
"Hangat kopi dan puisi yang kau tulis, seperti membaca diriku yang lain, cara agar aku percaya bahwa bahagia telah terbit lagi."
Dhesita Kosasih
βοΈβοΈ
"Dewi, selama aku tak ada kau temani Oca pastikan dia tak kemana mana !" Kali ini dengan nada yang tak biasa Praba memberi tugas ke Dewi. Nada yang sama sekali tanpa semburan urat urat suara atau lebih tepatnya memohon.
"Siap bos !!" Sekertaris itupun membalas ucapan bosnya dengan di bumbui sebuah senyuman. Pasalnya baru pertama kali ini bosnya berbicara dengan nada rendah dengan dirinya.
"Oh cinta, kau mengubah segalanya. Segalanya akan indah dengan cinta. Kerasnya batu karang pun akan terkikis oleh deburan ombak cinta." Dewi membatin dalam hati.
Pelan namun pasti wanita yang mengenakan setelan busana kantor itupun masuk ke ruangan Praba. Nampak semburat rasa sungkan Dewi alami. Ia memberanikan diri mengetuk pintu Ruangan tersebut.
Setelah dirasa cukup, Dewi membuka pelan pelan pintu itu. Ia celingukan kesana kemari. Matanya menyapu setiap jengkal kantor Praba dan menemukan Pacar Bosnya sedang duduk termenung di depan sebuah cangkir berisi kopi yang ia buat tadi.
"Apa saya mengganggu ?" Dewi mengamati wanita yang sedang tertunduk dari duduknya.
Oca kemudian mengangkat wajah ayunya. Dan tersenyum pada Dewi di depannya.
"Tidak, ada apa ?" Tanya nya lirih.
"Apa ada yang membuat anda tak nyaman ? Saya mendapat perintah disuruh menemani anda !" Ujar sang sekretaris Lelaki yang telah membuat hancur pertahanan hatinya.
"Ssssttt aku sedang memikirkan cara untuk kabur dari sini !" Bisik Oca lirih dengan satu jari menutup mulutnya.
"Apa ???? Anda tahu aku bisa kena masalah bila hal itu terjadi !" Seru Dewi tak percaya dengan kata kata yang barusan ia dengar.
"Jadi anda datang kesini hanya untuk memata matai aku ?" Oca menelisik seluruh tubuh Dewi dari pandangannya.
Dewi menganggukkan kepalanya sedikit namun ia masih sempat bisa melihat Wanita bosnya itu menjukkan rasa kecewa.
"Namaku Oceana Saphira !" Kata Oca mengulurkan tangannya.
"Saya Dewi Bu !" Sahut Dewi menerima uluran tangan dari Oca.
"Hei, jangan panggil aku Bu Bu, aku bukan ibu ibu Dewi."
"Nyonya ?"
"Itu lebih parah lagi, Panggil saja aku Oca !"
"Anda tahu, aku harus bersikap formal pada anda kalau tidak aku akan mendapatkan masalah."
"Apa dia menyusahkanmu Dewi ?" Oca menyelidiki bagaimana kelakuan Praba ketika di kantor.
"Dia pernah meminta saya mengubek ubek tempat sampah seharian !" Keluh Dewi memulai salah satu cerita akhir akhir ini.
"Untuk apa ?"
__ADS_1
"Kamu lihat botol keramat di lemari kaca itu ?" Dewi bercerita sambil menunjuk sebuah botol yang tertata rapi di dalam sebuah lemari kaca.
"Astaga... Botol keramat ? itu botol bekas aku minum yoghurt Dewi !" Gumam Oca mendekati lemari itu dan mengamati botol Yogurt merk favorit nya.
"Karena botol itu dibuang OB ke tempat sampah, nasib seluruh isi kantor pernah di ujung tanduk !"
"Maksudmu ?"
"Bos menyuruh semua orang untuk membantu ku mencari botol itu, kalau tidak semua bonus dan gaji bulan ini tak cair !"
"Ya Tuhan, Pria itu Gila Dewi !"
"Bucin Bucin Bucin, Bos makin Bucin karena anda mungkin !" Goda Dewi melirik kearah Oca.
Wanita itu merasa bersalah pada Dewi dan seluruh karyawan di kantor Praba.
"Bukan hanya itu, setelah menemukannya aku harus berjibaku mencucinya di larutan antiseptik baru aku bisa bernapas lega !" Dewi mengingat setiap kejadian kejadian yang di alaminya.
"Astaga, Kalau aku bertemu dengannya aku akan mengetok kepalanya bukan pakai botol Yogurt lagi, tapi pakai sepatu ini !" Dengan berapi api Oca menunjuk heel yang ia pakai saat ini.
"Mantap !" Sahut Dewi.
"Kita kerjain Bosmu Dewi," Tiba tiba terbesit di pikiran Oca untuk menggoda Pria yang sudah menipunya. Oca berniat membalaskan dendamnya atas apa yang sudah Praba lakukan padanya.
"Ah saya tak berani Oca, Bisa tamat karir saya. Saya hanya pegawai biasa dan harus menghidupi keluarga saya ?" Dewi memprotes keras usul Oca. Dewi tak ingin mencari masalah dengan bosnya.
Oca kemudian membisikan rencananya pada Dewi. Ia sangat serius akan hal ini. Rencananya sudah matang dan gak bisa di ganggu gugat lagi.
"Apa ? Kami yakin Oca ?"
"Dewi hanya bantu aku, dan ijinkan aku meminjam kekasihmu ?" Goda Oca diikuti tatapan matanya yang menghakimi Dewi.
"Oh Oke, aku akan membicarakan ini dengan Gusti !"
"Sekali kali Pria kurang ajar itu harus diberi pelajaran !" Oca berdiri dengan semangat berapi api. Tekadnya sudah bulat ingin membalaskan dendam ya pada Praba.
"Tapi jangan sampai kamu terpesona pada Gusti !" Pinta Dewi
"Dia bukan kriteria yang aku mau, namun bila terjadi mau dikata apa ?" Kembali Oca menggoda Dewi, Oca menangkap sebuah kecemasan dari mata Dewi.
ππ
Sebuah panggilan masuk ke ponsel pintar milik Oca, dirinya diminta untuk segera datang ke Rumah sakit lantaran Seorang pasien yang baru saja menjalani Kemoterapi untuk kanker di otaknya mengeluh dengan efek sampingnya. Pasien tersebut berada di bawah tanggung jawabnya.
Oca segera beranjak meninggalkan ruangan Praba begitu menerima berita tersebut. Dewi tak bisa melarangnya karena ini hal darurat.
Namun Gusti yang takut diamuk bosnya mau tak mau ia melaporkan masalah ini kepada bosnya.
"Sayang, kau akan diantar Gusti jadi jangan coba coba pergi sendiri !" Asep kawe mengultimatum Oca lewat sambungan telepon.
__ADS_1
"Ya Tuhan Asep, aku bukan anak kemarin sore !"
"Kau merindukan Asepmu sayang? baikalah pulang nanti aku akan menjemputmu sebagai Asep, "
"Dasar tak tahu malu," Oca mematikan telponnya dengan kesal. Ia meremas ponsel tersebut lalu memasukkannya kedalam tasnya.
"Mari saya antar Bu !" Ajak Gusti, Oca pun mau tak mau harus mengikuti kata kata lelaki yang sudah mempermainkan dirinya.
Gusti membukakan pintu mobil untuk Oca.
Namun Oca masih tak mau kalah.
"Minggir, serahkan kuncinya aku butuh cepat !" Protes Oca lantaran waktunya banyak terbuang sia sia karena menelpon Praba.
"Tapi..." Gusti makin bimbang, ia ingin menolak permintaan Oca namun tak enak. Namun kalau ia mengikuti kata kata Oca ia bisa dipenggal oleh Bosnya.
"Aku paling tahu bagaimana kondisi pasienku !" Oca lalu duduk di belakang kemudi mobil milik Praba.
Gusti tetap mengawalnya, Ia pun dengan enggan duduk disamping wanita Bosnya.
"Kencangkan seatbelt mu, kita mulai atraksi !".
Oca menghidupkan mesin mobil yang belum pernah ia pakai sebelumnya, kedua kakinya pun sudah sangat akrab dengan pedal gas dan rem mobil tersebut.
"Gusti, bisa bantu aku ?" Tiba tiba Oca mengajak bicara Gusti setelah beberapa saat mereka berdua terjebak dalam keheningan.
"Bantu apa Bu ?"
"Bantu jadi pacarku !"
"Uhuk uhuk uhuk... yang benar saja, saya bisa dibunuh Bos !" Gusti melayangkan protes keras pada Oca.
"Ini hanya pura pura, aku sudah meminta ijin pada Dewi !"
"Kalau ketahuan nasib saya bisa terancam,,"
"Aku akan bertanggung jawab, ini semua ideku !" Oca memastikan bahwa ini tak akan melibatkan nasib karir mereka berdua.
"Baiklah,"
Kemudian Oca mengulurkan telapak tangannya pada Gusti. Ia ingin ber toss ria setelah menerima persetujuan dari Gusti dan Dewi.
Oca sangat senang, saking senangnya tangannya menyenggol tutup dasboard di mobil Praba. Dashboard tersebut terbuka dan jatuhlah sebuah benda.
Mata Oca terbelalak, napasnya menderu dengan kencang. Aliran darahnya mengalir lebih cepat. Ia tak menyangka bahwa Praba akan menyimpan benda seperti itu.
πΌπΌπΌ
Kira kira benda apakah itu ya ???
__ADS_1