
"Aku mau kita cerai". Bentakku padanya. Amu tak tahan dengan sandiwara ini,ingin segera mengakhiri nya.
"Ngomong apa sih kamu yank, dari dulu setiap kita berantem kamu selalu minta cerai".
" aku kepengen kita pisah". Nafasku tersenggal menahan emosi, memang setiap kita bertengkar aku selalu meminta cerai.
"Kamu lagi emosi jadi ngomongnya ngawur". Suamiku mencoba menenangkanku.
"Aku tidak ngawur, ini murni keinginan aku, aku mau cerai". Aku tetap ngotot padanya.
"Apa yang membuat kamu ingin pisah". Tanyanya dengan jelas.
"Dari dulu aku tak pernah mencintaimu". Jawabku sedikit menangis. Kulihat suamiku hanya terdiam.
"Kita berumah tangga sudah lama dan punya anak dua , masa iya kamu bilang tidak mencintaiku, aneh aneh saja kamu ini ". Aku melihat raut wajah nya sedih, aku tau apa yang dia pikirkan.
"aku terpaksa nikah dengan kamu." jawabku dengan menekankan kata terpkasa. iya.. aku memang terpaksa menikah dengannya.
"Besok kita bicarakan baik-baik, sekarang kamu sedang emosi, tidurlah kau pasti lelah". Jawabnya sambil berlalu keluar.
Aku memejamkan mata, namun bukannya tidur malah teringat Dito kembali. Aku hanya tiduran memainkan handphone ku.
Aku mengintip dibalik pintu, melihat suamiku yang sedang bercanda dengan anak-anakku. Betapa bahagia keluargaku kalau saja aku mencintai suamiku.
Dia tak pernah tau kalau aku tak pernah mencintainya. 10 tahun berumah tangga dengannya hati ini susah untuk menerima dia, yang ada aku malah tersiksa. Tak terasa air mata ku menetes. Membayangkan apa yang dulu dia perbuat denganku, sehingga timbul kecewa bukan cinta.
**************
*MELLY*
Namaku Melly Andriani, aku menikah dengan seorang pria yang bernama Adam Darmawan. Usianya lima tahun lebih tua dariku. Dia bekerja di salahsatu perusahaan swasta dimana dulu aku bekerja, dia seorang manager yang berpenghasilan lumayan besar. Kehidupan kami pun bisa dibilang sangat berkecukupan, apa yang aku minta dia selalu memberikannya. Aku akui dia memang tampan, baik dan juga sabar. Aku menikah dengannya sudah 10 tahun. Namun, sejujurnya aku tak pernah mencintainya, aku hanya berpura-pura mencintai dia, sebagimana mas Adam mencintaiku. Aku berpura-pura bahagia dengan pernikahan ini. Saat akan ena-ena pun aku hanya bisa berpura-pura, sejatinya aku tak pernah menikmatinya, bahkan aku tak pernah meminta nafkah batin darinya.
Aku seperti Ratu di rumah, mas Adam yang melayaniku, ya sesekali kadang aku juga ikut membantunya, namun mas Adamlah yang lebih berperan di rumah. Sebelum berangkat kerjapun dia sudah menyiapkan sarapan untuk aku dan anakku.
Namun perlahan aku merasa lelah,aku tersiksa dengan semua kepura-puraanku ini. Meski aku mencoba mencintainya, tetap saja aku tak bisa. Hati ini tetap mencintai Dito. Apalagi sekarang dia kembali hadir di kehidupanku.
Awalnya Aku menikah dengan mas Adam hanya untuk membuktikan pada teman-temanku. Katanya aku tak punya kekasih, tak laku-laku, padahal saat itu umurku baru duapuluh lima.
"Cantik cantik kok gak laku,jangan-jangan dia tak suka pada cowok". Desus beberapa teman kantorku saat itu. Aku tak menghiaraukannya.. namun seiring dengan berjalannya waktu, setiap hari selalu saja membuatku emosi.
Tanpa berpikir panjang aku mengajak mas Adam menikah, menurut Rina mas Adam menyukaiku. Dia sering mencari tahu tentang ku.
"Mas Adam nikahin aku." Saat mas Adam keluar dari ruangannya.Aku bergelayut manja padanya.
"Kamu kenapa mell." Tanyanya salah tingkah, aku tau dia sangat senang aku minta menikah dengannya.
"Mas Adam suka kan sama aku, mas Adam mau nikah sama aku." mas Adam terlihat malu saat aku menatapnya.
__ADS_1
"Hmmmm .. anu mell." Jawabnya gelagapan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nikahin aku mas, cukup akad nikah saja, tak perlu yang mewah". Ucapku memohon meyakinkannya.
Setelah aku menikah dengan mas Adam aku resign dari kantor, memilih menjadi ibu rumah tangga, itu pun yang nyuruh mas Adam.
Setiap hari aku mencoba melupakan Dito dan mengganti dipikiranku hanya mas Adam saja. Lagi-lagi otak ku tak bekerja dengan baik, selalu saja yang terbayang wajah Dito.
*************
Pov's Adam
"Aku minta cerai." Bentak melly.
Kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya, kata CERAI yang selama ini aku benci. Prinsipku menikah hanya sekali, aku tak mau melukai seorang wanita apalagi dia ibu dari anak-anaku. Setiap kali kami bertengkar selalu saja kata cerai yang terucap, aku tak pernah mengiyakannya.
Aku mencintainya, sangat mencintainya. Waktu dia memintaku untuk menikahinya jelas aku menyanggupinya.
Saat melly minta cerai, aku tau dia sedang terbawa emosi, sifatnya yang mudah emosi membuat dia keras kepala.
Suara adzan magrib membuyarkan lamunanku, aku segera kekamar mandi wudhu dan menunaikan sholat magrib.
********
"Mell... ayo sholat magrib." Ajak mas Adam yang membuyarkan lamunanku. Tumben dia memanggilku dengan sebutan nama, dari pertama nikah sampai sekarang biasanya dia memanggil aku dengan panggilan yank. Biarlah, bodo amat.
"Tidak.. ayo kita bareng.. kali ini aku sholat di rumah... aku yang ngimamin". Jawabnya lagi
"Hmmmm".. jawabku malas
Setelah sholat magrib, aku bermain dengan anak-anaku, sedang asyik becanda-becanda mas Adam menghampiri kami. Kami nampak bahagia tertawa bersama-sama hingga aku melupakan apa yang telah terjadi. Tak terasa sudah larut malam.
"Kak.. ajak adenya tidur ke kamar gih". Mas Adam menyuruh anak sulungku untuk ke kamar.
Setelah anak-anak ke kamar tinggalah kami berdua, kami terdiam tanpa suara asyik dengan pikirannya masing-masing. Hanya suara televisi yang menemani kami.
"Mell... kamaren darimna." Tanya mas Adam memulai obrolan kami, aku tau pembahasan ini menjurus kemana.
"Sudah aku bilang, aku dari rumah vera." Jawabku mulai jengah dengan pertanyaan mas Adam.
"Yakin???." Tanyanya datar tanpa melihatku.
"Menurutmu aku darimana." Jawabku yang mulai terbawa emosi.
"Sudah kuduga". Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Maksudnya". Tanyaku heran, apa yang di maksud mas Adam.
__ADS_1
"Kamu kemaren bersama mantan mu yang dulu kan,hmm siapa namanya. Di-dito?". Tanya nya memastikan.
"So tau... ."jawabku menyunggingkan bibir.
"Tak usah berbohong, jujur saja aku tak marah, aku tau kamu kemaren kemana, handphone mu terhubung langsung denganku, mobil pun aku pasang gps". Tanyanya tenang. Aku hanya bisa diam tak menjawab.
Aku dibuat terkejut dengan pernyataannya. betapa bodohnya aku tak kepikiran kesitu. Ya, aku tau mas Adam akan selalu mengecek ku.
"dulu kamu pernah selingkuh, aku biarin." aku mengungkit apa yang di lakukan mas Adam dulu.
" Aku tak pernah selingkuh." setiap kali aku ungkit mengenau selingkuh mas Adam, dia tak mau mengakuinya,padahal jelas-jelas dia selingkuh dengan bawahannya.
"mana ada maling ngaku.."
"berapa kali aku bilang aku tak pernah selingkuh." belanya
" lalu kenapa kamu gak mau ngeluarin itu cewek."
". apa yang harus aku keluarkan dia memang tak bersalah, kamu salah paham." jawab mas adam
lagi-lagi salah paham, jelas-jelas dia berduan berpegangan tangan hmmm...
__________________
(6 tahun yang lalu)
"awww..." siska mengeringis kesakitan karena tiba-tiba seorang pelayan terpeleset dan air kopi yang di bawa nya tumpah dan percikannya terkena tangan siska.
" kamu gak apa-apa". aku mencoba membersihkan tangannya.
"dasar cewek ganjen". tiba-tiba saja meli menyiramkan air ke wajah siska. aku mendongkakan wajah.
"yank.." aku terkejut melihat mely ada disini
"kenapa.. kaget.. ketahuan selingkuh." ucapnya lagi. Saat akan menjawabnya tiba-tiba dia menarik kerah baju siska.
"eh kamu tau kan dia sudah bersuami ngapain kamu goda goda dia". ucapnya yang terlihat emosi.
"tidak bu." siska mencoba membela dirinya.
"enak ya asyik berdua-duan pegang-pegang tangan". ucapnya kembali menamparku, tiba-tiba saja dia bergegas pergi saat aku akan menjelaskanya.
sepertinya melly salah paham, tidak seburuk apa yang dia lihat. dan setiap aku menjelaskannya dia tak pernh percaya, dia sering berkata aku sudah tak percaya lagi, aku kecewa.
__________
" pokoknya aku minta cerai, titik."
__ADS_1
" besok aku akan ajak kamu dan anak-anak ke rumah ibu". Cetusnya lagi dan beringsut dari tempat duduknya. Aku yang terdiam tanpa suara.