
"Cinta adalah bentuk paling murni dari jiwa yang damai."
- Matthew Donnelly
ππ
Sepanjang perjalan kedua anak Adam itupun tak saling bertegur sapa satu sama lain.
Kedua insan manusia tersebut sama sama besar ego pada masing masing hati mereka.
Kini mobil yang di tumpangi mereka telah masuk di pelataran SPBU. Pria dewasa tersebut turun dari mobil dan berjalan mendekati petugas Operator SPBU.
"Full.." Ucap pria itu mana kala seorang operator SPBU mendekatinya.
Praba kemudian masuk ke dalam mobil kembali. Namun ia menurunkan kaca mobil Oca.
"Dimulai dari angka nol ya pak.." Ujar Operator SPBU tersebut.
Tak berapa lama petugas tersebut selesai mengisi bahan bakar kendaran Oca.
Oca kemudian membuka tasnya untuk mengambil dompet di dalamnya.
Ia ingin membayar transaksi di SPBU tersebut.
Namun buru buru lelaki di sampingnya menyodorkan kartu debitnya sebelum wanita disampingnya membayarnya.
Belum selesai lelaki tersebut menuntaskan transaksinya dengan operator tersebut, tiba tiba ia dikejutkan dengan suara yang memanggilnya.
"Abangku..." Suara yang memanggilnya tersebut kini mendekatinya.
Praba menoleh kearah sumber suara tersebut, ia sangat hapal betul siapa pemilik suara tersebut.
Suara tersebut tak lain dan tak bukan adalah suara adik lelakinya.
"Kalian bersama ? waw ada angin apa ?" Bara berjalan mendekati mobil Oca sambil mengintip kearah dalam mobil Oca dan melihat wanita itu sedang tersenyum kecut ke arahnya.
Kemudian Oca keluar untuk menjelaskan apa yang telah terjadi kepada adik laki laki Praba tersebut.
Oca tak ingin ada salah paham antara mereka.
Sedangkan lelaki yang sedari tadi bersamanya sedang menginput pin di mesin EDC milik SPBU tersebut.
"Kalian berdua tampak mesra, apa hubungan kalian semakin membaik kak ?" Bara menyindir Oca yang sedang di dekatnya.
"Ada sedikit kesalahpahaman antara kalian.." Jelas Oca kemudian.
"Apa kau tak ada kesibukan lain selain mengurusi urusan kami ?" Sindir Praba ketika selesai menyelesaikan transaksinya.
"Kak, kalau kau tak puas dengan lelaki menyebalkan itu kau bisa pindah ke mobilku.." Bara mulai melancarkan aksi rayuannya untuk menggoda keduanya.
Praba sendiri melirik Bara dengan tatapan bengisnya.
"Lakukan saja bila kau sudah tak sayang lagi dengan bonus bulananmu !" Ancam Praba pada adik lelakinya tersebut.
"Kak, kalau kau butuh bantuanku katakan saja aku akan segera datang.." Ucap Bara sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Apa kau tak terlalu kejam pada Bara ?"
"Biarkan saja, dia mendekatimu dan aku tak suka..." Keluh Praba kemudian masuk kembali ke dalam mobil.
"Apa itu jawaban masuk akal ?" Gerutu Oca dalam batinnya.
Oca merasa Praba sedikit keterlaluan dalam mengancam adiknya. Mau bagaimanapun mereka itu kan saudara.
ππ
Mereka berdua kini tiba di salah satu Rumah Tahanan. Sebelum Oca menjemput mamanya dia sudah berjanji akan membantu lelaki di sampingnya untuk mencoba membujuk kliennya.
"Dia melakukan ini semua padaku karena ada maunya, harusnya aku sudah tahu dia orang seperti apa !" Umpat Oca di dalam hati ketika turun dari mobilnya. Ia kemudian berjalan masuk ke Rutan tersebut.
Oca kemudian masuk dan mendaftarkan diri untuk membesuk tahanan dengan melampirkan kartu identitas miliknya.
Kemudian seorang petugas mencatatnya identitas miliknya sebagai syarat untuk mendapatkan surat ijin berkunjung.
Setelah Oca mendapatkan Surat Ijin berkunjung tersebut, Oca diarahkan seorang petugas untuk masuk ke pintu portir dan menemui petugas dan memberikan surat izin berkunjung,
selanjutnya barang yang tidak di perbolehkan masuk kedalam dititipkan di loker seperti HP atau alat elektronik lainnya.selanjutnya pengunjung dan barang bawaan akan di geledah oleh petugas portir untuk memastikan tidak ada barang yang di selundupkan ke dalam setelah dilakukan penggeledahan pengunjung mendapatkan kartu kunjungan.
Petugas kemudian mengantar Oca ke ruang kunjungan untuk bertemu WBP/TAHANAN yang akan dikunjungi ,waktu berkunjung maksimal yaitu 15 menit dan kunjungan hanya diperbolehkan di dalam ruamg kunjungan.
Oca kemudian ditemukan oleh petugas dengan seorang wanita yang pernah ia lihat di persidangan waktu itu.
Wanita itu bernama Widya, Dia adalah mantan pegawai dirumah politisi yang dia racun sianida menurut keterangannya.
"Pagi, apa kabar ?" Sapa Oca.
Oca kemudian duduk didepan wanita itu, lidahnya kelu bagaimana ia harus memulai membuka pembicaraan.
"Baiklah, tujuanku datang kesini karena seorang pengacara ingin membantu anda menuntut keadilan untuk anda..." Jelas Oca sambil menarik napas dalam dalam.
"Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku menolaknya, jadi anda tak perlu bersusah payah dokter.." Kata Widya ketus menanggapi pernyataan Oca.
"Dan aku juga sudah mengatakan padanya mungkin ini tak akan berhasil, namun ia masih menyuruhku membujuk anda nona.." Jelas Oca lagi.
"Apa anda percaya pada Pak Praba dok ?" Wanita itu menanyai Oca perihal kepercayaan nya pada lelaki yang pernah menjalin kasih dengannya.
Oca bingung mau menjawab Apa, kenapa ia bisa terseret di kasus ini.
"Untuk kasus ini, aku sangat percaya Beliau bisa membantu anda !" Jawab Oca optimis.
"Pada hal hal lain ? apa anda juga percaya ?"
"Kenapa kata kata wanita ini lebih tajam dari JPU.. " Batin Oca dalam hati.
"Mungkin iya,," Jawaban singkat keluar dari mulut Oca.
"Kalau anda yang kekasihnya saja tak percaya padanya, kenapa saya harus percaya padanya ?" Sindir Widya terus terang.
"Kelihatanya anda salah paham dengan hubungan kami berdua, saya tak memiliki hubungan apa apa dengannya .." Keluh Oca mencoba meyakinkan wanita di depannya.
"Tatapannya, ia mengisyaratkan ingin selalu melindungi anda. Jadi aku memutuskan seperti tersebut !"
__ADS_1
"Nona, Anda memiliki anak berusia 2 tahun dan dia sangat memerlukan diri anda. Bersikap baiklah dan Beliau akan membantu meringankan hukuman anda.." Bujuk Oca.
"Aku hanya memiliki anak lelaki usia 2 tahun dan seorang ibu yang menjadi keluargaku saat ini !" Tutur Widya dengan Isak tangisnya.
Oca menggenggam erat tangan lembut Widya.
"Bagaimana mungkin seorang berhati lembut seperti ini akan membunuh orang ?" Batin Oca. Air matanya pun ikut menetes karena rasa ibanya.
"Kita akan menjadi keluarga, masih ada kita untuk membantumu.." Bujuk Oca.
"Pulanglah,, dia sudah menunggumu !" Ujar Widya tak tega melihat Oca bersedih.
"Baiklah, bila anda berkenan bolehkah aku sering sering berkunjung ?" Pinta Oca kemudian.
"Tentu saja, tapi jangan bersamanya.." Jawab Widya sambil menunjukan jari telunjuk miliknya kearah belakang Oca.
Oca berbalik dan mendapati Lelaki yang bersamanya tadi sudah menunggunya.
"Jadi ini akan menjadi Ladies talk ?" Sindir Praba dengan senyum sinisnya.
"Oke, see u next..." Ujar Oca ijin pamit pada Widya. Tak lupa ia melayangkan tatapan tajam pada pria disampingnya.
"Hampir saja ia setuju, gara gara kau masuk hilang sudah kesempatannya.." Gerutu Oca memarahi Praba.
"Aku rasa dia menyetujuinya, kau ingin hadiah apa dariku ?" Goda lelaki tersebut ketika membukakan pintu mobil untuknya.
"Kenapa aku merasa Dejavu dengan hal seperti ini ?" Oca bertanya tanya di dalam hatinya sambil mengamati perlakuan Praba padanya.
"Aku tahu aku tampan, jadi kau tak perlu menatapku sepeti itu...!" Goda seorang Praba membuyarkan lamunan Oca.
Buru buru Oca membuang mukanya kearah lain, ia takut Praba akan menyadari wajahnya yang merona karena menahan malu.
Entah mengapa hal tersebut sering ia alami, seperti perlakuan Praba barusan kepadanya.
Padahal dirinya dan Praba tak pernah bersama, dan hubungan antara dirinya dan Praba sudah lama berakhir.
Oca masih bengong memikirkan kejadian tadi. Tanpa ia sadari kini perjalanan mereka sudah memasuki Gerbang tol Bandara.
Lagi lagi Oca dibuat heran dengan perlakuan Praba. Oca bagaimana bisa Praba tahu dimana ia menyimpan kartu toll miliknya.
"Darimana kau tahu aku menyimpan kartu toll milikku ?" Tanya Oca heran melihat sikap Praba.
πΌπΌπΌ
Terimakasih ya teman teman sudah Sudi mampir' ke karya ala kadarnya ini π€§.
Bila kalian suka dengan cerita saya ikuti terus ya ...
Tinggalkan Like dan komen kalian, karena aku sangat rindu bisa berinteraksi dengan semua pembaca sekalian.
Sun Sayang
Penulis Amatiran π
__ADS_1