Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Martabak 2.


__ADS_3

"Dunia itu hanya terdiri dari Tiga Hari yakni Kemarin, Hari ini dan Besok."


🌱🌱


Oca sedang berkaca di salah satu toilet sebuah Restoran. Dia sedang melakukan touch up pada make-upnya dia, sedikit memoleskan pemerah bibir yang selalu ia bawa di dalam tasnya.


Memang ini bukan kencan pertama baginya, namun perasannya pada Asep tak pernah ia rasakan pada pria pria lain.


Sosok yang begitu hangat namun misterius. Kadang ramah kadang bikin jengkel pula.


Asep adalah nasi campur Martabak telor spesial bagi Oca.


Tak pernah ia menemukan seseorang yang sangat mengerti tentang dirinya.


"Akhir akhir ini dia begitu posesif !" Keluh Oca sendirian.


Setelah memoles make up-nya, Oca kemudian berjalan mendekati kekasihnya yang sudah beberapa menit ia tinggal.


Dari jauh Oca melihat Asep tengah berbicara secara akrab dengan dua orang asing bagi Oca.


Mata Oca tak luput dari pengawasan terhadap Asep.


Karena kedua orang tersebut bukan dari kalangan orang biasa.


"Hai, apa kedatanganku menggangu kalian ?" Sapa Oca pada mereka yang tengah Asik namun tiba tiba terdiam ketika Oca datang.


"Apa yang kamu katakan dear, mereka tak akan terganggu," Sahut Asep menatap tajam kearah kedua orang tersebut.


Siapa sangka mereka berdua adalah Gusti dan Dewi yang sedang kepergok kencan di Restoran yang sama dengan bos mereka.


"Kalau begitu kami pamit dulu," Sahut Dewi memberikan seutas senyum. Dewi tak mau menambah masalah dengan bosnya yang memiliki tempramen keras tersebut.


"Kalian sudah saling kenal ?" Cerca Oca menangkap ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya.


"Tentu saja, beliau adalah..." Gusti ingin sekali menjawab pertanyaan dari Oca. Namun buru buru Dewi mencubit pinggang belakangnya.


Nampaknya Dewi lebih peka terhadap masalah ini.


Hampir saja, Melihat tampang bosnya sudah dalam posisi siap menerkam mangsa, mereka berdua pun pamit undur diri karena tak ingn menambah panjang masalah dengan bos mereka.


"Aku sepertinya pernah bertemu pria itu Asep, tapi dimana ya ?" Oca menerka nerka ia yakin pernah sekali bertemu dengan Gusti di suatu tempat.


"Ah, mungkin hanya salah orang sayang." Bujuk Asep agar Oca tak mulai curiga.


"Aku sangat yakin, " Oca pun juga mengajak Asep pulang karena sudah lama mereka menghabiskan waktu bersama dari pulang kerja hingga saat ini. Belum lagi ketika belanja tadi, Oca sudah menghabiskan waktu berjam jam.


"Aku ingat Asep, dia adalah orang yang bersama Pria menyebalkan itu," Gumam Oca di dalam mobil bersama Asep.


"Siapa Pria menyebalkan itu sayang ?" Ia pura pura bertanya, padahal dalam hatinya sudah merasa dongkol mendengar Oca menyebutnya Pria menyebalkan.

__ADS_1


"Aku melihatnya di persidangan bersama Praba ketika aku hadir menjadi saksi." Tutur Oca semangat karena berhasil mengingat tentang Gusti, lelaki yang Oca tak tahu siapa dia.


"Benarkah ?"


"Lalu bagaimana kau bisa kenal dengan mereka sayang ?" Tanya wanita itu dengan manja layaknya sepasang kekasih pada umumnya.


"Satu hal yang harus kau tahu, Pacarmu ini banyak orang yang mengenalnya." Goda Asep sambil mengelus kepala Oca.


Mendengar Asep menggodanya, membuat Oca mencibirnya. Pasalnya Oca tak percaya dengan semua Asep katakan.


Sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Asep, Oca kemudian berucap "Iya, aku percaya kau lelaki spesial !"


"Itu baru wanitaku, percayalah padaku bahwa aku akan selalu bersamamu !"


"Kalau aku sampai menemukan bukti bahwa kau berhubungan dengan lelaki itu, aku janji akan meninggalkan dirimu sejauh yang aku bisa !" Ancam Oca pada Asep.


"Itu keterlaluan sayang, aku bisa gila tanpamu !" Keluh Lelaki yang tak bisa berkonsentrasi dalam mengemudi ketika Oca mengancamnya. Ia takut bila dia akan kabur seperti dulu.


"Aku tak suka bila kau ada hubungannya dengan dia Asep." Wanita itu memohon sambil mengiba pada kekasihnya.


"Iya, baiklah aku akan mendengarkan semua yang kau katakan sayang."


Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di tempat mereka masing masing. Yakni Apartemen Oca dan Asep.


Asep mengantar Oca hingga di depan pintu Apartemennya. Oca ingin mengenalkan Asep pada mamanya sebagai seorang kekasih bukan sebagai supir.


"Masuklah, temui mamaku !" Ajak Oca.


"Aku juga memintamu untuk memperkenalkan aku pada orang tuamu agar aku bisa mengambil hati mereka." Pinta Oca. Mereka masih sama sama berdiri di depan pintu Apartemennya Oca.


"Untuk apa mengambil hati mereka, bahkan kau sudah mendapatkan lampu hijau dari ibuku !" Sahut Praba, ia hampir pusing tiap hari Miranda selalu memintanya membawa Oca kerumah.


"Lampu hijau ? aku bahkan belum pernah sekalipun bertemu mereka sayang." Oca heran dengan kata kata Asep.


"Karena aku sering menceritakan dirimu lewat telepon, sudah masuklah aku akan pulang !"


"Bye Asep !"


"Night kiss ?"


Cupp, Oca memberikan kecupan di pipi kanan Asep. Mendapati lampu hijau dari wanitanya, Asep pun tak sungkan sungkan mengecup dahi Oca.


"Tidurlah yang nyenyak.." Kata Asep


"See u tomorrow," Sahut Oca sambil menekan password di pintunya.


Di dalam rumahnya, mamanya sudah menunggunya dengan memasang muka masam.


"Untuk apa mama menemanimu disini kalau kamu mendiamkan mama sayang ?" Riana memprotes putrinya.

__ADS_1


"Ma, ayolah Oca bukan anak kecil lagi."


"Kalau bukan anak kecil, kenapa kalian tak mempertemukan kami ?" Sindir Mamanya dengan wajah masih tak berubah.


"Dia masih belum siap, ayolah mah dia bukan berasal dari keluarga terpandang seperti kita. Jadi mungkin dia masih minder !"


"Minder apanya ?Kalian memiliki selera humor yang tinggi," Riana mencibir anak lelaki Miranda yang sedang menggoda putrinya.


"Bilang sama pacarmu, bila dia tak segera menikahimu, mama bisa menyulitkan karirnya." Imbuh Riana menatap dalam dalam putri kesayangannya.


"Oca istirahat dulu ma," Pinta Oca sekalian kabur menghindari pertanyaan macam macam mamanya.


🍁🍁


Setelah selesai membersihkan diri, Oca kemudian merebahkan tubuhnya di kamar tidurnya. Dia menatap langit langit diatas tempat ia tidur. Sambil memikirkan pertemuannya pertama kali dengan Asep.


Wanita itu tiba tiba tersenyum sendiri karena memikirkan hubungan khususnya dengan supir pribadinya.


"Hei, apa perlu mama membawamu ke psikiater karena senyum senyum sendiri ?" Sindir Mamanya yang sedari tadi memperhatikan Oca.


"Mama ngagetin aja ," Oca protes ke Riana dan langsung beranjak duduk di tepian kasurnya.


Riana lalu masuk sambil membawa sesuatu ditanganya. Kemudian mengajak Oca untuk keluar dari kamar.


"Apa itu ma ?"


"Seorang Pria yang memberikan ini padamu, katanya dia sangat spesial seperti Martabak telor lima," Kata Riana menirukan kata kata Praba tadi ketika memberinya kudapan tersebut.


"Asep ? Sekarang dimana dia ma ?" Oca buru buru berlari keluar guna mengejar Asep.


"Siapa Asep ? Seorang lelaki lalu pergi setelah memberikan ini,"


"Mama kan sudah mengenalnya, dia supir yang mengantar mama ke salon kemarin," Jelas Oca sambil menyomot salah satu potongan di dalam box tersebut.


"Jadi kau berpacaran dengan sopir itu ?" Riana pura pura terkejut.


"Iya," Jawab Oca tak berhenti mengunyah Martabak telor tersebut.


"Mama tak suka kau berhubungan dengan supir itu, lalu Praba gimana ?"


"Mama ku sayang, Praba tak mungkin menyukaiku," Jelas Oca meyakinkan mamanya bahwa ia dan Praba tak memiliki hubungan apapun.


"Siapa bilang ? Kau tahu siapa yang memberikan martabak ini ?" Goda Riana.


"Asep kan ?"


"Bukan, Tapi Praba !" Riana menahan tawanya di depan putri kesanggupannya.


Seketika itu, Oca langsung meletakkan kembali potongan Martabak bekas gigitannya.

__ADS_1


"Oca kenyang, tadi Oca dan Asep sudah makan malam," Kata Wanita itu sambil berlalu meninggalkan Riana yang masih tertawa dengan riangnya.


🌼🌼🌼


__ADS_2