Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Jangan Cemburu


__ADS_3

..."Kalau belum bisa bermanfaat untuk orang lain, setidaknya tidak menyusahkan orang lain."...


Pria yang mengenakannya setelan jas tersebut mengepalkan tangannya dengan keras. Ia tak menyangka bahwa lelaki tua didepannya akan menyuapnya.


"Kau satu satunya penerus Bos perhiasan Anwar, lebih baik kau meneruskan bisnis mertuamu nak !" sindir Nurman pada pria muda di depannya.


"Kami bukan mau menghinamu Praba, tapi ini demi kebaikan dan harga diri keluarga Pak Nurman," bujuk Sandra membela kliennya.


Sebagai kuasa hukumnya, Sandra memang harus membela sang pengusaha tersebut.


"Kalau niat kalian mengundang aku hanya untuk hal menjijikkan seperti ini, maka kalian urungkan saja," kata sang pengacara tersebut meninggalkan meja tempat ia janjian bersama ayah dari Ratih tersebut.


"Gandhi ? Astaga," gumam Oca pelan.


"Kenalkan ini, Pengacara langganan keluarga kami Ca, pak Gandhi namanya !" jelas Malika singkat namun menusuk ke dalam hati Oca.


Secara refleks, wanita yang berprofesi sebagai dokter itupun menundukan wajahnya dengan lesu.


"Kita bertemu kembali dokter, berarti kita berjodoh !" ujar Gandhi mengulurkan tangannya untuk menjabat Oca. Tak lupa sebuah senyum menawan ia haturkan pada wanita cantik itu.


"Ya Tuhan, kenapa aku merasa dipermainkan oleh keadaan !" batin wanita cantik itu. Ia masih enggan berurusan dengan Gandhi. Pasalnya ia sangat tahu watak kedua pria yang sedang berseteru tersebut.


Sebelum Oca menjabat tangan Gandhi, sudah terlebih dahulu sang iblis menghempaskan tangan Gandhi.


"Sedetik saja kau menyentuh istriku, akan kupatahkan tanganmu !" bentak Praba tak terima Gandhi mendekati istrinya.


"Istri ? are u joke Praba ?" tanya Malika terkejut mendengar Praba menyebut teman sekolahnya dengan sebutan istri.


"Makin panjang urusannya, bisa tidak sekali saja kalian tak berkelahi ?" tegur wanita yang sedang menjadi sasaran perebutan kekuasaan kedua lelaki dewasa tersebut.


"Ayo kita pulang yank ?" ajak sang suami menarik paksa tangan istrinya.


"Lepaskan, jangan kekananak kanakan Mas," tegur Oca menghempaskan pegangan Praba.


"Ikut aku atau aku ratakan tempat ini dalam sekejap !" ancam pengacara itu pada sang istri yang ia sara tak mau menuruti perintahnya.


"Kenapa kau ikut campur urusan kami ?" maki Malika tak tahan dengan sikap semena mena pacar sahabatnya.


"Urusan istriku, urusanku juga," ia makin meninggikan suaranya satu oktaf pada Malika.


"Kita lanjutakan lain kali Ma, aku sudah tak tertarik malam ini !" sahut Oca segera meninggalkan tempat tersebut.


Keduanya orang yakni Malika dan Gandhi menyaksikan perdebatan antara pasangan tersebut. Di tambah lagi Sandra yang masih duduk ditempatnya. Ia masih sangat kaget betapa seorang Prabasonta sangat posesif terhadap wanitanya.


Praba memaksa Oca untuk pulang bersamanya, meski terdapat penolakan pada awalnya. Namun lelaki tersebut bisa memenangkan pendapatnya.

__ADS_1


Keheningan telah terjadi di dalam mobil milik sang pengacara yang dikemudikan oleh supirnya.


Berkali kali ia menatap sang istri yang masih bersikap acuh tak acuh padanya. Dokter cantik tersebut lebih senang menatap gelapnya jalan yang di soroti oleh lampu kendaraan yang lalu lalang.


"Yank, ayolah masih marah ?" pria itu mencoba mencairkan suasana dengan ekspresi imutnya.


"Aku tak pernah melarangmu melaksanakan apa saja dan bertemu siapa saja, kenapa kau bersikap seperti itu padaku ?" tegur Oca dari mulut manisnya.


"Bukan begitu yank, aku hanya tak suka Gandhi mendekati kamu !" sahut Pria dewasa tersebut.


"Aku bahkan tak melarangmu menemui mantan kekasihmu !" sindir sang dokter cantik tersebut.


"Mantan kekasih ? oh ayolah dek, aku tak memiliki mantan kekasih satupun !"


Namun sang istri lebih memilih diam daripada harus berdebat dengan lelaki disampingnya tersebut.


"Berhenti," seru Oca pada sopir suaminya.


Sopir tersebut lalu mengerem mobil tuannya, lantaran istri tuannya memintanya berhenti.


"Apa yang kau lakukan, aku tidak memperkerjakan kau untuk main main, cepat jalan lagi !" bentak Praba kesal pada supirnya.


"Berhenti !!" seru Oca lagi, wanita itu sudah bersiap akan membuka pintu mobil sang suami.


"Hallo tuan Pengacara, siapa yang keras kepala ? aku konsultasi masalah rumah saja kau sudah marah marah tak jelas apa lagi aku berselingkuh dengan Gandhi ?" tegur Oca kini meluapkan rasa kesalnya.


"Iya iya, mas mengaku salah !" Pria itu menahan tangan sang istrinya.


Oca hanya diam saja mendapati perlakuan Praba padanya.


"Lain kali kalau kamu kaya gitu lagi Mas, aku kan meninggalkan kamu !" balas Oca.


"Yank, jangan dong masa gara gara kamu cemburu lalu mau ninggalin aku ?"


"Cemburu ?" dahi Oca mengekerut, kedua alisnya menyatu mendengar kata kata Praba barusan.


"Atuh ngaca dulu kamu deh Mas ?" sahut Oca mencibir Praba.


"Tadi kamu menuduh Mas bersama mantan pacar Mas iya kan dek ?" goda sang suami yang sudah mulai bisa mencairkan hati sang istri.


"Jangan Percaya diri dulu, kalau bukan karena kamu kaya, mana mau aku menikah denganmu !" cibir Oca sambil menjulurkan lidahnya.


"Oooohhh.. jadi hanya karena aku kaya ?" goda Prabasonta berpura pura kecewa terhadap pernyataan dari Oca.


"Tentu saja, memang ada lagi ? lelaki sombong, arogan, sok tahu, mau menang sendiri, semena mena lalu apa hebatnya ?" cibir Oca lagi.

__ADS_1


"Hebat di ranjang !" bisik sang suami sah Oca di telinga Oca.


"Dasar iblis..." tentu saja wanita itu meneriakkan suaranya yang cempreng ke telinga Praba. Karena hal itu tanpa rasa sungkan pada sang supir di depannya pria itu menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya.


"Jangan protes, kita sudah sah dek !" akhirnya lelaki itu bisa mendapatkan hati istrinya kembali.


"Berhentilah bersikap parno yank, aku tak mungkin akan mengkhianati mu !" bujuk sang istri dalam dekapannya kini.


Lelaki itu makin mengeratkan pelukannya pada sang istri. "Maafkan aku Oca, aku begitu karena takut kehilanganmu !" ia kemudian mencium pucuk kepala sang istri.


"Sudah kubilang kan, aku sudah bersedia menikah dengan kamu Mas, jadi aku harus menjaga pilihanku !"


"Iya, terimakasih sayang !"


Dering ponsel yang berada didalam saku sang pengacara memecah keromantisan kedua insan tersebut.


"Angkatlah, siapa tahu penting !" bujuk sang istri. Praba sangat enggan untuk melepas pelukannya. Namun karena itu atas anjuran sang istri tercinta, mau tak mau ia mengangkat panggilan yang masuk di ponselnya.


Oca sempat membaca nama di layar yang tertera pada ponsel sang suami. Raut mukanya kini berubah merah pada. Ia kemudian membuang muka kembali kearah jendela.


Buru buru Praba memutuskan panggilan tersebut karena ia sudah merasa ada yang tak beres pada sang istri.


"Dek, Apa kau ingin makan sesuatu ?" bujuknya pada sang istri yang sedang cemberut.


Oca hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Hal tersebut membuat pusing Praba. Pasalnya ia harus memutar otaknya lagi karena sang istri sedang terbakar api cemburu.


"Dia yang menyuruhku mengangkat telpon, dia juga yang marah marah. Ya Ampun aku serba salah yank !" Batin Praba. Ia menyesal kenapa harus mengangkat telpon dari Sandra barusan.


šŸ€šŸ€


Tak terasa mobil sedan favorit Praba tersebut telah tiba di parkiran apartemen miliknya. Belum sempat ia membukakan pintu untuk sang istri, Oca terlebih dulu keluar lalu membanting pintu mobil tersebut dengan kasar.


Iya pintu mobil bermerk Ford tersebut menjadi sasaran amukan Oca.


"Malam ini pasti dia tak akan membiarkan aku masuk ke kamar !" gumam Praba pelan sambil mengikuti sang istri masuk ke Hunian mereka.


šŸ‚šŸ‚šŸ‚



"Besok jangan panggil aku Oca lagi kalau belum bisa menghajarmu," Oceana Saphira



"Malam ini pasti aku akan tidur diluar," Prabasonta Adiwiyata

__ADS_1


__ADS_2