Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
11/12


__ADS_3

Kedua wanita cantik yang kini menjadi satu keluarga tersebut kini berada disalah satu kantor real estate yang menawarkan jasa penjualan rumah.


"Bila kamu tak suka dengan modelnya, kita bisa cari agen lain atau kamu berencana membangun sendiri sayang," tutur Miranda pada sang Menantu wanita.


"Terserah ibu saja, Oca manut saja !" sahut sang Putri masih melihat lihat sekeliling interior dalam contoh rumah yang ditawarkan tersebut.



Beberapa kali Miranda mengambil gambar Oca secara candid. Miranda ingin meminta pendapat dari sang putra sulungnya.


šŸ€


Untung saja sang putra memiliki waktu longgar untuk sekedar memberi pendapat pada sang ibu.


Namun, raut muka sang putra kini berangsur angsur berubah, wajah yang sedari tadi tersenyum tiba tiba berubah kusut setelah melihat foto yang Miranda kirim untuknya.



"Siapa pria yang berani mendekati istriku ?" eram sang pengacara tersebut meremas ponselnya.


~Ditempat lain


Bunyi dering ponsel Oca sangat mengganggu pembicaraan antara dirinya dengan karyawan real estate tersebut.


"Angkat saja dulu Nyonya !" usul sang pegawai tersebut menasehati Oca.


Oca melihat nama sang suami di layar ponsel miliknya. Ia geram karena Praba berkali kali menelponnya.


"Ada apa Mas, aku kan sudah memberitahu kami kalau aku sedang melihat tipe rumah !" keluh Oca dengan nada suara yang dibuat lebih santai.


"Kau sedang bersama siapa ? siapa lelaki itu ?" sergah sang suami memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Astagah yank, aku bersama ibu dan agen perumahan loh !" jawab Oca dengan suara bergetar, ia kesal karena suaminya masih saja bersikap egois.


"Cepat pulang, atau aku akan membereskan agen properti itu !" ancam sang suami yang makin membuat Oca kesal.


"Dia pikir siapa dia main seenaknya saja menghancurkan bisnis orang !" keluh Oca dalam hati.


"Iya sayang," sahut singkat, Oca tak ingin menambah masalah dengan berdebat bersama Praba. Pasalnya lelaki itu memang susah untuk diajak kompromi.


"Lain kali kalau mau liat tipe rumah harus bersama aku !" ancam Praba sebelum memutus telponnya.


"Kenapa sayang ? apa dia tak suka dengan interiornya ?" selidik Miranda penuh arti lantaran melihat perubahan di raut wajah sang menantu.


"Maaf pak, lain kali saja saya kesini lagi hari ini cukup sampai disini ?" tutur Oca pamit pada karyawan tersebut.


šŸ‚


"Apa dia tak menyukai tipe tersebut nak ?" tanya sang ibu pada anak Mantunya tersebut.


"Dia marah marah hanya karena kita berbicara pada pegawai real estate tersebut ibu," jelas Oca dengan mimik wajah kesal menatap jalan raya saat ini.


Miranda tak abis pikir dengan sikap arogansi dari putra sulungnya tersebut. Saat ini dia akan mengantarkan anak Mantunya untuk bekerja. Setalah itu ia berencana ingin melakukan sesuatu di kantor hukum sang putra.

__ADS_1


"Biar ibu yang akan memberinya pelajaran sayang, kamu tenang saja !" ucap Miranda sebelum Oca keluar dari Mobilnya.


Kemudian kedua wanita itu saling melayangkan lambaian tangan sebelum mobil yang dinaiki Miranda pergi dari area Rumah Sakit tempat Oca bekerja.


Segera saja Miranda meminta diantarkan untuk menemui sang putra. Ia sudah lama tak menginjakkan kaki ke kantor sang putra sulungnya.


Setelah beberapa lama, wanita paruh yang masih terlihat menawan tersebut memasuki kantor sang putra sulungnya. Miranda sudah disambut hangat oleh pegawai Praba.


Miranda sudah memasang wajah anggunnya ketika melewati para pegawai anaknya.


Ia kemudian menyapa sang sekretaris putranya.


Setelah Dewi mengantar Miranda masuk keruangan Bosnya, ia permisi unsur diri.


"Kelihatannya kau sangat sibuk nak ?" sapa sang Ibu baru masuk ke ruangan kerja anaknya.


"Untuk apa ibu mengajak Oca tanpa aku ?" cecar Praba saat ibunya duduk di depannya.


"Mumpung kami ada waktu, kenapa Praba ?"


"Apa ibu akan membiarkan putri ibu di dekati pria lain selain putramu ?" tegur Praba tak kalah emosi.


"Dia hanya seorang pegawai Praba, kenapa kau begitu kekanak-kanakan ?"


Praba menatap ibunya dalam dalam, ia masih tak abis pikir kenapa ibunya mengatakan ia kekanak-kanakan.


"Terserah, yang penting aku tak suka Oca dekat dengan lelaki lain,"



"Baiklah, nanti bisakah ibu menjemput Oca lagi ? aku mungkin kan pulang telat !" pinta sang anak sulung berlaku manja bila ada maunya.


"Boleh saja, biar Oca menginap dirumah kami," sahut Miranda enteng.


"Tidak bisa, dia kan pulang kerumah kamu sendiri !" sang putra tak mau kalah.


Melihat sikap tak menyenangkan dari Prabasonta, membuat Miranda makin kesal. Miranda akhirnya meninggal kantor sang putra dengan rasa dongkol setelah perdebatan yang panjang tersebut.


šŸ‚šŸ‚


Seorang pria sedang duduk malas disebuah restoran mewah. Berkali-kali ia menatap penghitung waktu di pergelangan tangannya.


Setelah ia mengabarkan bahwa ia akan pulang telat pada sang istri, ia kemudian memasukan ponsel kedalam saku jasnya lagi.


"Hi, sudah lama menunggu Praba ?" sapa seorang wanita yang berdandan elegan dengan setelan baju kerjanya.


"Sandra ?" hanya itu kata yang terlontar dari mulut sang pengacara.


Sandra adalah teman satu fakultas pria itu ketika mereka bertiga bersama sama masuk di universitas pilihan mereka masing masing.


Sandra, Gandhi dan Praba adalah teman dekat. Mereka merupakan Mahasiswa berprestasi di fakultas hukum yang mereka pilih.


"Aku adalah kuasa hukum Bapak Nurman Damianto. Beliau mengatakan masih diperjalanan dan memintaku untuk datang segera." jelas Sandra santai.

__ADS_1


"Dia masih Sandra yang dulu, Sandra yang terampil dan cermat !" batin sang pengacara tersebut.


"Pesanlah dulu, aku akan menunggu Beliau !" usul Praba.


"Kau masih sama seperti dulu Praba, sangat cuek dan dingin, hahahha !" goda Sandra diikuti rawa renyahnya.


"Kau bisa saja," sahut Pria itu dengan senyum polosnya.


"Sebelum kau berfoto dengan RM, aku akan menarik rambutmu Ma," maki seorang wanita dengan teman wanitanya sambil tertawa bersama. Mereka pun masuk ke restoran tersebut setelah dipersilahkan masuk oleh pelayan restoran tersebut.


Tampak, raut muka sang pengacara berubah ketika mendengar celotehan dua wanita yang sangat ia kenali suaranya, wanita itu berjalan di belakangnya. Kemudian ia menolehkan wajahnya.


"Degggh,," ia melihat sang istri sedang bersama temanya Malika.


"Ca, bukankah itu pacar kamu ?" tunjuk Malika pada meja di samping mereka.



"Oh, jadi ini alasannya dia telat pulang ?" batin Oca dalam hati.


"Memang iya, kenapa Ma ?" jawab sahut Oca sambil duduk disamping Malika.


"Dia bersama wanita lain dodol," bisik Malika penuh amarah.


"Ya Sudah, kenapa ?" balas Oca tak mau kalah.


Oca sangat santai mengahadapi situasi seperti ini. Buktinya dia bisa dengan santainya memesan menu makanan tanpa memikirkan masalah yang ia hadapi.


"Kelihatannya kau baik baik saja, kalau begitu kita lanjutkan meeting kita Ca," kata Malika. Malika kemudian menyodorkan beberapa berkas dari dalam tas yang ia bawa.


Kedua wanita cantik itu membaca beberapa berkas dengan seksama. Konsentrasi Oca tak mudah terpecah hanya karena masalah seperti itu.


"Ma, untuk urusan biaya gampang, tinggal masalah teknisnya saja yang harus diperhatikan,"


Mereka masih sibuk membahas masalah urusan yang akan mereka kerjakan. Namun sangat berbeda dari sang lelaki. Sesekali ia menatap sang istri yang sedang sibuk bersama temannya.


Tak lama, Tamu yang Praba tunggu datang. Nurman adalah ayah dari Ratih. Beliau ingin bertemu secara langsung dengan Praba.


Setelah berjabat tangan, kedua kini saling mengobrol santai. Sesekali Praba masih mencuri curi pandang kearah sang istri.


Tiba tiba Nurman mengeluarkan selembar kertas yang bertuliskan beberapa nominal angka yang sudah ia tanda tangani.


"Apa maksudnya ini?" Selidik Praba.


"Hentikan, aktivitas anda yang mengusut terdakwa !" ujar Nurman.


"Sial, biasa bisanya tua Bangka ini menyuapku !" maki Praba dalam hatinya.


Mukanya berubah masam, tangannya mengepal erat. Ingin sekali ia memukul wajah orang didepannya.


Tepat pada saat itu, datanglah seorang lelaki yang berseru pada Malika. Malika melambaikan tangannya dan memanggilnya dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh tamu Restoran tersebut.


šŸ‚šŸ‚šŸ‚

__ADS_1



__ADS_2