
Purwokerto adalah ibukota dari Kabupaten Banyumas. Kota yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap di sebelah selatannya adalah kota yang memiliki dialek yang cukup berbeda dari dialek bahasa Jawa ( Dialek " Mataraman" ) pada umumnya. Di kota ini masyarakat umum menyebut dengan dialek "ngapak" karena ciri khas bunyi /k/ yang dibaca penuh pada akhir kata.
"Kelihatanya ada razia gabungan !" ucap lelaki yang sedang duduk di dalam mobilnya sambil mengemudi tersebut.
"Aku trauma dengan proses tilang !" tiba-tiba saja istri dari pengacara tersebut berucap lirih sambil meremas kain berbahan tile yang menutupi bagian bawah tubuh Oca yang ia kenakan.
"Bukankah sekarang ini kamu sudah terbiasa berada di persidangan dek ?"
"Aku trauma, karena aku ditilang aku bertemu dengan dirimu," dan lagi-lagi dengan mudahnya wanita itu menoleh kearah sang suami dan menjulurkan lidahnya.
Bukan main, sang lelaki itu kaget dengan jawaban Oca. Apalagi dengan ulah mengejek Oca barusan. Ingin sekali lelaki itu membereskan sang istri saat ini juga bila tak sedang di dalam mobil.
Keduanya kini didekati oleh seorang petugas polisi yang sedang mengamankan jalannya razia pada tempat ini.
"Selamat Sore Bapak dan Ibu, maaf mengganggu kenyamanannya bisa tunjukan surat-surat lengkapnya ?" pinta salah seorang petugas polisi ketika Praba menurunkan setengah dari kaca mobilnya.
Pria yang sedang mengubur niatnya dalam-dalam untuk segera membereskan istrinya tersebut lalu membuka pelindung matanya yang berwarna hitam tersebut.
"Prabasonta.." ujar petugas polisi tersebut.
Praba kemudian menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. Ia menatap lelaki yang memanggilnya tersebut dengan seutas senyum yang mengambang di bibirnya.
"Ibrahim.." panggil Praba balik. Kemudian ia menepikan mobil yang ia kendarai.
Oca penasaran apa yang membuat lelaki disampingnya tiba-tiba berhenti setelah kedua orang yang Oca yakini saling kenal tersebut bersua kata.
"Teman lama, ayo kita temui dia dek," ajak sang pengacara tersebut sebelum ia keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk sang istri.
__ADS_1
Begitu sang suami mengajaknya untuk menemui teman lamanya, dokter cantik tersebut segera mengikuti langkah jenjang sang suami. Meski ada rasa kikuk dan tak nyaman, Oca tak ingin mengecewakan permintaan sang suami.
Suasana sore di kota mendoan terlihat intim mana kala kedua teman lama yang tak saling bertemu kini bersua tiba-tiba.
"Aku tak menyangka kau akan menikah juga akhirnya, aku kira kau tak doyan wanita !" ejek Ibrahim teman sang pengacara sambil melirik kearah wanita cantik di belakang teman karibnya.
"Pak Kasat Lantas bisa saja," dengan senyum malu-malu Praba kemudian mengenalkan sang istri pada teman lamanya.
"Aku tak mau tahu, kalian harus mampir ke rumahku hari ini. Wajib !"
*****
Keduanya dengan didampingi oleh si empunya rumah beserta beberapa ajudan pemilik rumah telah tiba di salah satu rumah dinas teman lama Praba.
Rumah yang dilengkapi oleh fasilitas penjagaan tersebut memang terkesan sangat resmi. Meski begitu setelah keduanya masuk kedalam rumah sahabat Praba, kesan formal itu perlahan lahan hilang.
Iklim sejuk dan asri sangat kental begitu mereka masuk hingga ke dalam teras rumah.
Dari dalam rumah, sang nyonya pemilik sudah siap menyapa kedua tamunya.
Wanita yang berusia lebih tua dari Oca tersebut menyapa Oca dengan sebuah senyum manis di sudut bibirnya.
Wanita cantik yang bernama Amara tersebut sudah tampak akrab dengan istri dari teman suaminya. Pun sama halnya dengan Oca. Wanita itu mudah sekali bergaul dengan sifatnya yang kini sudah berubah dari pendiam menjadi periang seperti sedia kala.
__ADS_1
Keduanya sudah saling mengakrabkan diri satu sama lain. Sebagai Nyonya rumah, Amara harus bersikap ramah dan menghormati tamu suaminya. Terbukti dengan Amara tanpa dibantu oleh ARTnya ia menyiapkan minuman serta cemilan untuk tamunya.
"Kak, jangan repot-repot ini sudah lebih dari cukup !" kata Oca disela membantu sang istri perwira polisi tersebut menyiapkan makanan ringan untuk mereka.
"Kalian tak mungkin setiap hari kemari, jadi kami akan menjamu kalian all out Oca," sahut Amara.
Oca mengikuti Amara menuju tempat para suami-suami sedang mengobrol bersama. Kedua datang sambil membawa nampan berisi aneka makanan ringan dan minuman.
"Kenapa kalian memiliki niatan berbulan madu di dalam negeri ? keluar negeri bukan hal yang mustahil untuk kalian !" celetuk Ibrahim pada keduanya.
Kedua orang yang sedang melakukan perjalanan bulan madu itupun saling pandang dan kemudian tertawa bersama.
"Kalian tak tahu sepelit apa istriku ?" jawab Praba diiringi tawa renyahnya.
Bukanya marah, Oca malah makin terkekeh menahan tawanya. Tak bisa dipungkiri memang dirinya lebih selektif mulai sekarang. Selektif dalam merencanakan semua hal yang berkaitan dengan kehidupannya.
"Siapa yang percaya seorang pengacara dengan bayaran tinggi akan menyeleksi kebutuhannya !" sindir Ibrahim pada teman lamanya tersebut.
"Kehidupan kami sangat monoton, kerja kerja dan kerja tanpa pernah keluar dari zona aman. Untuk kali ini kami memang sengaja ingin mengganti waktu yang sudah kami buang sia-sia untuk mengeksplorasi tempat tempat indah di Negeri sendiri !" imbuh Wanita yang mengenakan kemeja warna senada dengan istri sang perwira polisi tersebut.
"Pokoknya kalian harus menginap disini ! kamu sendiri loh yang menyebut istrimu pelit agar tak mengeluarkan biaya hotel," bujuk Amara setelah mendengar penjelasan dari Oca barusan.
"Jangan kak, kami tak mau merepotkan kalian !" tolak Oca dengan nada halus. Ia sangat tahu bahwa watak seenaknya suaminya. Oca tak mau merepotkan kedua orang yang sudah berbaik hati menjamunya hari ini.
__ADS_1
****