
Pagi itu Abigail datang untuk menjemput Oca berangkat bersama. Kini Abi telah menunggu di Lobby Apartemen Casa Grande.
Tak berapa lama muncullah sosok wanita cantik yang telah Abi tunggu sedari tadi.
Senyum merekah tak henti hentinya wanita itu kirimkan kepada Abi saat melihat Abi menunggunya di Lobby Apartemennya.
"Apa aku membuat anda menunggu lama dok ?" Tanya Oca tak ingin membuat Abi merasa kesal.
'Aku juga baru saja tiba" Kata Abi menjawab pertanyaan dari Oca.
Mendengar jawaban dari Abi, membuat Oca menyungging senyumnya.
"Ayo" Ajak Abi kepada Oca menuju parkir mobilnya berada.
Abi lalu membukakan pintu mobilnya agar Oca bisa duduk disebelahnya.
"Terimakasih dok" Ucap Oca sambil memberikan senyumnya.
"Anda cantik sekali bila tersenyum" Puji Abi yang memang terpesona oleh senyum di bibir Oca.
"Itu berlebihan, aku takut pacar anda marah dok" Ejek Oca berkelit melihat gelagat Abi yang mencurigakan.
Entah mengapa Oca merasa Abi sedang mengejarnya, dirinya bukannya tak menyukai Abi. Melainkan masih memiliki trauma pada sebuah hubungan.
Wanita mana yang tak tertarik pada Abigail, dia dokter muda dan tampan. Sangat bersyukur bila bisa mendapatkan hati seorang Abigail.
Tapi Oca masih enggan untuk membuka hatinya. Dia masih takut untuk jatuh cinta lagi dan berakhir patah hati.
"Saya masih single, bila anda berkenan saya tak keberatan dok" Goda Abi sambil menstarter mobilnya.
"Saya tersanjung dok, selera humor dokter sangat ke lumayan" Puji Oca.
"Apa saya terlihat bercanda ?" Sindir Abi mendengar penuturan Oca.
Oca hanya diam saja, sesekali matanya menatap keluar jendela kaca mobil. Lebih tepatnya menghindari tatapan mata Abi.
"Bisakah saya memanggil anda Oca saja" Pinta Abi secara tiba tiba.
"Not bad, kita bisa saling memanggil nama toh umur kita tak jauh beda" Tutur Oca tak menolaknya.
"Aku dan kamu boleh ?" Tanya Abi kemudian.
"Boleh" Sahut Oca singkat. Kini matanya bukan lagi menatap luar jendela melainkan menunduk malu sambil meremas tangannya.
Melihat ulah Oca, Abi jadi gemas sendiri pasalnya baru kali ini ada wanita yang masih malu malu.
ππ
Parkir Rumah sakit Medistra
Abi berjalan ke sebelah mobilnya dan membukakan pintu untuk Oca. Dan Oca pun menyambutnya dengan senang.
__ADS_1
Oca keluar setelah Abi membukaan pintu untuknya. Saat Oca baru saja melangkahkan kakinya, tiba tiba sebuah mobil melaju dengan kencang kearah mereka.
Secara refleks, Abi menarik tubuh Oca ke pelukannya. Hal tersebut membuat Oca mematung tiba tiba.
Bukan karena apa, dia masih kaget karena dirinya hampir saja celaka karena hampir tersrempet sebuah mobil.
Beberapa saat kemudian barulah dia tersadar dari bengongnya. Dan mendapati dirinya masih dipelukan Abi.
"Terimakasih" Ucap Oca lirih
"Apa kamu baik baik saja Oca ?" Tanya Abi penuh kekhawatiran.
"Aku baik baik saja" Jawab Oca masih dengan nada gemetarnya.
"Ayo kita masuk kedalam dan mengambil minum" Ajak Abi masih mengkhawatirkan keadaan Oca.
πΌπΌ
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tak sengaja mengawasi kejadian barusan.
Orang tersebut tepat berada di belakang mereka. Tapi mereka tak melihatnya karena orang tersebut masih berada di dalam mobilnya.
Di jok sebelahnya duduk, terdapat sebuah kotak yang dia bawa. Pemilik sepasang mata tersebut tak lain dan tak bukan adalah Praba.
Praba melihat full adegan kemesraan antara Oca dan Abi barusan.
Tiba tiba Bara menelponnya dan menyuruhnya menjaga ibunya dulu sebelum dia tiba di rumah sakit tersebut.
Dengan terpaksa Praba menuruti kata kata adiknya. Praba dengan enggan masuk ke rumah sakit tempat ibunya dirawat.
πΌπΌ
Ruang VIP Rumah Sakit Medistra.
Praba masuk ke ruang rawat inap ibunya. Dia membawa sebuah kotak dan serangkai bunga.
"Bagaiman keadaan ibu ?" Tanya Praba melihat ibunya sudah dapat duduk bersandar di bednya.
"Kau kemari ingin menemui ibumu atau Oca anakku ?" Sindir Miranda langsung ke hadapan Putra sulungnya.
Praba tak merespon pertanyaan ibunya, dia lalu meletakkan kotak dan bunga yang sudah dibawa dari tadi.
"Masih ada juga yang mengingat kue favorit calon menantu Adiwiyata" Goda Miranda melihat putra sulungnya membawa box outlet kue terkenal di daerah Asia Afrika.
"Menantu ibu dari Bara" Sahut Praba kesal.
__ADS_1
"Anak playboy itu pasti akan mengejarnya lagi" Goda Miranda menakut nakuti Praba.
"Ibu, aku masih banyak pekerjaan jadi Praba pamit dulu" Kata Praba mengindari cecaran ibunya yang bawel.
"Pastikan kau berkompetisi secara sehat nak" Bujuk Miranda melihat putranya sedang kesal.
"Terserah ibu saja" Jawab Praba makin kesal dengan perkataan ibunya.
ππ
Oca kini memiliki jadwal memeriksa setiap pasiennya dan pasien dokter Adrian. Karena dr Adrian masih mengambil ijin cutinya.
Kini giliran Oca memeriksa ibu Praba.
"Selamat pagi, maaf telah mengganggu waktu istirahat Anda kami akan melakukan pengecekan rutin" Kata Oca saat masuk ke kamar inap Miranda.
Kini Oca memeriksa tensi dan detak jantung pasiennya. Serta memberikan obat dan menanyai bila ada keluhannya.
Seusai mendengarkan Bu Miranda, Oca akan segera pamit meninggal ruangan tersebut.
Tiba tiba Miranda memberikan Oca sebuah hadiah, Yakni sekotak Kue.
Oca sangat tahu isinya, itu adalah toko kue langganan dirinya dulu.
Miranda mengatakan bahwa sudah memberikannya karena sudah menyelamatkan nyawanya.
"Tante masih ingat seleraku" Kata Oca berbasa basi.
"Tentu saja" Sahut Miranda senang Oca sudah menerimanya.
"Apa Bara yang membelikannya ?" Tanya Oca
Tiba tiba masuklah Bara ke dalam kamar inap ibunya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Terimakasih" Kata Oca pada Bara yang baru saja tiba.
"Untuk apa ?" Tanya Bara yang masih gak mengerti kata kata Oca.
"Ibu, mana Praba ? bukankah tadi aku sudah menyuruhnya menjaga ibu" Gerutu Bara dengan kesal.
"Dia baru saja pergi, banyak yang harus dia kerjakan" Jelas Miranda
"New York Cheescake Bakerzin" Batin Oca dalam hati masih tak percaya.
Kemudian Tami menerima telpon dari UGD dan mengatakan bahwa Oca harus kesana secepatnya.
Kemudian Oca bergegas menuju UGD. Dan menyerahkan Box Bakerzin tersebut pada Tami.
"Dok ini punya anda" Keluh Tami tak enak hati.
"Bagikan saja pada petugas jaga, aku kenyang" Sahut Oca setengah berlari meninggalkan Tami.
__ADS_1
πππ