
Disaat hari harimu terasa hampa, apa yang akan membuatmu bersemangat kembali ?
ππ
Untuk menenangkan pikirannya, Oca ingin mengisi perutnya dengan sesuatu yang dapat dimakan.
Wanita cantik itupun berjalan perlahan kearah lemari pendingin miliknya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Karena ia masih dalam suasana berkabung, Oca belum menyempatkan dirinya untuk berbelanja keperluan sehari hari.
Seperti seorang lajang pada umumnya, Oca tak mendapati apapun di dalam lemari pendingin miliknya.
Hanya terdapat beberapa buah segar serta susu cair.
Kemudian ia beranjak kearah kitchen set di mini dapurnya. Ia membuka sebuah pintu pada kitchen set warna coklat bertextur tersebut.
Ia menemukan sebuah mie instan cup.
"hanya ini yang bisa ku makan.." Gumamnya kemudian diiringi menyalakan kompor gas digitalnya.
Dia memang jarang masak, bukan berarti tak bisa memasak sama sekali. Namun ia lebih suka makan makanan yang simpel seperti selembar roti gandum ataupun hanya semangkuk oatmeal.
Oca memanaskan air untuk menyeduh mie instan miliknya.
Makan sesuatu yang berkuah bisa meredakan rasa mualnya akibat mengkonsumsi minuman beralkohol.
Kurang lebih 10 menit mie instan yang Oca seduh sudah bisa dinikmati, dengan ruang ia membawanya ke meja makan untuk menyantapnya.
"Uh masih panas.." Keluh Oca ketika ujung lidahnya menyentuh sepasang sumpit ditangannya.
Ia mengurungkan niatnya untuk memakannya, ia akan menunggu sedikit lebih dingin.
Tiba tiba bel Apartemennya miliknya berbunyi, dia segera melihat ke arah kamera pengawas di pintu Apartemen miliknya.
Dilihatnya seorang pria yang sedari tadi beradu mulut dengan dirinya.
Seketika mood Oca menjadi down.
Karena tak kunjung ada respon dari Oca yakni dengan membukakan pintu Apartemen miliknya, hal tersebut membuat Praba tak kehilangan akal. Diayunkannya dengan seenaknya sepasang sepatu milik wanita yang sedang ia gencar untuk menggaet cintanya kembali.
Hal tersebut membuat Oca membuka pintu Apartemennya, ia tak ingin lelaki yang sekarang ini menjadi musuhnya tersebut akan merusak sepatunya.
Dengan tangan di lipat di dadanya Oca menatap Praba setelah membuka pintu Apartemennya.
"Kau sengaja meninggalkan ini untuk mengundangku masuk ke rumahmu ?'" Goda lelaki tampan yang kali ini sedang tak menyamar sebagai supirnya seperti biasanya.
"Omong kosong apa itu ?" Gerutu Oca mencibir lelaki di hadapannya. Dengan secepat kilat Oca menyambar sepatunya dan buru buru ingin menutup pintunya.
Tapi niat ingin menghindari pria menyebalkan itu harus ia kubur dalam dalam, lantaran Praba dengan cepat menahan pintu tersebut dengan menggunakan kakinya.
"Hei apa yang kau lakukan ?" Tanya Oca sedikit ngegas karena Praba sengaja mengerjainya.
"Aku lapar, ingin numpang makan..." Jawab Praba semaunya sambil berjalan masuk ke dalam Apartemen Oca.
__ADS_1
"Apa pria ini sudah tak waras ? seenaknya masuk ke rumah orang tanpa permisi.." Gerutu Oca karena kesal dengan sikap semaunya Praba.
Praba melihat ada sebuah mie instan cup dia tas meja makan.
"Kelihatanya ini masih baru belum dimakan.." Gumam Praba karena mengamati mie tersebut masih panas dan berasap.
Ia segera mengambil sumpit yang berada diatas permukaan Cupnya dan langsung memasukan mie tersebut kedalam mulutnya.
"Apa seorang pengacara terkenal tak bisa membeli makan sendiri ?" Ejek Oca pada Praba yang sedang asyik menyantap mie instan miliknya.
"Aku lapar dari tadi malam belum menyentuh makanan apapun.." Jawab Praba masih asyik menyantap mie tersebut.
Karena itu adalah satu satunya makanan yang tersisa dirumahnya mau tak mau Oca hanya bisa gigit jari.
"Setelah selesai pulanglah, aku tak ingin berurusan dengan dirimu lagi.." Ucap Oca seraya pergi meninggalkan lelaki kelaparan Tersebut.
Ia kemudian pergi ke dapur dan membuat sesuatu yang bisa dimakan juga. Karena bukan hanya Praba, Oca juga sudah kelaparan.
Oca mengumpulkan sisa sisa bahan makannya. Beruntung ia masih bisa menemukan tepung rendah kalori dan sebutir telur serta sisa susu di kulkas.
Oca berencana ingin membuat pancake untuk sarapan.
Ia kemudian mencampur bahan menjadi satu dan mulai memanggangnya.
Tak berapa lama kemudian pancake buatan Oca sudah siap di santap.
Ia kemudian membawa pancake tersebut ke meja makan.
Lagi lagi pemandangan tak sedap dilihatnya. Pria menyebalkan versi Oca ternyata masih anteng dirumahnya meski mie instan miliknya sudah habis di begal Praba.
"Kenapa belum juga pulang ? aku sudah mengusirmu tadi .." Ancam Oca kesal.
"Kalau aku pulang, siapa yang akan menemanimu makan pancake buatanmu.." Goda Praba ingin mengetest perasaan Oca.
"Aku makan sendiri.." Sahut Oca
"Sebanyak itu ? alah paling kau sengaja ingin mengajak aku makan bersama.." Imbuh Praba mengerjai Oca.
"Kau seperti Orang yang bertahun tahun tak makan.." Oca menyindir Praba tapi ujung ujungnya ia mengulurkan piring juga di hadapan lelaki tersebut.
"Karena kesibukanku aku jarang makan, jangankan makan tidur 5 jam sehari saja hal yang langka untukku.." Ucap Praba ingin menarik simpati Oca.
"Insomnia bisa disembuhkan dengan terapi.." Sahut Oca singkat menebak gangguan Praba.
"Kau ingin merawatku ?" Goda Praba Lagi.
"Temanku bisa membantumu.."
"Kenapa tak kau saja..?"
"Aku berencana berhenti dari kedokteran.." Sahut Oca singkat.
"Lalu ?"
__ADS_1
"Aku ingin ke luar negeri melanjutkan studi ku dan menetap disana.." Jelas Oca berangan angan.
"Rencana tak masuk akal, " Cibir Praba mengejek Oca.
Tiba tiba mama Oca menelponya kembali, kali ini mamanya sudah dalam pesawat dan akan segera take off, ia ingin Oca menjemputnya.
Oca jadi bingung, tadi mama ya bilang tak ingin dijemput kenapa sekarang jadi merubah rencana semaunya.
"Oke, sejam lagi Oca sampai..." Jawab Oca mengakhiri pembicaraan dengan mamanya di telepon.
Ia kemudian menggalkan Praba yang masih menyantap pancake buatan Oca dengan Topping Icing sugar serta lelehan karamel
Oca berjalan kesana kemari celingukan mencari sesuatu.
Praba tak memperdulikan Oca, dia masih sibuk menyatap pancake miliknya.
Setelah menghabiskan beberapa layer pancake, Praba mendekati Oca dan mengulurkan tangannya. Sebelum itu ia sempat merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan benda berwarna hitam tersebut. Benda tersebut tak lain adalah kunci mobil Oca.
"Mencari ini ?"
"Darimana kau mendapatkan kunci mobilku ?" Oca segera menyahut Kunci di tangan Praba. Namun Praba lebih cepat untuk mengamankannya.
"Sopir mu juga menitipkan ini padaku lalu, Ijinkan aku mengentarkan mu, dan aku ada sesuatu yang ingin aku negosiasikan padamu ..." Bujuk Praba.
"Jangan membuatku emosi, aku harus menjemput mamaku..," Ucap Oca sudah tak tahan dengan sikap Praba yang seenaknya.
"Habiskan makananmu, kita akan menjemput mamamu.."
Bak terkena sihir, Oca benar benar mengikuti kemauan Praba untuk menghabiskan sarapannya. Setelah itu mereka turun ke tempat parkir dengan berdua.
"Apa yang akan kau bicarakan..?" Oca sudah tak tahan ingin segera mengakhiri kebersamaannya.
"Bantu aku membujuk klienku.." Pinta Praba dengan nada memelas.
"Apa yang bisa aku lakukan ? kau yang pengacara handal saja tak bisa apalagi aku.."
"Kalian sama sama wanita, dan sesama wanita akan peka terhadap perasaan satu sama lain..." Bujuk Praba.
"Lalu apa yang akan aku dapatkan ? keuntungan apa ?"
"Bukankah kau ingin balas Budi pertolongan ku tempo hari..."
"Oke akan aku coba, namun bila tak berhasil Jagan salahkan aku.."
"Kalau tak berhasil aku akan menculikmu !" Ancam Praba menakut nakuti Oca.
"Dasar lelaki Sint*Ng"
Kini mereka berdua dalam satu mobil. Mereka ingin membesuk calon klien Praba dahulu di Rutan.
Sebelumnya Praba akan mengisi BBM dahulu, karena mobil Oca sudah kehabisan bahan bakar.
__ADS_1
πΌπΌπΌ