
Begitu memikirkan keberadaan Lelaki yang pernah ia cintai, seketika badan Oca merasa meriang saat itu juga.
Buru buru ia mendekati sopirnya yang sedang menyantap makanannya.
Tanpa menoleh kearah lain, Oca langsung menarik tangan Asep tiba tiba.
"Ayo kita pergi dari sini ?" Ucap Oca sambil terengah engah. Napasnya cukup berat untuk mengucapkan kata kata tersebut.
"Kenapa ? kita baru saja makan Bu ?" Melihat perubahan raut wajah Oca, Praba menebak ia pasti sudah menghampiri meja kasir di Resto Tersebut.
"Pokoknya kita harus segera meninggalkan tempat ini !" Pinta Wanita tersebut dengan nada mengiba pada sopir pribadinya.
Mau tak mau, Lelaki tersebut harus menuruti permintaan wanita pujaannya, betapa tidak dia sungguh tak tega melihat wajah mengiba dari Oca.
Kalau ada peribahasa yang mengatakan bahwa Kelemahan laki laki adalah wanita itu benar adanya, Buktinya Praba sudah bertekuk lutut setelah rayuan melas dari Oca.
"huuuuhh.." Asep menghembuskan napas kasarnya, belum juga apa apa wanita tersebut sudah ketakutan mana kala ia menunjukan tanda tanda keberadaannya.
"Kita pulang saja Asep." Oca mengucapkan kalimat tiba tiba sepeti seorang yang sedang dilanda kecemasan.
"Kenapa begitu ? kita bahkan belum sampai tujuan. Anda bilang ingin makan jagung bakar khas puncak ?" Asep hampir meninggikan suaranya lantaran kesal terhadap keputusan Oca yang memutuskan secara sepihak.
"Lupakan, kita bisa makan di Jakarta kapan saja." Bujuk Oca masih kekeh atas keputusannya.
"Tidak bisa, bisa gagal rencanaku." Gerutunya kesal atas sikap Oca yang ingin menggagalkan usahanya.
"Rencana apa ?"
"Rencana mentraktir anda makan jagung bakar." Asep mencari cari alasan yang tepat untuk membujuk Oca.
"Kukira dia ingin menembakku ?" Oca merasa kecewa atas jawaban Asep barusan. Dia menggerutu di dalam hatinya. Daripada memikirkan Asep, lebih baik ia memikirkan bagaimana supaya ia tak ketahuan keberadaan sekarang oleh Praba.
Kemudian, Oca membuka tas ditangannya dan mencari cari sebuah barang di dalam tasnya. Raut wajahnya berubah riang lantaran ia menemukan sebuah benda berwarna hitam tersebut.
Buru buru ia mengenakan benda tersebut, Sambil berkaca lewat handphone nya ia memakai kaca mata hitamnya kemudian merapikan rambutnya yang terlihat acak acakan.
"Apa wanita ini sehat ? malam malam di dalam mobil memakai kaca mata hitam." Batin Asep melirik kearah Oca di belakang joknya.
"Malam malam pakai kaca mata Bu ?" Sindir Praba yang sudah tak tahan ingin tertawa ketika melihat penampilan Oca.
"Diamlah, jangan sampai orang itu tahu keberadaanku," Selesai memberitahu alasannya, Hati Oca merasa agak sedikit tenang. Ia berharap Supirnya bisa mengerti dengan keadaanya.
Ingin sekali Praba tertawa mendengar penuturan Oca barusan, bagaimana bisa ia ingin menghindarinya sedangkan dirinya kini sedang bersamanya. Wajahnya kini berangsur angsur berubah warna menjadi merah padam lantaran menahan hasrat tertawanya.
"Tenang saja, aku akan menjaga anda ! percayalah padaku,"
"Kita pulang saja ya, please Asep !"
Asep berkali kali membujuk Oca agar tak meminta kembali pulang, Ia tak gentar meyakinkan Oca bahwa Oca akan aman bersamanya.
"Aku hanya takut dia akan menyakitiku lagi Asep," Oca tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya pada Asep. Ia sangat trauma atas masa lalunya.
"Aku janji akan menjagamu dengan segenap nyawaku !" Sedetik itupun Asep menutup matanya, hatinya begitu sakit mendengar penuturan Oca bahwa ia sangat trauma pernah menjalin suatu hubungan dengan dirinya.
"Jadi, apa kita bisa lanjutkan Nona manis ?" Asep mulai meyakinkan wanita dibelakangnya akan aman bila bersamanya.
"Kau janji akan menemaniku ?"
"Tentu saja, apa kurangnya aku ?" Asep mulai mencairkan suasana dengan mencoba menggoda Bosnya. Usahanya tak sia sia setelah ia dapat melihat bosnya tersenyum lepas saat itu.
"Kita bisa membeli moci," Jawab Oca sedikit lega.
"Aku tak bisa makan moci Bu,"
"Kenapa ?"
"Karena moci kalah manis dengan Anda ?"
Seketika Oca tertawa lebar mendengar kata kata Asep yang telah menggodanya,
"Coba kau ulangi lagi ? aku ingin sekali mencekik lehermu Asep,"
__ADS_1
Pipi Oca merona tak kuasa menahan malu.
Akhirnya rencana Asep berjalan mulus, ia bisa merayu Oca agar mau melanjutkan perjalananya ke kawasan pegunungan tersebut.
ππ
Senja kini berganti malam, burung burung di daerah tersebut berterbangan menuju sangkar masing masing meninggal sebuah pemandangan malam yang indah.
Hampir sepanjang jalan daerah tersebut telah berjejer deretan para penjaja makan kaki lima.
Banyak diantara pengunjung yang berhenti untuk sekedar melepas penat atau untuk mencicipi kudapan ringan seperti Jagung bakar, mie rebus instan serta minuman khas yakni Bandrek.
Diantara jejeran pedagang tersebut, Oca memilih berhenti di sebuah lapak ibu ibu yang berumur sekitar 50an tahun.
Kios jagung bakar itu berada diantara Restoran Rindu Alam dan Hotel Bukit Indah.
Author tak perlu mengiklankan kios ibunya ya ? kalian bisa langsung datang sendiri mencicipi enaknya jagung bakar jualan ibu tersebut. Kebetulan dulu Author pesannya yang varian rasa pedas manis.
( maaf kok jadi nostalgia π€§π )
Oca dan Asep pun turun dari mobil guna memesan jagung bakar sesuai keinginan Oca.
Mata Oca celingukan ke kanan dan ke kiri. Ia mengamati sekeliling daerah tersebut. Insting bertahannya ia naikan ke level siaga 1.
"Ada masalah ?" Asep pura pura menanyainya lantaran gemas dengan sikap mencurigakan dari Oca.
"Tidak, ayo kita memesan lalu cepat pulang Asep."
"Tak secepat dan semudah itu sayang, tunggu kejutan dari aku." Batin lelaki yang kini berdiri di sampingnya.
Keduanya kini tinggal menunggu pesanan mereka selesai di bakar, sambil menunggu jagung bakarnya ready, biasanya pembeli akan disarankan menikmati minuman khas daerah tersebut.
Tak terkecuali Asep dan Oca. Mereka memesan 2 gelas Bandrek hangat guna mengusir udara dingin yang menusuk ke tulang tulang mereka.
"Ini terakhir kali aku menikmati masa cuti ku," Ujar Oca sambil meminum minuman hangat di depannya.
"Besok anda akan kembali bekerja ?"
Sesekali wanita itu menatap nanar ke arah lain guna menghilangkan kekosongan hatinya.
Menyadari hal tersebut, Praba tak ingin membahas masalah yang telah terjadi pada wanita yang ia cintai, lantaran tak ingin membuat Oca kembali mengenang kekasihnya yang telah tiada.
Ketika pesanan mereka telah selesai di siapkan, Asep mengajak Oca untuk segera beranjak dari lapak jagung bakar tersebut.
Dia ingin mengajak Oca untuk memakan jagung bakar tersebut ke suatu tempat.
πΌπΌ
Mobil kembali di jalankan Asep kembali, Dia membawa Oca ke jalur Puncak sambil membuka kaca jendela Mobil, Asep ingin merasakan sejuknya udara khas puncak.
Menikmati pemandangan malam hari di Puncak sungguh bisa menenangkan hati.
Susana tenang di selimuti sejuknya pegunungan menambah romantisme kedua orang tersebut.
Asep memarkir mobil Oca di salah satu ruas jalur Puncak.
Kemudian Asep keluar dari mobil dan di susul Oleh Oca juga.
"Wisata yang murah meriah," Ucap Asep sambil bersenandung ringan lagu nostalgia mereka.
"Stop, aku tak suka lagu itu !"
Sejauh mata memandang, mereka melihat hamparan lampu yang berkelap kelip di bawah bumi yang mereka pijak saat ini.
ππ
Lagu yang Asep nyanyikan barusan.
Hidupku tanpa cintamu
__ADS_1
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
'Ku harus milikimu
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk
Kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta, kau tak cinta
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Risalah Hati - Dewa 19
__ADS_1