Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Selalu Di hatiku


__ADS_3

*Hanya Seorang Pecundanglah yang mengeluh pada Keadaan.


🌼🌼🌼*



Oceana, Wanita berparas menawan yang berprofesi sebagai seorang dokter ini tak ubahnya bagai seorang model profesional bila tak mengenakan jas dokternya.


Malam ini Oca saapan akrabnya akan menemani kedua orang tuanya menghadiri jamuan Makan malam dari teman mamanya di ballroom salah satu Hotel ternama di Jakarta.


Dengan mengenakan salah satu rancangan desainer dari brand Red Valentino, Oca tampil memukau malam ini. Dress berwarna maroon dengan ciri khas couture yang terinspirasi dari kota Paris sebagai kota mode dunia.


Ditambah dengan aksen tipenya, membuat Oca menjadi pusat perhatian pada malam hari ini.


Oca dan kedua orang tuanya tiba di hotel tersebut ketiganya kini masuk ke Ballroom hotel tersebut.



Acara Syukuran ini terlihat mewah, dengan dekorasi pesta yang meriah acara tersebut lebih tepat seperti resepsi suatu pernikahan.


Karena baru baru ini publik di hebohkan dengan banyak pernikahan dadakan dari artis maupun para pesohor negeri. Seperti pernikahan fenomenal Model Briana Rodriguez dari kalangan artis serta pernikahan Trah Brahmana juga dari kalangan pesohor Negeri.


Dengan setengah menyeret tangan anaknya, Riana mengajak Oca memasuki Ballroom hotel tersebut dan mendatangi si empunya acara.


"Tante Miranda..." Keluh Oca dengan kesalnya hingga membuang muka melihat keluarga Adiwiyata.


"Miranda.." Sapa Riana sangat excited dengan sahabat lamanya.


Mereka berdua saling melepas rindu dengan saling berpelukan dan cipika cipiki.


Berbanding terbalik dengan suasana hati Oca saat ini. Bagaimana tidak dia telah melihat tatapan bengis putra sulung Miranda yang berada tak jauh dari Ibunya. Praba sedang bersama Ayahnya berbincang bersama para tamu dan kerabat yang diundang.


"Selamat datang, Riana dan Russell juga Hai Oca" Sapa Miranda basa basi dengan keluarga Oca.


"Kau ingat Mir, ini anakku Oca yang dulu suka kau bawa bawa karena kedua anakku laki laki" Sindir Riana mama Oca mengajak mereka bernostalgia.


"Tentu saja, kita sudah beberapa kali bertemu dalam waktu dekat ini" Sahut Miranda menyunggingkan senyumnya mengingat seluruh kejadian bersama dirinya dengan Oca.


"Maksudmu, Oca bahkan baru saja pulang dari Sidney" Cecar Riana masih tak mengerti dengan perkataan Miranda.

__ADS_1


Belum sempat Oca dan Miranda menjelaskan, tibalah Bara dan Ayahnya Prabu Adiwiyata.


"Tentu saja, kak Oca sendiri yang mengoperasi ibu waktu penyakit ibu kambuh"


Tegas Bara menjelaskan kepada kedua Orang tua Oca.


"Oh ya ? kenapa Oca tak menceritakannya pada Mama ?" Tanya Riana melirik Oca meminta penjelasan.


"Tentu saja karena ini kode etik seorang dokter" Sahut Papa Oca yang sebelum anaknya menjawabnya.


Udara di Hotel tersebut terasa sesak dan pengap, bukan lantaran karena AC nya terlalu kecil. Melainkan karena rasa tak nyaman saja pada diri Oca.


"Sudah bertemu dengan Praba ?" Sindir Riana lagi menatap manik Putrinya.


"Mari, Tante anter bertemu anak sulung Tante" Ajak Miranda menggandeng mesra Oca tanpa memperdulikan penerimaan dari Oca.


"Sial... kalau tahu ini acara mereka, aku pasti tak segan segan untuk menolaknya" Batin Oca yang diikuti derap jantungnya.


Muka Oca memerah, bukan karena merona karena tersipu, melainkan karena memendam amarah dan emosi. Hingga warna Blush-on nya terlihat merah menyala.


"Praba anakku, lihat siapa yang datang !" Goda Miranda menepuk pundak anak sulungnya yang sedang menelepon dalam posisi membelakangi dirinya dan Oca.


"Ibu, waktuku tak banyak kalau ibu hanya memintaku untuk urusan tak penting aku tak mau" Ucap Praba kesal tanpa menoleh sedikitpun.


Praba sangat hafal betul dengan suara di belakangnya, mendengar penuturan Oca barusan membuat Praba membalikkan badannya.


Sayangnya, Praba kalah cepat kini Oca sudah berjalan meninggalkan dirinya dan Ibunya.


"Kau menyesal bukan ? susah payah loh ibu membawanya kesini" Kata Miranda dengan senyum mengejek putra sulungnya.


Praba tak menanggapi perkataan ibunya, dia lebih memilih menyelesaikan urusannya lewat sambungan telponnya.


Persis seperti dugaan, Malam ini Oca tampil menawan. Bak seorang Dewi yang turun dari kahyangan. Oca terlihat elegan dengan tampilannya meski sedari tadi hanya memasang wajah datarnya.



Tak sedikit mata memandangnya kagum dibuatnya, beberapa koneksi papanya yang masih lajang terlihat terpukau atas Oca.


Terlebih lagi, banyak juga para ibu ibu atau Tante Tante yang sengaja mendekati Oca dan keluarganya hanya sekedar menyapa untuk mengenalkan dirinya dan anaknya bagi yang memiliki anak masih lajang.

__ADS_1


Oca benar benar magnet yang menjadi primadona pada malam ini.


"Baru segini saja sudah seheboh ini, apalagi nanti kalau dia jadi menantu Adiwiyata, Bisa bisa aku akan menyaksikan putraku emosi setiap hari" Gerutu Miranda di dalam hatinya yang merasa tak senang banyak orang yang memperhatikan Oca malam ini.


Saat sedang mengobrol bersama yang lain, tiba tiba Handphone Oca berdering.


Dia kemudian membuka pouch berwarna gold yang sedang dibawanya dan mengeluarkan handphonenya.


"Iya Tam ?" Sapa Oca melihat Tami assisten perawatnya menelponya.


"Dok, Bisakah dokter ke Rumah sakit sekarang Kami kekurangan tenaga di UGD saat ini" Jelas Tami


"Aku sedang berada disebuah acara Tam" Jawab Oca dengan muka seriusnya.


"Terjadi sebuah kecelakaan yang mengakibatkan banyak korban kemudian dibawa ke rumah sakit" Jelas Tami panjang lebar.


Oca kini permisi kepada yang punya acara untuk memberi waktu berbicara di telepon.


Melihat perubahan diraut wajah Oca, Miranda kini khawatir akan terjadi sesuatu.


"Disini aku bersama Pasien dengan umur sekitar 60tahun dengan kondisi luka lecet dan yang lebih parahnya dia mengeluh dadanya nyeri tak tertahankan" Jelas Tami.


Mendengar penuturan Tami, membuat Oca berniat meninggalkan Hotel tersebut. Kini dengan bergegas dia menuju parkiran mobil untuk mencari mobil Papanya.



Setidaknya dia bisa meminta supir papanya mengantar dirinya.


"Aku tak membawa mobil Tam, aku bersama supir" Jelas Oca yang memang dilarang papanya menyetir untuk saat ini karena ketahuan abis ditilang.


"Segeralah kemari dok, aku butuh bantuan anda karena aku tak bisa mengatasinya" Pinta Tami sedikit terisak disebrang telponnya.


Oca khawatir akan memakan waktu lama bila meminta supir papanya untuk mengantarnya. Bila minta tolong Abi untuk menjemputnya akan memakan waktu lama saat dia menunggu Abi menjemputnya.


Satu satunya cara yakni pergi sendiri dengan mengendarai mobil papanya. Meski beresiko diamuk papanya bila dia ketauan mengemudi ugal ugalan lagi.


Oca terlihat gelisah dengan keadaan ini. Tanpa ia sadari, sepasang mata sedari tadi telah memperhatikannya.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Bersambung dulu ya teman.



__ADS_2