Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
GA530


__ADS_3

GA530 menjadi saksi betapa para penumpang saling memberikan dukungan pada sang pasien yang akan melahirkan tersebut.


Dilihat dari sudah banyaknya air ketuban yang keluar, artinya proses pembukaan sudah diatas step 5.


Oca sendiri sedang memeriksa kembali keadaan pasiennya, ia sudah menduga bahwa sang calon ibu sudah memasuki pembukaan 8.


"Berhubung interval pembukaan lebih cepat dari yang saya bayangkan, saya pastikan nyonya akan melahirkan sebelum kita landing," jelas Oca.


Seseorang pramugara memberinya sepasang sarung tangan karet. Dan beberapa alat potong serta sebaskom air hangat.


"Berapa lama interval kontraksi ke kontraksi berikutnya ?" tanya sang dokter cantik sambil mengusap perut sang pasien. Tak ada rasa risih dan malu bagi Oca untuk membuat pasien tersebut merasa nyaman.


"Hampir 2 menit sekali sudah kontraksi dok !"


Oca meminta beberapa pramugari untuk membantunya selama proses persalinan dadakan ini. Pramugari pramugari tersebut begitu patuh terhadap Oca yang mereka anggap ketua tim pada proses persalinan ini.


"Apa yang bisa aku bantu dear ?" Suami Oca sendiri terlihat mengkhawatirkannya, bagi Oca itu terlalu berlebihan.


"Bantu aku dengan tak mengkhawatirkan aku !" pinta sang dokter cantik tersebut diikuti dengan senyum kecutnya.


Atas perintah sang istri, kemudian pria itu beranjak pergi untuk menemani sang calon bapak di kursi ekonomi. Pada akhirnya dari pada dia makin membuat emosi sang istri, lebih baik ia menemani dan mengajak mengobrol sang calon bapak.


"Sebelum kita memulai proses persalinan, sebaiknya kita berdoa dulu agar proses persalinan ini berjalan lancar," kata Oca se sebelum memulai persalinan normal, karena pasien yang diketahui dengan nama Nina tersebut bisa memungkinkan untuk menjalani persalinan normal.


"Kita tunjukan bahwa GA530 adalah team yang terhebat !" seru salah seorang pramugari di samping Oca.


Seluruh penumpang dan awak kabin saling berdoa dan memberikan dukungan pada pasien ibu hamil tersebut.


"Nyonya, saya disini bukan dewa penolong. Saya hanya seorang dokter yang berusaha menemani anda, jadi andalah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses persalinan ini. Tetap yakin bahwa Tuhan selalu bersama kita !" ujar wanita cantik itu sambil mengenakan sarung tangan karet.


Nina mengangguk dan menyemangati dirinya sendiri, terbukti wanita itu tak menunjukan rasa takut dan sedih sedikitpun.


"Bila sudah terasa mules, jangan di tahan bayinya. Selama tidak berkontraksi anda jangan mengejan nyonya untuk menyimpan tenaga. Bila kontraksi dan terasa bayi ingin keluar, ikuti alurnya dan mengejan dengan sekuat tenaga !" nasehat sang dokter cantik tersebut.


"Siap ?" tanya Oca pada sang calon ibu tersebut.


Nina mulai mengejan untuk pertama kali, ia merasa sang buah hati sudah tak sabar ingin segera keluar.


"Bagus nyonya, pertahankan stamina anda !" puji Oca disela sela menegang kedua lutut Nina yang sedang ditekuk.

__ADS_1


Pun para pramugari juga tak tinggal diam, ada yang selau standby memberi Nina minuman dan ada yang memegangi Nina sambil memberikan dukungan dan semangat.


Selama proses jeda, waktu itu dipergunakan untuk mengisi ulang tenaga Nina.


Kini sudah beberapa kali Nina mengejan, usahanya membuahkan hasil.


Selama kontraksi dan mengejan, kepala bayi akan mulai terlihat dari ****** yang terus melebarย (crowning).ย Saat hal ini terjadi, ibu akan merasakan rasa nyeri seperti terbakar pada jalan lahir.ย 


Semua rasa sakit itu, Nina jadikan semangat untuk ingin segera menimang buah hatinya.


Usaha Nina tak sia sia, kini pangkal kepala bayi sudah berada diluar.


"Satu kali lagi, saya mohon lakukan sekuat tenaga anda nyonya !" pinta Oca.


Nina kemudian mengangguk dan mencoba mengejan kembali.


Saat kepala bayi sudah keluar dengan sempurna, Oca menganjurkan Nina untuk mengejan kembali untuk mengeluarkan seluruh badan bayi.


Setelah bayi keluar dan dianggap aman, yaitu ditandai dengan tangisan yang kuat, Oca segera memotong plasenta bayi dengan peralatan yang sudah dipersiapkan oleh pramugari maskapai tersebut.


Bayi itu kemudian berpindah tangan ke salah seorang penumpang yang dengan senang hati, penumpang tersebut mendekap sang jabang bayi yang berjenis kelamin perempuan tersebut.


Setelah bayi itu cukup tenang, dan kondisi sang mama sudah berlangsung angsur membaik, maka bayi itu akan diberikan kepada ibu agar dilakukan inisiasi menyusui mandiri.


Tak lupa Kapten dan CO pilot juga memberikan ucapan selamat pada ibu baru tersebut.


Sedangkan sang dokter cantik ?


Oca sedang mencuci tangannya di toilet setelah ia membersihkan darah darah di jalan lahir Nina.


Untung saja, penerbangan hampir usai. Ia kemudian kembali ke kabin yang Nina tempati. Oca melihat kebahagiaan kedua orang tua baru tersebut. Sang suami menemani Nina saat ini, karena tadi ia yang meminta suami Nina untuk menunggu bersama Praba.


"Yank, apa kamu juga akan seperti itu bila anak kita lahir kelak ?" tiba tiba sang suami mendekatinya pas disamping Oca.


"Tidak, aku ingin melahirkan di hotel daripada di pesawat !" jawabnya ketus karena pertanyaan sang suami.


"Ih, maksud aku apa kau akan bahagia seperti mereka ?" Praba mengulang pertanyaannya.


Namun belum sempat Oca menjawabnya, terdengar suara dari kapten bahwa mereka akan segera mendarat. Para penumpang dimohon untuk mengencangkan seat belt.

__ADS_1


Karena kondisi Nina masih lemah, para pramugari masih tetap membantu Nina selama masih berada di dalam pesawat.


"dok, duduk lah di kabin bekas pasien tadi !" pinta Salah satu pramugari.


"Tapi, nyonya Nina adalah pasien saya,"


"Pesawat akan segera landing, akan ada guncangan dan itu membahayakan anda bila anda tetap berdiri disitu, biarlah Nyonya Nina kami yang urus karena ini sudah tanggung jawab kami !" tutur Pramugari yang lain.


"Ayo dek !" ajak sang suami agar Oca bisa beristirahat dengan duduk di kursi Nina dan suaminya.


๐Ÿ๐Ÿ


ATCer atau Air Traffic Controller,ย yang menerima pesan dari sang kapten pesawat sudah menyiapkan tim medis dan juga Ambulance yang sudah bersiaga di landasan Bandara.


Setelah membatu mengevakuasi Nina dan bayinya menuju ambulan yang sudah di sediakan oleh pihak Bandara, Oca kini berganti pakaian yang ia kenakan.


Tampak seorang pria sedang duduk menunggu sang istri bertukar pakaian di Airport Lounge. Sambil menikmati secangkir kopi didepannya ia membuka ponsel yang sejak tadi ia matikan.


"Kami akan segera keluar setelah istriku hati baju !" ujar Praba di telepon.


"Istri ? Ganti baju ?" gumam Gusti sendiri setelah Praba mematikan telepon secara sepihak seperti biasanya.


"Apa iya mereka melakukan hal seperti itu di dalam Airport Lounge ?" gerutu Gusti yang sudah bisa menebak apa yang sudah dilakukan oleh Bos dan kekasih Bosnya.


Tak berapa lama, dari jauh Gusti melihat sepasang lelaki dan perempuan sedang bergandengan mesra layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara.


"Sudah lama ya honey menunggu kami ?" tegur Oca pada Gusti masih dengan kata kata sapaan manjanya.



Gusti ragu ingin menjawab apa pada mereka berdua. Ia nampak memikirkan cara mengolah kata untuk menjawab sapaan Oca.


"Belum lama Honey !" sahut Gusti dengan nyengiran kuda.


Tanpa menunggu waktu lama, sebuah pukulan ringan mendarat di kepala Gusti. Dia menoleh dan mendapati wajah sang Bos Edannya sudah siap menerkam mangsa.


"Jangan ngawur, aku sudah menghabiskan seluruh isi tabunganku untuknya dan kau memanggil istriku Honey !" maki sang pengacara tampan tersebut.


__ADS_1


Akhirnya Oca puas karena sudah menyaksikan pertunjukan yang menyenangkan tersebut.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


__ADS_2