
"Aku akan memikirkannya !" Lontar Wanita cantik itu masih di dalam pelukan mesra sang kekasih hatinya.
"Iya atau tidak ? hidupku bergantung pada jawabanmu sayang !" Sang lelaki pun tak henti hentinya menghujani dirinya dengan serangan ciuman mesra.
"Makanya aku akan memikirkannya, kalau sikapmu baik pada karyawan mu aku akan mendukung rencana mu Mas tetapi bila kamu masih berlaku seenaknya saja dengan terpaksa aku berada di pihak ibumu !"
"Sudah berani mengancam kekasihmu sayang ?" Bukan hanya melancarkan ciuman mesranya, kini tangan Pengacara terkenal itu tak sungkan lagi untuk mengelus serta meraba bagian belakang sang kekasih.
"Mau menyingkirkan tangan anda atau kepala anda yang tersingkir dari tubuh anda ?" Ancam Oca tak mau kalah.
"Aku bisa mendapatkan lebih dari ini kan ? bila aku mau bersikap baik kepada karyawan ku ?" Meskipun sang wanita menawarkan sebuah negosiasi padanya, ia tak akan kalah dari sang wanita.
"Aku akan menunggu keputusanmu Mas," Goda Oca melepaskan jeratan asmara dari sang lelaki tersebut
"Sudah mau kembali lagi ?"
"Tentu saja, waktuku tak banyak hanya demi kamu aku meninggalkan rumah sakit karena aduan dari pegawai mu !" Ujar Wanita itu kini meraup tasnya dan bersiap siap kembali bekerja.
"Tak ingin memberiku sebuah ciuman ?" Seloroh Praba menggoda Oca mengekori jalanya sang Dewi cintanya.
"Ogah ah.."
"Nanti malem Dobble ya yank ?"
"Dewi kamu ada lakban tidak ?" Tegur Oca ketika ia berjalan melewati meja kerja Dewi.
"Ada Dok, " Dewi membuka lacinya lalu menyodorkan kepada Oca.
"Tutup mulut Bosmu menggunkan Lakban tersebut sebelum ia banyak bicara lagi !"Seloroh Oca sambil menatap mata sang kekasih dengan tatapan tajamnya.
Dewi begitu kaget mendengar perintah Oca, begitu pula Praba ia tak menyangka bahwa kekasihnya akan semarah ini akibat perbuatan dirinya barusan.
"Yank, aku janji tak akan mengulangi nya lagi untuk yang kedua kali ya ?" Bujuk Praba mengekori kemanapun perginya sang wanita.
"Keputusanku tergantung pada performa mu sayang !" Puji Oca sebelum bergegas meninggalkan kantor pengacara sang kekasih.
βοΈβοΈ
Sore ini Sang wanita yang kehadirannya sudah diidam idamkan oleh sang pengacara telah keluar dari tempatnya bekerja. Wanita itu tak henti hentinya menyunggingkan senyumannya lantaran menerima laporan dari anak buah Praba bahwa sang pujaan hatinya berlaku sangat manis karena ingin mendapatkan hatinya.
Oca masuk kedalam mobilnya. Ia ingin segera pulang ke rumah sang kekasih. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan sedang karena ia merasa tak diburu waktu. Oca pun sudah memberitahu bahwa ia akan pulang kerumah Praba padanya.
Senyum sumringah nya harus ia singkirkan lantaran dari arah belakang ada sebuah mobil mengikutinya, itu bukan mobil yang biasa mengikutinya sebelumnya.
__ADS_1
Bagaimanapun Oca harus bersikap waspada.
Wanita itupun kini menambah persneling gear pada mobilnya. Ia ingin mengkonfirmasi pada Praba apakah benar ia menyuruh orang untuk membuntutinya atau tidak.
Akan tetapi bukannya mendapatkan jawaban, melainkan sang pujaan hati gak mengangkat telpon darinya.
"Kau harus tenang Oca, kau sudah ahli dalam balap membalap bahkan kekasihmu sudah mempersiapkan mobil ini untukmu kau harus bisa melewati ini," Ucapnya memberi semangat pada dirinya.
Oca berusaha lepas dari kejaran mobil di belakangnya, Oca harus berkonsentrasi tinggi mengahadapi jalanan padat pada jam jam pulang kerja.
Apalagi jalanan arah Apartemen miliknya adalah jalan poros utama. Ia tak mau ambil resiko Oca memiliki ide untuk mengecoh sang penguntit. Ia sengaja tak melalui jalan pulang ke apartemen milik dirinya.
Bahkan tak menutup kemungkinan nyawanya berada dalam bahaya bila ia sampai tertangkap. Maka dari itu ia sengaja mengulur waktu agar Penguntit itu tak mengikutinya untuk menemukan tempat tinggalnya.
Namun sial sekali bagi Oca, mobil itu terus saja membuntutinya dan kini sudah makin intens ngejarnya bukan lagi mengikutinya.
"Apa seperti ini kehidupannya selama ini ?" Gerutu Oca merasa muak menghadapi setiap kejadian kejadian seperti ini lantaran ia dekat dengan Praba.
"Siaaaalll..." Umpat Oca memukul stang mobilnya, ketika penguntit tersebut kini dapat menikung serta menghalangi jalannya.
Nampak seorang pria berjalan keluar dari mobil mewah tersebut. Tak hanya sendiri namun Seorang pria yang Oca kenal merupakan saingan Praba tersebut diikuti oleh pengawalnya 2 orang.
Gandhi lelaki yang Oca kenal tersebut kini berjalan dengan sombongnya kearah mobilnya.
Pria yang menjadi rival abadi sang kekasih tercintanya itu kini mengetok kaca jendela mobil Oca dengan senyum kemenangannya.
"Ya Tuhan aku harus bagaimana ? mereka bertiga dan aku seorang diri mana mungkin aku bisa menang melawan mereka ?" Gerutu Oca di dalam mobilnya.
Pada akhirnya, wanita itu dengan sikap tenangnya keluar untuk menemui Gandhi dan anak buahnya.
"Dokter Oceana ?" Sapa Gandhi mengulurkan tangannya mengajaknya bersalaman.
"Senang bertemu dengan anda dengan situasi seperti ini !" Sindir Oca masih dengan sikap tenang yang ia buat.
Namun ia tak menanggapi uluran tangan dari Gandhi.
"Jadi wanita seperti ini yang sangat berharga bagi Putra Mahkota Adiwiyata ?" Ujar Gandhi membuka obrolan ringan mereka.
Oca masih dalam posisi siaga, kedua tangannya sudah dalam posisi ingin memukul orang di depannya. Pun sama halnya dengan kedua anak buah Gandhi, mereka juga bersiaga untuk melindungi bos mereka.
"Kalau tak ada yang ingin dibicarakan aku permisi untuk melanjutkannya perjalananku !"
"Apa hubungan mu berjalan lancar nona ? Kau yakin bahwa Prabasonta adalah orang yang tulus padamu ?" Gandhi mulai memancing emosi Oca.
__ADS_1
Oca tak bergeming, air mukanya kini sudah menampakkan emosi yang sudah tersulut dari hatinya.
"Putri pengusaha perhiasan dan batu bara Russel Anwar, untuk apa Praba mendekatinya bila tak ingin memanfaatkannya ?"
Gandhi melancarkan aksinya untuk membuat Oca emosi.
"Itu semua tak ada hubungannya dengan kamu !" Sahut Oca emosi lantaran ia merasa dipermainkan oleh Gandhi.
"Semua orang tahu Keluarga Adiwiyata seperti apa, mereka akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau Seorang anak mantan Menteri lalu menggunkan dukungan dari Russel Anwar untuk maju di politik apa kau masih tak percaya ?" Cerca Gandhi tanpa ampun.
Oca hanya diam mendengarkan kata kata Gandhi, bagaimanapun juga keluarga Oca memang sudah lama dekat dengan keluarga Adiwiyata, Oca sangat tahu latar belakang keluarga Adiwijaya dan seperti pada Paman Prabu dimatanya.
"Sudah selesai kan ? bisakah aku pulang ? aku sungguh lelah wahai tuan Pengacara !"
Sanggah Oca yang kini memang sudah muak melihat Gandhi.
"Kalau kau tak bahagia bersamanya, aku bisa membuatmu bahagia nona. Aku bisa memberikanmu apapun melebihi yang sudah Praba berikan !" Bujuk Gandhi mendekati Oca selangkah lebih dekat.
"Menjauh lah dari kakakku dasar Bajing*n !" Umpat Bara yang tiba tiba datang di saat yang tepat.
Bara datang lantaran sang kakak memberitahunya bahwa Oca sudah berkali kali menelpon Praba. Namun ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kemudian ia menyuruh Bara untuk menyusul sang kakak iparnya dari signal GPS yang dipancarkan dari mobil Oca.
"Putra Adiwiyata yang lain, aku sungguh takut padamu nak !" Ejek Gandhi mencibir Bara yang baru saja sampai.
"Sudahlah Bar, ayo kita pergi ! jangan ladeni Orang tak waras ini ?" Tutur Oca menarik paksa tangan Bara menjauh dari Gandhi.
"Kak, aku bisa menghajarnya tadi !" Ucap Bara mengantar Oca untuk masuk ke mobilnya.
" Jangan gegabah, kita harus menyusun rencana untuk mengalahkan orang seperti dia. Apa pria itu yang mengirim mu kemari ?"
Bara tersenyum mendengar pertanyaan dari Oca.
"Kak, dia memasang GPS di tubuhmu !" Goda Bara sebelum ia meninggalkan Oca di mobilnya.
Dari jauh, Oca melihat Bara mengikuti mobilnya dari belakang. Karena bara kini memiliki mandat dari sang Abang untuk menjaga calon kakak iparnya.
"Sejak kapan dia memasang GPS di tubuhku ? apa ketika ia ingin mencumbumu tadi siang ?" Batin Oca mengingat ingat kemungkinan Praba menaruh barang tersebut.
Oca ingat siang tadi waktu ia mengantarkan makan siang untuk kekasihnya, Kekasihnya tersebut tak seperti biasanya meraba bagian belakang tubuhnya. Oca menduga Praba sengaja menamakan GPS di bajunya.
Sambil mengemudi, Oca meneliti seluruh roknya untuk mencari barang tersebut namun tak juga ketemu.
"Pasti Bara menipuku ! memang benar pria itu sudah berlaku cabul padaku !" Umpatnya dalam hati.
__ADS_1
πΌπΌπΌ