Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Prabasonta Tak Seperti Biasanya.


__ADS_3

Di sebuah tempat penyedia jasa, ya sebuah jasa pijat. Atau orang gaul menyebutnya spa dan Massage. Dua orang wanita berbeda generasi dan berbeda gen sedang bersantai menikmati pijatan lembut serta alunan musik menyenangkan di dalam ruangan berukuran 4x4 meter.


Keduanya hanyut dalam rasa nyaman dan puasnya. Sesekali keduanya berbincang bahkan menertawakan satu sama lain.


Miranda tak henti hentinya tersenyum melihat tingkah laku Oca.


Ponsel di dalam tas Oca terus saja berdering, ia sungguh merasa terganggu dengan bunyi tersebut.


Tas yang tergeletak tak beraturan di atas meja di samping seorang terapis yang menangani Oca.


"Mau diambilkan tasnya mbak ?" Terapis itu menawari bantuannya untuk mengambilkan tas Oca.


Oca memberi jawaban dengan menganggukkan kepalanya disertai senyum manisnya.


Oca kemudian mengambil ponselnya dan melihat sebuah nama di layar ponselnya.


Ia mengeluarkan napas kasarnya menghadapi nama tersebut.


Kemudian ia meletakkan ponselnya di sebelahnya.


"Angkat saja, dia nanti akan menyulitkan kita sayang !" Miranda menyuruh Oca mengangkat panggilan yang ia yakini dari anak sulungnya Praba.


"Sayang kau kemana saja ?" Suara gusar dari lelaki yang baru saja ia cium tadi pagi.


"Aku di luar dengan ibumu, jangan ganggu !"


"Aku merindukanmu !"


"Apa kau waras ? bukankah kita pagi tadi baru ketemu !" Gerutu Oca merasa kesal dengan Praba karena sikap kekanak kanakannya.


Sedangkan Miranda tak henti hentinya tertawa melihat pemandangan konyol saat Oca memarahi anaknya.


"Dewi akan menjemputmu, kita akan makan siang bersama setelah aku selesai sidang,"


Belum sempat Oca akan menjawabnya, namun Praba sudah mematikan telponnya.


"Dasar Listrik Prabayar," Umpatnya kesal tanpa mengerti bahwa disampingnya masih ada seorang ibu yang anaknya sedang ia maki maki.


"Tante lihat sendiri kan, betapa menyebalkannya dia ?"


Dia yang Oca maksud tak lain dan tak bukan adalah anak dari wanita yang sedang bersamanya.


"Hukum lagi saja sayang,"


"Tadi pagi Oca sudah menghukumnya dengan menyuruhnya push up 50x hitungan Tante !"


☘️☘️


Sepeti biasa Praba memberikan tugas tak masuk akal pada Dewi, Praba hanya menyuruh Dewi menjemput Oca. Namun ketika Dewi bertanya dimana dia akan menjemput Oca, Praba bukannya memberikan alamatnya. Mau tak mau Dewi harus mencari tahu sendiri dimana Oca.


Untung saja, Gusti memiliki nomer ponsel Oca. Kini Dewi sudah dalam perjalanan menuju tempat dimana Oca menunggunya.

__ADS_1


"Untung saja gajiku tinggi, lebih tinggi daripada firma hukum lain, kalau tidak aku ogah mengurusi drama percintaan Bos edan !" Gerutu Dewi ketika mengendarai mobilnya.


Sedangkan sang Bos sendiri, sedang siap siap menjalani sidang yang sudah beberapa kalinya dalam kasus Widya.


Kasus yang pernah membawa Oca sebagai saksi di persidangan. Dan kasus yang kembali dibuka setelah Oca bisa meyakinkan hati Widya.



🌼🌼



Dari kejauhan Oca sudah tersenyum pada Dewi, Ia sangat tahu betapa tertekannya Dewi selama bekerja dengan kekasihnya.


"Manis sekali, pantas saja Bos tak bisa melepaskannya," Dewi bergumam sendiri sebelum turun dari mobilnya guna menjemput wanita pujaan bosnya.


"Apa dia menyusahkanmu seperti biasa?" Selidik Oca ketika Dewi membukakan pintu mobil untuknya.


"Dari pagi tadi baru ini tugas yang aku terima dok, tumben beliau tak macam macam !" Dewi mengadukan kekesalannya pada pacar bosnya.


"Pria tak waras itu selalu menyusahkan kalian, Lalu dia menyuruh aku kemana ?" Oca pun masih tak tahu Praba menyuruhnya kemana lantaran iya memutuskan telepon secara tiba tiba.


"Ke pengadilan, Pak Praba menyuruh saya mengantar dokter ke pengadilan !"


"Makan siangnya di pengadilan ?"


Dewi menatap ragu pada Oca, pasalnya Praba juga tak mengatakan apa apa pada Dewi. Dia hanya memberi tugas agar membawanya ke pengadilan.


"Apa restorannya sekarang pindah di pengadilan ?" Gerutunya di dalam telponnya.


"Apa ada masalah ?" Bukan jawaban yang bisa menenangkan Oca, melainkan jawaban mengambang dari Praba.


"Kalau tahu begini, tadi malam ketika dia tidur aku sudah mencekiknya sampai mati !" Dengan gusar Oca memasukan kembali ponsel ke dalam tasnya.


"Waduh, mengerikan sekali anda dok !" Dewi tertawa cekikikan melihat kekesalan wanita disampingnya.


"Aku tak tahu kenapa aku mau dengannya,"


"Bahkan kalian sudah menghabiskan malam bersama !" Goda Dewi kembali mengingat kenapa dari pagi Bosnya tak membuat ulah, ternyata sudah di sogok oleh Oca.


"Jangan macam macam, Bosmu akan marah padamu !"


"Aku punya perisai sekarang, yakni anda dok sering seringlah anda bermesraan dengan Pak Praba agar kami semua aman dari masalah dan ancaman !"


Oca menatap Dewi penuh tanda tanya, ia masih belum mengerti kata kata Dewi padanya. Apa hubungannya bila ia bermesraan dengan Praba dan Dewi tak kena masalah.


Tak berapa lama, akhirnya kedua wanita muda yang sedang menggosipkan seorang pria tersebut sampai di tempat yang Praba tugaskan.


"Tunggu aku, duduklah bersama Dewi di kursi Hadirin !"


" Lalu ?"

__ADS_1


"Lihatlah kemenangan dari calon suamimu ini !" Mencoba menggoda wanitanya, Praba menggenggam tangan Oca sebelum proses sidang di mulai.


"Lalu ?"


"Cium aku !" Ia makin menggila dengan menggoda dengan membisikan kata kata manja di telinga wanitanya.


"Iblis Prabayar, ini tempat umum !" Oca memakinya dengan panggilan sayangnya seperti biasanya.


"Hahaha, tunggu di rumah ya jadilah anak penurut malam ini !" Sebelum pergi Ia mencium dahi wanitanya di muka umum.


Bukan hanya Dewi saja yang terpaku dengan ulah Bosnya, namun seluruh orang yang sudah mengenal Praba juga tak kalah mengejutkan mereka. Lantaran mereka tak pernah sekali melihat Praba membawa kekasih ke persidangan dan terlihat menggandeng wanita, yang ada malah para wanita itu berlomba lomba untuk mendekati Praba.


Oca kini telah duduk manis bersama seorang sekretaris kekasihnya, ia tak banyak bicara matanya hanya menyapu ke seluruh ruang sidang tersebut.


Setelah para Hakim memasuki ruang sidang, Oca dan hadirin diharapkan berdiri.


☘️☘️


Sidang kali ini akan mendengarkan kesaksian Ny Ratih sebagi istri korban.


Dari pihak Penggugat yakni Widya yang di wakili Praba menduga Ratih lah yang memiliki motif untuk mencoba membunuh suaminya.


Kedua Pengacara yang sudah lama saling bersitegang itupun kini dipertemukan kembali oleh kasus ini.


Baik dari pihak Praba dan Gandhi sama sama saling beradu Argumen.


Argumen argumen dari Gandhi dengan mudah dipatahkan oleh Praba dan hal tersebut membuat posisi Ratih kini terancam.


Wajah Ny Ratih terlihat tegang, tangannya gemetaran dan peluh dinginnya mengalir ke sekujur tubuhnya.


Hal tersebut membuat Praba makin gencar memojokkannya.


Keterangan dari Ny Ratih telah selesai, kini dia akan berjalan untuk menempati tempat duduknya dengan kuasa hukumnya.


Oca dan hadirin yang lain masih mengikuti jalannya sidang. Ia baru pertama kali ini duduk sebagai peserta sidang. Meski pernah sekali ia di hadirkan sebagai seorang saksi pada kasus ini sebelumnya.


Pandangan Ratih mulai kabur, ia merasakan nyeri di bagian perutnya yang tak tertahankan.


Ratih sudah tak sanggup lagi dan pada akhirnya ia terjatuh sebelum ia sempat di tempatnya bersama Gandhi.


Semua orang tercengang melihat Jatuhnya Ratih, termasuk Oca.


Dengan naluri dokternya, sekonyong konyongnya ia melompat dari bangku penonton ke arah jatuhnya Ratih.


Melihat kekasihnya mendekati Ratih, membuat Praba ikut mendekatinya.


Semua hadirin siang panik dan majelis hakim pun menghentikan persidangan.


Praba sangat kesal, pasalnya ia hampir berhasil memenangkan persidangan ini kalau bukan karena Ratih pingsan ia pasti akan mudah membungkam mulut Gandhi.


Ia malah hampir saja menuduh Ratih berpura pura pingsan, kalau Oca tidak menyuruh semua orang untuk tetap diam lantaran penyakit Ratih serius.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2