
Pagi ini zelia bangun lebih awal dari biasanya. mulai hari ini ia akan benar-benar berperan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
"biiii......."
Mendengar teriakan dean dari dalam kamar, zelia yang sedang sibuk bergelut didapur pun terpaksa harus meninggalkan masakannya.
"ada apa sihh kak ??"
Sahut zelia sambil berjalan mendekat ke arah dean.
Dean menatap kagum istrinya yang baru saja datang dengan celemek masak yang masih menempel ditubuhnya.
Sedangkan zelia merasa sedikit kesal karena aktifitasnya terganggu saat mendapat panggilan dari dean.
"kenapa sih, masih pagi udah teriak-teriak!!"
Ucap zelia sambil berkacak pinggang melihat dean tengah berdiri mematung dengan pakaian yang sudah rapi siap berangkat ke kantor.
zelia merasa tak ada lagi yang salah dengannya pagi ini, karena sebelum ke dapur ia telah menyiapkan pakaian yang akan dean kenakan saat ke kantor lengkap dengan sepatu juga kaos kakinya.
tapi entah mengapa bayi besar nya yang manja itu masih saja berteriak memanggil-manggil nama nya yang sedang asyik membuat sarapan untuk mereka.
"ini kenapa ada disini bii ????"
tanya dean dengan nada geram.
"owhh itu......"
Jawaban zelia ternyata biasa saja tak seperti dean yang terlihat sangat geram apalagi saat dean menunjuk lukisan yang terpajang jelas dalam kamar mereka.
Lukisan itu adalah lukisan pemberian rendi saat dulu mereka berkunjung kebandung.
Zelia sengaja memajang dua lukisan secara berjejer . Namun ternyata, dean yang sejak kemarin sibuk bergelut dengan laptop dan pekerjaannya sama sekali tak menyadari bahwa saat ini lukisan itu telah menempel didinding kamar.
Dean pun belum sempat mengamati satu persatu ruangan yang kini telah zelia rubah tatanan hiasan juga tatanan furniture nya.
dean begitu terkejut saat ia melihat lukisan bergambarkan wajah zelia dan yang satu lagi berlukiskan dua orang beratas namakan zelia dan rendi ikut terpajang disana.
"apa-apaan ini bi, kenapa lukisan ini ikut nampang disini juga?!"
"lhoo emang ada yang salah??"
Dean menghela nafas kesal. Ternyata zelia tak menyadari bahwa dirinya sangat mempermasalahkan nama rendi masuk kedalam kamar pribadi mereka.
"aku gak suka lukisan itu ada didalam kamar ini bi"
Tangan dean bergerak cepat hendak melepas lukisan itu namun zelia segera menahan tangan dean.
"apa-apaan sih kak, jangan dilepas dong! Kita itu harus menghargai pemberian orang. Coba bayangin kalo semua lukisan ini harus beli, berapa banyak uang yang harus kita keluarkan?!!"
"siapa juga yang mau beli lukisan jelek kaya gini"
Dean tetap saja mengambil lukisan yang bergambar dua orang dan bertuliskan zelia dan rendi.
"ihhh kakak, jangan dibuang !!!"
Zelia mencebikkan mulutnya.
"siapa yang akan membuang lukisan ini bi? Emang kakak bilang kalau mau kakak buang?"
dean segera mengambil kertas, spidol, dan lem dari laci nakas yang berada disamping tempat tidur.
sedangkan zelia sama sekali tak tau apa yang hendak dilakukan oleh suaminya itu.
.
.
"sudah selesai"
kata dean dengan wajah lebih sumringah.
__ADS_1
"kakak...."
Zelia mencubit perut dean karena merasa gemas dengan tingkah suaminya pagi ini.
"bagus kan?"
Dean menunjukkan pada zelia bahwa nama rendi yang tertulis disana kini telah ia ganti dengan nama 'DEAN'. Jadilah dalam lukisan itu bertuliskan nama 'ZELIA DAN DEAN'.
Zelia tersenyum, rasa penasaran atas apa yang akan suaminya lakukan terhadap lukisan itupun kini telah terjawab sudah.
"kalo begini kan bagus! Inget ya bi nama lelaki lain gak boleh ada dirumah ini !"
Ucap dean sambil kembali memasang lukisan itu ke tempat semula.
"ooh jadi ada yang cemburu nih"
Ledek zelia pada dean.
"jelas dong !! Kenapa kamu gak peka sih bi? Masih aja masang lukisan yang bertuliskan nama mu dan laki-laki lain dirumah ini"
"sengaja, biar kakak senam jantung "
Zelia terkekeh melihat raut wajah dean berubah menjadi masam.
"iseng banget ya !"
dean mencapit batang hidung zelia sambil tersenyum manis.
"ngapain juga lukisan ini kamu bawa-bawa kesini. Bukannya bisa kamu tinggal aja lukisannya dirumah mama"
Dean masih saja mempermasalahkan lukisan itu seolah tiada habisnya.
"aku gak sengaja kemarin nemuin lukisan itu dikamar kakak, jadi ya aku bawa ajakan daripada dirumah mama juga jadi mubazir cuma ditaruh dibelakang lemari"
Zelia terkekeh mengingat bahwa sejak awal dean memang sangat membenci lukisan itu terlebih lukisan itu pemberian dari seseorang yang jelas-jelas memiliki perasaan pada istrinya.
.
.
"upsss..!! Aku belum mandi kak"
zelia menghadang bibir dean yang hampir menempel sempurna di bibirnya telapak tangan.
"yaudah mandi sana! Abis itu kita sarapan ya. Kamu kuliahkan hari ini?"
"kuliah dong"
Zelia segera pergi meninggalkan dean.
Zelia kembali menyelesaikan masak yang sempat tertunda setelah itu bersiap untuk pergi kekampus.
.
.
"dasi nya kurang pas deh kak, agak miring"
kata zelia sebelum ia turun dari mobil dean yang telah terparkir didepan kampus. Zelia segera merapihkan dasi lelaki yang kini telah menjadi suaminya tanpa rasa sungkan sedikitpun.
Dean tersenyum memandang wajah cantik sang istri yang membuatnya selalu jatuh cinta setiap hari.
Dean mencium bibir zelia saat zelia sedang fokus merapihkan dasi dikerah kemeja yang ia pakai.
Tangan zelia seketika terhenti saat bibir dean telah ******* lembut bibirnya. Membuat zelia tak ada lagi alasan untuk melakukan penolakan atas serangan yang dean berikan secara mendadak sebagai pengganti cium*n yang tertunda tadi pagi.
Dean mengulum bibir itu semakin dalam dan semakin menuntut.
"kak udah siang"
Zelia mendorong tubuh dean perlahan saat ia rasa suda cukup lama mereka melakukan penyatuan bibir untuk saling bertukar saliva.
__ADS_1
"duhhh bi, kita pulang lagi yuk"
Ajakan dean benar-benar membuat zelia membulatkan mata penuh tanda tanya ada apa??
"ada yang udah bangun nih"
Dean menunjuk ke arah celana yang terlihat sesak dan sedikit menonjol.
"jangan bangun ya sayang, kita bertemu nya ntar malem aja"
zelia mengelus tonjolan itu dari luar celana dan mendekatkan wajahnya ke bawah sana saat berbicara.
Membuat sijoni semakin mengembang sulit sekali untuk dijinakkan oleh dean dan hanya zelia yang bisa menjinakkannya.
"aduuhhh bi, makin gak kuat !!!!"
Rengekkk dean yang semakin tak kuasa menahan tegangan tinggi si joni karena mendapat elusan manja dari pawangnya.
"uppssss,,,"
zelia menutup mulutnya sendiri saat ia menyadari bahwa hal yang tak sengaja ia lakukan justru membuat dean semakin tak kuasa menahan gairahnya.
"zeli turun dulu kak, i love you"
Zelia segera turun dari mobil dan berlari meninggalkan dean sebelum dean melakukan hal-hal konyol yang tak pernah ia bayangkan.
"biiiii....!!"
Teriak dean namun sudah tak terdengar lagi oleh zelia.
pagi ini dean terpaksa harus tetap berangkat ke kantor dengan keadaan si joni yang sedang mengembang dan memiliki tegangan tinggi yang membuat nya merasa resah dan kehilangan konsentrasi.
.
.
"pagi pak bos"
sapa hans saat dean tiba di kantor. Namun dean tetap melaju tanpa menjawab sapaan hans dan terus berlalu menuju ruang kerjanya.
"penganten baru kok wajahnya kusut amat"
Umpat hans pelan namun masih terdengar oleh dean.
"apa kamu bilang !!!"
hans menggaruk kepalanya yang tak gatal, saat mengetahui ternyata dean dapat mendengar perkataannya.
.
.
"Apa zelia tak memberimu jatah semalam??"
Tanya hans saat ia lihat dean tak bersemangat seperti biasa bahkan sedikit uring-uringan.
"gak usah banyak tanya !! Kamu selesaikan semua ini, aku akan menjemput zelia dikampusnya !!"
Dean menutup laptopnya karena urusan sijoni yang belum terselesaikan membuatnya tak bisa fokus untuk lanjut bekerja.
"why de?? Ini masih pagi loh. Jangan bilang kamu udah mau ***-***"
"berisik !!"
Dean segera pergi meninggalkan ruangannya tanpa menghiraukan hans yang menatap kepergiannya dengan tanda tanya besar diatas kepala.
"apa lelaki yang baru menikah akan seperti itu? Sulit untuk mengontrol diri dan hawa nafsu?"
Ucap hans mengiringi kepergian bos besarnya.
"parah, parah... zelia kamu sungguh luar biasa"
__ADS_1
sedikit pujian turut hans lontarkan untuk istri baru bosnya itu karena membuat dean benar-benar tak seperti dean yang ia kenal dulu.