
"Kenapa kamu harus berhenti dari pekerjaanmu sayang ?" Pertanyaan dari Mamanya membuyarkan lamunan Oca ketika sedang makan malam bersama mamanya.
"Oca masih belum bisa sepenuhnya melepaskan Abi ma, semakin Oca berada ditempat tempat yang pernah Oca kunjungi bersama Abi, Oca akan selalu mengingatkan Abi." Keluh Oca.
"Lalu bagaimana hubungan antara kamu dan Praba sayang ?" Lagi lagi Riana masih belum bisa menerima bahwa tak ada apa apa antara Putrinya dengan anak sulung dari Miranda Sahabatnya.
"Dari awal Oca sudah mengatakan bahwa kami memang tak memiliki hubungan apapun, dia hanya meminta bantuan Oca untuk membujuk kliennya kemarin." Oca pun masih sama ia masih membantah isu tersebut dengan keras.
"Apa dia memanfaatkan dirimu sayang ? aku bisa menyulitkan Praba bila dia menyakitimu." Riana mencoba menenangkan putri semata wayangnya.
"Oca tahu seperti apa dia Ma, dia tak mungkin menyukai Oca."
"Sebaiknya kamu pikirkan masalah pekerjaanmu sayang, bukankah kau sendiri yang bercita cita ingin menjadi seorang dokter agar dapat membantu masyarakat dengan kesehatannya apa kau lupa ?"
"Kak Doni masih memberi Oca cuti, aku masih ingin memikirkannya."
Obrolan antara ibu dan anak tersebut kemudian berlanjut di dalam kamar Oca. Untuk malam ini Wanita yang berprofesi sebagai seorang dokter itupun ingin merasakan hangatnya pelukan mamanya.
Oca ingin meluapkan semua apa yang ia rasakan selama ini. Tanpa ada rahasia antara satu sama lain.
"Apa kamu akan terus mengabaikan Praba sayang ?" Goda Riana ikut berbaring di samping putrinya.
"Kan sudah Oca bilang, dia tak mungkin menyukai Oca Ma."
'Besok temani mama belanja ya sayang ?" Bujuk Riana sambil memeluk putrinya.
"Mama akan diantar sopir Oca, Oca malas keluar ma."
ππ
Kegiatan pagi ini dimulai dari Nyonya Riana meninggalkan tempat tidur Oca kemudian menuju dapurnya.
Nyonya Riana berkutat dengan kegiatan memasaknya untuk putri semata wayangnya. Meski dirumah Riana tak pernah diijinkan sekalipun menyentuh pekerjaan dapur oleh suaminya.
Riana menyiapkan dua mangkuk sup jagung manis untuk dia dan putrinya Oca.
Selesai meletakkan sup itu di meja makan, Riana kemudian menuju kamar Oca untuk membangunkan anak tersebut.
"Sayang, bangunlah nak ini sudah siang..." Bujuk Mamanya sambil mengelus rambut Oca.
"Morning Mom..." sahut Oca mengerjipkan matanya perlahan lahan.
"Bergegaslah kita akan pergi ke suatu tempat." Ajak Riana.
"Hari ini Oca tak ingin kemana mana Ma, Oca malas keluar." Protes Oca dengan memanyunkan bibirnya.
"Temani Mama ke salon dong, ya ? kalau tidak mama akan membicarakan kejadian kemarin dengan Papamu !" Ancam Mamanya Oca.
"Baiklah,," Sahut Oca melangkah kaki keluar kamar.
Setelah itu, Riana mengajak putrinya sarapan bersama.
"Mama tak menyangka kalian tinggal dalam satu gedung yang sama." Goda Mama Oca mengingat kemarin Praba pamit masuk ke Apartemennya setelah mengantar mereka berdua.
"Oca juga tak tahu, kenapa dia tinggal disini."
"Cepatlah habiskan makananmu sayang.."
__ADS_1
ππ
Selesai bersiap siap kemudian Oca mengeluarkan sebuah kartu nama yang berisi nomor handphone milik Asep. Asep memberikan nomor handphonenya sebelum ia pulang beberapa hari yang lalu.
Oca memencet nomor nomor yang tertera di ponselnya. Kemudian menekan tombol call dan menunggu jawaban dari Sopirnya tersebut.
"Ini siapa ?" Bunyi suara di ujung telepon ketika Oca mendengarkannya.
"Asep, kenapa suaramu aneh..." Tegur Oca kemudian.
"Ehem... tenggorokan saya sedang kurang baik Bu Oca.." Tutur Lelaki tersebut yang tak menyangka bila Oca akan menelpon dirinya secara dadakan. Dari cara Oca memanggilnya Asep ia sudah was was takut kedoknya akan terbongkar.
"Bisakah kamu menemani aku dan mamaku keluar ?"
"Ya Tuhan kenapa mendadak sekali. Aku harus segera mengosongkan jadwalku." Keluh Lelaki tersebut dalam hati karena ia sudah bersiap siap dengan penampilan rapinya sebelum berangkat ke kantornya.
"Bagaimana ? kalau tak bisa tak masalah kok."
"Bisa."
Bagai buah simalakama Praba tiba tiba menyanggupi permintaan Bosnya. Meski dia harus menunda semua pekerjaannya demi Oca.
"Aku menunggumu Asep.." Puji Oca dengan riangnya.
"Kenapa kau terdengar senang sekali dengan diriku yang seperti itu Oca ? Tak bisakah kau berlaku adil padaku ?" Protes Praba dalam hatinya.
ππ
Ketika tiba di tempat parkir, Praba yang sedang menyamar menjadi Asep supir Oca hanya melihat seorang wanita saja. Yakni Mama Oca.
Segera saja Praba membukakan pintu mobil untuk nyonya Riana.
"Siapa namamu ? suaramu tak asing bagiku !" Selidik Mama Oca.
Praba hanya tersenyum menanggapi kata kata nyonya Riana. Dia kemudian menjalankan mobil Oca.
"Tante... mana Oca ?" Tanya Praba dengan lebih serius. Pasalnya ia bersedia mengantar mereka karena Oca sendiri yang memintanya sehingga ia langsung saat itu juga membatalkan pertemuannya dengan seseorang klien penting.
"Tak sopan sekali kau memanggil aku Tante dan memanggil anakku Oca..!" Riana mulai menaikkan suaranya.
Praba kemudian menoleh kebelakang sambil membuka kaca matanya.
"Ya Tuhan Praba ?" Jantung mama Oca hampir copot dibuat Praba karena kaget.
"Maafkan Praba Tante, ini ide Paman Russel dan Praba, Paman Russel telah menitipkan Oca pada Praba selama beliau tak di Jakarta. Namun Praba tak mungkin bisa berdekatan dengan Oca. Jadi Praba lebih memilih dengan cara seperti ini," Dengan penjelasan dari Praba, mudah mudahan Mama Oca tak akan marah pada Praba.
"Jadi kalian memang sudah bersama ? itu juga yang membuat kamu pindah di dekat Oca nak ?"
"Iya Tante..." Jawab Praba singkat.
"Lalu bagaimana kalau Oca sampai marah bila ia mengetahui ini semua ?" Cecar Riana tak ingin anaknya tersakiti karena ulah Praba dan suaminya.
"Praba akan pelan pelan menjelaskan ini semua ke Oca supaya dia bisa menerima,"
"Terimakasih sekali loh Praba, Tante tak tahu harus bilang apa, Pilihan Papa Oca memang tepat sekali." Puji Riana.
"Praba hanya menjalankan amanat dari Paman Russel Tante, itu akan menjadi janji Praba ke paman."
__ADS_1
Riana benar benar terharu dengan sikap perhatian dari lelaki yang duduk di depannya untuk anak semata wayangnya. Andai saja Oca tahu betapa sayangnya lelaki tersebut.
"Ngomong ngomong Oca mana Tante ?" Praba masih memberondong pertanyaan yang tadi belum sempat mama Oca jawab.
"Dia sedang janjian bersama kakak sepupunya yang menjadi atasannya di tempat ia bekerja."
"Oooo, sampai kapan ?" Praba masih tak puas dengan jawaban Nyonya Riana.
"Hanya sebentar, Oca akan menyusul Tante ke salon langganan Tante yang Tante minta kamu mengentarkan Tante kesana."
"Siap.., setelah selesai nanti akan Praba jemput."
Praba mengantarkan Mamanya Oca ke salon langganannya. Kemudian dia buru buru pergi meninggalkan Tante Riana sendirian di salon sambil menunggu anaknya. Karena hari ini setelah bertemu klien, Praba akan langsung menjalani sidang di pengadilan lagi.
ππ
"Mama ingin menemui teman mama, kau tunggu saja supirmu menjemputmu.." Ucap mama Oca ketika ia selesai perawatan rambut dan kukunya.
"Nanti mau dijemput juga pulangnya ?" Oca menanyai mamanya.
"Mama akan pulang sendiri, kau tunggu saja sopir kesayanganmu.." Goda Mamanya.
"Maksud mama dengan kesayangan apa ?"
"Sudahlah, mama pergi dulu..." Riana kemudian pergi meninggalkan Oca yang masih melakukan perawatan kukunya.
Hari ini Oca benar benar dimanjakan Oleh mamanya, semua perawatan seluruh tubuhnya sudah mamanya bayarin dari rambut hingga ujung kaki termasuk body massage juga.
Selesai perawatan seluruh tubuhnya, ia kemudian menghubungi supir pribadinya untuk menjemputnya.
"Bisakah saya meminta waktu Bu ? saya masih ada hal yang harus saya kerjakan." Jelas Praba yang masih berada di ruang sidang.
"Kalau begitu aku bisa pulang sendiri, nanti kau bisa bawa mobilku pulang kerumahmu." Usul Oca karena tak tega pada Asep.
"Ini tak lama, mungkin setengah jam lagi saya selesai." Bujuk Praba.
"Jangan kemana mana ! setelah selesai aku akan langsung kesana," Imbuhnya kemudian.
"Baiklah, aku akan menunggu tapi ingat aku tak suka dengan orang yang mengingkari janji." Ancam Oca.
"Oke." Sahut Praba.
Praba ingin segera menyelesaikan urusannya dan sesegera mungkin menjemput wanita pujaan hatinya. Meski wanita itu masih enggan membuka hati untuk dirinya.
Cukup lama Oca menunggu sopirnya datang menjemput dirinya, dari kejauhan dilihatnya Mobilnya sudah memasuki plataran Salon kecantikan tersebut.
Dengan senyum sumringahnya Oca melambaikan tangannya ke arah Asep yang sudah menjemputnya.
"Sial sekali, senyum dan kehangatan itu milik Asep bukan milik aku." Gerutu Praba dalam hati.
Dia merasa sangat cemburu pada sosok Asep, Karakter yang ia mainkan saat ini.
π€π€
__ADS_1
πΌπΌπΌ