Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Camer


__ADS_3

"Kau sungguh tega padaku baby !" Keluh Pria itu setelah menyelesaikan olah raga paginya. Sebuah olah raga hukuman dari sang pujaan hatinya.


Ia ikhlas dihukum oleh Oca, Praba tak berkutik bila berhadapan dengan Oca.


"Minumlah !" Wanita itupun juga merasa kasihan pada Praba. Rasa kesalnya berangsur angsur hilang saat ini.


Praba mengambil gelas yang berisikan air minum dari tangan Oca. Namun lagi lagi konsentrasi Oca bisa dipatahkan Oleh Praba. Dia tak menyangka dengan memberikan minum lelaki itu malah membuatnya jatuh ke tangan Praba lagi.


Karena tak memiliki konsentrasi tinggi, ketika ia mengulurkan gelas tersebut dengan cepat Praba menarik tangannya dan memeluknya.


Oca merasa aliran darahnya kembali mendesir kencang saat bersentuhan langsung dengan tubuh lelaki yang setengah telanj*ng tersebut.


"Kita ulangi kegiatan kita tadi malam seperti katamu !"


"Tak bisa, bukankah kau ada sidang hari ini !"


"Aku bisa di wakilkan oleh karyawanku yang lainnya,"


"Aku ada banyak kerjaan mas," Seperti biasa Oca sudah melayangkan aksi rayuannya.


"Kali ini mas tak akan melepaskanmu !" Senyum licik sudah ia kembangkan di sudut bibir Pria tampan itu.


Seseorang membuka pintu kamar Praba. Seorang wanita setengah abad lebih menyaksikan sepasang anak muda sedang bermesraan di dalam kamar. Yang satu mengenakan Tank top lantaran bajunya bau wine, dan yang satu hanya mengenakan sebuah handuk.


"Tante Miranda !" Oca Menyebut wanita yang tengah mematung di depan pintu kamar Praba.


"Jangan menipu aku sayang, ibuku tak mungkin akan kesini dan mengganggu aktivitas kita !"


"Prabasonta Adiwiyata !!!" Wanita itu berteriak melebihi ganasnya sang pujaan hati.


Segera Praba membalik badannya menghadap pintu kamarnya. Ia melihat wajah ibunya yang sedang kesal lantaran aksi mereka berdua. Bukan Praba kalau buru buru melepaskan pelukannya, Ia malah menggandeng tangan Oca untuk menyapa ibunya.


"Selamat pagi ibu, pagi sekali ibu datang kerumah kami ?" Praba menyapa ibunya dengan senyumnya.


"Tante, ini tak seperti yang Tante kira !" Tergagap gagap Oca mencoba menjelaskan pada ibu Praba.


"Anak nakal.." Miranda menarik telinga kedua insan manusia yang sedang terkejut itu.


Dan membawa mereka ke ruang tamu untuk diadili.


Kalau biasanya Praba membela di persidangan, untuk kali ini dirinya sungguh perlu pembelaan di persidangan dari ibunya.


Keduanya kini duduk berdampingan menghadap ibu Praba.


"Sejak kapan ?" Itulah pertanyaan pertama dari Miranda.


"Tante,," Oca ingin menjelaskan namun buru buru dipotong oleh lelaki tersebut.


"Ma, kami bukan anak kecil lagi ! kami butuh privasi !" Praba mulai melancarkan aksi pembelaan.


"Apa kalian akan begini terus tanpa ikatan pernikahan ?"

__ADS_1


"Siapa bilang ? kami akan segera menikah kan sayang ?" Praba melirik ke arah Oca agar segera mengiyakan kata kata Praba barusan.


Oca gelagapan ingin menjawab apa, lidahnya kelu takut kata katanya akan menambah panjang masalah.


"Sayang, Oca apa dia menyakitimu ?" Selidik Miranda ketika pandangan matanya jatuh tertuju pada tanda kemerahan di tengkuk dan leher Oca.


"Tidak Tante, Praba tak melakukan apa apa pada Oca !"


"Kalian sungguh menipu orang tua ini, anak TK juga tahu apa saja yang kalian lakukan semalam." Miranda tersenyum sinis mengejek Putra sulungnya.


Karena kesal tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Miranda kemudian menarik Oca untuk sekedar berbicara empat mata dengannya.


"Kalau dia menyusahkanmu bilang sama ibu ya ?" Miranda menggenggam tangan putri Riana sahabatnya.


"Dia sebenarnya baik Tante, namun sedikit menyebalkan !" Oca menjawabnya


"Akhiri penantiannya padamu nak, dia tak pernah sekalipun dekat dengan wanita selama kamu tak ada dalam hidupnya hanya kerja kerja dan kerja dari pagi ketemu pagi lagi meski begitu dia anak berbakti," Miranda menjelaskan panjang lebar pada Oca.


"Bagaimana Oca bisa membantu Tante ?"


"Menikahlah kalian berdua !" Miranda lalu memeluk Oca dengan penuh kasih.


"Bagaiman bisa aku menjalankan permintaan Tante Miranda ? aku bahkan belum yakin dengan kata hatiku !"


Setelah menyampaikan permintaannya pada Oca, wanita paruh baya itu kemudian meminta bantuan calon pendamping putranya untuk menyiapkan sarapan bagi mereka.


Keduanya kompak satu sama lain, bila Miranda kerepotan melakukan sesuatu, Oca tak segan segan membantunya.


"Tante akan membereskan meja makan, kamu bisa kan menyelesaikannya sayang ?"


"Hai, masa depanku !" Pria itu kembali mendekap tubuh wanitanya kemudian menciumi tengkuknya.


"Tak bisakah kau berlaku sewajarnya ? ada ibumu !"


"Aku tak peduli, ini rumahku !" Sahut Pria yang sudah bersiap dengan pakaian lengkap untuk berangkat bekerja.


"Terus saja, kalau kau mau aku hukum kembali !!" Ancam Oca, lantaran kesal ia kemudian mencubit pinggang Pria yang masih memeluknya tersebut.


"Kalian apa tak malu dengan ibu disini ?" Miranda kesal kemudian menyindir pasangan muda mudi yang sedang dimabuk kepayang tersebut.


"Ibu ini urusan Anakmu, biarkan aku menikmatinya sejenak sebelum berangkat kerja !"


"Kau tak sarapan dulu ?"


"Aku tak terbiasa sarapan, lagian aku harus menyiapkan beberapa pekerjaan yang belum sempat aku kerjakan !" Praba menjawab pertanyaan Oca dengan diikuti memencet hidung pujaanya itu.


"Bagaimana tak selesai nak, kalian sibuk kelon dari semalam !" Lagi lagi Miranda mengejek kedua pasang manusia tersebut.


Mendengar perkataan Ibu Praba barusan, membuat pipi Oca bersemu merah lantaran menahan malu.


"Pergilah, kau akan terlambat !"

__ADS_1


"Ciuman untuk Mas mana ?" Pinta lelaki itu dengan menyodorkan wajahnya sedikit lebih dekat dengan wajah Oca.


Oca kemudian menyelipkan sepotong roti bakar yang sudah ia buat ke mulut lelaki yang berdiri dekat dengannya.


melihat anaknya di kerjai abis oleh putri Riana, membuat Miranda menahan tawanya dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kelihatanya anakku sudah menemukan kebahagiannya,"


"Hari ini aku off, aku free di rumah saja !"


"Pergilah bersenang senang dengan ibuku, dia menyukaimu sayang !"


"Akan aku pertimbangkan, pergilah kau akan terlambat !"


Wajahnya bersemu merah karena bahagia akhirnya seorang wanita yang ia cintai dari dulu dengan sadar dan sehat akal dan pikirannya tiba tiba mencium pipinya.


Sama seperti kepuasan pemain sepak bola di serie A Milan SkriniarΒ yang sering sukses menjebol gawang lawan setiap kali Inter Milan bertanding.


🌼🌼


"Bos kelihatannya anda sangat bahagia sekali," Gusti memberanikan diri bertanya pada Praba karena sering melihat Praba tersenyum sendiri di dalam mobil yang ia kendarai saat ini.


"Menurutmu ?"


"Apa dia sudah berbaikan dengan pacarnya ? syukurlah aku bisa terlepas dari ancamannya kalau begitu !".


"Apa pacar saya menyulitkan Anda Bos ?"


"Berhenti memanggil wanita yang sudah tidur denganku dengan sebutan pacarmu !" Praba memarahi Gusti, kepala Gusti menjadi sasaran lemparan sebuah dokumen dari Praba.


"Jadi benar sudah berbaikan ? akhirnya aku bebas !" Ucap Gusti di dalam hatinya. Gusti sangat bersyukur pada Tuhan karena telah membuat kedua orang yang saling bermusuhan itu kembali rukun seperti sedia kala.


"Berarti anda memiliki amunisi untuk mengatasi Bu Ratih Bos ?"


"Ada atau tidak, dalam kamus ku tak ada kata kalah," Ia sangat yakin dengan segala kemampuannya. Untuk ukuran Kantor hukum, firma miliknya memang belum pernah mengalami kekalahan telak. Pernah sesekali anak buahnya mengalami kekalahan namun setelah proses banding mereka akhirnya memenangkan kasus tersebut.


🌼🌼🌼


Maaf Author telat ngucapin buat para pemenang event menulis puisi di Novel ini.


Selamat untuk :


πŸ₯‡ @dewisyah


πŸ₯ˆ @Mheta


πŸ₯‰ @Iim


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Salam sayang

__ADS_1


(Kekasih Oh Sehun)



__ADS_2