
mereka berdua berjalan menyusuri koridor kantor. dean terus menggandeng tangan zelia dengan mesra. sebenarnya zelia merasa sangat risih saat bertemu dengan beberapa pasang mata karyawan wanita yang menatap nya dengan tajam dan tak menyenangkan saat berpapasan dengan mereka. zelia mencoba melepaskan genggaman tangan dean namun dean malah mempererat genggamannya seolah tak ingin membiarkan zelia memisahkan tangan mereka berdua.
"kakak....." ucap zelia lirih dengan sedikit penekanan sambil menoleh sekilas ke wajah kak dean. dean hanya tersenyum manis saat mendengar ucapan wanita kesayangannya yang kini mulai terlihat panik saat banyak karyawan yang melihat kemesraan mereka.
setibanya ditempat parkir mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil ,namun lagi dan lagi dean segera meraih tangan zelia untuk kembali ia genggam.
"kak nanti dulu, ini zeli mau pakai seatbelt nya gimana kalo tangannya kakak pegangin terus" ucap zelia dengan sedikit mengerucutkan bibirnya kesal. dean terkekeh melihat raut wajah zelia yang semula panik kini berubah sedikit kesal.
"gak usah di pake seatbeltnya, kita cuma ke restoran situ kok, deket kantor ini" ucap kak dean sambil tersenyum ke arah nya.
"oh gitu" ucap zelia yang tanpa mau banyak bicara karena tak ingin membuang-buang energi nya yang mulai melemah. zelia percaya bahwa restoran yang dean pilihkan sudah pasti menjadi restoran terbaik versi dia. dean melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir kantor. hanya butuh waktu beberapa menit mereka sudah tiba di halaman parkir restoran yang dean maksud.
"kenapa harus pake mobil ?? kalo restorannya cuma disini,ini mah jalan juga bisa kak !!" ucap zelia saat melihat jarak antara kantor dan restoran yang saling berdampingan. lagi lagi dean hanya terkekeh mendengar celoteh kekasihnya itu. "kamu yakin masih kuat jalan dari kantor kesini ?? gak takut kalo nanti kamu pingsan ditengah jalan???" canda dean kepada zelia sambil tertawa kecil "apaan sih kakak, zeli masih kuat tau !!" zelia mencubit perut dean yang selalu saja senang meledeknya. semua itu justru sangat membuat dean suka dan tertawa lebih keras dari sebelum nya. meski sebenarnya yang diucapkan dean ada benar nya ,karena saat ini tubuh zelia sudah sedikit bergemetar karena menahan rasa lapar.
__ADS_1
"ayo turun" ajak dean yang turun lebih dulu lalu membuka pintu pada sisi zelia. zelia turun namun kaki nya yang gemetar terasa berat untuk menompang tubuhnya yang juga ikut melemas.
duh kok gue gemeteran gini sih? selaper inikah perut?? malu-maluin banget deh" zelia mencaci salah satu organ tubuhnya yang tak bisa diajak kompromi sama sekali.
"ayo" ajak kak dean yang kembali ingin menggandeng tangan zelia mesra. "kak ..!" zelia mencoba menghindarkan tangannya dari genggaman tangan dean. "kenapa?" tanya dean penasaran mengapa zelia menolak ajakan tangannya.
"malu ih.. liat tuh rame banget didalem restoran" mata zelia menyusuri setiap sudut restoran meski mereka berdua masih berada di halaman tempat parkir . karena memang ini jam istirahat atau makan sore, wajar saja jika restoran itu dipenuhi oleh banyak karyawan kantor kak dean di jam seperti sekarang ini.
"gak apa-apa, kakak kenal kok sama mereka semua" ucap dean santai sambil kembali meraih tangan zelia yang tadi sempat menghindar. "justru itu kak_" belum sempat zelia melanjutkan ucapannya "kamu udah laper kan? ini tanganmu udah dingin dan gemeteran loh!? ayo masuk" ujar dean sambil berjalan yang membuat zelia terpaksa mengikuti langkah kaki dean karena tangan dean kini sudah menggenggam erat tangan zelia. "ini bukan laper kak, tapi.... ih rame kak, malu" zelia mencoba menepis ucapan dean yang seolah mengerti bahwa saat ini dirinya sedang lapar. namun ia gengsi dan tak ingin terlihat sangat kelaparan di hadapan kekasihnya ini meski sejak awal memang zelia lah yang menyatakan bahwa dia sedang lapar .
semua seperti yang sudah zelia duga, bahwa hampir seluruh mata disana menatap ke arah mereka berdua yang berjalan bergandengan. ada yang tersenyum ramah, ada pula yang memasang wajah marah. zelia menundukkan kepalanya tak ingin menatap satu per satu mata yang juga menatapnya. entah lah, mengapa kali ini zelia merasa sepengecut ini padahal biasanya dia adalah orang yang paling berani. entah karena malu, atau karena hal yang lain dia sendiripun sulit untuk mengartikan mengapa mental nya menjadi ciut seperti ini saat dia menjadi sorotan khalayak ramai . bukankah seharusnya dia bangga karena bisa di gandeng oleh bos muda yang tampan dan kaya . namun disisi lain pasti akan ada saja cemooh yang memberi penilaian negatif kepada dirinya.
"kamu tunggu disana, kakak mau pesan makanan dulu" ucap kak dean sambil menunjuk ke arah meja dan kursi kosong yang dikelilingi oleh banyak karyawan wanita. zelia berjalan sendiri menuju meja tersebut. ada rasa kagum yang tersimpan di hati nya saat melihat dean yang memilih meja yang sama dengan seluruh karyawannya. ternyata, dean memiliki sifat rendah hati, tak merasa sombong meski dirinya bos besar diperusahaan tersebut namun ia tak membeda-bedakan fungsi jabatan jika ditempat umum seperti ini hingga ia tak pernah memesan ruangan khusus vip.
__ADS_1
zelia duduk di meja yang tadi sudah dean tentukan. ia dengan sabar menunggu dean yang sedang memesan makanan meski sudah banyak kasak kusuk negatif tentang dirinya yang menusuk gendang telinga.
apa itu pacar pak dean? kok masih bocah banget ?? mungkin itu mah adiknya, masa ia pak dean selera nya anak kecil kampungan kaya gitu ckckck
percakapan ketiga wanita yang duduk tak jauh dari tempat duduknya.
sebuah ucapan, ledekan dan sindiran yang masih bisa ia terima. meski kini hatinya seolah memanas ingin sekali meremas mulut ketiga wanita itu. namun zelia masih mengingat bahwa nama baik dean akan menjadi taruhannya, karena zelia berada disini pun atas ajakan dean.
"ngapa sih kak dean ngajak makan ditempat kaya gini, jadi bad mood banget kan gue mau makan. ini perut juga !! dari tadi gak mau diem, jadinya kak dean cari restoran yang paling deket kan karena tau gue udah kelaperan"
lagi-lagi zelia hanya bisa memaki organ tubuhnya yang mengeluarkan bunyi-bunyian yang tak bisa dikendalikan.
lama juga kak dean pesen makanan? kepala zelia celingukan ke arah dean yang masih berbicara dengan salah satu pelayan restoran. zelia berusaha tenang dengan tangan kiri nya menompang ke dagu dan tangan kanan nya mengetuk-ngetuk meja meski hatinya sambil terus mencoba menata kesabaran karena ucapan-ucapan ketiga wanita yang semakin tak mengenakkan .
__ADS_1
zelia melihat kesekitar, ada yang tersenyum kepada nya ada pula yang tak menghiraukannya. namun zelia menangkap sepasang mata yang menatap nya dengan tajam dan tatapan penuh kebencian. tatapan salah satu wanita yang tak banyak berbicara meski ia duduk bersama dua wanita yang sejak tadi asik menggunjing dirinya. terlihat sekali tatapan kebencian yang amat dalam dari mata wanita itu, entah atas dasar apa? entah dia siapa? entah ada hubungan apa antara wanita itu dan dean? zelia pun tak tahu. namun zelia tak ingin memperdebatkan itu semua .