
Hari hari indah yang sudah Praba persiapkan untuk dirinya dan juga sang pujaan hati bakal terancam musnah setelah Miranda sang ibu berbalik arah melawannya.
Perfect life, Perfect love and also Perfect sleep yang ia sudah idam idamkan harus ia kubur rapat rapat lantaran Oca dan ibunya sudah bersekutu melawannya.
Pria yang masih memeluk sang wanita yang ia cintai di dalam selimut tebal tersebut masih mengingat percakapan dengan sang Dewi sebelum mereka memejamkan mata di peraduannya.
"Sebaiknya aku segera mengikat kamu sebelum Amukan singa betina itu muncul baby,"
"Kasus mu belum selesai, itu masih memerlukan konsentrasi penuh Mas, bagaimana bisa kita merencanakan pernikahan ?"
"Meski kasus melawan Gandhi ini selesai, Namaun tak bisa dipungkiri akan muncul kasus kasus baru yank,"
"Lalu bagaimana ? apa kita akan merencanakan pernikahan bila hati dan pikiran kamu tak fokus ?"
"Besok pagi juga aku bisa menikahi dirimu bila papamu tak keberatan,"
"Tapi aku ingin sebuah pernikahan yang menjadi impian seorang perempuan, bukan pernikahan dadakan !" Keluh Oca dengan muka masam.
"Yang aku butuhkan hanya dirimu, bukan sebuah pesta mewah !" Sahut Pria yang sudah tak tahan untuk tak memeluk dan mencium sang wanita.
Pria yang masih memejamkan mata meski kesadarannya sudah penuh itupun berada dalam sebuah dilema. Hatinya ingin segera dan secepatnya menikahi sang pujaan hatinya, namun sang wanita menginginkan sebuah pernikahan yang sempurna.
Pernikahan sempurna harus di susun dengan rencana matang dan itu memerlukan waktu yang lama.
Bunyi deringan ponsel mengganggu telinganya, hal tersebut juga membangunkan sang wanitanya. Pagi pagi sekali siapakah gerangan yang berani mengganggu waktu istirahatnya.
"Hei, handphonemu berbunyi," Kata Oca menggoyang goyangkan badan sang Pria yang masih berada dalam kepura puraannya.
"Biarkan saja, nanti juga berhenti sendiri !" Sahutnya kembali mendekap tubuh sang wanita ke dalam pelukannya.
"Tapi kalau itu penting ?"
"Hal yang paling penting untukku adalah membahagiakan kamu,"
"Gombal, dasar siluman kucing !" Gerutu Oca meronta mencoba lepas dari jeratan mangsa sang kucing jantan.
Bukan hanya bunyi ponsel Praba yang mengganggu keintiman mereka berdua, namun berkali kali bunyi bell Apartemen Praba juga cukup memekakkan telinga.
"Ada yang datang, kenapa kau membiarkannya ?"
"Paling orang iseng,"
"Kenapa tak coba mengeceknya, siapa tahu itu penting Mas," Wanita itu mencoba memberikan ide.
"Sudah kubilang, tak ada yang penting selain dirimu sayang !" Pria itu sudah tak malu malu lagi mencium tangan sang pujaan hatinya.
Bukan hanya ponsel Praba yang mengganggu aktivitas pagi mereka, ponsel Oca juga berdering tak mau kalah dari ponsel milik kekasihnya.
Oca meraba benda pintar berbentuk persegi tipis tersebut dan meraihnya.
"Ibumu !"
"Biarkan saja, dia ingin mengganggu kita !"
Oca melayangkan kecupan mesra pada sang Arjuna di sebelahnya, agar sang Arjuna tak bawel padanya.
"Iya Tante," Sapa Oca ketika dirinya mengangkat telpon dari ibu Praba.
"Sampai kapan kalian berdua akan membuat wanita tua ini berdiri di depan pintu ?" Tegur sang calon mertuanya.
"Tante yang membunyikan bell tadi ?"
"Mas, ibumu menunggumu di depan !" Bisik Oca pelan dengan menjauhkan telpon dari Miranda.
"Tenang saja, aku sudah mengubah password pintuku agar dia tak seenaknya masuk kemari !" Sahut Praba dengan senyum liciknya.
__ADS_1
"Aku akan membukakan pintu untuknya, kau bangunlah ini sudah hampir siang !" Oca kemudian beranjak meninggalkan Sang kekasih yang kini masih menunjukan muka masamnya lantaran akan segera dipisahkan dengan dirinya.
Di hadapan Oca kini telah berdiri dengan kaki kokoh seorang wanita setengah baya dengan membawa Sebuah koper yang sangat ia kenal sebelumnya. Iya karena koper berwana silver dan ber handle hitam tersebut merupakan miliknya.
"Maafkan kami Tante, Oca tak tahu kalau Praba sudah mengubah password rumahnya,"
Jelas sang calon anak pada Miranda.
Meski hatinya masih kesal lantaran anak sulungnya berusaha menghalangi rencananya, namun setelah melihat wajah polos dan tak berdosa dari Oca membuat hati Miranda luluh.
"Ayo ikut ibu pulang,," Ajak Miranda ramah menarik tangan Oca untuk ikut pergi bersamanya.
"Oca belum meminta ijin pada Praba Tante,"
"Tak perlu, dia tak akan marah bila aku membawamu sayang !" Bujuk Miranda agar Oca tak mengkhawatirkan perasaan Praba.
"Bagaimana bisa ibu seenaknya membawa dia pergi tanpa ijinku ?" Protes keras dengan mata melotot di layangkan oleh putra sulungnya pada Miranda.
Praba berjalan mendekati kedua wanita yang tampak saling akrab satu sama lain tersebut.
"Dia tak akan pergi dari sini se-milipun !"
"Ayolah, aku sudah memutuskan akan tinggal bersama orang tuamu Mas,"
"Tidak bisa, kamu harus disini titik !"
"Dengarkan ibu nak, kalian ini sudah saling dewasa harusnya bisa saling mengerti bahwa tinggal bersama tanpa ikatan itu tak diperbolehkan dalam norma dan agama !"
"Kita masih bisa saling berhubungan, dan saling bertemu aku bukan akan pergi keluar negri ?" Imbuh Oca meredakan emosi keduanya.
"Kalian semua bersekongkol melawan aku ya ? oke kali ini kalian menang tapi awas saja nanti !" Pria itu kini mengancam keduanya.
Miranda dan Oca saling pandang, mereka tak tahan lagi untuk tidak tertawa melihat perilaku ke kanan kanakan Praba.
"Ayo kita pergi Tante,"
"Aku bukan pergi ke Gaza Praba, jangan lebay deh !" Keluh sang pujaan hati.
"Bagaimana aku tak lebay sayang, ibuku menjauhkan aku dari dirimu !"
"Sembarangan !" Miranda yang sedari tadi kesal karena ulah putra sulungnya kini secara reflek menjewer telinga sang bos pengacara tersebut.
Hanya dua orang wanita yang berani memperlakukan hal seperti itu pada Prabasonta. Yakni Miranda ibunya dan Oceana sang wanitanya.
"Mobil baru sayang ?" Pertanyaan dilontarkan oleh Miranda ketika Oca memasuki mobil pemberian dari sang kekasih tercintanya.
"Hadiah Tante !" Sahutnya diikuti kedipan manja.
Miranda mengikuti Oca untuk masuk ke mobilnya diikuti para pengawalnya di mobil yang Miranda bawa sendiri tadi.
"Baik baiklah selama aku tak ada Mas ?" Ucap Oca sebelum menutup matanya dengan kaca mata yang berada di dalam mobilnya untuk menyembunyikan mata bangun tidurnya.
"Tunggu saja aku nanti malam, akan ada kejutan untukmu !" Sahut Sang Pria dengan senyum liciknya.
"Ibu tak akan membiarkan rencanamu berhasil nak lihat saja !" Ancam Miranda pada Praba.
"Aku akan mencurinya dari ibu !' Balas sang Putra sulung sembari melambaikan tangannya melepas kepergian mereka berdua.
Kini tinggal Praba sendiri yang tersisa di tempat ini. Namun dia sudah menyusun beberapa rencana untuk membalas kedua wanita yang sudah mempermainkan dirinya.
Kedua wanita yang sangat ia jaga perasaanya, kedua wanita yang sangat ia cintai melebihi apapun di dunia ini.
šš
...MINE...
...Girl your heart, girl your face is so different from them others...
...I'll say, you're the only one that I'll adore...
__ADS_1
...'Cause every time you're by my side...
...My blood rushes from my veins...
...And my geeky face, blushed so silly, yeah, oh yeah...
...And I want to make you mine...
...Oh, baby, I'll take you to the sky...
...Forever you and I (You and I) (You and I)...
...And we'll be together till we die...
...Our love will last forever and forever, you'll be mine...
...You'll be mine...
...Oh-ooh, oh-ooh...
...Girl, your smile and your charm...
...Lingers always on my mind I'll say...
...You're the only one that I've waited for...
...And I want you to be mine...
...Oh, baby, I'll take you to the sky...
...Forever you and I (You and I) (You and I)...
...And we'll be together till we die...
...Our love will last forever and forever, you'll be mine...
...You'll be mine...
...And I want you to be mine...
...And I want you to be mine...
...Oh, baby, I'll take you to the sky...
...Forever you and I (You and I) (You and I)...
...And we'll be together till we die...
...Our love will last forever and forever, you'll be mine...
...You'll be mine...
...Oh, baby, I'll take you to the sky (Oh-uh)...
...(Oh-uh) Forever you and I (You and I) (You and I)...
...And we'll be together till we die (Oh-uh)...
...Our love will last forever and forever, you'll be mine...
...You'll be mine...
...Oh-oh-oh...
...You'll be mine...
āļø
Song by - Petra Sihombing
__ADS_1