
Ketua Preman tersebut mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya.
Tak ingin tinggal diam Oca segera memukul bos Preman tersebut.
Karena posisi mereka berdekatan, maka kesempatan ketua Preman tersebut lebih besar untuk melukai Oca.
karena jarak lebih dekat itu membuat Oca tak sempat menghindari serangan dari ketua geng tersebut.
"Mati kau.." Umpat Ketua preman tersebut.
Oca melihat darah berceceran di samping dirinya, tapi aneh nya Oca tak merasakan sakit apa apa.
Dia kemudian menoleh kebelakang dan melihat Asep telah membekuk ketua geng tersebut. Namun pandangan mata Oca terbelalak ketika melihat kaos Asep penuh dengan warna merah.
Segera saja Oca mendekati Asep dan melakukan pertolongan pertama. Dia mulai menangani Asep dengan segera.
Sedangkan para kompolotan preman sudah terkapar. Untung saja banyak yang menyaksikan kejadian tersebut sehingga mereka dapat membantu dan memanggilkan petugas yang berwajib serta ambulance.
Salah satu orang ingin membawa Asep ke mobilnya untuk dibawa kerumah sakit.
"Harap tenang, saya akan memberikan pertolongan pertama pada pasien.." Kata Oca
"Anda siapa Nona, jangan gegabah lebih baik segera membawanya kerumah sakit.." Kata salah seorang dari mereka.
Oca kemudian mengeluarkan sesuatu benda berbentuk tipis, Benda tersebut adalah debit card. Sebelum menggunakannya Oca membersihkan tangannya terlebih dahulu dengan gel antiseptik serta mengolesinya ke seluruh permukaan kartu atm-nya.
Dengan terburu buru Oca menempelkan Kartu ATM tersebut ke perut bagian samping kanan Asep untuk menahan perdarahan semakin banyak. Kemudian Oca menyobek blouse bagian bawahnya untuk membalut luka Asep.
Semua orang ternganga melihat Perilaku Oca, menurut mereka apa yang sedang wanita itu lakukan pada korban.
Selesai membalut luka Asep, tak lama polisi datang untuk mengecek TKP dan mengamankan para preman tersebut.
"Lukamu tak parah, biar aku yang menyetir ke rumah sakit.." Ucap Oca membukakan pintu mobil untuk Asep.
Melihat Asep kesulitan untuk memasang seatbelt Oca kemudian membantu Asep mengenakannya.
"Tenanglah, kita akan segera sampai .." Oca berujar dengan entengnya.
Kini Ocalah yang mengemudikan mobilnya, untuk menunggu Ambulance tiba itu akan memakan waktu cukup lama. Alhasil Oca akan membawa Asep sendiri ke rumah sakit ia bekerja.
ππ
Ketika mereka tiba di Rumah sakit tempat Oca bekerja, Oca langsung membawa Mobilnya ke drop point' Ambulance di depan UGD.
Para perawat heran melihat Oca memparkir mobilnya sembarangan. Oca pun keluar dan meminta pertolongan kepada para perawat dan petugas jaga untuk membawa Asep ke ruang UGD.
"Saya baik baik saja, saya bisa berjalan sendiri.." Ujar Asep menolak seorang perawat yang datang memberikan Asep sebuah kursi roda untuk membantunya.
__ADS_1
"Tolong urus dia, aku akan menginput absensiku terlebih dahulu..!" Perintah Oca pada para perawat jaga tersebut.
Mereka kemudian mendampingi Asep ke UGD, sedangkan Oca dengan penampikan acak acakan ya masuk ke Lobby untuk mengurus admistrasi dan melapor Absensi dirinya.
"Ah benar benar hal sulit, kasihan orang itu baru pertama kali masuk kerja sudah kena musibah !" Ucap Oca membatin dalam hati.
Setelah Oca mengganti pakaiannya dengan seragam khas rumah sakit tempat ia bekerja, Oca kemudian mengecek kondisi supir barunya.
Dia masuk ke Ruang UGD dan melihat luka Asep sedang di bersihkan.
"Dokter yang menangani pasien pertama kali ?" Tanya Seorang perawat bernama Rahmi.
"Aku hanya menghentikan perdarahan dan membalutnya..," Jawab Oca singkat.
"Anda ingin menjahit Lukanya dok ?" Tanya Rahmi kemudian.
"Tak masalah, aku juga belum ada pasien.." Sahut Oca mengamati keadaan Asep saat ini.
"Lukamu tak cukup dalam, Kak Rahmi bisa menyuntikan Lidocaine terlebih dahulu.." Ucap Oca sambil memakai sarung tangan karetnya.
Asep merasakan bagian tubuh yakni perutnya merasakan mati rasa. Ini adalah efek samping dari Anestesi lokal.
Kemudian Rahmi membatu membuka kaos Asep setelah tadi hanya mengangkat hingga punggung Asep saja.
"LV initiales 40mm Reversibel.." Ucap Oca lirih menatap gesper Asep ketika ingin menjahit luka Asep.
"Mantan Bos lama saya yang membelikannya Bu.." Jawab Asep malu malu.
"Pasti mantan bos anda wanita, makanya dia tak pikir panjang untuk menghabiskan uang sepuluhan juta untuk menghadiahkan sebuah gesper !" Sindir Oca sinis melihat Luka Asep tanpa memperdulikan wajah Asep.
Wajah Asep nampak sayu setelah mendengar Oca menyindirnya dengan kata kata barusan.
"Selesai,.." Kata Oca meletakkan semua peralatan medisnya kemudian membuka sarung tangannya dan membasuh kedua tangannya.
"Kak Rahmi, dia Adalah Sopir saya jadi setelah saya menuliskan resep obat untuknya tolong kakak antrikan ke Counter Obat nanti semua Biaya Supir saya, saya yang menanggungnya." Perintah Oca diiringi langkahnya meninggalkan UGD sambil memendam perasaan dongkol pada sopir barunya.
Kemudian Oca masuk ke ruang prakteknya untuk memulai bekerja seperti biasa.
ππ
Ketika istirahat siang tiba, Tami membawakan sesuatu ke hadapan Oca.
Sesuatu tersebut berupa paperbag. Oca masih tak paham untuk apa Tami memberinya sesuatu untuknya.
__ADS_1
"Untuk dokter .." Seru Tami
"Aku tak belanja Online Tam." Keluh Oca dengan senyumnya.
"Tapi tadi di Resepsionis bilang, kata kurirnya ini untuk Bu Oceana.." Ucap Tami menyerupai kata kata resepsionis tersebut.
Oca tak menerima hadiah tak tak tahu asal usulnya itu. Dia enggan membukanya karena memang gak merasa memiliki.
Hingga saatnya pulang, Oca masih tak mau ambil resiko untuk mengambil hadiah tersebut.
ππ
Karena terlanjur membawa mobil, mau tak mau Oca harus menyetir sendiri untuk pulang.
Dia juga menyuruh kak Rahmi untuk merawat Asep dahulu di ruang rawat inap.
Keadaan sekitar parkiran cukup tenang, sore ini tak banyak mobil yang terparkir di tempat parkir rumah sakit tempatnya bekerja.
Tiba tiba Oca dikejutkan dengan kehadiran sesosok Lelaki yang ia kenal.
"Kenapa disini ?" Tanya Oca pada lelaki tersebut.
Lelaki tersebut hanya tersenyum manis pada Oca.
"Saya menunggu anda Bu.." Jawab Asep dengan diikuti anggukan kepala.
"Bagaiman lukamu ? aku sudah meminta kak Rahmi merawatmu.." Protes Oca.
"Saya sudah Baikan, malah bisa menyetir untuk anda !" Bujuk Asep lagi.
"Apa ini malam Halloween Bu ..?" Goda kang Asep melihat noda darah di baju Bosnya.
Oca memang mengganti pakaiannya lagi setelah memakai seragam rumah sakitnya.
"Aku belum sempat membeli.." Kata Oca diikuti langkahnya masuk ke dalam mobil.
Kali ini dia sengaja duduk di belakang setir, karena masih tak tega membiarkan Asep menyetir dengan luka di pinggangnya.
"Bu, ayolah aku baik baik saja.." Ujar Asep agar Oca berpindah duduk di belakangnya. Atau disampingnya kalau Oca mau akan lebih baik.
"Kau yakin ?" Tanya Oca.
"Tentu saja, Aku orang yang bisa Anda andalkan !" Ucap Asep memuji dirinya sendiri.
"CK baiklah kalau begitu.." Oca kemudian pindah ke kursi penumpang di belakang Asep.
πΌπΌπΌ
__ADS_1