
"Perpisahan hanya berlaku untuk mereka yang mencintai lewat mata. Karena untuk mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tak akan ada yang namanya perpisahan."
πΌπΌπΌ
"Siang Pak, Hi Bu dokter kita bertemu kembali !" Sapa Gusti ketika berpapasan dengan kedua orang penting tersebut.
Dewi juga tak mau kalah, dia ingin berguru ilmu dengan Wanita yang bersama Bosnya itu. Dewi sudah memasang tampang manisnya. "Siang Bos, Siang dokter cantik !" Sapanya.
"Kata katamu menggelikan nona, anda sangat mirip dengan bos anda !" Oca menatap tajam kearah Dewi. Wanita itupun menunduk tak berani menegakkan kepalanya lantaran takut kena masalah oleh bosnya.
"Girl, aku hanya bercanda ! kau pikir aku orang yang kaku seperti dia ?" Oca menenangkan Dewi sambil menunjuk kearah Praba.
Dewi menahan tawanya, Namun Oca sangat tahu bagaimana perasaan Dewi. Dia ingin tertawa namun takut berurusan dengan bosnya.
Oca tertawa cekikikan melihat pemandangan indah di depannya, puas sekali ia mengerjai Pria yang datang bersamanya. Sesekali ia melirik kearah Gusti dan Dewi.
Praba merasa ia dipermainkan, dia merasa wibawanya sudah dirusak oleh kekasihnya.
Lantas ia menarik paksa tangan Oca ke dalam Ruangannya.
"Pelan pelan dong, kau ini kasar sekali pada perempuan !" Begitu tiba di ruangan tersebut, Oca menghempaskan paksa tangan yang menggenggamnya erat.
"Kau menggodaku sayang, kau bilang aku Pria kaku ?" Praba menatap dalam dalam mata wanita didepannya. Tatapan matanya tajam, napasnya memburu, "Kali ini aku tak akan gagal lagi !" Ia berjalan mendekati Oca.
"Apa yang akan kau lakukan ? Jangan macam macam di tempat kerja !" Oca menghindari Praba sambil mundur beberapa langkah kecil.
"Aku kan sudah bilang, jangan macam macam atau aku tak akan menahan nafsuku !"
"Degggh,, " Jantung Oca berdetak kencang, kerongkongannya kering dan ia bersusah payah menelan salivanya.
"Aku hanya bercanda, kau tahu sendiri kan aku orang yang humoris ?" Masih mundur beberapa langkah Oca benar benar merasa terpojok di ruangan tersebut lantaran kini posisi Oca sudah sampai ke ujung tembok di samping jendela kaca.
Nafas Oca kian memburu lantaran ia sudah tak bisa lari kemana mana. Ia benar benar sudah terperangkap di jebakan Praba.
"Ceklek...!!" Pintu Ruangan Praba dibuka.
"Maaf, saya mengganggu waktu anda Pak !" Ucap Dewi pelan pelan takut diamuk bosnya.
Pasalnya bagi siapapun yang melihatnya pasti akan berfikiran sama, lantaran posisi mereka sangat intim.
"Dewiiii.... kau tahu apa kesalahanmu ?"
"Masuk tanpa mengetuk pintu Pak !" Suara Dewi hampir bergetar.
Sangat berbeda dengan Oca, kini hatinya diliputi rasa lega yang sudah menderanya.
__ADS_1
"Bagus, segera buat laporan hasil persidangan seminggu yang lalu ! aku mau 2 jam lagi harus ada di mejaku !"
"Oh ayolah Wi, tadi malam kau mimpi apa ?" Keluh Dewi di dalam hati.
"Baik pak, sebenarnya saya ingin menanyai kalian ingin minum apa ?" Nada bicara Dewi mulai agak teratur kembali.
"Tak perlu repot-repot aku tak akan lama ," Sahut Oca sedikit kecewa lantaran sikap semena mena Praba.
"Dua Americano !"
"Siap pak," Dewi pun kembali untuk menyiapkan dua buah kopi untuk Bosnya.
"Keterlaluan itu !" Tanpa menoleh kearah Praba, Oca memprotes lelaki disampingnya.
"Disini aku berhak melakukan apa saja, aku bosnya !"
"Tapi itu tak benar, segalanya tak perlu pakai emosi kan" Oca masih tak mau kalah. Ia yakin bahwa sikap yang Praba tunjukan itu adalah salah.
Tak berapa menit berselang, Dewi pun tiba membawa sebuah baki kaca bening bernuansa Shabby yang berisikan kopi dalam dua buah cangkir.
Setelah meletakan kopi tersebut di depan kedua orang yang sedang duduk namun bersitegang, Dewi segera beranjak dari sumber malapetaka baginya.
Oca mengambil cangkir kopinya dan duduk agak menjauh dari lelaki disampingnya.
"Wanita ini benar benar keterlaluan pada kekasihnya !"
Oca sedikit bergeser menjauhi posisi Praba.
"Sayang, apa kau kan terus bersikap seperti ini padaku ?"
"Iya,"
"Aku kan sudah minta maaf padamu ?" Kata Praba sedikit memohon di samping Oca.
"Kapan ?" Sahut Oca jutek.
"Waktu kau tertidur dikamar mu, aku datang secepat angin setelah Tante Riana memberitahuku kau sudah pulang,"
"Aku tak tahu, dan aku masih tak menerima permintaan maaf darimu !" Sedikit menaikan nada bicaranya, Oca bangkit untuk berdiri lantaran masih kesal dengan Praba.
Sebelum wanita beranjak pergi, Praba sudah jauh jauh memikirkan serangannya. Ia menarik paksa tangan Oca agar badan Oca jatuh ke dalam jeratan pelukannya.
"Akhirnya dapat, "
"Lepaskan dasar otak mesum, dasar listrik Prabayar !" Gerutu Oca mencoba meronta ronta diatas lelaki yang sedang memeluknya.
__ADS_1
"Sekali saja, jangan menolakku Ca !" Lebih dalam lagi Praba memeluk Oca kali ini.
Diantara pergulatan hati Oca antara yang memang sudah muak dengan Praba. Namun di dalam relung hatinya yang paling dalam ia sangat mendambakan pelukan seperti yang ia dapatkan dari Asep.
"Kau menikmatinya kan sayang ?" Sayup sayup Praba membisikan kata kata rayuannya ke telinga Oca.
"Si..siapa bilang ?" Gelagat Oca memprotes kata kata godaan lelaki yang sedang memeluknya.
"Benarkah ? kalau begitu sayang sekali," Dengan sangat menyesal Praba melepaskan pelukannya. Ia terlihat cukup kecewa dan enggan beranjak dari suasana keintiman tersebut.
Melihat perubahan di raut wajah sang kekasih, Oca merasa bersalah telah mengatakan hal yang membuat Praba kecewa.
"Aku belum siap," Sambungnya lirih. Entah apa yang membuatnya semakin runtuh dinding kokoh di hatinya.
Kesempatan itu tak disia siakan Oleh Praba, dia melihat ada sebuah kemungkin yang bisa ia nikmati kembali.
Segera saja ia mendaratkan sebuah ciuman mesra ketika Wanitanya dalam posisi tak siaga.
Kleeeekk, "Bos, berkas rapatnya sudah siap !" Gusti masuk ke dalam ruangnya secara tiba tiba. Namun buru buru ia membalikan badan kearah pintu keluar dan menutup kembali pintu ruangan bosnya.
"Siallll, Seharian ini aku selalu dipermainkan keadaan !" Keluh Praba mengepal keras tangannya.
"Makanya jangan sembarangan," Oca beranajak berdiri dan merapikan pakaiannya.
Semua karena ulah lelaki tak berperasaan tersebut.
"Tunggu disini jangan kemana mana hingga aku kembali, aku akan kembali saat makan siang tiba dan mengantarmu berangkat kerja !" Pria itu juga tak kalah gesit. ia juga merapikan Setelan jasnya yang sudah tak karu karuan karena ulahnya.
"Aku akan pergi sendiri !" Sahutnya kesal.
"Menurut lah pada Kekasihmu Nona !" Pria itu kembali mendaratkan sebuah kecupan ringan di kepalanya seperti biasanya sebelum pergi.
Tanpa ia sadari Oca memang merindukan saat saat kemesraan antara dirinya dengan Asep. Namun kali ini kemesraan itu ia dapatkan dari cover yang berbeda dengan rasa yang sama.
πΌπΌπΌ
Semua kata rindumu
Semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu
'Ku akan pulang
__ADS_1
Melepas semua kerinduan
Yang terpendam.