
"besok aku akan ajak kamu dan anak-anak ke rumah ibu". Cetusnya lagi dan beringsut dari tempat duduknya. Aku hanya terdiam membiarkan mas Adam pergi ke kamar. Malam ini kami tidur terpisah,aku tidur bareng anak-anak dan mas Adam tidur diruang tengah.
Besoknya kami berangkat , aku tak tau apa yang akan mas Adam lakukan disana. Hari ini mas Adam sengaja tidak kerja dia izin ada keperluan keluarga. Setelah menempuh jarak selama 3 jam akhirnya kami sampai juga.
"Assallamuallaikum". Ucap kami secara bersamaan.
"Waallaikumsallam" ucap ibu yang membuka pintu. Tak lupa aku mencium tangannya.
Aku langsung masuk kekamar setelah bersalaman dengan ibu dan merebahkan diri kekasur empuk milikku, sementara mas Adam entah kemana aku tak tau. Anak-anak main dengan sepupunya. Saat akan memejamkan mata ayah memanggilku.
"Mell... melly." Teriak ayah dari ruangan dimana dia sedang nonton.
"melly.." teriaknya lagi,
"Ayahmu itu manggil-manggil kamu ,samperin sana." Ucap ibu yang menghampiriku
"hmmm.. melly capek dan ngantuk pengen istrahat." Jawabku yang merasa terganggu dan ikut duduk bersama mereka. Dimana sudah ada mas Adam ayah dan ibu.
"Ayah rasa kalian ada masalah." Ucap ayah mengintrogasiku. Mata nya terus menatapku.
" iya.. ibu juga rasa begitu.. tidak biasanya kalian kesini di hari kerjanya Adam ." Ibu ikut menimpali. Aku malas berada diposisi seperti ini.
"Kenapa mell.." tanya ayah yang penasaran.
" tanyakan saja pada dia." Aku melirik mas Adam yang masih terdiam. Cuiiihh dia pura-pura tak tahu. Aku yakin dia pasti sudah cerita semuanya.
"Ngomong dong jangan diam, pura-pura gak tau." Bentakku pada mas Adam.
Mas adam mulai berbicara, dia nampak serius menjelaskan apa yang telah terjadi di antara kami. Namun aku tak peduli. Mas adam tak menceritakan jika aku minta cerai padanya.
"Mell .. mau kamu sekarang gimana". Tanya ayah memastikan ingin tahu apa yang aku inginkan sekarang.
"Maafkan melly yah.. melly sudah tak bisa mempertahankan pernikahan melly." Ucapku pada ayah. Bulir bening menetes dari sudut mataku.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu." Tanya ayah lagi, namun sesungguhnya ada keraguan dalam diri ini.
__ADS_1
"Jika kamu ingin pisah dari Adam, anak-anak sama kamu, kamu boleh pergi dari sini, tak boleh membawa apapun dari rumah." Ancam ayah. Sudah kuduga ayah lebih memilih mas Adam menantu kesayangannya itu.
"Apa yang membuatmu selingkuh, apa ada yang kurang dengan suamimu sehingga kamu lebih memilih mantanmu itu" Ayah terus bertanya kepadaku. Mas adam dan ibu hanya diam saja. Berasa semuanya seperti menyalahkan aku.
"Mungkin ini karma yah, karma dari ayah dulu." Jawabku jutek.
"Apa maksudmu melly." Bentak ayah yang merasa terpancing emosi.
"Mungkin aku turunan dari seorang ayah, seorang ayah yang pernah berselingkuh dan lebih memilih wanita lain" bela ku, sebenarnya aku tak ingin berkata seperti itu, namun karena emosi akhirnya aku mengatakan itu.
ya, dulu ayah pernah beselingkuh dengan seorang janda, dan meninggalkan aku dan ibu. Masih jelas teringat sampai sekarang perlakuan ayah dulu kepada ibu.
"Melly ... husst." Ucap ibu membela ayah.
"ibu masih membelanya".
"Tak mungkin ada asap kalau gak ada api." Sentakku pada ayah dengan nafas yang terengah. Aku berdiri hendak meninggalkan mereka.
"Ayah tak mengizinkan kalian berpisah,".
"Apa hak nya ayah mengambil seenaknya saja, ini handphone ku, yang aku beli dengan uangku sendiri, selama ini ayah tak pernah ngasih apapun, jadi gak berhak ." Cercahku pada ayah yg semakin emosi, enak saja dia mau ngmbilnya.
"Kalau untuk urusan handphone aku tidak setuju yah, sekarang zaman modern dimana semua pasti menggunakan telpon gengam, dan melly membutuhkan handphone itu, biar aku jg gampang menghubunginya." Bela mas Adam kepada ayah, cuih seperti pahlawan saja, aku semakin membenci nya.
"Kalau begitu kamu ganti nomor, hapus semua sosial media." Ayah kembali ngotot.
" terserah ayah." kulemparkan hp ke meja dan berlalu dari mereka.
Dikamar aku menangis, sungguh ini tak adil, tak ada yang memperdulikan perasaanku. Seandainya dulu aku tak menikah dengan mas Adam, tak mungkin seperti ini jadinya. Mengorbankan perasaan sendiri. Semuanya menyalahkanku.
"Mell..." ibu menghampiriku.
"ibu juga mau menyalahkan aku." jawabku kembali duduk berhadapan dengan ibu.
"Tidak mell... mau kamu salah atau tidak kamu tetap anak ibu yang cantik. ibu memilih kamu. Tapi tidak harus dengan seperti ini."Ibu mencoba menenangkanku.
__ADS_1
"hmmmm.......... sebesar dan seberat apapun masalah mu , bertahan adalah pilihan yang terbaik." Katanya lagi.
"Tapi bu.. melly udah capek dengan drama ini, pura-pura bahagia padahal sejatinya tidak,"
"Bertahanlah Mel demi ibu ayah dan anak kamu, perlahan-lahan kamu buka hati kamu buat Adam, cintai dia karena Allah, niscaya kamu mencintai dia sepenuhnya. Belom tentu apa yang kamu pilih itu terbaik buat kamu, belom tentu ada yang sesabar Adam menghadapi sikap kamu, kamu dan Adam sudah jodoh." Ucap ibu menasehatiku,
"tapi bu.. kepura-puraan ini sungguh membuat ku tak nyaman, tak ada cinta"
"Bisa jadi apa yang kamu benci, itu memang yang terbaik untukmu dan apa yang kamu sukai,tidak baik untukmu mell," aku mencoba mencerna setiap kata apa yang dilontarkan ibu.
"Yasudah.. tidur sudah malam.. biar anak-anak tidur bareng ibu, biar kamu ada waktu untuk ngomong berdua dari hati ke hati. Ingat anakmu, jangan menuruti ego." Ucapnya pamit keluar kamar.
Tak lama setelah ibu keluar,mas Adam masuk dan merebahkan badannya di sampingku. Aku sengaja menutupi semua badanku dengan selimut pura-pura tidur. Malas banget kalau harus ngobrolin itu lagi.
"Mell... kamu tau.. aku tak pernah menyesal menikah denganmu, meskipun aku sering mergokin kamu chattan dengan seseorang, ketemuan dengannya, aku hanya berpikir mungkin saat itu kamu sedang khilaf." Ucapnya. Aku merasa terkejut, jadi dia tahu selama ini apa yang aku perbuat.
"Aku tau kamu belum tidur," ucapnya lagi . aku membuka selimut dengan malas.
"Lalu kenapa aku minta cerai kamu tidak pernah mau," jawabku
"Aku tak mungkin mengorbankan anak, aku tau rasanya tak punya orang tua lengkap itu sakit." Jawabnya
" apa yang kamu harapkan lagi dari ku, istri tukang selingkuh, durhaka, tak tanggung jawab pada anak."
" hanya doa yang bisa aku panjatkan, semoga kamu bisa membuka hati kamu." Katanya
"Mungkin kalau kita pisah, kamu bisa memilih wanita seperti apa yang kamu mau." Sentakku pada mas Adam
"Tak semudah itu mell... memangnya kamu yakin jika berpisah denganku, kau akan hidup bahagia dengan mantanmu itu, akan mendapatkan semuanya yang ada di aku." Ucap mas Adam. Ada kesedihan di wajahnya.
"Sudahlah,,, aku tak ingin membahas ini lagi.. biarlah berjalan apa adanya. Bagaimana kedepannya aku tak tau" Ucapku merubah posisi tidur ,memunggungi mas Adam.
" bertahanlah mell demi anak-anak.. aku tak masalah jika kamu tak pernah mencintaiku selama ini. Aku tak memaksamu." Ucapnya memohon.
"Bisa gak sih... tidak usah ngebahas itu lagi, aku capek, kepalaku pusing rasanya akan pecah." Bentak ku pada mas Adam.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan, jika kamu berpisah denganku , kamu tak salah memilih pasangan." Jawab mas Adam berlalu dari kamar.