa aku susah susah melakukan ini semua ?" Terdapat sedikit kekecewaan terdengar dari sahutan kata katanya.


"Terimakasih, aku berhutang banyak padamu," Wanita itu kemudian mengecup mesra kedua pipi sang pria yang masih berbaring di atas pangkuannya.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah lari dariku karena aku sungguh takut kehilanganmu seperti dulu !" Pria itu makin memeluk erat pinggang Oca, Ia tak ingin jauh jauh dari Oca.


"Menyenangkan sekali menggodamu seperti itu," Tutur Oca semangat lantaran senang sekali bila Praba kesal padanya.


Namun tak ada sahutan dari sang kekasih, Oca menunduk untuk menengok apa yang dilakukan oleh Praba. Dan ternyata Pengacara arogan tersebut sudah terlelap dalam tidurnya.


"Dia pasti tak tidur beneran semalaman, apa dia sedang menyusun rencana atau memang menunggu ku ?" Ucapnya lirih karena tak ingin membangunkan sang kekasih hatinya.


"Dia persis seperti anak kecil bila sedang ngambek !" Batin Oca sambil menguyel uyel hidung pria yang sedang tertidur tersebut.


Cukup lama sekitar 30 menit Oca menemani sang kekasih yang sedang tertidur pulas di ruangannya. Kini waktunya ia untuk kembali bekerja. Pelan pelan ia menggeser kepala Praba dari pangkuannya agar ia bisa bergerak dan berdiri.


Setelah ia memindahkan kepala Praba di Sofanya kini ia meninggalkan outer yang ia kenakan untuk menyelimuti tubuh sang kekasih.


Kemudian Oca berjalan mengendap endap menuju pintu keluar dari ruangan sang kekasih tercintanya.


Ketika ia melewati ruang kerja Dewi, Oca kemudian memberhentikan dirinya.


"Dewi.. setelah dia bangun, tolong buatkan kopi untuknya," Pinta Oca dengan nada lembut pada sang sekretaris Kekasihnya.


"Sudah sekitar 30 menit yang lalu, aku akan berangkat bekerja."


"Biar Gusti yang mengantar ya dok ?" Dewi menawarkan bantuan untuk Oca. Ia tak ingin kekasih bosnya pergi seorang diri, nanti kalau bos Praba Bagun dan mendapati kekasihnya pergi seorang diri pasti seluruh karyawan akan mendapatkan murka dari bos nya.


"Oke deh !" Sahut Oca membentuk simbol bulat dari pertemuan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya.


"Pasti bakal aman seharian ini, bagaimana tidak mereka abis uwu uwuan di kantor !" Batin sang sekretaris merasa lega lantaran hari ini pasti cuaca hati sang bos akan cerah secerah senyum dokter Oca.


Gusti dan juga bodyguard yang Praba dan ayahnya tugaskan mengantar calon pendamping hidup bosnya berangkat bekerja. Bodyguard nya mengikuti dari mobil yang berbeda membuntuti mobil yang dinaiki Oca dan Gusti.


Gusti juga senang sekali setelah mendapatkan info dari Dewi mengenai bosnya yang abis uwu uwuan kata Dewi di aplikasi chat nya.


Bagaimana tidak, bantuan dari dokter Oca sangatlah berguna bagi nasib seluruh karyawan Praba di kantor hukumnya.


Pokoknya bila Oca menyenangkan hati Praba, seluruh isi kantor akan aman dari amukan singa jantan yang sedang kelaparan.


"Cie, yang abis bermesraan.. Bos Praba menang banyak Bu dokter ?" Bila dengan kekasih Bosnya, Gusti berani bercanda dan santai. Namun bila bersama Praba sang bos arogannya, jangan kan bercanda bertanya tak penting saja Praba bisa memarahinya abis abisan.


"Apaan sih Gus, kami tak melakukan apa apa tadi." Sahut Oca malu malu dengan muka bersemu merah merona.

__ADS_1


"Selama saya bekerja di perusahaan beliau, saya baru melihat Bos Praba sungguh bahagia akhir akhir ini lantaran ada anda dok."


"Dari dulu remaja dia memang orangnya dingin, ambisius dan keras kepala." Celoteh Oca. Ingatannya menerawang jauh ke masa masa ia remaja bersama seniornya yang kini menjadi calon imamnya.


"Kalian saling kenal sebelumnya Bu ?"


"Orang tua kami sudah berteman dekat dari dulu, dan kami pernah menjalin cinta monyet waktu remaja."


"Benarkah ?" Gusti sangat tertarik ingin mengorek informasi dari pacar bosnya.


"Iya, tapi dia memutuskan hubungan kami secara tiba tiba. Karena kecewa dan kesal aku memutuskan pergi melanjutkan sekolah ke Sidney dan menempuh pendidikan dokterku disana."


"Berani sekali bos memutuskan hubungan diantara kalian."


"Dari dulu sikapnya memang sudah semena mena dan tak berubah sampai saat ini." Keluh Oca sambil memijit pelipisnya.


"Dulu ia, namun akhir akhir ini Bos Praba sudah jauh berubah. Beliau sekarang lebih peka terhadap karyawannya."


"Benarkah ?"


"Itu karena pengaruh positif dari anda."


Tak terasa Obrolan antara Oca dan Gusti harus berakhir lantaran Gusti sudah mengantar Oca di rumah sakit tempat ia bekerja.


Segera saja Oca meninggalkan Gusti yang sudah mengatakan dirinya tak lupa ia melambaikan tangannya guna berterimakasih pada Gusti.


Dari jauh Tami sudah menunggu kedatangannya lantaran agak sedikit terlambat.


🌼🌼


Ketika istirahat makan siang tiba, Seorang perawat datang ke ruangan Oca dan memberikan sebuah titipan yang berupa buket bunga.


Buket bunga mawar merah itu ia terima dengan herannya. Pasalnya Praba tak pernah memberikan bunga mawar. Karena Praba tahu bunga favorit Oca.


Tak ada nama pengirim, tak ada pula secarik catatan atau kata kata untuknya.


Ia merasa salah menerima, namun nama yang tertera di rangkaian bunga tersebut adalah benar namanya.


"Ini jelas bukan dari iblis itu !" Keluh Oca.


Ia ingin memberitahu kepada sang kekasih, namun diurungkannya lantaran ia sangat tahu watak Praba. Ia pasti akan melakukan segala yang ia bisa bila ia cemburu.


Sama seperti ketika Oca bersandiwara menjadi pacar Gusti. Praba tak ada abisnya mengerjai Gusti hingga ia kapok bila berurusan dengan bosnya.


"Lalu siapa ?" Gerutu Oca kesal.

__ADS_1


"*Mungkinkah Gandhi ? kalau ia apa motifnya ia memberiku hadiah serangkaian bunga mawar ?"


🌹🌹🌹*


__ADS_2