
Bahkan jika kau ingin menangis, menangis lah hanya dipelukanku. Karena tanpamu aku bisa mati.
🍃🍃
Kata kata manis tak bisa menyentuh hati Oca kini, Setelah kejadian kemarin ia tak menghidupkan kembali daya di ponselnya.
Sesekali ia melirik sebuah alat penunjuk waktu yang bertengger di lengan kirinya.
Sudah menunjukan pukul tujuh pagi, dia bahkan masih mengenakan pakaian kemarin dan belum sama sekali memakan sesuatu.
Oca beranjak keluar dari ruangan di rumah sakit tersebut. Ia segera bergegas ke kamar mandi guna membasuh mukanya agar lebih segar.
Ditempat lain, Seseorang lelaki enggan untuk membuka pintu ruangan bosnya, semalam dirinya pun kena imbasnya lantaran permasalahan bosnya. Pria itu juga ketiban sial harus bermalam di kantornya dikarenakan lembur mencari kekasih bosnya.
"Arrrgh.." Gusti mengacak acak rambutnya yang memang sudah acak acakan dari semalam.
Gusti memberanikan diri mengetok pintu ruangan bosnya. Namun tak ada jawaban dari ijinnya.
Gusti mau tak mau harus menunggu agar bosnya menjawabnya, kalau tidak bisa kena semprot di pagi buta ini.
Sudah hampir lima menit Gusti menunggu namun tak ada jawaban, Ia pun memberanikan diri melangkah masuk kedalam ruangan yang memang tak dalam posisi terkunci tersebut.
Gusti tak melihat Praba di kursi mau pun si sofa dalam ruangan tersebut. Gusti menelisik ke seluruh ruangan dalam ruangan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia melihat Bos yang biasanya semena mena kini tertunduk lesu di samping meja kerjanya.
Penampilan sangat berbeda dari penampilannya biasanya. Ia masih mengenakan polo shirt kemarin dan benar benar dalam kondisi memprihatinkan tak seperti biasanya.
"Bos Praba," Panggilnya mencoba membangunkan bosnya.
Pria yang sedang gundah gulana tersebut mulai membuka matanya, sambil mengamati sekitar ia mencoba berdiri dari posisi awalnya.
"Jam berapa ?"
"Pukul tujuh lebih," Sahut Gusti pelan.
"Aku telat, ada jadwal pagi dari kasus penggelapan pajak," Praba mulai merapikan penampilannya yang berantakan.
"Anda bisa menyuruh pengacara lain untuk mengahadapi kasus tersebut bila anda tidak siap,"
"Siapa bilang, aku siap !" Sahut Praba mencoba beranjak menuju toilet di ruangannya.
"Kabar yang saya terima, dokter Oca sudah menjual mobilnya," Gusti mulai menjelaskan hasil penyelidikannya.
Langakah kaki Praba tiba tiba berhenti, kakinya seketika Kelu bagai mati rasa.
"Dijual ? Dimana ?"
"Sebuah Showroom mobil di daerah Jagakarsa,"
__ADS_1
"Segera dapatkan mobil itu kembali Bagaimanapun caranya, aku akan bersiap ke Pengadilan hari ini !" Ucap Praba sebelum ia memasuki toilet di dalam ruangannya.
Semesta pun tahu bahwa aku menginginkanmu, ketahuilah bahwa hanya kau satu satunya di hidupku.
kisah kita tak seabadi Romeo dan Juliet, tak seindah Rama dan Shinta. Namun aku yakin bahwa aku bisa membahagiakanmu hingga akhir hayatku.
"Aku tak akan membiarkan mu meninggalkanku lagi," Pria itupun akhirnya menemukan semangatnya lagi, semangat yang hampir saja padam.
"Dia mencoba menyingkirkan semua hal tentangku," (Prabasonta)
"Satu satunya hal yang ku tahu cinta itu indah awalnya, namun menyakitkan pada akhirnya."
(Oceana)
Kedua anak Adam itupun untuk sejenak menekan egonya masing masing, mereka menahan hasrat emosinya lantaran masih disibukan dengan semua pekerjaan mereka. Meski tak sedikit masalah keduanya menghambat kinerja keduanya. Namun keduanya harus profesional.
Setelah mengganti pakaiannya Oca bersiap Praktek seperti biasanya. Ia berpesan pada Tami agar membawakan dirinya satu stel pakaian ganti.
Pun halnya dengan Praba, Siapa lagi yang menjadi sasaran amuknya, Gusti sudah berangkat untuk mendapatkan mobil Oca. Sedangkan Dewi ? Apa yang Praba suruh kepada Dewi ?
Praba memintanya mencarikan Perlengkapan untuk menarik simpati Pujaannya.
Kira kira Dewi beli apa ya ?
(Awas Dewi kalau sampai salah, bisa berakibat fatal loh nasib kamu !)
🍁🍁
Buru buru sekali lelaki itu mengendarai mobilnya menuju tempat dimana kekasihnya tak pulang semalam.
Tempat dimana ia bekerja selama ini, menurut informasi yang didapatkan, Oca masih berada di Rumah sakit dan belum terlihat keluar sekalipun.
Kali ini dirinya memastikan tak akan gagal, Dilihatnya sebuah kotak yang ia beli beberapa hari yang lalu, dan belum sempat ia sematkan ke jari manis Oca.
Mobil wanita itu sudah ia tata rapi, Dewi sudah menyulap mobil Oca senyaman mungkin.
Sebuah buket bunga sudah disiapkan di kursi samping bersamaan dengan cincin yang gagal ia berikan kemarin.
Aromaterapi di dalam mobil pun tak luput dari tangan Dewi, ia sudah memasang wewangian kesukaan calon istri bosnya. Tak lupa beberapa lagu memori mereka dulu sudah tersimpan rapi di playlist Praba.
Beberapa saat yang lalu sebelum Praba berangkat menjemput kekasihnya. Ia teringat bagaimana susah payahnya pegawai di kantornya sudah membantu dirinya.
"Kalau sampai rencana ini tak berhasil, mungkin wanita bos bermasalah dengan hatinya !" Keluh Dewi di sela sela menghias mobil bosnya.
"Iya Masalah hati, karena dia sakit hati dengan bos kita," Sahut Gusti yang berjalan dari arah belakang.
"Bagiamana bisa, kulihat dia baik baik saja kemarin malahan bos terlihat tunduk dari dia !"
__ADS_1
"Bos kita ternyata takut dengan pacarnya, wkwkwk !"
"Siapa bos kalian ?" Terdengar suara mengejutkan yang berasal dari pintu masuk kantor tempat mereka bekerja.
Praba masih ingat bagaimana wajah Dewi dan Gusti ketakutan setengah mati lantaran ketahuan menggosipkan dirinya.
Dan tumben tumbennya dia tak memarahi kedua bawahannya tersebut.
"Untuk kali ini aku lepaskan kalian, karena suasana hatiku sedang baik," Goda Praba sebelum masuk ke dalam mobil kekasihnya.
Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu akhirnya sampai di tempat kerja Kekasihnya, ya wanita yang ia anggap masih sebagia kekasihnya meski hubungan antara mereka sedang ada masalah.
Dia meraih buket bunga untuk Oca, dan melangkah keluar dari mobilnya. Untuk hari ini pertama kalinya ia berpakaian formal datang menjemput Oca sebagai kekasihnya.
Senyumnya tak berhenti mengambang dari sudut bibirnya. Sehari tak bertemu dengan kekasihnya membuatnya hampir gila.
Namun senyum indah yang terukir itupun terpaksa ia simpan kembali, Pasalnya ia tak bisa menemui wanita pujaannya.
"dokter Oca sudah off Tuan, kemarin hingga malam ia bersikeras berjaga di UGD. Semalaman ia tak beristirahat," Ujar Salah seorang Perawat yang Praba tanyai mengenai keberadaan Oca.
"Dia benar benar menghindari ku !" Keluh Pria tersebut frustasi.
Ia masih ingat apa yang Oca katakan sebelum pergi meninggalkannya, Oca meminta ia tak menemuinya besok hingga seterusnya.
"Ternyata dia tak main main dengan ucapannya !"
🍁🍁
Wanita berparas cantik itupun berjalan masuk ke hunian mewahnya, tak memperdulikan mamanya yang sedang duduk menunggunya.
"Apa kalian sedang ada masalah ?" Riana memberanikan diri bertanya pada putrinya. Ia takut menyinggung perasaan anak semata wayangnya.
Meski begitu, naluri keibuannya muncul ia tak rela bila anaknya di sakiti orang lain.
"Masalah ? kami tak pernah ada hubungan Mama !"
"Lalu ?"
"Oca ingin menikah, aturlah perjodohan untuk Oca !" Pinta Wanita muda itu setengah memohon pada mamanya.
"Dia bilang akan melamarmu nak !"
"Siapa pun boleh menjadi calon suami Oca, asal bukan anak Tante Miranda," Sambung Wanita itu tanpa menoleh sedikitpun kearah mamanya.
"Mereka benar benar dalam masalah," Riana merasakan ada yang tak beres dengan kedua anak muda tersebut.
__ADS_1
🍁🍁