Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Cari Rumah Baru


__ADS_3

Kedua kelopak mata telah dibuka oleh si empunya mata, dengan gaya khas bangun tidurnya, Oca menatap sekeliling kamar yang dulunya bernuansa maskulin tersebut. Kamar tersebut sekarang telah diganti oleh si empunya hunian dengan sentuhan feminisme karena si pemilik kini sudah berubah status menjadi seorang suami.


Sudah banyak perubahan di hidup sang pengacara kondang tersebut, bukan hanya dari interior huniannya, Namun dari sisi lain sudah banyak perubahan yang terjadi.


Oca menelisik ke setiap sudut kamar, ia tak mendapati sosok pria yang telah membuatnya kehilangan banyak tenaga tadi malam. Pria itu telah merampas waktu istirahatnya.



"Tumben sekali pagi pagi buta ia sudah bangun ?" gumam Wanita cantik itu turun dari tempat tidurnya. Sambil berjalan keluar dari teman peraduannya, ia menggelung rambutnya yang awut awutan akibat pergumulan dengan sang suami tadi malam.


Wanita cantik itu berjalan kearah pantry yang mereka fungsikan sebagai mini bar di hunian mereka. Oca mulai meracik secangkir kopi seperti selera sang pengacara.


Secangkir Kopi hitam dengan sedikit gula telah berada di atas nampan ditangannya.


Di dalam huniannya, Oca melihat belum ada aktivitas yang sudah suaminya kerjakan.


Oca berjalan kearah ruang kerja sang Pria fenomenal versi dirinya. "Apa semalam kamu tak tidur Mas?" sapanya melihat sang suami masih berkutat dengan beberapa lembar serta alat tulis di depannya.


Oca kemudian meletakkan secangkir kopi itu di dekat sang suami. Terdapat raut penyesalan dalam dirinya. Ia menyesal karena sudah memalak uang suaminya, karena hal tersebut kini ia berpikir sang suami harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.


"Banyak deadline yang harus Mas selesaikan yank !" jawab seorang pria yang masih serius mengutak atik sebuah notebook di depannya. Pria yang masih memakai baju tidur tersebut terlihat sangat serius.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan sarapanmu dan jangan bekerja terlalu keras yank !" nasihat Oca pada pria di depannya tersebut.


"Mau kemana ?" protesnya menahan Oca dengan menggenggam pergelangan tangan Oca.


"Membuatkan kamu sarapan, minumlah kopinya Mas !" sahut Oca kemudian.


"Kopi dan sarapan Mas sudah datang, kini tinggal menyantapnya !" ujar sang pengacara tersebut diiringi tatapan nakalnya.


Oca sudah tahu arah pembicaraan sang suami, apa lagi kalau bukan acara seperti tadi malam yang akan ia ulangi lagi di ruang kerjanya.


"Nanti kamu akan terlambat, kamu bilang banyak kerjaan mas !" bujuk Oca ketika sang suami sudah menarikannya ke pangkuan suaminya.


"Ini juga termasuk deadline khusus loh dek, deadline khusus ini menciptakan seorang Prabasonta junior !" ujar sang pengacara tersebut sebelum memulai aksinya kembali seperti tadi malam.


"Wanita dengan balutan baju tidur ini benar benar menggodaku, aku tak tahan bila harus menyia-nyiakan Oca begitu saja,"

__ADS_1


"Mas, apa kamu tak lelah? semalaman belum beristirahat Mas," tanya sang istri diikuti suara desahan dan erangan dari keduanya.


"Aku lelah yank, dan ini obatnya sayang !" jawab Praba penuh penegasan, ia benar benar sudah terbuai oleh kemolekan tubuh sang istri. Apalagi ketika sang istri mengenakan busana yang seperti ini. Bagaimana tak membuat napsu Praba makin jadi ?


šŸ€šŸ€


Setelah menyelesaikan misi khususnya, tak lupa sang pengacara fenomenal tersebut memberi kecupan mesra di dahi sang Istri yang masih terbaring di sofa ruang kerjanya.


"Mau dilanjut sambil mandi yank ?" sambil mengenakan kembali pakaiannya sang suami masih terus menggoda istri cantiknya tersebut.


"Apa kamu tak bosan Mas ? sudah berkali kali kamu melakukan dari semalam !" sahut Oca mengikuti langkah sang suami untuk mengenakan pakaiannya juga.


"Hal seperti itu mana mungkin Mas akan bosan yank ? malah ingin tambah !" godanya menggelitiki pinggang sang istri.


"Mandilah, aku akan menyiapkan sarapan untukmu," Oca berjalan keluar dari tempat kerja sang suami.


Selagi siluman Prabayar tak bersamanya, kesempatan itu ia pergunakan sebaik baiknya. Karena kalau sudah bersamanya, wanita cantik itu tak mungkin bisa melakukan hal hal lain karena iblis itu tak akan membuatnya tenang.


Tiba tiba bunyi bell pintu Apartemen menghentikan aktivitasnya yakni menyusun beberapa lembar roti gandum yang akan ia buat sebagai sandwich.


"Ibu,," ucap Oca lirih.


Oca segera merapikan dandanan acak-acakannya setelah pergumulan barusan tadi.


Setelah ia selesai berberes beres dengan penampilannya, barulah Oca membukakan pintu untuk ibu mertuanya tersebut.


"Pagi ibu,"


"Pagi juga anakku sayang ?" sahut Miranda ikut masuk setelah Oca mengajaknya masuk kedalam Apartemen milik suaminya.


"Kelihatanya kalian tampak harmonis harmonis saja nak, ah Riana terlalu berlebihan menyuruhku mengamati kalian !"


"Kami biasa saja ibu, jangan mengkhawatirkan kami !" jawab Oca tersipu malu atas pernyataan dari Mertuanya.


"Apa dia masih saja arogan ?" selidik Miranda lagi, ia tak puas bila tak mencecar Oca hanya satu pertanyaan.


"Tidak ibu, ibu Jangan khawatir !" bujuk Oca. Ia sangat tahu sifat Miranda, maka dari itu ia tak ingin menambah panjang masalah dengan ibu dari suaminya.

__ADS_1


"Dia masih saja arogan, buktinya itu !" ujar Miranda dengan jari posisi menunjuk kearah area leher milik Menantunya tersebut.


"Astaga," keluh Oca dalam hati.


"Apa dia sungguh tangguh ?" goda Miranda tepat di telinga sang anak Mantunya.


Oca tak bisa lagi menjawab setiap pertanyaan dari Miranda. Pipinya hanya bersemu merah dan tak kuasa menjawab Miranda.


"Ada apa ini kenapa kalian berdua ribut sekali ?" sergah seorang lelaki yang sedari tadi dibicarakan.


"Kau memang sudah keterlaluan Praba, kau sudah menganiaya putriku !" Miranda memarahi sang putra yang ia nilai sudah keterlaluan.


"Apa yang membuat ibu berfikir aku sudah menganiaya Istriku ?"


"Kalian sungguh memiliki selera humor tinggi, berapa kali kau sudah menerkam istrimu semalaman ?" bentak sang ibu dengan wajah mengejeknya.


"Sudah sudah, kalian berdua ibu dan anak kenapa ribut sekali ? makanlah aku akan siap siap pergi dengan ibu Yank !" kata sang menantu Miranda tersebut memecah pertikaian.


"Mau kemana yank ?" tanya sang pengacara sebelum ia menjatuhkan tubuhnya di kursi makan yang sudah disediakan oleh istrinya.


"Kami akan melihat lihat properti, Istrimu ingin melihat beberapa tipe rumah," jelas Miranda ikut duduk disamping putranya.


"Kenapa tak memberi tahu Mas dulu yank ?"


"Aku juga baru kepikiran kemarin, setelah papa mendesak ku untuk pindah ke tempat yang lebih cocok," jelas Sang Istri sambil menuangkan susu ke dalam gelas yang berada di samping Praba.


"Bagaimana kalau aku yang mengantar kalian, tapi lain waktu ?"


"Untuk urusan seperti ini, harus segera di dahulukan, Oca akan pergi dengan Ibu dia aman bersama ibu dan pengawal ibu."


"Kalian berdua kalau sudah punya niat memang susah untuk di cegah," sahut Praba menggoda keduanya.


"Oca siap siap dulu ya ibu ?" pamit Oca untuk bersiap siap sebelum ia pergi dengan Miranda.


šŸ€šŸ€šŸ€


__ADS_1


__ADS_2