Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
InDhenesia Purwokerto


__ADS_3

Senja mulai menghilang, kini saatnya berganti malam. Kota yang baru pertama kali di singgahi bagi kedua anak Adam itu cukup bersahabat dengan keduanya.


Malam yang mulai datang, udara dingin kini mulai mendekati keduanya. Setelah keduanya meninggalkan kediaman Ibrahim dan istrinya, kini keduanya mulai memutar-mutar untuk mengelilingi kota tersebut. Meski Ibrahim dan Nyonya sempat meminta Praba dan Oca untuk menginap di kediamannya, namun sepasang pengantin baru itu kekeh menolak ajakan tersebut.


"Kita cari kedai kopi di pinggir jalan saja dek, aku trauma ketika kita di Bandung ngopi di tempat yang katanya hits abis." Praba membuka obrolan dengan sang istri yang sedari tadi terlihat tak bersemangat.


"Kan aku membaca ulasan di situs pencarian yank, lagi pula aku kira dengan memakai embel embel Korea akan sama seperti di tempat asalnya." sahut Oca dengan wajah murungnya. Ia sangat tahu suaminya merasa kecewa dengan pilihan tempat ngopi yang ia pilih waktu itu.


"Jangan bersedih, aku tak menyalahkan kamu sayang," tangan kiri sang lelaki menggenggam tangan istrinya. Ia menggunakan hanya satu tangan untuk mengemudi.


Mobil yang dikendarai pengacara tersebut akhirnya berhenti di sebuah kedai kopi, atau lebih tepatnya anak muda-mudi menyebutnya Angkringan.


Dari luar tempat nongkrong anak muda tersebut terlihat ramai pengunjung.


"Mas, kamu yakin ?" tanya Oca memastikan kesediaan Suaminya untuk melangkahkan kakinya di tempat yang tak biasa mereka kunjungi.


"Kenapa ? sesekali kita hidup low budget baby," pria itu pun tersenyum sambil membukakan pintu mobilnya untuk sang istri.


Keduanya pun menepi ke salah satu angkringan Hits yang menjadi destinasi kongkow anak muda di daerah tersebut.


MDPL angkringan nama tempat nongkrong tersebut, bila dilihat dari luar tampak seperti angkringan seperti pada umumnya. Di daerah Istimewa Yogyakarta banyak dijumpai angkringan seperti MDPL.


Namun yang menjadi Icon Angkringan yang beralamatkan di daerah Tanjung, Purwokerto Selatan kab Banyumas adalah angkringan ini pas tepat berada di depan Taman Makam Pahlawan.


Dan keduanya pun sungguh tepat bila kesini saat ini, pasalnya jam berkunjung mereka pas waktu makan malam. Banyak anak muda yang nongkrong sambil ngopi dan juga makan malam disini.



"Mas yang best seller apa disini ?" tanya Oca pada salah satu pelayan yang sedang melayani keduanya di dekat tusukan-tusukan makanan.

__ADS_1


"Seperti pada umumnya Kak, nasi kucing dan aneka sate namun yang paling saya rekomendasikan adalah sate kulit dan ceker !" jelas penjual tersebut.


"Masing-masing 10 tusuk Mas, nasi kucingnya lima wae !" sahut Pria yang sedari tadi menggandeng lengan sang istri takut istri kabur.


Oca memang tampak risih mendapati perlakuan suaminya yang sedari tadi sangan over protective.


"Lima saja cukup yank ?" sindir Oca pada sang suami. Ia takut porsi segitu tak cukup mengenyangkan sang suami.


"Porsinya lebih gede dari yang di Jogja yank, lagian kalau kurang bisa nambah lagi," tak memiliki rasa malu, pria itu melayangkan cubitan mesra di hidung Oca.


"Minumnya Mas ?" tanya Penjual tersebut kembali.


"Wedang wuwuh dan Kopi anget saja !" jawab Oca mendahului sang suami


"Mau ditambah jahe Mas kopinya ?"


"Boleh juga," sahut Praba dengan santainya sambil menggandeng tangan sang istri untuk mencari bangku yang tersedia.



Wedang wuwuh sendiri memang berasal dari Imogiri, namun di setiap angkringan kini banyak tersedia wedang tersebut.



Dan pilihan sang pengacara berwajah rupawan adalah kopi jahe, pada musim hujan seperti sekarang ini memang sangat cocok minum yang anget-anget dan menyehatkan.


"Gimana Mas ? lebih enak mana dari kopi buatan aku ?" selidik Oca ketika suaminya selesai menyeruput pertama kali minumannya.


Tak bisa dipungkiri, racikan dan aroma kopi dari angkringan ini sungguh nikmat. Namun Praba harus menjaga perasaan sang istri agar nanti malam ia tak kehilangan jatah gol dari Oca.

__ADS_1


"Tentu saja, lebih enak buatan istri Mas dong yank !" sambil tersenyum tipis Praba menjawab pertanyaan sang istri.


Oca tak mau kalah, dokter cantik itu mencibir pelan sang suami yang ia rasa sudah mempermainkan dirinya.


Kedua anak manusia itu kemudian menyantap kudapan yang telah mereka pesan tadi.


Nasi kucing dan aneka sate. Keduanya sangat antusias dalam menyantap makanan tersebut. Terlebih lagi Oca, wanita yang biasanya anti makan malam yang berlemak kini ia merasa tak masalah dengan menyantap beberapa tusuk sate kulit. Tak lupa ceker ayam juga.


Malahan Oca sendiri yang mengusulkan agar Praba menambah beberapa sate lagi, namun kali ini ia ingin merasakan sate usus dan jeroan. Hingga membuat sang suami geleng kepala.


"Dietnya besok saja lah ya," gumam Oca sambil mengelus perutnya yang tampak menyembul kekenyangan.


Dalam saku celananya, sang pengacara tampan itu mengeluarkan benda berbentuk kotak yang biasanya sering pria lakukan sebagai teman ngopi.


"Sejak kapan kamu mulai merokok lagi Mas ?" tegur Oca dengan mata melotot. Pasalnya sudah lama semenjak dekat dengan Praba Oca tak pernah melihat pria itu mengkonsumsi rokok lagi.


"Ngga tahu, kenapa tiba-tiba Mas iseng ingin merokok kembali. Tadi waktu kita berhenti di Tasik Mas sempat beli ini pas kamu belanja Snack !" jelas Pria itu sambil menghidupkan pemantik apinya.


"Jangan banyak-banyak, dikit saja !" dengan muka kesal wanita itu memperingatkan suaminya.


"Aku jadi ingat dulu ada anak yang baru belajar merokok hingga sakit tenggorokan," goda Praba mengamati wajah istrinya yang sedang kesal.


Wajah kesal itu berangsur-angsur berubah merona menjadi tersipu malu. Pasalnya Oca dulu memang sedang nakal-nakalnya. Ia dan Bara baru saja menjajal rasa merokok itu bagaimana rasanya.


Gambar : nyomot Gugel


####


Lanjut nggak nih ??

__ADS_1


Udah capek belom jalan-jalannya ?


__ADS_2