
...Kamulah satu Satunya...
...Laras hati...
...Berkelana iris janji...
...Menyulih bisikan...
...Bisikan memacu hasrat...
...Desir-desir mimpi...
...Isyaratkan legit dunia...
...Kamulah satu-satunya...
...Yang ternyata mengerti aku...
...Maafkan aku selama ini...
...Yang sedikit melupakanmu...
...Segala santun...
...Yang kau endap di jiwaku...
...Tak terisak dulu...
...Kini kecapkan sesalku...
...Anyaman cintamu...
...Terkoyak buram mataku...
...Kamulah satu-satunya...
...Yang ternyata mengerti aku...
...Maafkan aku selama ini...
...Yang sedikit melupakanmu...
...Laras hati...
...Alirkan diri kembali...
...Membujur tubuhku...
...Sejuk pangkuan dirimu...
...Tak ingin terbungkus...
...Terbungkus penyesalan...
...Puing-puing janjiku...
...Kupugar kembali untukmu...
...Segala denyut nadi memanggil...
...Kamulah satu-satunya...
...Kamulah satu-satunya...
...Kamulah satu-satunya...
...Kamulah satu-satunya...
...Maafkanlah aku selama ini...
...Kamulah satu-satunya...
...Yang ternyata mengerti aku...
...Maafkan aku selama ini...
...Yang sedikit melupakanmu...
...Puing-puing janjiku...
...Kupugar kembali untukmu...
...Segala denyut nadi memanggil...
...Kamulah satu-satunya...
__ADS_1
...Dewa 19...
☘️☘️☘️
Seorang Pria masih terbaring di ranjang kamarnya.
Pria tersebut mengerjapkan kedua kelopak matanya. Bola matanya menyapu ke seluruh sisi didalam kamarnya.
Ia tak mendapati seorang yang ia cari di setip sudut kamarnya.
"Dia past sudah kabur !" Gumamnya pelan.
Praba baru saja mengingat kejadian tadi malam bersama wanita pujaannya.
Pikirannya melanglang jauh mengingat ingat kejadian tersebut, namun ia tak berhasil mendapatkan ingatannya.
Yang ia ingat hanyalah ketika ia sedang mencumbu kekasihnya, tiba tiba kekasihnya tersebut merasa haus kemudian ia pergi mengambil minuman di pantry mininya.
Setelah Oca kembali, ia membawa dua gelas jus jeruk di kedua tangannya. Satu untuk dirinya dan yang satu lagi untuk Oca sendiri.
Dengan seutas senyum di sudut bibirnya, Praba masih tak menyangka bahwa Wanitanya sungguh pintar sekali meloloskan diri darinya.
Namun senyum liciknya tiba tiba muncul kembali lantaran ia masih melihat tas sang Dewi masih tergeletak tak beraturan di atas nakas samping ranjangnya.
Terlintas sebuah ide untuk mengerjai sang wanita pujaannya tersebut. Ia ingin membalaskan dendamnya tadi malam karena Oca sudah bisa lolos begitu saja.
Pria itu kemudian kembali berbaring dan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan celana panjang saja dengan selimut.
Ia lalu berpura pura masih tertidur agar Oca tak menaruh kecurigaan padanya.
Tak sampai beberapa lama, datanglah seorang wanita yang sudah berhasil mempermainkan rencana Praba malam tadi.
Wanita yang berparas cantik itu datang membawakan secangkir kopi untuk lelakinya yang masih berbalut selimut.
"Bangunlah sayang, ini kopimu !" Wanita itu membangunkan kekasihnya dengan riang gembira lantaran sudah bisa lepas dari jeratan sang kekasih setelah ia mencampurkan minuman Praba dengan obat penenangnya.
Pria itu masih tak bergeming ketika Oca membangunkannya, karena ia sedang menyusun sebuah rencana balasan.
"Kau akan menyesal sudah menggodaku honey !" Batinnya dengan seringai licik.
Mendapati sang Pria tak bergeming ketika ia membangunkannya. Ia sungguh khawatir karena sudah menambahkan obat penenang dalam minumannya.
"Apa dosisnya kebanyakan ?" Gumamnya pelan, namun Praba justru menahan tawanya ketika ia mendengar gumaman Oca barusan.
Oca kemudian menggoyang goyangkan tubuh Pria yang masih berada di balik selimutnya.
"Kau akan terlambat Mas !" Protesnya kesal karena sang kekasih masih tak bergeming dalam tidurnya.
Tanpa Oca sadari, tiba tiba Praba menarik paksa tangannya. Hal tersebut membuat wanita yang masih bengong tersebut terjungkal diatas tubuh sang kekasih.
Melihat wajah kesal dari wanitanya, membuat Praba membalikan posisi baringnya. Pada saat ini posisi tubuhnya berada diatas tubuh sang kekasih.
"Karena kau memakai kemejaku itu membuatku tak ingin berkerja hari ini !"
Benar saja, karena tak membawa baju ganti, setelah memastikan sang lelaki sudah terlelap dalam tidurnya seusai meminum campuran jus dan obat penenang Oca berganti pakaian memakai kemeja sang kekasih.
"Aku tak ada baju lain !"
"Nakal sekali wanitaku, bisa mempermainkan aku tadi malam," Pria itu kemudian tersenyum licik dari atas tubuh Oca.
"Karena, kau berusaha menerkam aku !" Maki Sang wanita karena kesal pada Praba.
"Aku sungguh tak bisa menahannya dear," Sahutnya dengan nada memelas untuk kesekian kalinya.
Melihat sikap kecewa dari sang Arjuna, membuat Oca bisa lebih leluasa untuk melepaskan diri dari genggaman iblis Prabayarnya.
"Mau kemana ?"
"Mengobati pikiran mesummu Mas,"
Wanita itu kemudian mengambil sebuah bantal lalu ia pakai sebagai alat untuk memukul sang kekasih.
Sang Arjuna pun tak keberatan ketika Oca memukulnya. Kali ini dua buah bantal ia gunakan untuk menambahkan pukulannya.
"Sayang, kau ingin membunuh suamimu ?" Godanya sudah tak tahan dengan perlakuan dari Oca. Ia bukan merasa kesakitan, namun malah membuatnya makin menaikan gairahnya kembali. Apalagi tadi malam hasratnya tak tersalurkan.
Melihat pandangan mata sang Arjuna dari klan Adiwiyata yang menatapnya dengan tatapan liarnya, membuat bulu kuduk Oca bergidik kembali. Susah payah ia lepas dari cengkraman Praba semalam, Ia tak ingin terjebak lagi dengan bujuk rayunya.
"Kalau Mas macam macam aku akan menelpon ibumu !"
"Telponlah, ia sudah tak sabar ingin segera menimang cucu dari kita sayang !" Bisik Praba mesra tepat di belakang telinga Oca ketika ia telah berhasil menangkap wanita tersebut.
"Kamu bilang akan memberitahuku kabar baik, aku sudah tak sabar ingin mendengarkan ?" Pinta wanita cantik tersebut untuk mengalihkan pembicaraan mesum dari Praba.
__ADS_1
"Mas sudah menemukan donor hati untuk Ratih, nanti siang dia akan menjalani pemeriksaan kesehatan di tempatmu."
"Benarkah ? siapa orangnya?" Oca begitu antusias ingin mendengar langsung jawaban dari mulut menakutkan Praba.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, kalau begitu penasaran, Mas bisa memberitahumu dengan satu syarat !" Pria itu memberikan penawaran khusus untuk calon istrinya.
"Jangan aneh aneh !"
"Kita lanjutkan rencana tadi malam yang belum sempat kita lakukan !" Pinta Pria itu dengan rayuannya dan juga bersama dengan senyum manis untuk menggoda iman Oca.
"Lupakan, aku akan pergi bekerja !" Oca beranjak dari tempat tidur mereka dan mulai berjalan meninggalkan Praba.
"Bilang saja kau malu kan ?" Tak mau kalah, Pria itupun ikut kemanapun Oca pergi.
Oca berjalan kearah meja makan, kemudian ia menuang sebotol susu kedalam dua gelas kosong di hadapannya.
Lalu ia menyodorkan segelas susu tersebut untuk sang pujaan hatinya.
"Apa ini aman diminum ?" Sindir sang lelaki sebelum meminum susu tersebut.
"Kalau tak percaya padaku jangan diminum, kopi mu juga masih ada dikamar !"
"Untuk saat ini Mas lebih suka minum susu !" Godanya dengan tanpa mengesampingkan tatapan liarnya.
"Karena segala macam obat tak bisa bereaksi bila bercampur susu," Sahut Oca dengan nada kesal.
"Lain kali, jangan memasukkan obat tidur ke dalam minumanku dear tapi obat lain boleh !"
Celoteh Praba ketika ia selesai menenggak habis susu dalam gelas ditangannya.
"Racun ?"
"Bukan, tapi obat kuat !"
"Beneran deh, orang seperti kamu emang bagusnya di belah otaknya supaya tahu isinya apa ?" Karena kesal dengan kata kata tak penting Praba Oca menggerutu tak jelas.
"Jangan marah, kau kelihatan imut dengan mengenakan kemejaku sayang !" Lagi lagi Pria Pengacara tersebut masih saja menggoda kekasihnya. Ia masih tak puas setelah mencumbu habis wanita itu semalam. Kini ia sudah memeluk mesra kembali.
"Aku tahu, aku imut dan cantik bukan ?" Oca tak mau kalah, ia memegang kedua pipi sang kekasih dengan tangannya untuk menatapnya dalam dalam.
"Aku mencintaimu !" Sahut sang Pria pujaan sebelum mencium mesra dirinya.
Namun kali ini tak ada penolakan dari Oca. Hal tersebut membuat sang Arjuna makin gencar melancarkan aksinya.
Tangannya kini sudah aktif menari nari di balik kemeja mahal yang dipakai sang wanita.
Meski awalnya Oca menampilkan gerakan penolakan, namun sang Arjuna bisa mensiasatinya dengan mengusap dan membelai lembut gerakannya.
"Kalian berdua apa kurang semalam ?" Tegur sebuah suara khas laki laki dari arah pintu masuk.
Secepat kilat Praba menarik wanita pujaannya tersebut dibalik badannya.
"Tutup mata dan mulutmu Bar, kalau kau masih mengaku adikku !" Ancaman yang anak sulung dari Adiwiyata lontarkan pada adik kandungnya.
Mau tak mau Bara mengikuti kata kata Praba, bagaimanapun abangnya adalah sumber uang selain ayahnya.
"Masuklah ke kamar, tunggu aku disana !" Ujar Pria yang bertelanjang dada tersebut. Ia tak ingin Bara mengamati kemolekan tubuh calon istrinya tersebut.
"Panggil aku bila sudah selesai !" Kata Oca sebelum meninggalkan kedua saudara tersebut.
"Ibu menitipkan ini, aku bisa masuk karena ibu memberitahu password Apartemen milikmu !" Bara menyerahkan sebuah paperbag untuk abangnya tersebut.
"Tahu dari mana ibu password ku?"
"Anak TK juga tahu, kau memakai tanggal lahir kakak ipar katanya pengacara terkenal tapi rada bloon ya ?" Goda Bara.
"Jaga ucapan mu, aku tak akan mendanai proyek proyek kalian lagi !"
"Aku serius kak, kalian cepatlah menikah agar aku bisa menikahi Danila juga," Rengek Bara dengan muka lesu pada Abangnya.
"Setelah urusan ini semua selesai kami akan menikah, dia tak ingin membebaniku dengan rencana pernikahan ketika aku menangani kasus besar !" Jawab Praba panjang lebar.
"Aku sudah menyelidiki siapa dalang dibalik kasus ini. Aku merasa para wanita itu hanya dimanfaatkan oleh seseorang yang memiliki kuasa besar."
"Seseorang yang sangat dekat dengan Gandhi, karena dia tahu aku dan Gandhi sedang perang dingin makanya orang itu memanfaatkan kondisi ini."
"Aku setuju, tenang saja kak ada aku yang selalu membantumu. Berterimakasih lah pada ku karena aku sudah mengalah pada kakak ipar, kalau tidak pasti kakak ipar tak akan mau bersamamu !"
"Jangan sembarang bicara, kalau dia tak menyukainya untuk apa dia bersedia tinggal disini !" Bentak Praba dengan emosi.
"Dasar lelaki tua, aku hanya bercanda kenapa reaksimu berlebihan Praba ?" Keluh Bara kesal.
"Tunggu disini, kita masih belum selesai berbicara !" Perintah Praba sebelum ia meninggalkan Bara untuk menemui Oca yang ia suruh menunggu dirinya di dalam kamar.
Praba memberikan paperbag titipan dari ibunya tersebut kepada Oca. Paperbag tersebut berisikan pakaian ganti untuk Menantu Adiwiyata.
__ADS_1
🌼🌼🌼