
Seorang wanita berjas putih sedang menatap kearah luar jendela kaca di ruang praktiknya.
Matanya seakan menerawang seluruh penjuru luar.
Mata dan hatinya memiliki pandangan yang sama.
"Bagaimana bisa aku terus memikirkan dia, bukankah dia sudah berkali kali menipuku !"
Ia sengaja men silent handphone didepannya. Ia tak memang tak ingin ada yang menggangu dirinya untuk saat ini.
Berulang kali nomor yang sama menghubungi dirinya. Namun ia selalu mendiamkannya.
Manik indahnya sesekali melihat ke arah layar handphone di depannya.
"Dia lagi !" Keluhnya gusar.
Entah kenapa semakin Oca menghindarinya, dia selalu makin dekat dengannya. Berkali kali jugalah ia menolaknya, tetapi Dia makin terus merayunya.
Oca tak dapat memungkiri, semenjak kepergian Abi dirinya memang dirinya sangat bergantung pada Asep. Hal itu menimbulkan percikan percikan api cinta dari dalam dirinya.
Namun sayangnya, Asep ? Pria yang spesial di hatinya adalah jelmaan seekor siluman kucing yang selalu memangsa tikus tikus rumahan seperti dirinya.
Memikirkan masalah Dirinya dengan Praba bisa membuat kadar kolesterol Oca naik hingga diatas 200 mg/dl.
"Ngagetin aja elu Sa," Oca menegur Alisa setelah Alisa menepuk pundaknya.
"Gimana gak ngagetin, elunya dari tadi melonggo Mulu kaya ayam lagi kesambet !"
"Sembarangan, elu sendiri ngapain kesini ? pasien mu tak ada ?"
"Bosen Ca, Pulang kerja nanti kita jalan ya ?"
Oca masih terpaku memikirkan kata kata Alisa, Bagaimana dia bisa enjoy jalan jalan, sedangkan dirinya pasti akan di rusuhi lelaki itu.
"Bagaimana aku bisa Alisa, kau tahu sendiri aku banyak kerjaan lagi pula Orang itu pasti akan menyulitkan aku terus !" Keluh Oca memijit sedikit pelan pada pelipisnya.
"Pria yang waktu itu ? apa elu masih ada hubungan dengan mantan pacar elu Ca ?"
Alisa sedikit tertarik dengan masalah pribadi Oca.
"Aku terjebak di permainannya, dan aku harus membalasnya !" Keluh wanita yang akrab di sapa Oca tersebut.
"Ya Udah elu terima aja dia, toh dia juga lumayan tampan dan kaya Ca," Alisa makin puas menggoda Oca karena gemas melihat tingkah lakunya.
"Pacarmu kelihatannya posesif banget Ca," Imbuh Alisa menggoda teman sejawatnya.
Kemudian datanglah Tami masuk kedalam ruang praktik Oca, ia nampak kesulitan karena sedang membawa beberapa buket bunga.
Salah satunya adalah sebuah buket bunga mawar.
"Cie, dapet dari laki !" Alisa mencibir manja Oca ketika Tami mengulurkan buket bunga mawar tersebut.
"dok, ini sangat cantik pasti dia sangat romantis. Kabarnya pengacara itu banyak memiliki kekasih loh !" Goda Tami setelah meletakan beberapa bunga di meja kerja Oca.
__ADS_1
"Tahu dari mana Orang itu yang mengirim ?" Oca kemudian membaca note yang terselip di dalam salah satu buket bunga tersebut.
You are my sweetest gift from god, because your smile always welcoming me when we met.
Sampai tertawa ia membaca sebuah note tersebut. Dia sangat tahu siapa pengirimnya meski orang tersebut tak menuliskan siapa dia.
"Cie, yang abis dapet bunga langsung ceria senyum senyum sendiri," Alisa makin gencar menggodanya.
"Kalian masing masing ambil satu geh, buat apa aku banyak banyak," Ujar Wanita pemilik rambut golden brown tersebut.
"Ini kan buat dokter, mana berani aku mengambilnya," Tami menyangkal ucapan Oca.
Handphone Oca kembali berdering, ia melirik nama yang tertera di layar Kucing mesum,
"Dia lagi," Ujarnya.
"Cie yang kucing kucingan," Tami dan Alisa bak anak sekolah menggoda Oca dengan kompak.
"Dia tikus tam," Alisa membumbui.
"Kalian berdua keluar," Oca menaikan nada suaranya. Sikapnya tak ubahnya Praba yang semena mena terhadap junior.
"Kabur, ada yang marah !" Tami dan Alisa serentak berlari keluar meninggalkan Oca yang sedang kesal akibat ulah mereka berdua.
☘️☘️
Seorang wanita dengan wajah berseri seri berjalan sambil bersenandung ria, hari ini hatinya sungguh bahagia. Sembari mencium harum buket bunga di tangan kirinya.
"Kata katamu seperti judul sinetron saja, dasar buaya !"
"Buaya ?" Tak terima ia dikatakan buaya oleh wanita yang ia cintai, Praba kembali menarik tangan Oca dan menyeretnya masuk ke mobilnya.
"Hei hentikan, aku sudah ada janji dengan Gusti !" Oca meronta ronta ketika tubuhnya masuk ke dalam mobil.
"Aku sudah membereskan pacarmu !" Sahut Praba dengan senyum seringainya. Ia merasa sangat puas sudah memberi Gusti banyak tugas lemburan.
Mendengar penuturan lelaki disampingnya, Oca makin kesal dibuatnya, karena Praba masih tak berubah sikap dan perangainya. Dia selalu semena mena terhadap karyawannya.
"Bungamu cantik sekali, siapa yang mengirimnya ?" Mulai lah lelaki itu melancarkan aksi nekadnya.
"Orang gila !"
"Tapi kau suka, mengaku saja kau masih memikirkan aku kan ?"
"Sekali aja, tolong jangan buat aku pusing !" Keluh Oca memegang pelipisnya pura pura tak nyaman.
"Aku bisa mengobatimu dengan pesonaku !" Praba memberikan wajah menawanku agar wanitanya tak lari ke lain hati.
Namun Oca selalu mendiamkan pria di sebelahnya, dia tak tertarik untuk berbicara panjang lebar bila ujung ujungnya Praba menggodanya.
"Jangan seperti itu, senyumlah padaku seperti kau tersenyum kepada Asep," Pinta Lelaki itu.
__ADS_1
"Aku tak tertarik padamu, aku suka orang yang sederhana dan tak buaya seperti dirimu !"
"Ya Tuhan sayang, dapat dari mana kata kata buaya itu ? aku saja tak pernah sekalipun menyentuh wanita selain dirimu !"
"Berita,"
"Kenapa kau begitu percaya berita yang belum tentu kebenarannya sayang !"
Setelah mengatakan hal tersebut tiba tiba saja mobil yang mereka kendarai berhenti tiba tiba.
"Kenapa ?"
"Aku tak tahu, kelihatannya mogok !" Sahut lelaki itu dengan entengnya.
"Mobil boleh bagus, tapi tenaga nol kaya yang punya !" Celetuk Oca kesal entah karena mobil atau memang sudah kesal sedari tadi.
"Mau nyoba tenagaku sayang ? jangan salahkan aku kalau lahir Praba junior !"
Pria itu melirik dengan angkuhnya sebelum ia turun dari mobil.
"Tetap disitu, jangan keluar !" Praba mengatakan hal tersebut lewat kaca di mobilnya.
Pria itu kemudian menggulung lengan jasnya dan berjalan ke depan mobil. Lalu Praba kemudian membuka kap mobilnya untuk memeriksa mesin mobilnya.
Kurang lebih lima belas menit ia berkutat memeriksa mesin mobilnya. Oca melihatnya dari dalam mobil, karena pria itu melarangnya untuk keluar mau tak mau dia hanya berdiam diri di dalam mobil saja.
"Payah sekali dia !" Gerutu Oca di dalam mobil.
Tak berselang lama, masuklah pria itu untuk duduk di sebelah kekasihnya. Tubuhnya terlihat lusuh untuk ukuran seorang pengacara.
Dia mulai menjalankan mobilnya untuk mencoba menghidupkan mesin mobil.
Syukurlah akhirnya bisa nyala.
Oca kemudian mencari sesuatu di dalam tasnya, "Tunggu !" Ucapnya menghentikan Praba agar tak menjalankan mobilnya.
Oca menarik paksa tangan lelaki disampingnya kemudian membersihkan tangan Praba dengan antiseptik.
"Sayang dirimu perhatian sekali dengan calon suamimu !" Godanya membuat pipi Oca bersemu kemerahan.
Karena kesal, wanita itu kemudian menepuk punggung Praba dengan cukup keras.
"Baby, kau suka sekali menindasku !"
"Biarin, makanya kalau ngomong jangan sembarangan !"
"Bukankah itu benar ?" Seperti seekor anak kucing, Pria itu menekuk bibir bawahnya.
"Menjijikan, kayak anak kecil aja !"
"Aku senang sekali bila kau sudah perhatian seperti ini padaku !" Pria itu secepat kilat mendekap tubuh wanitanya. Merasa ini terlalu merugikannya, Oca berusaha untuk meronta ronta dari Praba.
"Jorok ah, kau bau oli !"
__ADS_1
☘️☘️☘️