Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Martabak 1.


__ADS_3

Seusai melaksanakan titah Bos di kantor tempatnya bekerja, Wanita yang berprofesi sebagai seorang sekretaris Pengacara terkenal itupun mendatangi ruangan bosnya.


"Sia sia sekali aku kuliah di universitas terkenal kalau hanya di suruh mencuci sebuah botol," Gerutu Dewi dengan enggan masuk ke Ruangan Bosnya.


Dewi pun mengetuk pintu ruangan Praba, setelah beberapa detik berlalu Dewi akhirnya diijinkan masuk ke dalam ruangan bosnya.


Sambil menyerahkan sebuah botol keramat, dia memasang wajah tersenyum tipis untuk bosnya. Tak lupa sepasang sarung tangan karet masih melekat di tangannya.


"Letakkan di Lemari kaca Dewi !" Titah Praba sambil menunjuk sebuah lemari kaca di samping mejanya.


"Botol sialan ini apa hebatnya sih ? masa dia sama sama berharga dengan dokumen dokumen bos,"


"Terimakasih Dewi, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu," Ucap Praba pada Dewi. Kali ini suara Praba terdengar lebih ramah dan sedikit tersenyum pada Dewi.


"Aneh sekali bos ini, apa dia sedang jatuh cinta ?" Dewi bergumam hanya dalam hati, dia tak berani menguapkan keluhnya takut kemurkaan Praba akan keluar kembali.


Praba mengetok ngetokan ponselnya yang ia genggam ke meja di depannya duduk. Dia sedang menunggu kekasihnya membalas pesannya.


"Kalau sampai 5 menit tak ia balas, aku akan menyusulnya !" Ucap Praba yang terlihat kesal menunggu balasan pesan dari Oca.


Begitu mendengar notif dari ponselnya, Praba buru buru membukanya.


πŸ’Œ Miranda : Kapan anakku akan membawa calonnya kerumah ?


Enggan sekali Praba membalas pesan dari ibunya, Mau tak mau Praba harus membalasnya, kalau tidak akan panjang urusannya.


πŸ’Œ Praba : Ini masih usaha ibu. Memenangkan hatinya tak semudah memenangkan sebuah persidangan.


πŸ’Œ Miranda : Cepatlah sebelum keduluan orang πŸ€—


Karena menunggu balasan pesan dari Oca yang tak kunjung datang, Praba makin kesal dan berniat mendatangi tempat kekasihnya bekerja.



Sebelumnya, ia masih mencoba menghubungi kekasihnya tersebut. Namun hal tersebut sia sia ia lakukan lantaran Oca tak mengangkat telpon darinya.


Kesabaran Praba sudah sampai di puncaknya, Ia dengan langakah gusar meninggalkan kantornya dan masuk kedalam mobilnya guna menemui Oca.


"Kenapa aku jadi posesif seperti ini, ini bukan hubungan yang pertama bagi kami," Gerutu Praba sambil mengemudikan mobilnya.


🍁🍁


Sedangkan Oca sendiri kenapa tak membalas atau mengangkat telpon dari Asep lantaran ada operasi dadakan.


Pasien masuk ke UGD dengan diagnosa tumor jinak di kepalanya. Setelah melewati uji MRI, Pasien yang dinyatakan menderita tumor tersebut sedang menjalani operasi saat ini.



Dua orang yang memiliki dua kesibukan yang berbeda harus saling mengerti dan mengalah demi pekerjaan mereka.


Untung saja tumor pasien belum menyebar hingga ke seluruh syaraf di otaknya.


🍁🍁


"Dok, dari tadi ponselmu berdering !" Tami mengabarkan pada Oca ketika Oca selesai dalam operasinya.

__ADS_1


"Asep,," Keluh Oca segera mengecek handphone yang baru saja Tami berikan padanya.


Oca berjalan meninggalkan Tami yang masih mematung melihat sikapnya.


Segera saja ia balik menghubungi Sopir kesayangannya, Tak menunggu waktu lama Asep pun mengangkat telpon dari Oca.


"Masih ingatkah anda memiliki seorang kekasih yang perlu anda hubungi ?" Suara Praba terdengar kesal dari seberang sana.


"Apa kau marah sayang ?" Oca sengaja merayu Asep agar dia mau memaafkannya.


"Coba ulangi sekali lagi !" Perintah Praba sambil mendengarkan earphone ketika menyetir.


"Sayangku Asep.."


"Itu terlihat aneh, tak seperti biasanya !" Goda Asep menyunggingkan senyumnya ketika pertama kalinya dalam sejarah Oca memanggilnya sayang setelah mereka putus.


"Apa kau memaafkan aku ?"


"Tentu, aku tak bisa marah bila denganmu dear,"


"Oke, see u,"


"Tunggu aku, jangan kemana-mana !"


"Kenapa dia lebih posesif dari biasanya ?" Gumam Oca ketika selesai mematikan telepon.


Ketika Praba sedang membenarkan gaya rambut dari kaca mobilnya, tak sengaja ia melihat sebuah mobil mengikutinya dari belakang.


Pengacara muda itu tak kehilangan akal, dia sengaja menarik perhatian mobil tersebut untuk mengetest apakah mobil tersebut memang sengaja mengikutinya atau tidak.


Praba membelokan mobilnya dengan sengaja, ia sengaja melewati arah yang berbeda dari perjalanan menuju rumah sakit dimana Oca bekerja.


Segera saja dia menelpon anak buahnya yang bernama Gusti.


"Carikan aku berapa pengawal untuk melindungi wanitaku," Ucap Praba pada anak buahnya.


Terlintas dipikirannya bahwa keselamatan Oca adalah hal yang Utama. Dia tak ingin membahayakan hal pribadinya, pasalnya Praba memang memiliki saingan dan musuh.


"Baik Pak," Sahut Gusti


"Bawa mobil, temui aku di Casablanca ! aku tunggu di terowongan." Ucap Praba dan mematikan telepon tersebut tiba tiba.


Gusti segera bergegas menemui Bosnya, dari nada bicara Bosnya bisa dipastikan telah terjadi sesuatu. Pasalnya pekerjaan Praba memang sangat rentan dan beresiko tinggi.


Alih alih ingin segera menemui pujaan hatinya sirna, mau tak mau dia harus memutar otak untuk mengelabuhi Para penguntit tersebut.


"Kau memakai cara kotor untuk memata mataiku dasar Pengacara kunyuk." Umpat Pria dewasa tersebut.


🍁🍁


Terowongan Casablanca yang terkenal seram itupun sudah di depan mata, Praba dan Gusti akan bertukar posisi saat ini.


Gusti yang telah tiba dari pada Praba, lantaran Praba sengaja mengulur ulur waktu supaya rencananya berhasil.


Ketika memasuki Terowongan tersebut, Praba langsung menambah kecepatan mobilnya. secepat kilat ia menukar posisi dengan Gusti tanpa penguntit itu sadari.

__ADS_1


"Dasar Bod*h, " Kali ini Praba tersenyum meremehkan para penguntit tersebut. Praba melihat para penguntit tersebut segera mengikuti mobil yang dikemudian oleh Gusti.


Sedangkan Praba bisa langsung bertukar pakaian sebagai Asep πŸ˜‹.


Kini dirinya telah sampai di tempat kerja kekasihnya. Setelah memarkir mobil milik Gusti, Praba pun menunggu Oca pulang kerja.


Tak lupa ia juga menghubungi Gusti agar mengambil mobilnya.


Dari jauh Praba yang berpenampilan Asep melihat senyum Oca yang begitu mempesona ketika ia sudah menyambutnya.


"Senyummu mengalahkan manisnya martabak Bangka dear," Goda Asep sambil membukakan pintu mobil untuk pacarnya.


"Jangan menyamakanku dengan Martabak Asep," Oca sebal ketika dirinya teringat Obrolan antara dirinya dan Praba tadi pagi.


"Kenapa kau begitu kesal ?" Asep masih semangat ingin menggodanya masalah Martabak tadi pagi.


"Seseorang membandingkan dirimu dengan dirinya, itu membuatku tak suka !" Jelas Oca semakin sebal ketika mengingat kata kata Praba tadi pagi.


"Tentu saja aku lebih hebat, buktinya aku bisa memenangkan hati anda !"


"Kau lebih waras darinya Asep,"


Seketika Wajah Praba tersungut merah mendengar kata kata Oca barusan.


"Bila dia tahu sedang berbicara dengan siapa apa dia masih bisa mengatakan aku tak waras?" Keluh Praba menahan tawanya.


"Kenapa kau diam saja Asep, Apa ada yang salah kata kataku tadi ?"


"Tak ada sayang, kau selalu benar ! ingat ya Pacar Pengacara terkenal selalu benar ," Sahut Praba.


"Pengacara ?? Kelihatannya bukan cuma dia saja yang tak waras, kau juga Asep."


"Bukankah yang aku katakan benar, lalu dimana letak kesalahannya ?" Asep menggerutu di dalam hatinya.


"Bukankah kita akan mengganti makan siang kita yang tak jadi ?" Praba menagih janjinya pada Oca.


"Tentu saja, aku juga ingin memuaskan hasrat belanjaku," Sahut Oca sambil memainkan ponselnya di tangan.


"Hei, apa yang kau lakukan ? kau mendiamkan aku demi ponselmu,"


"Aku sedang mengecek item new season dari situs Brandku," Sahut Oca yang sedari tadi gemas terhadap Pacarnya yang sungguh posesif.


"Untuk apa di cek, tinggal beli aja langsung apa susahnya ?"


"Aku harus mengkonsumsi keuanganku dengan gaji seorang dokter Asep,"


Oca masih sibuk memilih milih item di ponselnya, sampai tak sadar sedari tadi Asep memperhatikan dirinya.


"Sebagai anak seorang pengusaha dan calon istriku kenapa kau masih memikirkan Kondisi keuangan sayang !" Praba gemas sekali dengan sikap perhitungan kekasihnya.


Karena untuk wanita seukuran Oca, dia pasti selalu dimanjakan oleh kemewahan papanya, ternyata dia memiliki prinsip yang berbeda dari wanita manja pada umumnya.


Tak sedikit wanita yang mendekati Praba hanya karena uangnya. Namun Oca berbeda dari mereka.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Kalian gemes gak sama tingkah Oca ?


Atau lebih gemes lagi dengan Asep ?


__ADS_2