
Menertawakan masalah org lain itu mudah. Menertawakan masalah diri sendiri? Hanya org hebat yg bisa.
πππ
Didalam sebuah ruangan mewah yang masih satu gedung dengan Rumah sakit Medistra, Seorang Wanita sedang duduk dengan tegang sambil meremas jas putihnya.
Sudah beberapa jam lebih Oceana dan teman dokternya saat berjaga di UGD melewati proses penyidikan.
Mereka berdua akan dijadiakan saksi nantinya karena bagaimanpun mereka berdua lah yang menangani pertama kali korban.
Kedua dokter tersebut kini dapan bernapas lega setelah 23 pertanyaan telah dilayangkan pada mereka. Kini mereka berdua dipersilahkan untuk melanjutkan kegiatan Meraka.
Karena status keduanya kini adalah seorang saksi, maka keduanya dilarang pergi keluar negeri atau lebih tepatnya meninggalkan Indonesia.
Oca keluar dari ruangan direksi dengan langkah gontainya. Dirinya tak pernah terpikirkan akan mengalami hal semacam ini.
Kemudian Oca menghubungi Papanya. Russel Anwar.
Russel adalah pemilik dari PT Gunung Mulia logam. Perusahaan papa Oca adalah Perusahaan Tambang Emas.
Russel yang Asli Kalimantan menikahi Mama Oca yang Orang Jakarta. Kini mereka berdua berdomisili di Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Oca ingin menceritakan seluruh keluh kesahnya kepada Papanya, siapa tahu papanya memiliki solusi. Karena kini statusnya sebagai seorang saksi yang kebebasannya akan dibatasi untuk sementara.
Dengan berbekal menahan ego dan gengsinya, tangan Oca menekan layar di Smartphonenya. Jari jemarinya yang lentik mulai mencari kontak papanya.
"Kau sudah besar, dan sudah bisa menjaga dirimu sendiri" Adalah satu kalimat yang sangat menohok hatinya.
Bagaimana mungkin papanya akan berkata seperti itu, tetapi kabar baiknya mereka akan datang ke Jakarta sore ini juga.
Papa Oca berkata bahwa Mama Oca memiliki suatu acara syukuran bersama teman lamanya. Dan mengundang Keluarga Oca untuk hadir.
"Jangan Kecewakan mamamu" Itu adalah kalimat penutup dari kegiatan menelpon Papanya.
Kemudian, Oca membaca pesan dari mamanya bahwa mereka akan menjemput Oca di Apartemennya nanti malam.
"Apa terjadi sesuatu ?" Seseorang tiba tiba menepuk pundak Oca dari belakang tubuhnya.
"Tahukah kamu aku dicekal Bi ?" Jelas Oca kini telah berbalik menghadap laki laki tampan di depannya.
"Masalah Sianida ?" Selidik Abi melihat gelagat aneh di kedua mata indah milik Oca.
"Ayolah Oca, kamu wanita kuat ini hanya sebuah permainan kecil kan ? Lagi pula kamu tak sendirian masih ada aku di sampingmu"
Abi menggenggam kedua tangan Oca.
Karena situasinya sedang di tempat kerja, Oca tak ingin ini akan menjadi bahan fitnah karyawan lain saat mereka melihat dirinya dan Abi bermesraan.
__ADS_1
"Aku akan melanjutkan pekerjaan aku Abi" Oca tiba tiba melepaskan genggaman tangan dari Abi.
"Baiklah nona, kalau ada apa apa lekas hubungi aku" Abi menatap Oca dengan tegas.
"Sure Abi" Sahut Oca kini melambaikan tangannya meninggalkan Abi yang masih di posisinya semula.
ππ
Sebuah pesan masuk di Smartphone milik Oca, raut mukanya berubah setelah melihat dan membaca sebuah nama di Handphonenya. Ibu Negara nama tersebut adalah julukan yang diberikan Oca untuk mamanya yang bawel.
Ibu Negara π mama tunggu di Lobby kita makan siang bareng.
Oca kemudian menyelesaikan pekerjaannya menangani pasien di jadwal praktek hariannya. Karana ini memang sudah jam istirahat siang.
Oca π Iya Yang Mulia
Dengan langkah kaki tergesa gesa, Oca kemudian menuju Lobby Utama Rumah sakit. Hingga dia mengabaikan ajakan makan siang bersama Abi.
Abi juga tak keberatan bila Oca akan makan bersama mamanya.
Seorang wanita yang kira usianya sudah hampir setengah abad dengan pakaian modis telah menunggu Oca di Lobby Utama.
Tak sulit bagi Oca untuk menemukan keberadaan Mamanya. Karena dandanan mamanya yang kekinian dan tak lupa sebuah kaca mata hitam yang selalu dia bawa meski tak memakainya.
"My Sweetie.." Sapanya dengan hebohnya.
"Oca sudah lapar Ma, ayolah waktu makan siang Oca tak Lama" Oca kini mulai menyeret tangan Mamanya dan mengajaknya keluar. Karena dia tak ingin mamanya bertanya tanya mengenai Rumah sakit tempat dia bekerja.
"Kelihatannya kau lebih betah di Jakarta daripada di Sidney sayang" Sindir Riana mama Oca.
"Dimana pun Oca suka ma" Sahut Oca masuk ke dalam mobil yang mengantar mamanya.
" Pulang kerja nanti, mama jemput kamu dan kita cari gaun untuk acara teman mama" Bujuk Riana.
"Mama atur saja, kalau Oca ada waktu" Ucap Oca tanpa menoleh ke mamanya. Dia lebih senang melihat sekeliling jalan ibukota melalui kaca mobil.
Meraka telah sampai di salah satu restoran dekat tempat kerja Oca. Oca memilih Restoran Manado. Karena cita rasa masakan Manado memang lain dari daerah lain (Author juga suka, bubur Manado dan sambal dabu dabu nya asem pedes enak pokoknya π€€).
Oca makan dengan singkat. Melihat hal tersebut mamanya jadi merasa aneh.
Riana memang telah diberitahu suaminya masalah yang dialami putrinya.
"Tenanglah nak, mama akan selalu bersamamu" Riana menggenggam tangan Oca. Tangan yang dulunya mungil sekarang telah menjadi gadis yang mulai menjauh darinya.
"Mama juga akan pulang" Sindir Oca di sela meminum minumannya.
__ADS_1
"Kalau kau mau mama akan menemanimu, atau kamu pindah ke Banjarmasin ?" Usul Riana menatap mata Oca.
"Benarkah boleh ke Banjarmasin ?" Seru Oca. Dia merasa tak nyaman tinggal di Jakarta setelah bertemu dengan Praba dan menemui masalah hukum.
"Tentu saja, bila masalahmu sudah selesai" Bujuk Riana kembali mengingatkan masalah yang dialami oleh Oca putrinya.
"Oke" Sahut Oca.
Selesai menyantap makannya, Meraka kemudian meninggalkan restoran Manado tersebut. Riana kemudian mengantarkan Oca kembali ke Rumah sakit tempat Oca bekerja.
Nanti Sore mamanya akan menjemput dirinya.
ππ
Tepat Pukul 16.00 Waktu Jakarta, Mama Oca menjemput putrinya pulang kerja dan mengajaknya ke butik Langganannya.
Mereka mendatangi designer langganan Riana, mama Oca. Oca mulai memilih milih baju mana yang cocok untuknya.
Dengan dibantu sang Desainer dan juga mamanya, Oca mulai memilih milih.
"Ma apa tak berlebihan ini hanya untuk acara syukuran saja kan ?" Elak Oca ketika mamanya memilihkan dress putih tanpa lengan dengan motif brokrat.
"Kau harus tampil mempesona sayang, ini untuk masa depanmu" Bujuk Mamanya.
"Jangan bilang mama mau menjodohkan Oca dengan anak dari salah satu teman teman mama" Selidik Oca.
" Tidak juga, kalau pun iya juga tak masalah umurmu juga sudah cukup untuk menikah" Balas mamanya tak mau kalah.
Hampir setengah jam lebih mereka memilihkan baju untuk Oca, karena Oca selalu menolak baju yang menurut dirinya terlalu berlebihan dan terkesan tua.
Pilihan Oca jatuh pada dress lengan pendek berbahan kombinasi Brokat warna merah maroon.
Maroon menjadikan kulit putih Oca terkesan bercahaya. Dan sangat cocok dikenakan pada acara resmi ataupun santai.
"Anak anda sangat berbakat dalam memilih baju Nyonya" Puji designer tersebut.
πΌπΌπΌ
Siapa yang sudah menunggu Oca ?
Maaf ya update nya agak telat π
Aku usahain 2 hari sekali update kok.
Kalau bisa tiap hari syukur.
Setelah PC tamat aku akan konsen menggarap Coming Out ini.
__ADS_1
Kamsia wahai warga MT atau NT yang aku cintai.