Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Day Two


__ADS_3

Chapter kali ini dibuka dengan aktivitas seorang dokter wanita muda yang penuh pesona.


Oca duduk di depan meja riasnya sambil memoleskan bedak taburnya menggunakan kuas make-up. Sebelumnya Oca hanya memakai BB cushion dengan merk yang sama.


Setelah itu tak lupa iya memoles bibir cantiknya dengan sebuah lipstick Made dengan Sade warna muda.


Dandanannya tak terlalu berat, Oca memang sering memakai simple Look untuk pergi bekerja. Baik berupa makeup ataupun busana.


Agar terlihat lebih fresh, Oca mengurai rambut panjangnya yang memang ia cat warna golden brown.



Setelah dirasa penampilannya sudah cukup sempurna, Oca kemudian beranjak mengambil tasnya dan meninggalkan kamarnya.


Tujuan langkahnya kini adalah keluar dari Apartemen miliknya. Kaki jenjangnya kini telah berjalan ke arah lift untuk turun ke parkiran.


Karena hari ini ia memilih jadwal pagi, dan masih tak ingin menyusahkan Asep yang masih mengambil masa cutinya.


Pandangan matanya di kejutkan oleh lelaki itu, ketika Oca ingin masuk ke mobilnya Sudah ada Asep yang berdiri disamping mobilnya.


"Aku kan masih memberimu libur.." Protes Oca dengan tatapan tajam kearah Asep.


Ingin sekali Asep menggoda Bosnya bila bosnya marah seperti itu. "Saya sudah Baikan Bu.." Sahut Asep.


"Aku tak ingin kau mengira aku ini orang yang tak berperasaan.." Oca menyilangkan kedua tangannya ke dada.


Kalau bukan karena papanya yang memaksa, Oca tak ingin bersusah payah memakai supir. Apalagi harus merogoh koceknya untuk membayar gaji bulanan Asep.


🍁🍁


Lagi lagi Oca hanya diam di dalam mobil bersama Asep, dia hanya memainkan gawai miliknya. Dia memencet sembarangan dan melihat sekeliling luar kaca mobil.


"Sepertinya anda sedang kesal Bu.." Asep menanyainya untuk memecah suasana.


"Sudah dua hari ini dia tak menghubungi aku.." Oca menjawabnya lirih.


"Siapa Bu ? kekasih ?" Cecar Asep kepada bosnya yang cantik tersebut.


"Kami sudah memutuskan akan menikah..." Oca menyahut Asep karena teringat janji Abi sebelum dia pergi menjadi relawan.


Asep sangat terkejut, jantungnya rasanya mau lepas saking kagetnya. Ini seperti terapi shock di pagi hari untuk Asep.


"Menikah ??" Batin Asep merasa kecewa dengan perkataan dari mulut Oca.


"Pasti calon suami Bu Oceana orang yang baik.." Puji Asep semaunya. Konsentrasinya terpecah antara mengemudi dan memikirkan kata kata Oca barusan.


Oca menghindarkan pandangannya ke arah luar sambil memegang dagunya, Ia terbayang dengan wajah Abi yang rupawan.


Asep sesekali mencuri pandang kearah bosnya yang sedang termenung. Ingin rasanya ia menghilangkan gundah gulana di hati bosnya. Tapi apalah daya, ia hanya seorang sopir pribadi apakah bosnya akan bersedia berbagi kesedihan dengannya.

__ADS_1


"Bu, apa anda ingin kopi sebelum bekerja ?" Bujuk Asep memperhatikan kondisi Bosnya.


"Kau seperti Abi, dia selalu menawariku kopi tapi maaf pagi ini asam lambungku sedang tak bagus.." Oca tersenyum menolak ajakan Asep dengan halus.


"Sial,, kenapa dia makin mengingatnya .." Gerutu Asep dalam hatinya.


💨💨


Tak terasa perjalan mereka telah sampai ditempat tujuan yakni Rumah sakit tempat Oca bekerja. Sepanjang perjalanan mereka hanya duduk diam tak bersuara.


"Kau bisa membawa pulang mobilku, nanti setengah empat sore jemput aku lagi.." Kata Oca berbarengan dengan turun dari mobilnya.


"Siap Bu, saya tidak akan terlambat sedetikpun !" Jawab Asep mengumbar senyum indahnya.


Oca yang melihat senyum Asep malah membuatnya tertawa. Ia merasa Asep sungguh lucu saat tertawa dengan kacamata tebalnya.


Oca berjalan menjauhi Asep yang masih dimobilnya sambil tak lupa melambaikan tangannya ke arah supirnya tersebut. Entah apa yang merasuki pikirannya kenapa dia bisa bersikap manis kepada Asep.


"Aku membenci diriku sendiri yang tak bisa meyakinkanmu !" Gumam Asep di dalam mobil Oca.


Ia mengingat bagaimana Oca tersenyum kepadanya barusan dan melambaikan tangan ke arahnya. Hal tersebut bisa membuatnya kena penyakit gula diiringi serangan jantung bila tiap hari Oca melakuan hal yang sama.


Sebelum Pergi, Asep melepas kaca mata yang telah menutupi mata tajamnya. Ia berkaca di kaca mobil Oca diatasnya.


"Aku benci muka ini, muka ini membuatku tak bisa dekat denganmu ..!" Keluh Asep kemudian memasang kembali kaca matanya.


🍁🍁


Pasien tersebut didatangkan kerumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri.


Pasien tersebut kini sedang diobservasi sambil menunggu hasil MRI.


Oca melihat di layar Monitor MRI, pasien dengan jenis kelamin perempuan tersebut menderita penyakit Stroke.


Karena penyakit stroke sudah parah, Oca dapat melihat pembuluh darah arteri di otaknya mengalami pembengkakan dan hampir pecah.


"Apa kita akan melakukan operasi darurat dok ?" Tanya salah satu Dokter lelaki masih muda disamping Oca.


Sesuai prosedur, ini termasuk kondisi darurat. Bila pasien tak segera ditangani akan membahayakan nyawa pasien.


"Temui keluarga pasien untuk memberikan kuasanya, aku akan menyiapkan ruang operasi secepatnya dibantu asisten dan yang lainnya.." Oca memerintahkan dokter muda tersebut.


Mereka berdua keluar dari ruang kontrol MRI dan menjalankan tugasnya masing masing.


Keluarga Pasien diminta menandatangani surat persetujuan tindakan operasi yang akan dilaksanakan.


Terlihat Seorang wanita yang tak asing bagi Oca sendang duduk menangis di depan ruang Observasi pasien tadi.


"Danila.." Sapa Oca pada wanita muda itu. Kemudian wanita itu menoleh kearah suara yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kakaknya Bara ??" Tanya Danila yang masih mengenal Oca sebagai calon kakak iparnya Bara.


Oca mendengus kesal, Meski Oca jelaskan juga Danila masih saja tetep memanggilnya kakak Bara.


"Pasien itu mama mu ?" Tanya Oca pada Danila.


"Iya kak, tadi pagi mama pingsan dan dibawa kemari..." Jelas Danila diikuti Isak tangisnya.


"Tenanglah,, kita akan berusaha menyelamatkan mamamu, untung saja mamamu cepat dibawa kesini.." Bujuk Oca menguatkan hati Danila.


.


"Kak, aku percaya padamu.. selamatkan lah nyawa mamaku.." Pinta Danila bersimpuh sambil memegang tangan Oca.


"Hentikan Danila, mamamu tak akan kenapa kenapa.." Bujuk Oca membangunkan tubuh Danila dan memintanya berdoa.


Setelah semua siap, para petugas yang datang ke ruang Observasi akan membawa mama Danila ke ruang operasi.


Operasi ini akan memakan waktu lama, karena operasi ini termasuk jenis operasi besar.


Kasus pendarahan pada Otak memang umum terjadi di Indonesia. Penyebabnya bisa karena benturan atau karena penyakit lain seperti tekanan darah tinggi atau Stroke seperti mama Danila.


Jika pembuluh darah pecah terjadi di otak, maka hal ini akan menimbulkan perdarahan otak atau biasa disebut brain hemorrhage. Perdarahan ini akan berakibat fatal karena bisa mengakibatkan pembengkakan otak dan matinya sel-sel otak. 


Operasi mama Danila sudah dilakukan, sekarang tinggal menunggu mama Danila sadar dari Obat biusnya. Setelah mama Danila sadar, mama Danila akan dipindahkan ke ruang rawat inap.


🍁🍁


Setelah melewati semua aktivitas di rumah sakit tempat ia bekerja, kini tiba saatnya Oca untuk pulang.


Hal yang ia tunggu tunggu akhirnya tiba, yakni Abi menelponya.


Di telepon, Abi mangatakan bahwa ia baik baik saja. Dan Oca tak perlu mengkhawatirkannya.


Abi juga mengatakan bahwa ia merindukan Oca. Dan berpesan agar Oca menjaga pola makannya.


Dari arah pintu rumah sakit, Senyum Oca tak henti hentinya mengembang. Bahkan dia juga nampak bersenandung kecil.


Asep yang melihatnya pun ikut gembira.


"Bu, anda sehat ?" Goda Asep kemudian.


"Dia menelpon aku Asep, dia merindukan aku.." Oca meluapkan rasa senangnya dengan menceritakan hal tersebut kepada Asep.


Namun bagi lelaki tersebut, hal tersebut merupakan kabar buruk baginya.


Bagaimana bisa, ia membiarkan Oca akan segera menikah dengan kekasihnya.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2