
"Siapa ?"
"Gusti,,"
"Hahahaha, bercandamu keterlaluan sayang kau membuat perutku sakit," Praba berseru mendengar penuturan dari Oca tadi. Tawanya tak henti hentinya selesai.
"Apa aku terlihat bercanda ? aku menyukainya Asep !"
"Sudah hentikan, itu tak lucu kamu bahkan masih mengharapkan aku buktinya kamu tak bisa lepas dari pesona Asep !"
"Sakiiit.." Pekik Praba tiba tiba setelah merasakan sesuatu yang menyakiti telinganya. Oca baru saja menjewernya.
"Kalau sakit dengarkan aku, Dulu aku memang menyukaimu sebagai Asep, namun sekarang setelah bertemu dan berbincang dengan Gusti aku merasakan getaran getaran cinta yang tak bisa kutahan !" Sambil tertatih Oca menjelaskan tentang perasaannya pada Praba.
"Lalu aku bagaimana ?" Protes Pria yang sedang konsentrasi dalam mengemudi, dari tutur katanya ia merasakan kekecewaan terhadap wanita yang ia cintai.
"Bukankah sudah jelas, hubungan kita sudah lama berakhir dan yang aku sukai sudah tak ada lalu mau apa lagi ? kau bahkan tak menyukaiku ?"
"Siapa bilang ?"Untuk Kali ini Pria yang memakai kemeja putih tersebut menatapnya dalam dalam.
"Kau sendiri bilang alasan menipuku karena ingin melindungi aku dan papaku yang menyuruhmu !" Tampak raut wajah Oca memendam kesedihan.
"Pokoknya jangan sampai suka sama Gusti ya ? Untuk apa kau mencari lelaki yang tak punya masa depan ?" Praba mulai membujuk Oca dengan kata kata manisnya.
"Kami saling mencintai, itu saja cukup !" Tak tanggung tanggung Oca memang sudah mempersiapkan semua jurus andalannya untuk mengahadapi semua pertanyaan dalam debat argumen dengan pengacara itu.
"Dia tak lebih baik dariku, tak lebih tampan, berkharisma, kaya juga manis !" Praba menatap Oca sambil tersenyum manis, semua akan ia lakukan asal Oca tak jadi berpacaran dengan Gusti.
"Ya Allah, Pria usia 30 th lebih bisa bisanya mengatakan dia manis ?" Oca bergumam di dalam hatinya.
Setelah berdebat panjang, mereka saling diam tanpa bersuara sepatah kata apapun. Yang ada hanya suara deru mobil milik Oca.
"Ingat ya, jangan bahas masalah konyol seperti ini lagi ?" Praba mengingangatkan Oca lagi agar tak mendekati Gusti.
Begitu sampai di Gedung Apartemen yang mereka berdua tinggali, Oca keluar dari mobilnya tanpa bicara sepatah katapun juga. Ia memang sengaja membuat Praba kesal. Toh ini semua memang rencananya.
Bila dia marah dan Cemburu berarti memang Pria itu harus di penggal kepalanya, namun bila memang tak bereaksi apa apa, ia kan mundur dengan perlahan. Oca tak peduli dengan resikonya, toh ia tak takut bila Praba akan marah padanya.
"Benar ya sayang, jangan dekati dia ?" Dia yang Praba maksud adalah Gusti. Pria itu sampai membuang wibawanya sebagai pengacara terkenal ketika memohon pada Oca agak tak mendekati Gusti.
"Kenapa tidak ? kita tak memiliki hubungan apa apa ," Oca menjawabnya tanpa menoleh ke arah Praba yang masih mengekori dirinya.
"Aku pacarmu !" Gerutu Praba.
__ADS_1
"Bukan, pacarku Asep bukan kau !"
"Iya tapi Asep kan diriku juga Sayang, berarti kau pacarku !" Pria itu mulai memohon pada Gadisnya.
"Jangan kaya anak kecil dong, ya ?" Oca memberikan senyum kemenangannya untuk saat ini.
"Aku tak mau kau direbut pria payah itu, dia tak pantas untuk mu !" Umpat Praba yang sudah diliputi rasa kesal.
"Selamat malam Bos Praba,," Kata Oca menirukan gaya bicara Gusti sebelum masuk ke dalam unit Apartemen miliknya.
"Ini semua gara gara Bara, " Praba bergegas ingin menemui Bara. Dan mencari perhitungan dengan Bara adiknya. Meski hari sudah larut itu tak meredakan rasa kesal Praba pada adik lelakinya tersebut.
βοΈβοΈ
Tanpa basa basi, Praba langsung masuk ke dalam rumah keluarga Adiwiyata.
Ibunya sangat paham betul anak lelaki mbarep nya.
"Ada masalah apa Praba ?" Miranda menanyai Putra sulungnya lantaran buru buru mencari sesuatu.
"Bara mana ?"
"Abang ada apa ?" Suara Bara terdengar dari ujung Dapur ketika mendengar Abangnya memanggil manggil namanya.
"Makanya cepat menikahlah, agar aku gak harus memakai barang itu lagi !" Sahut Bara tanpa ada rasa sesal sedikitpun.
"Jangankan menikah, dia akan mencari pacar orang lain !"
"Siapa ?" Selidik Miranda dari belakang pertengkaran kedua Putranya.
"Assisten Praba, Gusti namanya ?"
Bara yang sedang meminum lagi air putih dari gelasnya tersedak lalu menyemburkan air minum dari dalam mulutnya.
"Anak ibu dikalahkan oleh Assisten nya ?" Miranda membumbui perkataan Praba yang ia Rasa tak masuk akal.
"Oca sendiri yang bilang bahwa ia menyukai Anak buahku !" Keluh Praba dengan frustasi.
"Hamilin aja apa susahnya, lalu Abang bisa menikahi kak Oca, dan selanjutnya Bara yang menikahi Danila."
"Sembarangan," Miranda memukul anak Bungsunya yang berbicara tak masuk akal
"Kau pasti salah Praba, mana mungkin Oca menolakmu kau lelaki yang pantas untuknya." Bujuk mamanya. Memang muka Praba terlihat tertekan dengan keputusan Oca tadi.
__ADS_1
ππ
Seperti Biasanya rutinitas pagi Oca dimulai ketika ia bangun tidur dan bersiap ke tempat kerja. Namun berbeda kali ini, hal yang membuatnya berbeda lantaran ia sengaja bangun lebih awal hanya karena ingin berdandan lebih cantik dari biasanya. Oca berniat menjerat Gusti agar jadi kekasihnya.
Ia melihat penampilan memukaunya di cermin, "Good luck Oca, kau harus berhasil kali ini balas dendamu untuk Pria kuno dan Arogan seperti Praba.
Benar saja, ketika ia membuka pintu Apartemennya, sudah ada seorang lelaki yang sedang menunggunya. Siapa lagi lelaki tak waras yang menghabiskan waktunya demi kekasihnya.
"Ngapain disini ?"
"Mengantarmu bekerja sayang, aku kan masih supirmu," Sahut Praba
"Aku sudah memecatmu, lagipula aku sudah memiliki tambatan hati, dia akan menjemputku,"
"Sayang, sudah ya bercandanya ini tak lucu kita ulangi lagi dari awal oke ?" Praba mulai merayu agar Oca mau menerimanya kembali.
Namun bukanlah jawaban Iya yang Praba dapat, melainkan tatapan tajam dari kekasihnya.
Lagi lagi Oca mendiamkan dirinya.
Tak berapa lama, datanglah sebuah mobil yang sangat Praba kenal, si empunya mobil keluar dari dalam mobilnya.
"Gusti ? kau Cari mati !" Umpat Praba pada lelaki yang sangat ia kenal sebelumnya.
"Hai Bos, Hai .." Gusti agak ragu ingin memanggil Oca apa, namun Oca memberikan kedipan mata yakni sebuah tanda sandi padanya.
"Honey.." Panggil Gusti lirih.
"Tuhan selalu lindungi HambaMu ini, jangan biarkan kedua orang ini menyusahkan hamba lagi ," Gusti membaca doa di dalam hatinya.
"Ayo kita berangkat Honey," Oca langsung menyambar tangan Gusti dan mengajaknya masuk kedalam mobil Gusti.
Kini Oca dan Gusti sudah berada dalam satu mobil, Gusti melihat keluar Seorang pria berdiri dan menatapnya tajam seperti sedang menerkam buruannya.
Praba berjalan mendekati mobil mereka, Dadanya serasa sesak, aliran darahnya mengalir hebat hingga membuatnya emosi sampai di ubun ubun.
Ia tak peduli lalu masuk kedalam mobil yang mereka naiki.
"Target dikunci," Kata Oca lirih sambil membisikan ke telinga Gusti.
"Tamat riwayatku Bu,"
__ADS_1
πΌπΌπΌ